PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
LIMA PULUH DELAPAN


__ADS_3

“Honey, kapan kamu akan siap kembali ke kota bersamaku” tanya Dean saat para pelayan telah membersihkan tempat makan mereka.  Kedua sejoli itu duduk santai menghadap ke arah pantai, Qiandra bersandar di dada bidang sang suami.


Qiandra menghembuskan nafasnya dengan berat, karena sebenarnya dia merasa sangat berat untuk kembali ke kota metropolitan itu.  Namun, di sisi lain Qiandra juga menyadari  kalau sebagai seorang istri, dia punya kewajiban untuk mendampingi sang suami.  Qiandra sangat tahu, kembali ke kota itu berarti dia harus menghadapi semua masalah yang ditinggalkannya di masa lalu.


“Jika kamu merasa berat, Honey, maka aku yang akan mengalah dan tinggal disini bersamamu.  Aku tidak mau lagi berpisah denganmu, dimanapun kamu ingin kita tinggal, maka disitulah aku akan berada” Dean menyadari kalau wanita ini sangat berat untuk kembali lagi ke kotanya.


Qiandra membalik badan dan menatap bola mata elang sang suami, “Tidak, tidak, Love, tidak seperti itu, tidak mungkin aku membiarkan kamu untuk pindah dan tinggal di kota kecil ini, bagaimana dengan keadaan perusahaanmu, dan juga keluargamu” sahut Qiandra.


Dean menatap Qiandra dengan senyum tulus dia menyentuh wajah cantik sang istri, “Honey, aku tidak perduli pada semua itu, kita bisa memulai semuanya di kota ini, masalah perusahaan, disana ada Vian yang pasti kemampuannya tidak usah diragukan lagi” sahut Dean.


“Tidak, tidak, Love, itu tidak benar, akulah yang harus mengikuti kemanapun kakimu melangkah dan bukan sebaliknya” Qiandra  menggelengkan kepalanya dengan tegas. 


Qiandra sangat menyadari, bahwa walaupun dia seorang wanita karier yang sukses, Qiandra tidak boleh lupa dengan kodratnya sebagai seorang wanita yang sudah memiliki suami. Sudah menjadi kewajiban bagi seorang istri untuk mengikuti suaminya, jika dia bisa.


“Honey, jangan berpikir seperti itu, bukan masalah siapa mengikuti siapa, bagiku yang terpenting adalah dimana kamu bisa merasa aman dan bahagia, disitulah kita berdua akan berdiam.  Kalaupun kamu mau kita pergi lebih jauh lagi, aku siap, dimanapun kamu merasa bahagia, maka aku akan ada disitu bersama denganmu” ucap Dean dengan lembut dan


bersungguh-sungguh.


“Terima kasih, Love, terima kasih kamu mau mengerti aku, aku sangat bersyukur memiliki kamu sebagai suamiku.  Namun, walau bagaimanapun, sebagai istrimu adalah suatu kewajiban bagiku untuk selalu berada bersamamu dan mendampingimu” Qiandra menarik nafas sesaat, walau sangat berat, dia tahu dia harus membuat keputusan.


“Honey….” Dean merasa tidak tega membuat sang istri berada dalam posisi sulit seperti itu. Dean sangat tahu apa yang tidak ingin Qiandra hadapi lagi di kotanya.


“Aku akan mengikutimu kembali ke kota itu, Love, karena memang itulah kewajibanku” Qiandra memutuskan kata-kata Dean.

__ADS_1


“Honey, aku sungguh tidak ingin membuatmu bersusah hati, jangan paksakan dirimu, jika memang sangat berat.  Ada begitu banyak tempat di dunia ini, dan kita bisa memilih dimanapun kita mau, kenapa kita harus memaksakan diri berada di tempat yang hanya akan membuat kita menderita” Dean benar-benar tidak ingin membuat sang istri menderita lagi.


