PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
DELAPAN PULUH DUA


__ADS_3

Dear readers kesangan author...


Mohon maafkan author ya nggak bisa rurin update, lagi banyak banget kerjaannya nich...


Padahal otak maya author berkelana terua buat nyusun cerita, tp belum sempat dituangin ke tulisan....


Semoga readers bisa maklum, love you all 🙏🙏


Please jangan pelit sama dukungannya ya 😊😊, tetap ditunggu


Vote


Koment


Like


Terima kasih cmuanya 🙏🙏


############*********############


“Love....” sebuah suara yang begitu dinantikan


oleh Dean mengejutkan presidir tampan itu.


“Honey, ah akhirnya kamu bangun juga,


bagaimana perasaanmu sekarang” tanya Dean dengan lembut pada istrinya yang terlihat masih mengerjabkan matanya.


“Hmmmm, Love, aku lapar...” rengek Qiandra


dengan mata sendu menatap suaminya.


“Astaga, kamu benar, Honey, ini sudah siang


sekali dan sudah lewat waktu makan siang, baiklah, tunggu sebentar ya” ucap Dean, kemudian dia mengecup kening Qiandra dengan lembut.  Setelah itu, Dean mengambil phonselnya dan menghubungi seseorang.


“Al, bawa makan siang ke kamar, Qiqi sudah


bangun” ucap Dean saat panggilannya sudah tersambung.  Dean sebenarnya bisa saja menghubungi perawat lain, namun dia ingin memastikan bahwa makanan yang akan dikonsumsi oleh Qiandra benar-benar sesuai dengan kondisi Qiandra saat ini.


Saat kembali ke bangsal tempat Qiandra


berbaring, Dean terkejut karena tidak melihat Qiandra berbaring disana.  Dia bergegas mencari wanita itu sambil berseru memanggil Qiandra, “Honey, dimana kamu” seru Dean.


Namun, tidak ada sahutan sama sekali dari


Qiandra, membuat Dean sedikit panik dan khawatir.  Saat Dean sudah mengeluarkan phonselnya untuk memanggil bantuan, dia bernafas lega karena melihat Qiandra melangkah dengan perlahan keluar dari kamar kecil.


“Astaga, Honey, kamu membuatku panik saja,


lain kali katakan saja kamu mau apa atau mau kemana” ucap Dean dengan lembut pada Qiandra yang melangkah dengan perlahan.  Dean bergegas menghampiri Qiandra dan langsung mengangkat tubuh wanita itu.


“Ish, Love, aku baik-baik saja, aku bahkan


siap untuk pulang sekarang” desis Qiandra yang merasa kondisinya sudah baik-baik saja.


“Jangan bercanda, Honey, untuk melangkah saja kamu masih tertatih, bagaimana kamu bisa mengatakan kamu baik-baik saja, hmmm”


ucap Dean setelah dia meletakkan Qiandra dengan perlahan diatas bangsalnya.


“Tentu saja aku tertatih, Love, aku baru


bangun tidur, wajar kan kalau badanku masih belum stabil” sahut Qiandra dengan mengerucutkan bibirnya.  Namun, perbuatannya itu membuat Dean merasa gemas, sehingga dengan gerakan cepat Dean


mencium bibir istrinya dan tidak hanya itu, Dean bahkan melu*at bibir Qiandra dengan penuh kelembutan.


Qiandra yang pada awalnya terkejut dengan


serangan tiba-tiba dari suaminya itu, setelah beberapa saat dia malah membalas


permainan bibir sang suami.  Bahkan


Qiandra mengalungkan kedua lengannya di leher Dean, membuat laki-laki tampan itu merasa semakin bergairah.


Mereka berdua semakin tenggelam dalam ciu*an yang semakin memanas, bahkan tangan Dean sudah mulai masuk ke dalam piyama


pasien yang digunakan oleh Qiandra.  Hingga mereka tidak menyadari saat pintu ruang perawatan Qiandra itu terbuka.


“Oh, astaga, kurasa aku benar-benar harus

__ADS_1


mengisolasi pasienku, dan membuat larangan berkunjung jika setiap pengunjung berbuat seperti ini” sebuah suara membuat kedua sejoli yang sudah mulai terbakar gairah itu terkejut bukan main.


