
"Bagaimana persiapannya, Vian, apakah semua sudah berjalan dengan baik” seorang laki-laki tampan dengan tubuh tegap melangkah masuk ke sebuah ballroom mewah. Ballroom itu terlihat sudah dipenuhi dengan berbagai dekorasi mewah ala sultan.
Asisten Vian yang terkejut mendengar suara itu segera berpaling, dan dengan sedikit terkejut dia segera menghampiri sumber suara itu, “Selamat datang, Tuan, semua sudah berjalan dengan sangat baik dan sesuai dengan konsep dan aturan yang seharusnya” sahut asisten Vian dengan sedikit membungkuk memberi hormat pada sang tuan yang tak lain dari Dean itu.
“Hmmm, baguslah, berati nanti malam pesta bisa dilangsungkan dengan baik, tapi ingat, keamanan tetap prioritas utama. Sterilkan wilayah ini dari pagi ini, aku tidak mau ada penyusup yang masuk dan membuat kekacauan. Kerahkan semua pasukan untuk berjaga-jaga, dan setiap tamu harus benar-benar dipindai. Kamu tahu kan apa yang kita pertaruhkan disini” desis Dean namun dengan suara tegas.
“Baik, Tuan, tapi saya agak kesulitan menghadapinya” ucap asisten Vian sambil melirik ke arah ujung ruangan. Saat Dean menatap ke arah lirikan mata asisten Vian, darahnya seketika mendidih.
“Apa yang dilakukannya disini, bukankah daddy sudah melarangnya untuk ikut campur” desis Dean dengan wajah gusar.
“Memang Tuan Walt sudah melarangnya ikut campur, dan dia datang kesini juga tidak berbuat apa-apa hanya membuat konten saja untuk media sosialnya. Hanya saja, saya.....” kata-kata asisten Vian terhenti saat dia melihat seorang wanita melangkah dengan gemulai ke arah mereka berdua.
Dean dan asisten Vian sama-sama berpaling dan seperti dikomando melangkah perlahan meninggalkan tepat mereka saat melihat wanita itu sedang menuju ke arah mereka.
“Hai, Dean, bagaimana bisa kamu datang ke sini dan tidak menyapa ibumu sendiri. Sementara aku sudah lama berada disini untuk memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik” seru wanita itu.
Dean dan asisten Vian segera berbalik menghadap ke arah sumber suara itu yang tak lain dari wanita yang tadi melangkah ke arah mereka. Dean hanya bisa menggeram menahan amarahnya, karena dia melihat wanita itu sedang melakukan siaran langsung.
“Hei, hei, kawan-kawan semuanya, anakku ini hari ini baru akan memperkenalkan menantu keluarga besar ini, eh, maaf, maksudku calon menantu keluarga Zacharias, karena sebelum diperkenalkan secara resmi, bukankah dia belum resmi menjadi anggota kerajaan, bukan begitu asisten Vian” ucap wanita itu dengan senyum smirk menghias bibir merahnya.
Dean hanya bisa menggertakkan gigi mendengar kata-kata wanita yang tak lain dari Risty itu. Dean sangat sadar jika dia tidak bisa melontarkan kata-kata kasar pada wanita itu karena wanita itu sedang melakukan siaran langsung. Dean hanya berdiam diri berusaha meredam emosi yang seakan ingin meledak seperti lahar panas dan siap membakar wanita yang saat ini bersikap seolah tidak ada masalah apapun.
“Maaf, Nyonya Besar, Tuan Dean harus memeriksa beberapa hal lagi, silahkan Anda melanjutkan aktifitas Anda, mari Tuan, saya akan mengantar Anda” asisten Vian berusaha membawa Dean untuk pergi dari tempat itu.
“Haish, baiklah, baiklah, aku sadar kalau hari ini adalah hari besar untuk anakku ini, tapi masa sampai tidak sempat menyapa ibunya sendiri” ucap Risty masih sambil melakkan siaran langsung.
Dean benar-benar hampir tidak bisa lagi menguasai amarahnya, hingga tiba-tiba phonselnya berbunyi dengan nada dering khusus. Dean segera tahu siapa yang menghubungi dirinya, dia segera meraih phonsel yang ada di saku jasnya dan melangkah meninggalkan Risty.