“Love, aku tidak akan menutupinya, memang benar kembali ke kota itu sangat berat bagiku, tapi aku juga menyadari kalau aku telah meninggalkan begitu banyak masalah yang belum aku selesaikan.  Aku tidak akan tenang sebelum semuanya selesai, aku tak bisa terus menerus berlari seperti ini.  Suatu saat kelak, aku pasti harus menghadapinya, mau atau tidak mau, suka atau tidak suka” sahut Qiandra dengan wajah sendu.


“Honey, maafkan aku kalau aku kembali membuatmu bersedih” ucap Dean, hati laki-laki tampan itu dipenuhi dengan rasa  bersalah.


“Tidak, Love, bukan salahmu, mungkin memang inilah caranya agar aku dapat menyelesaikan semua masalah di masa laluku.  Aku hanya mohon, agar kamu mau menolongku  saat aku menghadapi semuanya, aku tidak akan mampu jika kamu tidak bersamaku” Qiandra menatap wajah tampan sang suami dengan penuh harap.


“Honey, apapun masalahmu dan juga masalahku, mulai sekarang kita akan selalu bersama untuk menghadapinya.  Mulai sekarang, tidak ada lagi masalahmu, ataupun masalahku, yang ada adalah masalah kita berdua dan akan kita hadapi bersama seberat apapun itu” ucap Dean, dia menggenggam erat tangan sang istri, dengan kedua matanya  mengunci manik mata coklat Qiandra.


“Terima kasih banyak, Love, aku punya begitu banyak masalah, maafkan jika aku membuatmu repot nantinya” ucap Qiandra, dia sadar akan banyak hal yang harus diselesaikannya saat dia kembali ke kota itu lagi.


“Tidak hanya kamu, Honey, akupun punya banyak masalah, terutama masalah wanita jahat itu.  Kita akan berhadapan dengannya mau ataupun tidak, suka ataupun tidak.  Aku sangat berharap kamu bisa menghadapinya,


“Hmmm, berbicara tentang hal itu, sebenarnya apa yang diinginkan olehnya, Love, bukankah dia sudah memiliki daddy dan dia juga sudah  menguasai mansion keluarga kalian, apakah itu masih kurang” tanya Qiandra dengan wajah heran.


“Tujuan utamanya adalah harta Zacharias yang sampai saat ini masih belum diberikan oleh daddy kepadanya, dan keinginannya adalah menjadi pendampingku, setelah dia bisa mendapatkan dan menguasai seluruh harta daddy” sahut Dean dengan wajah merah padam menahan amarah.


“Astaga, maafkan aku, Love, sudah merusak suasana hatimu” ucap Qiandra, dia merasa bersalah saat melihat perubahan wajah suaminya. Qiandra tidak ingin saat saat indah mereka ini rusak karena pembicaraan yang berat.


“Tidak mengapa, Honey, kamu memang harus mengetahuinya, karena wanita ini sanggup melakukan berbagai cara licik untuk mencapai keinginannya.  Dan saat ini, aku sangat yakin dia pasti sedang menyusun rencana untuk menghancurkan pernikahan kita.  Karena itu, aku sangat berharap kamu bisa bertahan, Honey, yang harus kamu ingat, aku tidak akan pernah meninggalkanmu, apalagi untuk mengkhianatimu, itu sangatlah tidak mungkin.  Jika kamu ragu padaku, maka datanglah pada Albert dan Vian, mereka adalah orang-orang yang sangat mengenal dan mengetahui seluk beluk kehidupanku” ucap Dean dengan panjang lebar.


Dean memang cukup merasa khawatir dengan apa yang akan dilakukan oleh Risty tehadap pernikahannya dengan Qiandra.  Dean sangat yakin wanita itu tidak akan berdiam diri, dia tidak akan merelakan wanita manapun masuk dalam kehidupan keluarga Zacharias.  Karena dia ingin, hanya dialah yang menguasai harta Zacharias dan hanya dialah yang boleh dan berhak memiliki Dean Walt Zacharias, pewaris tunggal tahta Zacharias.

