PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS TUJUH PULUH DUA


__ADS_3

“Vian, apa semua CCTV di mansion sudah aktif” tanya Dean saat mereka baru saja masuk ke dalam mobil yang akan membawa mereka menuju ke kantor pusat PT.Zacharias.


“Sudah, Tuan” sahut asisten Vian.


“Aku tidak ingin ada yang terlewat dari pembicaraan mereka, kita masih belum tahu apakah Qiqi benar benar belum mengingat peristiwa masa kecil yang membuatnya trauma, atau dia sudah mengetahuinya dan sengaja menyembunyikan dengan suatu alasan tertentu” ucap Dean.


“Maaf, Tuan, jika dugaan saya, Nyonya Muda benar benar melupakan peristiwa itu, hais, seandainya Nyonya Muda tidak sedang hamil, maka semuanya pasti akan lebih mudah” keluh asisten Vian yang benar benar dipusingkan dengan misteri masa lalu Qiandra.  Karena semua penyelidikan selalu akan diserahkan padanya, belum lagi urusan perusahaan yang akhir akhir ini hampir sepenuhnya harus di handle oleh asisten Vian juga.


“Heh, apa maksudmu, apa kamu tidak mensyukuri kehamilan istriku, hah” sentak Dean yang membuat asisten Vian benar benar terkejut dan baru menyadari kesalahannya dalam berbicara.


“Eh, bu bukan begitu maksud saya, Tuan, saya mensyukuri kehamilan Nyonya Muda, tapi semua masalah ini benar benar berat untuk kita hadapi untuk saat ini” asisten Vian tergagap dan kebingungan mencari alasan agar sang bos tidak marah padanya.


“Jangan pernah menyalahkan kehamilannya, itu adalah anugerah untuk keluarga Zacharias” desis Dean yang benar benar tidak suka jika kehamilan sang istri dijadikan alasan kerumitan masalah mereka saat ini.


“Haish, padahal pada kenyataannya memang kehamilan Qiandra yang membuat semua masalah ini jadi semakin berbelit dan harus diselidiki bahkan mulai dari nol” bisik hati asisten Vian namun tidak akan berani diucapkan oleh mulutnya.


“Bagaimana dengan bajingan itu” tanya Dean tiba tiba pada asisten Vian.


Asisten Vian tahu kalau yang dimaksud oleh Dean adalah Daniel.  “Sementara ini mereka sedang memperjuangkan untuk membebaskannya dengan jaminan.  Tuan Dika benar benar tidak ragu untuk mengeluarkannya dari penjara, mereka melakukan segala cara agar bisa membebaskan Daniel” sahut asisten Vian.


“Hmmm, apa mungkin hanya karena alasan sebagai saudara angkat saja, apa tidak ada alasan lainnya lagi” desis Dean seolah pada dirinya sendiri.


“Maaf, Tuan, maksud Anda” asisten Vian yang tidak begitu jelas mendengar ucapan Dean bertanya kepada Dean.


“Hah, aku hanya khawatir akan ada konspirasi kejahatan lagi yang akan mereka lakukan kepada istriku.  Sementara sampai saat ini kita benar benar belum mengetahui apa hubungan antara Bu Sum, Dika dan Qiandra” ucap Dean mengemukakan kekhawatirannya.


Asisten Vian terdiam sesaat, “Tapi, Tuan jika memang ada hubungan antara mereka bertiga, saya tidak yakin kalau mereka mencelakai Nyonya Muda, apalagi jika terbukti benar hubungan antara Tuan Dika dan Nyonya Muda, rasanya sangat mustahil mereka akan mencelakai Nyonya Muda, bukankah justru mereka seharusnya akan semakin melindungi Nyonya Muda” ucap asisten Vian berusaha memberikan pemikiran yang rasional.


“Hmmm, entahlah, Vian, firasatku hanya mengatakan ada sesuatu yang sangat besar yang mereka sembunyikan.  Aku benar benar mengkhawatirkan Qiqi, kondisinya saat ini benar benar sedang rentan, aku tidak sanggup jika harus melihatnya terluka dan menangis lagi.  Melihat tawa dan kebahagiaannya sudah cukup menyenangkan dan memberi kebahagiaan tersendiri bagiku.  Aku benar benar tidak ada keinginan untuk mengetahui masa lalunya, apa dan bagaimana pun itu aku tidak perduli, yang aku inginkan hanya menjalani masa depan kami dengan bahagia” ucap Dean dengan mata menatap jauh keluar jendela mobil mewah itu.