Qiandra segera memperbaiki pakaiannya yang


sudah terbuka di beberapa bagian, kemudian menutupi dirinya dengan selimut.  Wanita ini benar-benar merasa malu karena perbuatan keduanya yang tidak kenal tempat, walaupun dia melakukan itu bersama laki-laki yang berstatus sebagai suaminya.


Berbeda dengan Qiandra yang merasa malu, Dean malah merasa kesal dan marah dengan kehadiran orang yang menegur mereka berdua


itu.  “Dasar dokter gadungan, apa kamu tidak tahu fungsi dan manfaat dari pintu ruangan, tidak bisakan kamu masuk dengan mengetuk pintu untuk sekedar permisi” ucap presidir tampan itu dengan kesal.


“Ho ho ho, maaf Tuan Dean, saya rasa saya


berhak masuk dan memeriksa pasien saya, lagi pula saya sudah mengetuk pintu tadi, namun sepertinya tidak ada yang mendengarnya.  Jadi, menurut Anda apakah saya memang bersalah” sahut laki-laki yang tak lain dari dokter Albert itu.  “Lagipula, bukankah Anda sendiri yang memesan makanan untuk makan siang Anda, apa Anda sebegitu laparnya sampai harus memakan pasien saya” lanjutnya lagi dengan mengangkat alisnya.


Dean ingin menjawab kata-kata sahabatnya itu,


namun tangan lembut Qiandra menahannya dengan menggenggam erat tangan sang


suami.  “Maafkan kami, Kak Al” ucap Qiandra dengan menundukkan kepalanya.


Dokter Albert yang sebenarnya masih ingin


menggoda Dean, mengurungkan niatnya.  Dokter Albert tidak tega saat melihat wajah Qiandra yang benar-benar merah padam, belum lagi tatapan horor Dean yang memberikan kode sambil melirik sang istri.


“Hah, sudahlah, Qi, jangan kamu pikirkan,


suamimu inilah yang memang patut untuk disalahkan.  Sekarang, makanan sudah disiapkan dan akan segera dibawa ke sini, apakah kamu akan makan di tempat tidur atau kamu ingin makan di taman disamping ruangan ini” tanya dokter Albert dengan lembut pada Qiandra.


“Apa aku boleh makan di taman, Kak, kalau


memang boleh aku mau, Kak, bau rumah sakit benar-benar membuatku tidak nyaman untuk menikmati makanan apapun” ucap Qiandra dengan wajah ceria.


“Tentu saja boleh, Qi, pergilah ke taman


samping, nanti mereka akan mengantarkan makananmu ke sana.  Jangan pedulikan pengunjungmu yang satu ini, karena seharusnya dia sudah keluar dari ruangan ini sejak tadi, tapi lihatlah, bahkan bergeser dari sisimu saja dia tidak mau.  Semoga saja dia tidak mengganggu ketenanganmu agar kamu bisa cepat pulih” ucap dokter Albert yang memang masih belum puas menggoda Dean.


“Al.....” desis Dean, dia ingin memaki sahabatnya yang satu ini yang memang sangat jarang sekali bisa bersikap serius.  Namun, kata-kata Dean tidak sempat diucapkannya karena sudah diputuskan oleh Qiandra.


“Tidak mengapa, Kak, pengunjung yang satu ini


sumber kesembuhanku, hanya dia yang bisa memberiku kekuatan dan semangat agar bisa cepat pulih” ucap Qindra sambil menatap Dean penuh cinta, membuat presidir tampan itu tersenyum bahagia dan segera mengecup pucuk kepala Qiandra.


“Cih, kamu hanya membuat dia besar kepala, Qi, ya sudah, sekarang pergilah, sepertinya makananmu sudah disiapkan di taman” ucap dokter Albert, walaupun dia berdecih, tapi dalam hatinya dia merasa sangat bahagia melihat kebahagiaan sahabatnya itu. Bukankah seperti itu seharusnya sebuah persahabatan yang sejati itu, bahagia saat yang lain bahagia dan turut berduka saat sahabatnya mengalami


seringkali hanya kamuflase saja, karena yang banyak terjadi justru sebaliknya.


Qiandra melangkah menuju ke taman samping


kamarnya dengan dituntun oleh Dean.  Walaupun sebenarnya Qiandra bisa saja melangkah sendiri tanpa dibantu, namun Dean tidak akan membiarkan hal itu terjadi.  Laki-laki itu sudah cukup prihatin saat melihat wanita yang sangat dikasihinya itu melangkah dengan tertatih.


