PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
DUA PULUH DUA


__ADS_3

Hai...


Selamat bertemu di dunia halu author...


Ini novel kedua author, jadi buat para readers yang berkenan silahkan mampir juga di novel pertama author denfan judul "Hati Yang Terpilih" yang sekaeang sudah mendekati akhir cerita....


Novel ini author buat murni berdasarkan imajinasi dari dunia halu author..


Semoga para readers bisa menikmatinya, dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa..


Like...


Vote....


Koment...


Terima kasih 🙏🙏


...-------------######------------...


Dokter Albert mendatangi kantor itu dan langkahya langsung dicegat oleh petugas penjaga kantor itu.  “Selamat sore, Tuan, maaf kantor sudah tutup, jika ada yang ingin Anda  urus, silahkan kembali lagi besok” ucap petugas itu dengan sopan pada dokter Albert.


“Ah, iya, aku tahu kantor sudah tutup, tapi aku memang diminta datang kesini setelah jam kantor tutup” sahut dokter Albert.


“Maaf, siapa yang menyuruh Anda, Tuan” tanya petugas itu dengan curiga.


“Nona Qiandra, dia pasienku, dan aku ingin mengantar hasil pemeriksaannya serta beberapa obat untuknya” sahut dokter Albert dengan tenang, “Bukankah Nona Qiandra masih ada di kantor kan, jangan bilang dia sudah pergi” lanjutnya lagi.


“Oh, begitu rupanya, Tuan, kalau begitu Tuan bisa menitipkan semua itu pada kami, kami yang akan mengantarnya untuk Nona Qiandra” sahut petugas itu lagi.


“Sebenarnya aku juga mau seperti itu, tapi aku juga harus menyuntikkan beberapa vitamin untuknya, apa kalian juga bisa melakukan itu”  tanya dokter Albert lagi, “Kalau kalian bisa, aku akan menitipkannya, tapi kalian harus ingat, jangan sampai salah dosisnya, karena bisa menyebabkan kematian” lanjutnya lagi dengan sedikit dramatisir.


Keempat petugas itu saling berpandangan, akhirnya salah satu dari mereka berbicara, “Baiklah, Tuan, tapi saya akan mengantar dan memastikan Anda hanya bertemu dengan Nona Qiandra” ucapnya, lalu dia mempersilahkan dokter Albert masuk ke dalam kantor itu.

__ADS_1


Dokter Albert segera mengikuti langkah petugas itu, dia mengambil phonselnya dan mengirim pesan pada Dean, “Aku masuk dan akan melihat keadaan Nona Qiandra, aku akan menyalakan video, jadi kamu bisa melihatnya, kuharap kamu tidak bicara” lalu pesan itu dikirimnya.


Saat masuk kedalam lift, terlihat balasan Dean yang menyetujui rencana dokter Albert.  Dokter Albert segera menghubungi Dean dengan video call, dan dia menempatkan  phonselnya di saku jas dokternya.  Dean bisa melihat saat dokter Albert keluar dari lift yang sepertinya telah tiba di lantai tempat Qiandra berada.


“Selamat sore, Nona Qiandra, maaf ini ada tamu untuk Anda” petugas tadi menyapa Qiandra.


“Maaf, Pak, bukannya jam kantor sudah usai dan orang luar dilarang masuk kantor ini kalau sudah jam segini” tanya Qiandra tanpa  mengangkat wajahnya.


“Maaf, Nona, Tuan ini mengatakan kalau beliau dokter Anda” ucap petugas itu lagi yang sedikit curiga dengan dokter Albert.


“Nona Qiandra, selamat malam” sapa dokter Albert, Qiandra segera mengangkat wajahnya melihat sumber suara itu.  Qiandra terkejut melihat dokter Albert yang datang, sementara dokter Albert dan petugas itu lebih terkejut lagi saat melihat bekas pukulan di wajah Qiandra yang putih mulus.


Dean yang menyaksikan itu hampir saja terpekik, dia bisa melihat bekas pukulan di wajah Qiandra yang masih memerah bahkan disudut bibir Qiandra masih ada bekas darah.