Asisten Vian hanya terdiam, dia sangat mengerti beratnya beban yang harus dipikul seorang Dean Walt Zacharias.  Asisten Vian hanya sulit memahami takdir kehidupan, mengapa Dean harus terlibat dengan seorang Qiandra Zweta Aldrich.  Wanita dengan berbagai kelebihan namun dengan begitu banyak misteri kehidupan di masa lalunya, yang sayangnya bahkan tidak disadari oleh Qiandra sendiri.

__ADS_1


Dean memijit pelipisnya saat pikirannya benar benar buntu memikirkan tentang kehidupan Qiandra.  “Bagaimana keadaan Daddy, aku belum sempat menjenguknya” ucap Dean yang tiba tiba teringat pada sang Daddy Walt.


“Khabar terakhir dari Al kemaren masih belum ada perubahan yang signifikan, sepertinya beliau masih sangat menikmati dunia lain, karena sekalipun mata beliau terpejam, tapi wajah beliau memancarkan kebahagiaan dengan senyum yang semakin sering terlihat di wajah beliau” ucap asisten Vian menyampaikan sesuai dengan yang dijelaskan oleh dokter Albert.


Dean kembali menghembuskan nafas dengan berat, matanya terpejam dengan kepala disandarkan pada kursi mobil.  Bagi Dean, lebih mudah menghadapi berbagai masalah pelik di perusahaan dibandingkan harus menghadapi masalah keluarga yang melibatkan hati dan pikiran.  Rasa lelah tiba tiba saja mendera dirinya, sungguh Dean berharap semua masalah ini bisa segera selesai dengan akhir yang baik.


“Pastikan semua perawatan terbaik dilakukan untuk Daddy, atau apa masih belum diketahui rumah sakit lain yang bisa membantu pengobatannya” tanya Dean lagi.


“Maafkan saya, Tuan, sepertinya rumah sakit kita adalah yang terbaik untuk saat ini.  Maaf jika saya sedikit lancang, dokter Albert adalah dokter spesialis terbaik di seluruh dunia yang membidangi kasus seperti ini.  Jadi, jika kita mencari tempat lain lagi, rasanya sangat tidak etis, karena kita sudah memberikan semua yang terbaik, kecuali jika ingin menurunkan standar perawatan Tuan Besar” ucap asisten Vian.


Asisten Vian sangat mengerti jika Dean merasa sangat kacau dan putus asa saat memikirkan keadaan sang Daddy.  Tapi, asisten Vian juga tidak bisa membiarkan Dean meminta mencari alternatif perawatan lain, karena hal itu bisa saja melukai perasaan dokter Albert.


Jika Dean mencari dokter lain atau rumah sakit lain, sama halnya Dean tidak lagi mempercayai rumah sakit miliknya sendiri.  Lebih parah lagi, hal itu juga bisa mengindikasikan kalau Dean juga tidak mempercayai kemampuan dokter Albert yang saat ini sedang menangani Daddy Walt dengan intensif.  Asisten Vian menghindari terjadinya kesalah pahaman antara Dean dan dokter Albert, karena asisten Vian tahu kalau saat ini Dean sedang benar benar resah.


Mobil mewah yang membawa Dean dan asisten Vian akhirnya tiba di komplek perusahaan PT.Zacharias.  Beberapa gedung pencakar langit berdiri megah di komplek tersebut, dan semua itu adalah kerajaan bisnis milik keluarga Dean Walt Zacharias.  Mobil mereka akhirnya berhenti di depan loby salah satu gedung tertinggi dan terlihat paling megah.


Para karyawan, juga dewan direksi sudah berbaris dengan rapi menanti kehadiran sang presidir.  Saat pintu mobil terbuka dan Dean baru mengeluarkan sebelah kakinya, mereka semua segera membungkukkan badan memberi hormat.


