PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS SEMBILAN PULUH DUA


__ADS_3

“Apa Dean sudah pergi, Tante” desis Qiandra sesaat setelah dia menghabiskan bubur lembut yang dibuat oleh Clayandra.  Sejak sadar tadi Qiandra sudah ingin menanyakan keberadaan suaminya itu, namun diurungkannya karena melihat Clayandra yang sibuk mengurus dirinya.


Clayandra tersenyum dan membelai lembut pucuk kepala Qiandra, “Suamimu masih ada di ruang kerja bersama dengan kakakmu dan pamanmu, Sayang” sahut Clayandra.


“Suami?, apa dia masih bisa dianggap sebagai suamiku, Tante, atau apa aku masih pantas menjadi istrinya” desis Qiandra dengan suara sendu.


“Jangan terlalu memikirkan hal itu, Sayang, percayalah, semua pasti ada jalan keluarnya.  Tante yakin, Daddymu tidak seperti yang


mereka tuduhkan, Tante sangat mengenal Daddymu, seorang yang sangat memegang


teguh pada kesetiaan tidak mungkin melakukan pengkhianatan” ucap Clayandra


lagi.


Qiandra menggelengkan kepalanya dengan lemah, air mata mengilir di pipinya yang tirus,


“Tapi dia bilang, kalau mereka sudah memegang semua bukti dan itu sudah tidak bisa diragukan lagi” desisnya diantara isak tangis yang mulai terdengar perlahan.


“Sayang .......” belum sempat Clayandra menyelesaikan kata katanya, terlihat pintu kamar itu terbuka.


“Honey, ....” seru Dean dengan setengah berlari mendekati Qiandra, "Honey, ah, syukurlah kamu sudah sadar, apa kamu baik baik saja, apa ada yang sakit, hmmmm” tanya Dean seraya meraba kening Qiandra.  Clayandra yang melihat kedatangan Dean segara berdiri dan memberikan kode kepada dokter Freddy untuk meninggalkan kamar mewah itu.


Qiandra menatap Dean dengan tatapan yang sulit ditebak, namun Dean merasakan kepedihan di mata wanita cantik itu.   Dean meraih kepala Qiandra dan membawanya masuk dalam pelukannya, “Honey, maafkan aku, maafkan aku yang sempat dikuasai emosi, maafkan kebodohan suamimu ini, tolong maafkan aku” desis Dean dengan hati pedih.


“Untuk apa kamu meminta maaf, semua ini bukan kesalahanmu” ucap Qiandra dengan suara dingin tanpa membalas pelukan Dean.  Dean merasa  seperti tersambar petir mendengar Qiandra berbicara dengannya seperti dengan orang asing.


“Honey, maafkan aku, ku mohon maafkan aku, aku berjanji akan menyelesaikan semua ini, hingga kebenaran terungkap” ucap Dean masih memeluk erat sang istri.


“Menyelesaikan apa, semuanya sudah selesai dan sepertinya memang aku dan kamu tidak akan pernah bisa ber .....” Qiandra belum sempat menyelesaikan kata katanya saat


Dean tiba tiba menyambar bibirnya.

__ADS_1


Dean ******* dengan lembut bibir wanita itu, “Honey, jangan mengatakan apapun tentang


perpisahan, kamu tahu aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.  Apapun yang akan kita hadapi, kita akan tetap berjuang menghadapinya bersama, apa kamu mau, hmmmm” tanya Dean dengan tatapan


tulus kepada wanita yang masih terbaring lemah itu.


“Tapi, bagaimana ......” kata kata Qiandra kembali terhenti karena Dean meletakkan jari


telunjuknya di bibir seksi wanita itu.


“Jangan memikirkan apapun, kami akan menyelesaikan semuanya, yang terpenting sekarang aku sudah tahu apa yang terjadi.  Aku dan Kakak Ipar sudah menyusun langkah langkah yang sekiranya bisa menemukan jalan keluar terbaik untuk masalah ini.  Ada


hal hal yang masih tersembunyi dan belum dipecahkan, oleh sebab itu harus diselidiki kembali.  Semoga saja dengan kerja sama ini, kita bisa menemukan sebuah titik terang yang terbaik” sahut Dean.


“Tapi, tapi bagaimana jika semua dugaaan itu benar adanya” tanya Qiandra masih dengan wajah ragu.


“Sebenarnya semua kasus itu sudah ditutup, dan aku sendiri tidak ingin mempermasalahkannya lagi, tapi aku tahu tidak mudah untuk kalian, dan aku juga penasaran apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu sehingga perintah dari kakekku tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya” sahut Dean lagi.


“Honey, tidak bisakah kamu memanggilku seperti biasanya, aku sungguh merasa tidak nyaman dengan panggilanmu saat ini, seolah aku ini orang asing bagimu” desah Dean.