Qiandra segera sadar dari keterkejutannya, lalu segera menundukkan kepalanya, “Pergilah, Pak, tinggalkan aku sendiri dengan Dokter ini” ucap Qiandra.  Petugas itu segera pergi meninggalkan Qiandra dan dokter Albert.


“Nona, ada apa dengan wajahmu” tanya dokter Albert mendekati Qiandra, sehingga Dean juga bisa melihat jelas bekas telapak tangan di pipi  Qiandra.


“Tidak apa-apa, Tuan, ada apa Tuan datang kesini” tanya Qiandra pada dokter Albert.


“Jika ini masalah Tuan Dean Walt Zacharias, saya rasa lebih baik Tuan segera kembali saja, saya masih punya banyak pekerjaan, lagipula saya sudah melupakan semuanya.  Jadi, jika  Tuan Dean yang terhormat, ingin minta maaf, katakan saja lupakan semuanya, anggap saja kami tidak pernah bertemu” ucap Qiandra yang sudah bisa menduga tujuan kedatangan dokter Albert.


“Tapi, Nona…” Dokter Albert kembali tidak sempat menyelesaikan kata-katanya, karena Qiandra sudah berdiri.


“Tuan Albert, dengan segala hormat saya mohon Anda bisa meninggalkan tempat ini, atau saya harus memanggil petugas lagi untuk membawa Anda keluar” ucap Qiandra, “Saya menerima kedatangan Anda, karena saya tidak


ingin mempermalukan Anda dihadapan petugas tadi, tapi jika Anda tidak bisa  menghargai saya, maka…..” kata-kata Qiandra terhenti saat suara bariton yang sempat dirindukannya tiba-tiba terdengar.


“Qiqi, maafkan aku, aku terlalu bodoh sehingga tertipu dengan perbuatan keji Daniel” seru Dean, membuat dokter Albert terkejut.  Namun kepalang basah, Dokter Albert malah  mengeluarkan phonselnya dan mengarahkan layarnya pada Qiandra agar wanita itu bisa melihat Dean.


Qiandra menatap wajah itu, ada rindu yang mengusik sudut hatinya saat menatap wajah tampan Dean.  Wajah yang sempat membuat Qiandra hampir saja membuka hatinya, “Qi,  kumohon, ijinkan aku bertemu denganmu, ampuni aku, Qi, kumohon, aku….” kata-kata Dean terputus karena Qiandra telah menekan tombol reject untuk memutuskan hubungan video itu.


Saat phonsel dokter Albert berbunyi lagi dan dokter itu ingin mengangkatnya, “Tuan, apa Anda bisa keluar sekarang, atau aku harus  memanggil petugas untuk membawa Anda keluar” ucap Qiandra dengan suara dingin.

__ADS_1


Dokter Albert menatap Qiandra sesaat, lalu dia mengeluarkan beberapa obat dari tasnya, “Setidaknya, obatilah pipi Anda, Nona, pukulan  sekeras itu bisa memberikan rasa ngilu” ucapnya lalu meletakkan obat dan salep diatas meja Qiandra.


Qiandra menatap dokter Albert sekilas, “Bawa saja obat-obatmu, Dok, saya tidak memerlukannya, terima kasih atas perhatian Anda” sahut Qiandra.


“Jika Anda tidak memerlukannya, Anda bisa membuangnya, Nona, saya permisi dan selamat malam” ucap dokter Albert seraya melangkah meninggalkan Qiandra.  Namun sebelum masuk lift, dokter Albert berseru pada Qiandra, “Dia sangat mencintaimu, Nona,  emosinya dipicu oleh trauma masa lalunya, saya harap Anda bisa mempertimbangkannya lagi” ucapnya, lalu melangkah masuk ke dalam lift.


Qiandra menghembuskan nafas berat, getaran-getaran indah itu memang sempat dirasakannya saat dia bersama dengan Dean.  Hingga Qiandra sempat berpikir, akan membuka  hatinya untuk laki-laki yang memang begitu mempesona itu.  Semua perlakuan lembut Dean, yang dilakukannya dengan setulus hati membuat luluh hati Qiandra.


Saat menatap wajah Dean yang sendu dan penuh dengan permohonan tadi, Qiandra hampir saja tak mampu menahan keinginan hatinya untuk menyentuh wajah Dean.  Namun, saat Dean berbicara, Qiandra seperti kembali mendengar cacian dan makian yang diucapkan Dean kepadanya.