“Rapat apa pagi ini” tanya Dean yang berusaha untuk memfokuskan pikirannya hanya pada perusahaan untuk saat ini.


“Apa Anda tidak ke ruangan Anda dulu, Tuan” tanya asisten Vian.  Karena biasanya setelah datang Dean akan langsung menuju ke ruang kerjanya untuk memeriksa beberapa berkas sementara pihak pihak yang akan mengadakan rapat dengannya mempersiapkan diri.


“Tidak, kita akan langsung menuju ke ruang rapat, aku tidak akan mengurus masalah berkas di kantor.  Bukankah sudah aku katakan aku ke kantor khusus untuk menghadiri rapat dan pertemuan pertemuan penting dengan relasi kita.  Jika masalah berkas, aku akan menyelesaikannya di mansion” ucap Dean dengan tegas tanpa ingin dibantah lagi.


“Baik, Tuan” sahut asisten Vian walaupun dalam hatinya berusaha untuk bersabar.


“Apa semua sudah siap di ruang rapat” tanya Dean lagi.


“Sudah, Tuan, dewan direksi sudah mempersipkan diri dan menunggu kehadiran Anda” sahut asisten Vian.  Dean tidak menyahut, dan saat keluar dari lift mereka langsung melangkah menuju ke ruang rapat.


Selama rapat berlangsung, dimana para dewan direksi menyampaikan berbagai progres serta berbagai kendala yang di hadapi, Dean benar benar fokus dengan laporan yang disampaikan.  Walaupun demikian, phonselnya tetap diletakkan di hadapannya, hal yang sangat tidak biasa dilakukan oleh seorang Dean Walt Zacharias.

__ADS_1


Semua orang tahu, kalau saat rapat sedang berlangsung, hanya phonsel asisten Vian yang boleh diaktifkan.  Sementara phonsel semua peserta rapat yang lainnya harus dinon aktifkan.  Namun, kali ini justru phonsel Dean sendiri yang berada di atas meja dan dalam posisi aktif.


Walaupun terlihat seperti kurang fokus, namun ternyata jiwa bisnis seorang Dean Walt Zacharias tidak bisa dianggap remeh.  Sebuah laporan keungan dengan sedikit kesalahan, yang mungkin bagi orang lain akan terlewat, tidak luput dari pengamatan Dean.


“Jelaskan secara rinci laporanmu” seru Dean dengan suara tajam dan aura dingin yang seketika menyelimuti ruangan itu.


Direktur keuangan yang saat ini sedang melaporkan, terlihat sedikit bergetar, semua orang tahu kalau Sang presidir meminta diperjelas, itu berarti dia menemukan sesuatu yang janggal.  Jika tidak bisa memberikan jawaban yang masuk akal dan rasional, maka jangan harap akan bisa keluar dari ruang rapat itu dengan hati tenang.


Direktur keuangan berusaha menjabarkan secara rinci laporan yang dimaksud oleh Dean.  Namun sebelum dia selesai, Dean sudah mengangkat tangannya, “Sampai sini, apa Anda benar benar tidak menemukan kekeliruan, jika belum coba Anda teliti lagi mulai dari awal” ucap Dean kembali dengan suara dingin yang tajam dan tatapan yang menusuk.


Direktur keuangan itu kembali mencoba menelaah laporan yang sudah dibuatnya bersama dengan stafnya itu.  Sayangnya, karena dalam kondisi tertekan, dia benar benar kesulitan menemukan kesalahan apa yang dimaksud oleh Dean.


“Bagaimana perusahaan sebesar ini bisa menggunakan Anda sebagai direktur keungan, sementara hal sekecil itu saja tidak bisa Anda temukan, teliti kembali sampai rapat berakhir, atau aku akan menggantikan posisi Anda dengan yang lebih kompeten” ucap Dean seraya melambaikan tangannya seolah mengusir direktur keuangan tersebut.


Semua tahu jika ancaman yang diberikan oleh Dean bukanlah isapan jempol.  Saat dia sudah memberikan kode seperti itu, maka sang direktur keuangan langsung berdiri, membungkuk sebentar memberi hormat, lalu melangkah kearah kursi di bagian belakang.  Keringat dingin sudah membasahi kening laki laki paruh baya itu, dia benar benar kesulitan menemukan masalah yang dimaksud oleh Dean.