“Tapi aku .....” Dean kembali memutus kata kata Qiandra.


“Ya, sudah, tidak perlu memberi penjelasan, jika memang masih sulit untukmu, tidak masalah, lakukan apapun yang bisa membuatmu nyaman.  Sekarang sebaiknya kamu beristirahat, aku tidak akan mengganggumu lagi, Honey, tapi ingatlah selalu, apapun yang terjadi aku tetap dan akan selalu mencintaimu” ucap Dean seraya mengecup kening Qiandra.


Qiandra memejamkan matanya dan merasakan kehangatan yang menyelimuti hatinya saat bibir sang suami berada di keningnya.  Saat Dean perlahan berdiri sambil membelai rambutnya, Qiandra dengan cepat


menggenggam tangan laki laki itu, “Love, maafkan aku, maafkan keegoisanku” cicit wanita itu dengan air mata yang perlahan mengalir dipipinya.


Dean tersenyum lalu membalas genggaman wanita itu dengan lebih erat, sebelah tangannya menghapus air mata yang mengalir di wajah wanita yang sangat dicintainya itu.  “Sudahlah, jangan terlalu membebani pikiranmu, sekarang kamu cukup pikirankan kesehatanmu dan bayi kita.  Untuk masalah ini, biarkan aku menyelesaikannya bersama dengan Kakak Ipar” ucap Dean yang kembali duduk di samping Qiandra.


“Kakak Ipar?, sejak tadi aku mendengarmu menyebut kakak ipar, Love, apakah yang kamu maksud Kak Dika?” tanya Qiandra.

__ADS_1


Dean lagi lagi menampilkan senyum termanisnya, senyum yang mampu merontokkan hati wanita manapun termasuk Qiandra.  “Memang siapa lagi yang bisa aku panggil kakak ipar selain Kak Dika, lagipula Kak Dika memang lebih tua dari diriku, jadi tidak ada yang salah bukan” ucap Dean.


“Bukan tentang benar atau salahnya, Love, tapi Kak Dika ....” Qiandra langsung terdiam saat melihat laki laki yang akan dibicarakannya itu masuk ke dalam kamar mereka.


Dika menampilkan wajah masam, “Jangan coba menjelek jelekkan kakakmu sendiri, Feli, aku tahu kamu pasti akan mengadu hal yang tidak tidak pada suamimu” serunya dengan wajah dibuat kesal.  Dika tidak memperdulikan Dean, dia dengan santai naik ke atas tempat tidur Qiandra dan mengacak rambut wanita itu.


“Ishh, kakak ichhh, kenapa selalu merusak tatanan rambutku, lagian ngapain kakak duduk disini, ini tempat suamiku” seru Qiandra dengan wajah kesal.


“Hei, statusku lebih tinggi darinya, aku kakakmu, jadi aku boleh duduk dimana saja yang aku mau” seru Dika.


“Aturan dari mana itu, Kak, mana ada status kakak lebih tinggi dari status suami” seru Qiandra.


“Itu aturanku, ah sudahlah, apa kamu tidak malu terus menerus melawan kakakmu di hadapan suamimu” tanya Dika seraya kembali mengacak rambut Qiandra.


“Astaga, kakak!!!” seru Qiandra dengan kesal, “Bisa nggak sich kakak berhenti mengacak


rambutku” ucapnya dengan mata membesar yang justru terlihat imut di mata Dean


dan Dika, membuat kedua laki laki itu tersenyum menatap ke arah Qiandra.  “Sekarang apa lagi, mengapa kalian berdua


sama sama tersenyum, jangan bila kalian kesurupan bersama sama” ucap Qiandra


dengan mata silih berganti melihat ke arah Dean dan Dika.


“Haish, otakmu itu gimana sich, masa di jaman semodern ini masih percaya pada hal hal seperti itu, atau jangan jangan kamu punya indra keenam dan bisa melihat hantu” ucap Dika dengan setengah berbisik membuat Qiandra reflek memukul kakaknya.


Dika justru semakin terbahak saat wanita itu melayangkan pukulan kesal pada tubuhnya yang sama sekali tidak dirasakan oleh laki laki itu.  Karena Qiandra juga tidak memukul dengan tenaga, “Kakak benar benar ya,


memang kakak kira aku anak kecil yang masih bisa ditakuti dengan hal hal seperti itu” serunya dengan kesal.


Dean yang melihat kedua saudara itu hanya bisa tersenyum, tanpa berusaha mencampuri candaan keduanya.  Bagi Dean, melihat Qiandra bisa tersenyum,  tertawa bahagia bahkan bermanja seperti itu sudah sangat menenangkan hatinya.  Walau terbersit sedikit rasa cemburu, tapi Dean segera mengusirnya, dia sadar dia harus benar benar bisa menerima kehadiran Dika sebagai kakak dari wanita yang sangat dicintainya itu.

__ADS_1


__ADS_2