PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
EMPAT PULUH LIMA


__ADS_3

“Love, maafkan aku, selama ini aku sama sekali tidak tahu apa-apa tentang kehidupanmu” ucap  Qiandra dengan penuh rasa bersalah.  Qiandra membuka pembicaraan dengan Dean setelah Bik Sum dijemput oleh Bryan dan diantar ke kamar hotel untuk beristirahat di sana.


“Jangan khawatir, honey, kita masih punya banyak waktu untuk saling mengenal, aku sangat paham jika kamu tidak mengetahui apa-apa tentang kehidupanku, karena memang selama ini kamu tidak mau memikirkan aku lagi kan” ucap Dean dengan senyum lembutnya.  Dia membelai rambut panjang kekasihnya yang sedang bersandar di dadanya.


Qiandra mengangkat tubuhnya dan menatap mata Dean dengan sendu, “Maafkan aku, love, tapi maukah kamu berbagi cerita tentang dirimu denganku, setidaknya aku mengetahui  bagaimana kehidupanmu.  Dan, oh iya, aku


ingat, saat malam itu, ketika dokter Albert datang ke kantorku, dia mengatakan bahwa apa yang kamu lakukan saat itu dipicu karena trauma masa lalumu, apa maksudnya, love” tanya Qiandra dengan antusias.


Dean mendesah sesaat, matanya terpejam dengan kening mengernyit dalam, rasa sakit itu tiba-tiba kembali menusuk ke dalam hatinya.  “Love, maafkan aku, jika memang terlalu berat untukmu berbagi denganku, jangan dipaksa, aku tidak masalah kok” ucap Qiandra lembut, dia menyadari pasti ada masalah yang sangat besar, sehingga lelaki tangguh ini terlihat sangat tertekan.


Dean meraih kedua tangan Qiandra, dengan erat digenggamnya kedua tangan wanita itu, seakan mengharapkan ada kekuatan yang bisa mengalir untuknya.  Qiandra menatap Dean dengan intens, dia membalas genggaman tangan Dean dengan lembut, “Aku selalu siap, love, seberat apapun itu, jika kamu mau berbagi denganku, aku siap” ucapnya lembut.


Dean kembali menarik nafas berat, “Apa Daniel tidak pernah menceritakan apapun padamu, honey” tanya Dean tiba-tiba.


“Daniel?, memang ada apa dengan Daniel” tanya Qiandra, dia semakin tidak mengerti  dan semakin penasaran dengan kisah hidup Dean.


“Kisah kami berawal sekitar lima tahun yang lalu” Dean menatap jauh keluar jendela ruang perawatan itu, menembus kelamnya malam yang gelap di luar sana.


Flashback on….


Lima tahun yang lalu


“Selamat pagi, Tuan Muda, perkenalkan nama saya Risty Alexandra, saya sekertaris Tuan Walt Zacharias, silahkan Tuan Muda bersama teman-teman menunggu Tuan Walt, karena beliau masih ada rapat” seorang wanita cantik dengan body bak gitar spanyol, menyapa Dean bersama dengan kedua orang sahabatnya yang berkunjung ke perusahaan ayahnya.


“Hmmm, baiklah, terima kasih ya” ucap Dean dengan acuh, lalu melangkah masuk ke dalam ruangan ayahnya.


“Gila, itu sekertaris papah apa foto model sich, cantik banget, itu bodynya, wow” seru dokter Albert.  Dokter muda yang baru saja menyelesaikan studynya itu memang terkenal  tidak bisa melihat wanita cantik.  Dia sangat senang bermain-main dengan wanita-wanita cantik walaupun tidak sampai terlalu jauh, karena dia juga menjaga kesehatan dirinya.

__ADS_1


“Dasar playboy, nggak bisa lihat yang bening dikit aja, sudah menetes air liurnya” desis Vian.


“Hei, jangan bilang kamu tidak mengakui kalau itu wanita yang sempurna, gila aja kalau sampai kamu tidak mengakuinya, kurasa kamu harus segera memeriksa kesehatan mentalmu” sahut dokter Albert, dan mendapat lemparan  bantal sofa dari Vian.


“Astaga, kalian berdua ini, sudah, sudah, jangan bikin malu aja” ucap Dean mengingatkan kedua sahabatnya itu, membuat keduanya segera  terdiam.  Tak lama kemudian, pintu ruangan itu terbuka, seorang laki-laki paruh baya masuk dengan senyum khasnya.


“Hallo, anak-anak papah, ah, istimewa sekali hari ini kalian mau berkunjung ke kantor papah” ucap laki-laki itu menyapa ketiga pemuda tampan yang ada di ruangannya.


Ketiga pemuda itu segera berdiri, dimulai dari Dean mereka bergantian memeluk laki-laki paruh baya itu.  “Maafkan kami Pah, kami baru bisa berkunjung ke kantor papah sekarang” ucap Dean pada sang ayah.


“Hah, kalian benar-benar kebanggaan papah, lalu bagaimana rencana kalian selanjutnya” tanya papah Walt pada ketiga pemuda itu saat mereka telah kembali duduk.


“Kalau Al, sudah pasti kembali ke rumah sakit lagi Pah, kemaren Direktur sudah meminta Al untuk segera melaporkan diri” ucap Dokter  Albert.


“Ha ha ha, tentu saja, si tua itu sudah tak sabar lagi ingin pensiun, aku tidak mengijinkannya sebelum kamu kembali dan mengambil alih rumah sakit itu, Al” sahut papah Walt.