Sementara Dean sendiri sudah tahu, kalau laporan tersebut tidak dibuat oleh direktur keuangannya melainkan dibuat oleh stafnya.  Dean juga sudah menerima laporan kalau selama dia tidak aktif di kantor, direktur keuangannya itu juga sering tidak masuk kantor karena lebih banyak pergi liburan.  Karena itulah, walau terlihat kurang serius, Dean menaruh perhatian khusus pada laporan keuangan yang disampaikannya tadi.  Sehingga saat ada satu kesalahan kecil, Dean bisa langsung mengetahuinya.


Suasana dalam ruangan rapat itu terasa semakin mencekam, semua orang terlihat berusaha menutupi kegugupannya.  “Selama aku tidak aktif ke kantor, jangan kira kalian bisa semena mena bertindak dan menggunakan jabatan kalian dengan tidak bertanggung jawab.  Kalian sudah sangat tahu bagaimana tuntutan kinerja di perusahaan ini, jika kalian merasa keberatan, saya tidak akan segan menerima surat pengunduran diri kalian.  Saya rasa itu jauh lebih baik daripada kalian harus menerima surat pemecatan” ucap Dean menambah ketar ketir di hati semua peserta rapat.


Saat semua orang dalam ketegangan, tiba tiba sebuah notifikasi masuk ke dalam phonsel Dean yang seketika membuat sang presidir itu meraih phonselnya.  Dean melihat pesan yang dikirimkan oleh Qiandra, dan tanpa pikir panjang dia langsung menghubungi sang istri.  Tidak hanya menghubungi biasa, Dean bahkan melakukan video call dengan sang istri.


Asisten Vian hanya bisa mendesah pasrah walau didalam hati dia benar benar merutuki kebucinan tuannya itu.  “Astaga, bagaimana menertibkan karyawan, kalau bosnya saja seperti ini” desis asisten Vian dalam hati dengan sedikit kesal.


Dean sendiri benar benar tidak memperdulikan keadaan dewan direksi yang sedang ketar ketir.  Presidir tampan itu bahkan asyik menggoda sang istri dengan kata kata yang membuat wajah semua orang dalam ruangan itu bersemu.  Asisten Vian sendiri hanya bisa menunduk sambil menggenggam erat berkas ditangannya berusaha menyalurkan rasa kesal di hatinya.


“Oh, ya ampun, seandainya aku bisa menghubungi Nyonya Muda, aku akan memintanya untuk segera mengakhiri telepon ini” desis asisten Vian yang lagi lagi hanya bisa diucapkan dalam hatinya saja.  Untungnya harapan asisten Vian sepertinya terjawab, karena Qiandra benar benar memutuskan panggilan telepon Dean.


Hal yang sangat langka, ada orang yang berani menutup panggilan telepon lebih dulu saat sang presidir sedang berbicara.  Jika orang lain, maka bisa dibayangkan kemarahan sang presidir itu.  Namun saat ini, yang terjadi justru sebaliknya, Dean terlihat bahagia.  Bahkan bibir laki laki tampan itu terkekeh kecil yang membuat semua orang sedikit bernafas lega, berharap suasana hati sang presidir membaik.


Sayangnya, hal itu berubah seketika.  Saat Dean kembali pada materi rapat, semua keceriaan di wajahnya terhapus dan berganti dengan aura dingin yang kembali membuat semua orang menggigil karena rasa takut.  “Lanjutkan, dan jangan coba menyembunyikan apapun pada laporan kalian.  Saya lebih menyukai kejujuran sekalipun itu salah daripada kesempurnaan yang ternyata hanyalah sebuah kebohongan” ucap Dean.

__ADS_1


Semua peserta rapat hanya bisa terdiam dan masing masing benar benar harus mempersiapkan mental untuk melakukan paparan dengan sang presidir.  Bagi yang melakukan kesalahan,  mereka tau kalau sebenarnya semua kesalahan mereka sudah diketahui oleh Dean.  Oleh sebab itu, mereka harus mempersiapkan alasan yang bisa diterima oleh presidir utama PT.Zacharias itu.


__ADS_2