Risty ingin terus menyusul Dean, namun sayangnya langkahnya segera dihalangi oleh asisten Vian. “Maaf, Nyonya Besar, Tuan Dean sedang menerima panggilan pribadi, harap Anda bisa menghargai privacynya” ucap asisten Vian.
__ADS_1
“Asisten Vian, apa kamu lupa siapa aku, aku ini ibunya Dean lho. Apakah panggilan pribadi itu lebih penting dari sekedar menyapa aku sebagai ibunya, dimana tata krama seorang pewaris tunggal Zacharias kepada ibunya sendiri” ucap Risty dengan suara lembut namun terdengar sinis.
Sementara itu, Dean segera mengangkat panggilan telepon yang memang sangat diharapkannya di saat-saat seperti ini. “Honey.....” ucap Dean, namun belum sempat dia berkata-kata, terdengarlah omelan lembut namun cukup mengejutkan Dean.
“Love, apa yang kamu lakukan, segera sapalah wanita itu, apa susahnya sekedar mengucapkan selamat pagi. Jangan biarkan dia mengalahkanmu dengan sandiwara basinya itu, aku sungguh tidak rela jika kamu sampai mendapat predikat buruk hanya karena tidak bisa menguasai amarahmu. Ayolah, apa semua pembicaraan kita tadi tidak masuk sama sekali di hati dan pikiranmu. Sia-sia donk aku sudah bicara panjang lebar denganmu, kalau sikapmu seperti ini. Kalau begini, bagaimana kamu akan menghadapi dia nanti malam, sepertinya bukan aku yang tidak siap menghadapi wanita itu, tapi malah kamu” ucap suara di seberang sana dengan panjang lebar.
“Haish, ternyata istriku bisa mengomel sepanang ini tanpa jeda” kekeh Dean, hatinya yang penuh amarah tiba-tiba menjadi bahagia saat mendengar suara Qiandra. Walaupun, wanita itu sedang mengomel, tapi bagi Dean itu seperti nyanyian penyemangat untuknya.
“Love......”seru Qiandra dengan kesal, bagaimana bisa sang suami malah tertawa mendengar dia sedang mengomel.
“Baik, baik, Nyonya Dean, saya akan melaksanakan perintah Anda” Dean masih tertawa, “Aku sungguh tidak sabar ingin melihat bibirmu itu saat sedang mengomel seperti tadi, Honey, bye, love you” ucap Dean seraya menutup panggilan telepon itu.
Ada rasa bahagia di dalam hati presidir tampan itu saat mendengar kepedulian istrinya pada dirinya.
Dean menarik nafas panjang sebentar, lalu berbalik dan kembali melangkah mendekati asisten Vian dan Risty yang masih terus berdebat. “Sudahlah, Vian, jangan menghabiskan energimu untuk hal-hal receh. Masih banyak hal-hal yang jauh lebih penting yang harus kita pikirkan” ucap Dean sambil merangkul bahu asisten sekalugus sahabatnya itu.
“Tuan....” asisten Vian cukup terkejut melihat perubahan sikap Dean yang sangat drastis.
“Hei, Dean apa kamu lupa siapa aku, aku ini adalah.....” belum sempat Risty menyelesaikan kalimatnya sudah langsung dipotong oleh Dean.
“Anda adalah apa, hmmmm, ibuku?, oh, begitu ya” ucap Dean dengan senyum sinis.
“Tentu saja aku ibumu, karena aku istri dari ayahmu” sahut Risty, wanita itu cukup terkejut karena Dean bisa membalas kata-katanya.
Selama ini, seluruh keluarga Zacharias tidak ada yang berani menjawabnya, karena Risty selalu berhasil menyulut amarah mereka. Dan mereka semua selalu menjaga kredibilitas mereka agar tidak sampai mengucapkan kata-kata kasar apalagi di hadapan khalayak ramai.
