PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
DUA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Pukul empat pagi, Qiandra dan Mang Ijal sudah berangkat dari rumah Mang Ijal, dengan Qiandra yang menyamar seperti istri Mang Ijal.  Mang Ijal mengantar Qiandra hingga ke  pangkalan taksi, dan dengan taksi ini Qiandra melanjutkan perjalanannya menuju ke kantor pusat PT.Mahardika.


Petugas keamanan kantor pusat PT. Mahardika sangat terkejut melihat Qiandra datang sangat pagi, tapi Qiandra beralasan ada berkas yang  harus dipersiapkannya untuk pertemuan pagi hari ini.  Mereka tidak bertanya lagi, karena mereka sangat tahu kalau Qiandra memang punya tanggung jawab yang besar pada pekerjaannya.


Sampai di mejanya, Qiandra langsung bekerja, dia ingin mempersiapkan segala sesuatunya untuk Daniel setidaknya selama satu minggu  kedepan.  Dia tidak ingin Daniel dan asisten Dika kelimpungan, membereskan semuanya setelah dia pergi.  Qiandra memeriksa berkas-berkas pribadinya, juga semua identitas baru yang memang sudah dibuatnya jauh-jauh hari.


Pukul delapan pagi, semua persiapan Qiandra sudah selesai, semuanya disusun Qiandra denga rapi di lemari brankasnya.  Sehingga Daniel tidak melihat persiapan yang dibuatnya dan tidak merasa curiga.  Saat Daniel dan asisten Dika datang, Qiandra telah bersiap untuk menghadiri rapat pagi ini.


“Apa kamu sudah siap, Qian” tanya Daniel.


“Sudah, Tuan, kalau Tuan berkenan, kita bisa langsung menuju ruap rapat” ucap Qiandra.  Daniel hanya  mengangguk sekilas, dia sebenarnya sangat ingin berbicara dengan Qiandra lebih dulu.  Namun sepertinya wanita itu sama sekali tidak ingin membahas apapun dengannya.


Mereka mengikuti rapat pagi itu dengan lancar, Qiandra selalu berhasil memukau dalam setiap rapat yang dihadirinya.  Kecantikan dan kecerdasannya sudah menjadi seperti simbol PT.Mahardika.  Tepat pukul sepuluh rapat itu selesai, dan mereka semua meninggalkan ruang rapat itu bersama-sama.


“Qian, temui aku diruanganku, ada yang ingin aku bicarakan” ucap Daniel saat akan melewati meja Qiandra.


“Ah, maafkan saya, Tuan, saya ingin ijin keluar sebentar” ucap Qiandra.


“Mau kemana kamu” tanya Daniel.


“Saya mau ke bank, Tuan, saya mau membuka rekening yang baru untuk rekening gaji saya, karena rekening yang dulu……” Qiandra tidak  melanjutkan kata-katanya, dia hanya menundukkan kepalanya.


“Hmmm, baiklah, selesaikan saja dulu urusanmu, setelah itu temui aku, apa kamu mau diantar” tanya Daniel sebelum melangkah masuk ke ruangannya.


“Ah, tidak perlu Tuan, aku akan naik taksi saja” sahut Qiandra, Daniel hanya mengangguk lalu masuk ke dalam ruangannya.


Qiandra segera bergegas membawa semua identitasnya yang baru dan yang lama, Qiandra keluar dari kantor pusat itu dan langsung menuju ke bank.  Sesampainya di bank, Qiandra menuju ke sebuah ruangan salah satu kepala bagian di bank itu.


“Hallo, Andra, apa khabarmu, kukira kamu hanya bercanda saat mengatakan akan mengunjungi aku” ucap seorang wanita cantik menyambut kedatangan Qiandra.


“Tentu saja aku tida bercanda, Nit, aku memerlukan pertolonganmu” ucap Qiandra.


“Kemarilah, duduklah disini” ucap wanita yang bernama Nita itu, dia mengajak Qiandra untuk duduk di sofa ruangan itu, “Katakan apa yang  harus aku lakukan untuk membantumu” ucap Nita.


“Nit, aku harap kamu bisa memegang rahasia ini” ucap Qiandra dengan hati-hati.

__ADS_1


“Hei, ada apa Andra, sepertinya ada yang sangat penting” tanya Nita penasaran melihat wajah Qiandra yang sangat serius.


“Nit, aku akan pergi dari kota ini, aku sudah tidak sanggup lagi bertahan disini” ucap Qiandra pelan.