Dan saat itulah, Qiandra menyadari bahwa sakit hatinya cukup dalam, sehingga akan sulit baginya untuk bisa memaafkan Dean.  Qiandra mereject telepon tadi karena dia tidak tahan mendengar permohonan tulus Dean, Qiandra takut hatinya akan luluh pada laki-laki itu.


Qiandra memejamkan matanya sesaat, dia bersandar di kursinya dan berusaha menghapus semua rasa yang sempat tumbuh di hatinya.  Qiandra telah bertekad meninggalkan kota ini, dan akan memulai hidup baru tanpa bayang-bayang masa lalu yang menyakitkan, termasuk Dean.  Beberapa saat kemudian, Qiandra meraih tas besar yang dibawanya tadi pagi, dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Qiandra mengganti gaun kerja mewahnya dengan pakaian kerja biasa yang sudah dibelinya.  Dia membungkus gaun mahal itu untuk diserahkan pada laundry kantor.  Qiandra kembali ke meja kerjanya, dan setelah dia memesan makanan untuk makan malamnya, Qiandra kembali melanjutkan pekerjaannya. Namun sebelumnya, Qiandra meraih obat yang diberikan dokter Albert, memasukkannta dalam amplop dan menuliskan alamat Dean disitu, Qiandra benar-benar tidak mau meneeima apapun dari laki-laki itu.


Di luar kantor, dokter Albert sudah kembali masuk ke mobil mewah Dean, dia melihat laki-laki itu tertunduk lesu.  Dokter Albert tak bisa berkata-kata, dia hanya menepuk pelan pundak Dean seakan memberikan ketenangan pada pria itu.


"Siapa yang telah tega mentakiti Qiqi" desah Dean perlahan.


"Aku tidak tahu, tapi besar dugaanku itu peebuatan Daniel, karena tidak akan ada orang yang berani menyentuh Qiandra didalam perusahaan itu" sahut dokter Albert, membuat Dean menghembuskan nafas berat.


“Apa kita akan tetap berada disini” tanya asisten Vian memecah keheningan yang tercipta cukup lama di dalam mobil itu.


“Jika kalian ingin pulang, pulanglah, aku akan menunggu hingga Qiandra keluar, selarut apapun itu, aku harus menjaganya, aku tak ingin dia celaka lagi” sahut Dean.


“Hei, bagaimana bisa kamu menyuruh kami pulang, apa kamu lupa seberapa sering kita bertiga begadang di dalam mobilmu hanya untuk bisa melihat film-film biru dan mero*ok, masa sekarang kami akan meninggalkanmu”  seru dokter Albert yang terkekeh teringat kenakalan mereka di masa lalu.


Dean hanya tersenyum getir, dia tahu para sahabatnya itu tidak akan mungkin meninggalkan dia sendirian.  Dean juga mengerti kalau dokter Albert sedang betrusaha menghiburnya.  Dean hanya menatap pintu gerbang kantor pusat PT.Mahardika yang memang terlihat cukup terang, sehingga kalau Qiandra keluar, Dean pasti bisa melihatnya.


“Atau kita ke rumahnya saja, bagaimana” tanya dokter Albert tiba-tiba memberi saran.


“Aku tidak tahu apa-apa tentang Qiandra, dan sepengetahuanku dia memang tidak punya siapa-siapa lagi, karena itulah aku ingin menunggunya, aku ingin mengetahui dimana dia tinggal sekarang” sahut Dean.

__ADS_1


Namun, hingga pukul dua belas malam, belum ada tanda-tanda Qiandra keluar dari kantor itu.  “Sepertinya Nona Qiandra mengambil lembur full time, Tuan, jika memang demikian, saya rasa dia tidak akan pulang.  Mungkin Nona Qiandra memang memutuskan untuk tinggal di kantor, Tuan, karena tidak ada tempat tinggal lagi, sementara dia tidak punya uang sama  sekali” ucap asisten Vian.


“Kurasa kamu benar, Vian, tapi biarlah kita menunggu Qiqi hingga semalaman disini, aku hanya ingin memastikan dia aman di dalam sana” ucap Dean dengan suara sendu.


__ADS_2