“Kalau masalah itu, terserah kamulah bernego dengannya, tapi yang pasti, kamu memang papah persiapkan untuk memegang rumah sakit itu, karena memang hanya kamu yang berminat menjadi seorang dokter” sahut papah Walt.  Papah Walt memang telah menanyakan kepada ketiganya, saat mereka akan menyelesaikan pendidikan menengah atas, mau kemana mereka nantinya.  Kalau Dean dan Vian lebih suka dengan dunia bisnis, tetapi Albert sangat ingin menjadi seorang dokter.


Vian dan Albert adalah dua sahabat Dean sejak dia di bangku sekolah dasar, ketiganya sudah seperti tiga saudara yang tidak bisa  dipisahkan.  Namun, keadaan ekonomi  keluarga Vian dan Albert membuat kedua pemuda itu hampir saja tidak bisa melanjutkan pendidikannya.  Dan, Dean meminta bantuan ayahnya untuk membiayai pendidikan keduanya.


Papah Walt dengan senang hati membantu keduanya, dengan catatan keduanya mau menjadi anaknya sekaligus saudara untuk Dean.  Tentu saja, kedua pemuda itu menyetujuinya, karena tanpa bantuan itupun mereka bertiga sudah seperti saudara saja.


“Dan Dean, bagaimana denganmu, apakah kamu sudah siap mengambil alih perusahaan ini” tanya papah Walt pada putranya.


“Pah, Dean belum siap, Dean mau berusaha dari nol dulu bersama dengan Vian, kami sudah punya perusahaan kecil-kecilan dan akan kami  kembangkan perlahan-lahan” sahut Dean.


“Haish, berarti kalian belum mengijinkan orang tua ini pensiun ya” keluh papah Walt.

__ADS_1


“Papah masih segar gini, sayang donk kalau harus pensiun terlalu cepat” sahut Dean menggoda sang ayah.


“Hah, bisa saja kamu bicara biar papah memberimu ijin ya, dan kamu Vian, bagaimana rencanamu” tanya papah Walt pada Vian yang memang terkenal lebih pendiam dari ketiga pemuda itu.


“Saya siap mengikuti kemana Dean melangkah, Pah, saya tetap komitmen untuk selalu berada disamping Dean” sahut Vian dengan tegas.


“Jangan seperti itu, Vian, papah menyekolahkanmu agar kamu bisa mandiri, jadi kalau kamu mau kamu bisa mulai belajar bekerja di perusahaan ini menggantikan salah satu direktur disini” sahut papah Walt.  Sekalipun dia membiayai sekolah Vian, papah Walt tidak ingin Vian selalu berada dibawah Dean, dia ingin ketiga pemuda itu


menjadi pemimpin semuanya.


“Tidak, Pah, ini memang sudah tekad saya, dan saya akan merasa kecewa jika Papah juga Dean tidak menerima saya” ucap Vian.


“Hei, jangan bicara seperti itu, Bro, kamu tahu aku selalu siap, apapun yang kamu mau” seru Dean yang tidak ingin melihat sahabatnya itu kecewa.


“Heh, ya sudahlah kalau begitu, kalian berdua aturlah bisnis kalian itu, dan jangan lupa, perusahaan ini tetap menjadi tanggung jawabmu, Dean” ucap papah Walt pasrah pada sikap teguh kedua putranya itu.


Tiba-tiba pintu ruangan mereka diketuk dari luar, setelah papah Walt mempersilahkan masuk, sang sekertaris datang dengan membawa minuman untuk ketiga tamu bosnya itu.  “Risty, kamu sudah mengenal mereka bertiga kan, mereka bertiga ini calon penerus  Zacharias” ucap papah Walt pada sekertarisnya.


“Iya, Tuan, saya sudah mengenal Tuan Dean, Tuan Albert dan Tuan Vian” sahut Risty, matanya mengerling pada Dean dengan tatapan penuh pesona.  Ketampanan seorang Dean memang sangat mudah membuat goyah iman setiap wanita yang berada di sekitarnya.


Sementara Dean, hanya bersikap biasa saja bahkan terkesan sedikit angkuh, karena dia memang terbiasa seperti itu menghadapi para wanita yang selalu mengejar-ngejar dirinya.  Sangat berbeda dengan Albert, Dean dan Vian tipe laki-laki yang tidak suka bermain-main dengan perempuan.  Kalau Dean masih pernah mengenal pacaran, sedangkan Vian, sama sekali tidak pernah mau.


“Ris, kenapa kamu memegang minumannya terus” tanya papah Walt yang tersenyum saat melihat sekertarisnya itu terpesona pada putranya.


“Eh, eh maaf Tuan, ini, silahkan Tuan-Tuan” ucap Risty terbata dengan wajah merah merona menahan malu, namun membuat wajah cantiknya semakin mempesona.


Dokter Albert yang melihat hal itu,hanya bisa menggelengkan kepalanya, “Haish, sepertinya tidak akan ada kesempatan nich, sekertaris cantik ini sudah langsung tergoda dengan Dean” keluhnya dalam hati.

__ADS_1


Seperti itulah persahabatan dan persaudaraan mereka bertiga, sekalipun mereka seperti itu, Albert dan Vian selalu mengutamakan Dean dalam segala hal.  Dan apapun yang menjadi  keputusan Dean, mereka berdua tidak akan membantahnya sepanjang itu untuk kebaikan mereka.  Termasuk dalam hal wanita, sekalipun Albert seorang playboy, dia tidak akan berani mengganggu  wanita yang menyukai Dean, dan bila Dean sudah menyukai seorang wanita, maka Vian dan Albert akan menjaganya sama seperti Dean.


__ADS_2