Dean menuntun istrinya dengan perlahan,


setelah mereka sampai di taman samping ruang perawatan Qiandra, Dean segera membantu sang istri untuk duduk di salah satu kursi taman yang ada disitu.  Kemudian, Dean dengan sigap mengambil satu piring dan mengisinya dengan beberapa jenis makanan yang disukai oleh Qiandra.


Qiandra hanya bisa menatap aktifitas laki-laki


itu tanpa berkedip, ada bahagia dan haru yang merasuk dalam hatinya.  Tanpa dia sadari, rasa cintanya bertambah berkali-kali lipat saat melihat bagaimana suaminya mengurus dirinya dengan sangat telaten.  Tanpa sadar sebutir air


bening mengalir di sudut mata cantik wanita ini.


Dean yang membawa makanan ke hadapan Qiandra, cukup terkejut saat melihat air mata wanita itu saat menatap dirinya.  “Ada apa, Honey, apa ada yang sakit, atau apa aku membuat kesalahan sehingga kamu meneteskan air matamu” ucap Dean dengan


lembut sembari menyeka air mata di pipi wanita yang sangat dikasihinya itu.


Qiandra hanya menggeleng perlahan, dia meraih tangan sang suami dan menciumnya dengan lembut.  “Aku baik-baik saja, Love, aku hanya merasa sangat terharu, tak pernah


terbayang dalam benakku, memiliki kamu, laki-laki hebat yang bisa begitu mengasihiku seperti ini” ucap Qiandra dengan sendu.


Dean tersenyum mendengar kata-kata istrinya


itu, hatinya merasa sangat bahagia.  Dean


meletakkan piring makanan yang sudah disiapkannya kembali ke atas meja, lalu dia meraih jemari lentik Qiandra.  “Aku sangat, sangat mencintaimu, Honey, apapun akan aku lakukan untuk membahagiakanmu, bagiku, kamulah duniaku, tujuan hidupku, kamu segalanya bagiku” ucap Dean dengan lembut, dia bersimpuh di hadapan Qiandra dan menatap ke dalam manik hitam Qiandra dengan intens.


“Terima kasih, Love, terima kasih mau menerima aku dalam semua kekuranganku, bantu aku agar bisa menjadi istri dan menjadi


pendamping yang layak untukmu dan sesuai dengan harapanmu” ucap Qiandra.  Jujur, rasa percaya diri wanita ini memang masih sangat rendah jika harus bersanding dengan seorang presidir tampan seperti Dean.


“Tidak perlu berpikir untuk mengubah dirimu,

__ADS_1


Honey, aku mengasihimu dan mencintaimu apa adanya.  Aku sungguh tidak ingin kamu mengubah dirimu hanya karena merasa harus menjadi layak berada di sisiku.  Kamu sudah sangat dan sangat layak untuk menjadi pendampingku dalam dirimu yang sekarang.  Cukup menjadi dirimu sendiri dan cintailah


aku, hanya aku, itu sudah lebih dari cukup untukku” ucap Dean seraya menangkup pipi Qiandra.


Qiandra tak bisa berkata-kata lagi saat


mendengar betapa manisnya ucapan sang presidir tampan itu (author aja meleleh


babang Dean).  Dean berdiri dan mengecup


kening istrinya dengan lembut, “I love you, Qiqi” bisiknya dengan lembut di telinga istrinya itu.


“Love you too, Love” ucap Qiandra dengan


lembut.


“Sekarang, makanlah dulu, aku tidak mau


dimarahi dokter gadungan itu lagi jika sampai salah satu pasiennya sakit lagi hanya karena kelaparan” ucap Dean dengan sedikit tertawa saat teringat dokter Albert yang selalu menggodanya.


Dean mengambil piring yang sudah disiapkannya tadi, lalu mulai menyuapi Qiandra, “Love, aku bisa makan sendiri, tidak perlu kamu yang menyuapi aku” seru Qiandra, dia merasa sangat tidak nyaman jika sampai sang presidir yang juga seorang raja harus melayani hingga menyuapi dirinya.


“Honey, kumohon buanglah semua statusku di


luar sana dalam otakmu saat kita berdua seperti ini, saat ini aku tidak ada bedanya dengan laki-laki lain yang berstatus sebagai suami dan sebagai suami sudah menjadi kewjibanku untuk melayani dan mengurus istriku saat dia sedang sakit” sahut Dean, dia memberikan sesuap nasi ke dalam mulut Qiandra.