“Ibuku adalah wanita yang sudah melahirkan aku, wanita yang menjadi ratu dalam istana ayahku, wanita anggun, berwibawa dan punya kharisma sekalipun dalam tampilan sederhana. Bukan wanita yang berpenampilan glamour namun tidak punya moral dan etika sama sekali, yang hanya tahu hidup berfoya-foya dalam gelimang harta yang bukan haknya dan bukan hasil jerih payahnya, PAHAM!!!” ucap Dean dengan tenang namun tegas.
Risty benar-benar tercekat mendengar kata-kata Dean, dia sungguh tidak menyangka kalau Dean bisa berbicara seperti itu. Dan yang lebih membuat Risty tidak mengerti adalah sikap tenang laki-laki itu saat berbicara. Saking terkejutnya, Risty sampai tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa terpana menatap Dean dan asisten Vian yang sudah melangkah meninggalkan dirinya.
__ADS_1
“Dean.....” seru Risty saat menyadari kedua orang itu sudah ada di pintu ballroom mewah itu. Risty sebenarnya ingin berteriak membalas perkataan Dean, namun dia segera sadar kalau dia masih dalam acara siaran langsung yang dibuatnya sendiri. Tanpa pikir panjang, Risty segera mengakhiri siaran langsung itu dan melemparkan phonsel mahalnya ke arah Dean yang sudah tidak terlihat lagi.
Tak ayal lagi benda pipih nan mahal itu hancur seketika saat mengenai pintu ballroom yang sudah tertutup. “Awas saja kamu, Dean, jangan harap aku tidak membalas semua kata-katamu tadi, akan kubuat wanita itu lebih malu lagi dari diriku. Tunggu saja kehancuranmu melewati kehancuran wanita ja*ang itu. Tidak akan aku biarkan posisi ratu direbut oleh siapapun, hanya aku, hanya aku yang berhak berada di posisi itu, dengan atau tanpa kamu, Dean” desis Risty penuh kemarahan.
Risty benar-benar merasa dipermalukan kali ini oleh Dean, bahkan dalam acara siaran langsung yang Risty buat sendiri. Awalnya dia ingin semua orang melihat bahwa Dean tidak membenci dirinya, karena dalam benaknya, Dean pasti akan menjaga martabat keluarganya dengan tidak mencaci maki dirinya.
Sekalipun Risty sangat tahu kalau Dean pasti tidak suka saat melihat keberadaan dirinya, ditambah lagi saat dia menyapa laki-laki itu dengan sebutan ibu dan anak.
Risty sudah merasa sangat senang saat melihat rencananya berjalan dengan mulus. Hingga sebuah panggilan pribadi mengalihkan perhatian Dean. Dean bahkan tanpa ragu segera mengangkat panggilan itu tanpa memperdulikan dirinya lagi. Dan yang lebih mengherankan adalah Dean kembali dengan wajah sangat tenang setelah menerima panggilan itu.
Bahkan, dengan sangat tenang laki-laki itu bisa menjawab semua perkataan Risty. Hingga mampu mempermalukan Risty dengan kata-kata tajam namun tanpa makian sama sekali. Tapi Risty sangat tahu bahwa kata-kata yang Dean ucapkan sebagai “wanita tidak punya moral dan etika” itu pasti ditujukan pada dirnya. Ditambah lagi Dean secara tidak langsung juga menyebutkan bahwa Risty adalah wanita yang hanya berfoya-foya dengan harta yang bukan miliknya dan bukan hasil usahanya.
Hati Risty benar-benar meradang, dia merasa sangat terhina oeh perkataan Dean, laki-laki yang selama ini masih sangat diharapkannya. Yah, memang tidak bisa dipungkiri kalau Risty tetap mencintai Dean, hanya saja dia terlalu ambisi mengejar kemewahan dan kekuasaan. Dua hal yang membuat Risty sanggup meninggalkan Dean dan menghalalkan segala cara untuk meraih ambisinya itu.
Risty perlahan duduk disalah satu kursi yang ada di ballroom mewah itu, dia berkali-kali menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya. “Tenang, tenang, Risty, kamu harus tenang agar semua rencanamu bisa berjalan dengan baik. Jangan terpengaruh dengan hal-hal tidak berguna yang dapat mengacaukan semua rencanamu. Wanita ja*ang itu, aku yakin pasti dia yang sudah menelepon Dean dan membuat Dean bisa setenang itu. Tampaknya, wanita itu punya pengaruh yang cukup kuat pada diri Dean” bisik Risty dalam hati.