__ADS_1


“Terima kasih sudah memberitahukan hal ini padaku, Love, jadi aku bisa mempersiapkan diri untuk menghadapinya.  Aku tidak akan pernah meragukanmu, Love, apapun yang dikatakan orang tentangmu, apalagi jika dia yang mengatakannya, aku tidak akan perduli.  Aku hanya percaya dan berpegang pada kata-katamu, karena aku istrimu dan sudah seharusnya aku percaya padamu” sahut Qiandra dengan yakin.


“Terima kasih, Honey, aku percaya kamu jauh lebih cerdas darinya, dan kamu pasti bisa menghadapinya.  Memang sampai saat ini aku tidak pernah mengerti mengapa Daddy mau  menikah dengan wanita ular itu, padahal aku sangat tahu kalau daddy tidak pernah mencintainya” Dean menatap jauh ke tepian pantai.


Qiandra mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Dean, “Bagaimana kamu tahu kalau Daddy tidak mencintainya, Love” tanya Qiandra.


“Mereka tidak pernah hidup sebagaimana layaknya suami istri, di mansion itu, mereka berduas hidup bagaikan orang asing.  Mereka hanya terlihat bersama pada acara-acara resmi saja, tentu saja itu hanya untuk pencitraan semata yang diinginkan oleh wanita iblis itu.  Aku tahu semuanya, walau aku tidak pernah sekalipun menginjakkan kaki di mansion itu sejak kepergian mama, tapi mansion itu milik keluargaku dan sudah menjadi tempat tinggalku sejak aku lahir.  Jadi, semuanya bisa sangat mudah untuk aku ketahui” jawab Dean.


“Oh begitu ya, tapi aku yakin orang sebijaksana daddy pasti punya alasan yang sangat kuat sehingga dia mau menikah dan bertahan sampai sejauh ini dengan wanita itu” Qiandra berusaha memahami alasan mertuanya itu


yang mau menikah dengan wanita yang tak lain adalah calon istri putranya sendiri.


“Ya, kamu benar, Honey, dan alasan itulah yang sampai saat ini masih belum aku ketahui” sahut Dean seraya menghembuskan nafasnya dengan berat.  “Sudahlah, Honey, jangan  membicarakan hal ini dulu, mari kita nikmati bulan madu kita ini, atau kamu ingin kita pergi ke tempat lain untuk berbulan madu” tanya Dean berusaha mengalihkan pembicaraan yang dirasanya cukup menguras emosi keduanya.


“Ha ha ha, tidak, tidak love, aku tidak ingin pergi kemanapun, bagiku asalkan bersama denganmu, sudah lebih dari cukup dan aku sudah mendapat kebahagiaanku” sahut Qiandra dengan wajah berbinar.


“Benarkah, Honey, jika begitu, maka aku tidak akan melepaskanmu, aku akan membuatmu semakin bahagia” ucap Dean, dia mengangkat  tubuh sang istri dengan tiba-tiba, membuat Qiandra terpekik karena terkejut.


“Love, mau apa kamu” seru Qiandra sambil mengalungkan tangannya di leher sang suami.


“Aku akan membuatmu semakin bahagia, Honey” desah Dean di telinga Qiandra, membuat wanita itu bergidik merasakan sensasi bisikan dan hembusan nafas harum laki-laki tampan yang tengah menggendongnya dan membaringkannya dengan lembut di peraduan pengantin mereka.


Siang hari yang terasa panas itu ternyata tak lebih panas dari suasana kamar pengantin.  Walaupun pendingin ruangan sudah berada pada posisi paling dingin, tetap saja tubuh  kedua sejoli yang sedang di mabuk asmara itu dibanjiri oleh keringat.  Pergulatan yang seakan tiada akhir membuat keduanya begitu bahagia sekaligus merasakan lelah, sehingga mereka berdua langsung masuk dalam alam mimpi, setelah menyelesaikan ronde terakhir yang  begitu memuaskan.

__ADS_1


__ADS_2