Qiandra hanya bisa diam karena makanan yang


memenuhi mulutnya, setelah mulutnya kosong dia kembali bergumam, “Tapi aku kan tidak sakit, masa badan sehat seperti ini disebut sakit sich” gumaman Qiandra terdengar oleh Dean, membuat laki-laki itu segera menatap Qiandra dengan intens.


“Nyonya Dean, bagaimana bisa kamu mengatakan kamu tidak sakit padahal badan kamu lemah seperti ini.  Apa Anda beranggapan seseorang baru dikatakan


sakit kalu sudah tidak bisa bangun lagi, hmmm” ucap Dean dengan lembut, dia mengangkat dagu sang istri dan mengunci manik mata hitam wanita itu.


Saat Qiandra ingin berbicara lagi, Dean kembali


memasukkan sesuap nasi ke dalam mulut wanita itu, “Stttt, jangan menggerutu lagi, Nyonya, kamu harus segera menghabiskan makananmu, atau kamu memang senang


melihat laki-laki tampan di depan ini di semprot lagi oleh dokter gadungan itu” ucap Dean.  Laki-laki itu bahkan mengecup bibir Qiandra yang saat itu mulutnya masih dipenuhi makanan.


Hal itu sangat mengejutkan Qiandra, dia hanya


bisa membelalakkan matanya sebagai bentuk protes terhadap sikap Dean, karena mulutnya masih penuh makanan.  Dean hanya tertawa geli melhat pipi istrinya menggembung ingin bicara tapi mulutnya masih dipenuhi makanan.


“Itu adalah salah satu cara agar kamu bisa


secepatnya menghabiskan makanan di dalam mulutmu, agar kamu bisa secepatnya


mengomeli suami tampanmu ini” ucap Dean sambil menaik turunkan kedua alis matanya, membuat Qiandra menghembuskan nafasnya dengan kesal.


Dean benar-benar tidak membiarkan mulut wanita itu kosong, dia terus menyuapi Qiandra dengan makanan yang ada dalam piring


yang telah disiapkannya.  Sesekali dia


memberikan minuman untuk wanita itu saat dilihatnya Qiandra sedikit kesulitan menelan makanannya.  Tidak berapa lama makanan dalam piring yang ada di tangan Dean sudah tandas, membuat laki-laki itu tersenyum puas.


“Astaga, Love, jika kamu selalu memberiku


makan dengan cara seperti itu, maka tidak lama lagi kamu akan membuat berat badanku naik berkali-kali lipat” keluh Qiandra yang merasa benar-benar kekenyangan.


“Aku akan merasa bahagia kalau bisa membuat


berat badanmu bertambah, karena itu berarti kamu bahagia hidup bersama denganku” ucap Dean seraya membelai lembut rambut Qiandra.


“Ish, nanti kalau aku gendut, kamu malah nggak


sayang lagi sama aku” gerutu Qiandra.


“Ha ha ha, apa menurutmu aku hanya mencintaimu karena tubuhmu, Honey, hmmmm, aku mencintaimu karena hatimu, ketulusanmu dan keseluruhan yang ada dalam pribadimu.  Jangan pernah berpikir sedangkal itu, Honey” kekeh Dean yang merasa lucu mendengar ketakutan istrinya itu.


“Awas saja kalau sampai kamu coba-coba


berpaling dariku saat melihat badanku melar, maka aku akan mengkebiri dirimu biar tidak bisa lagi melakukan....” wajah Qiandra merona dengan sendirinya tanpa mampu melanjutkan kata-katanya.


Dean segera mendekatkan wajahnya pada wajah Qiandra, “Melakukan apa, Honey, mengapa kamu tidak melanjutkan kata-katamu,


hmmmm, apa kamu begitu tergila-gila dengan permainan ranjangku, sampai-sampai kamu menjadikan itu sebagai ancaman untukku” tanya Dean dengan senyum smirk menghias bibirnya.


Wajah Qiandra semakin merah padam mendengar kata-kata Dean, “Love....” seru wanita itu berusaha menutupi rasa malunya, dan hal ini membuat Dean tertawa bahagia.

__ADS_1


“Jangan khawatir, Honey, hanya kamu yang akan merasakannya, aku jamin itu” ucap Dean dengan mengedipkan matanya, membuat


Qiandra hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar ucapan suaminya.


__ADS_2