Risty perlahan memikirkan semua yang telah terjadi dengan pikiran tenang. Kemampuannya untuk membaca setiap keadaan dan mempelajarinya dia pakai dengan maksimal. Terlihat wajah wanita cantik itu benar-benar sedang serius berpikir, bahkan beberapa kali keningnya sedikit mengernyit. Jari lentiknya juga mengetuk ngetuk meja di hadapannya dengan perlahan.
“Jika hanya dengan berbicara lewat telepon saja, wanita itu punya kemampuan untuk membuat Dean tenang, berarti wanita ini benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Seberapa hebat dirinya sehingga mampu dengan mudah mempengaruhi Dean dan menenangkan laki-laki itu, yang bahkan para sahabatnya itu tidak akan mampu melakukannya” Risty masih terus berdialog dengan hatinya sendiri.
Risty sangat mengenal Dean, termasuk seberapa besar kemarahan dan kebenian laki-laki itu padanya. Risty selalu yakin bahwa hanya dirinyalah satu-satunya wanita yang bisa mengontrol emosi seorang Dean Walt Zacharias. Jika dia ingin Dean marah, maka dia bisa membuat laki-laki itu meradang, demikian pula sebaliknya jika dia ingin Dean tenang maka laki-laki itu akan tenang.
Karena itulah Risty sangat yakin kalau dia bisa kembali lagi pada Dean pada saat dan waktu yang tepat. Risty yakin kalau dirinya bisa memperbaiki hubungannya dengan Dean, karena dalam hatinya Risty tetap percaya kalau hanya dirinyalah satu-satunya wanita yang mampu mengisi hati seoran Dean Walt Zacharias.
Namun, kejadian hari ini seolah menyadarkan Risty kalau harapannya itu sepertinya akan menjadi harapan yang sia-sia. “Tidak, ini tidak boleh terjadi, aku tidak akan membiarkan wanita itu merebut Deanku, Dean hanya milikku dan hanya aku yang bisa menjadi pendamping hidupnya. Dean pasti hanya terlena oleh perasaan sesaat pada wanita itu, aku sangat yakin itu. Wanita itu pasti sudah menipu Dean untuk bisa naik ke atas ranjang Dean, sehingga akhirnya Dean terpaksa menerima dirinya. Hah, aku yakin wanita itu juga pasti menggunakan cara licik untuk menaklukkan Dean” Risty berusaha menganalisa kepribadian seorang Qiandra.
“Tapi aku tidak akan membiarkan wanita itu terlalu lama menanamkan pengaruhnya dalam diri Dean, karena semakin lama dia bersama dengan Dean maka dia pasti akan semakin mempengaruhi Dean. Aku harus bisa memisahkan mereka secepatnya, karena tanpa wanita itu, aku sangat yakin kalau Dean akan kembali menjadi pribadi yang bisa aku kontrol dengan mudah. Kalau begitu, malam ini harus menjadi malam terakhir kebersamaan mereka, mereka tidak akan pernah bertemu lagi, dan tidak akan pernah ingin untuk bertemu lagi. Awas saja, kalian sudah berani menantang seorang Risty, maka bersiaplah menerima akibatnya” desis Risty dengan senyuk evil di wajahnya.
Tangan wanita itu terangkat, dan tidak berapa lama asisten pribadinya segera menghampiri wanita itu, “Ya, Nyonya” tanya asisten pribadinya.
__ADS_1
“Phonsel” ucap Risty membuat asisten pribadinya segera mengeluarkan sebuah phonsel mewah keluaran terbaru dan menyerahkannya pada Risty. Asisten pribadi Risty memang selalu menyediakan phonsel cadangan jika bersama dengan Risty, karena memang kebiasaan Risty selalu melempar phonselnya jika dia sedang marah.
Risty mengambil phonsel itu, dan setelah menekan beberapa nomor dan menunggu hubungan jarak jauh itu tersambung, “Hallo....” sapa Risty dengan suara lembut saat teleponnya sudah tersambung.