“Apa, tapi kamu akan kemana” tanya Nita lagi.


“Entahlah, aku bahkan belum menentukan akan kemana, aku hanya akan pergi sejauh mungkin dari kota ini” ucap Qiandra.


“Astaga, Andra, apa kamu benar-benar yakin” tanya Nita lagi.


“Sangat yakin, aku bahkan sudah menjual rumahku” ucap Qiandra.


“Rumah pemberian Charles?” tanya Nita lagi.


“Iya, rumah itu sempat direbut oleh mertuaku, lalu entah bagaimana, Tuan Daniel berhasil merebutnya lagi dan menyerahkannya untukku, karena itu, aku lebih memilih menjualnya daripada terlalu banyak masalah” sahut Qiandra.


“Hmmm, baiklah, lalu apa yang bisa aku lakukan untukmu” tanya Nita lagi.


“Kurasa mereka akan melakukan pembayaran dengan cek, rumah itu terjual dengan harga dua puluh milyar.  Nah, aku ingin membawa uang ini, tapi aku tidak ingin ada pihak-pihak yang bisa melacaknya” sahut Qiandra.


“Mertuaku, yang mungkin ingin meminta bagian, lalu Daniel dan Dean Walt Zacharis” sahut Qiandra.


“Hei, mengapa kedua presidir tampan dan tajir itu ingin melacak uangmu, jangan bilang  mereka sekarang jatuh miskin, karena itu sangat tidak mungkin, atau….” Nita tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya menaik turunkan alisnya.


“Yah, seperti itulah, aku sungguh tidak ingin mereka mengetahui keberadaanku, Nit, bisakah kamu membantuku” tanya Qiandra.


“Kalau itu sich, bisa kulakukan, tapi apa kamu punya identitas baru, karena kalau masih menggunakan identitas lama akan sangat mudah untuk mereka melacak kemana kamu pergi” sahut Nita.


Saat Qiandra akan menjawab, phonselnya berbunyi, ternyata istri Mang Ijal yang menghubunginya.


“Selamat pagi, Tuan, ini cek pembayarannya, saya akan mengambil gambarnya, nanti saya kirimkan pada Tuan” ucap istri Mang Ijal.


“Oke, aku akan kirimkan nomor phonselnya” sahut Qiandra, lalu Qiandra mengirimkan nomor Nita pada istri Mang Ijal.  “Nit, orangku akan mengirim sebuah cek, bisakah kamu memeriksanya” tanya Qiandra pada Nita.


“Tentu” sahut Nita, lalu dia melangkah menuju mejanya, saat ada notifikasi di phonselnya, Nita segera melakukan pengecekan, “Cek ini sah,  dan bisa langsung dicairkan, Andra” sahut Nita.

__ADS_1


Qiandra segera menelpon istri Mang Ijal, “Selesaikan semuanya, dan serahkan semua berkasnya, aku menunggu kalian di bank” ucap  Qiandra.


“Baik, Tuan” sahut istri Mang Ijal yang memang berpura-pura memanggil Qiandra dengan sebutan Tuan.


Qiandra menutup panggilan teleponnya, “Semua identitasku yang baru sudah aku persiapkan, Nit” sahut Qiandra.


“Tapi, Andra, uang ini cukup banyak, jika hanya masuk dalam satu rekening pasti akan mencurigakan” sahut Nita.


“Ya, aku juga sudah mempersiapkannya, ini ada beberapa identitas orang-orangku, kamu bisa membuka rekening dengan nama mereka, beserta kartu debetnya” ucap Qiandra.


“Hmmm, baiklah, aku akan membuatnya sekarang” sahut Nita,saat Nita sedang bekerja, phonsel Qiandra berbunyi lagi.


“Nit, orangku yang membawa cek sudah datang, tapi katanya ada yang mengikutinya, apa kamu punya solusi” tanya Qiandra setelah dia menutup sambungan teleponnya.


“Suruh saja dia menyerahkan cek itu pada salah satu teller di depan, karena mereka pasti akan memverifikasi kesini” sahut Nita masih  berkutat dengan komputernya.


Qiandra kembali menghubungi istri Mang Ijal yang saat itu masuk ke bank untuk menyerahkan cek penjualan rumah Qiandra.  Tak lama setelah Qiandra menutup teleponnya,  pintu ruangan Nita diketuk, salah satu teller menyerahkan sebuah cek yang akan dicairkan.


Nita melihatnya dengan seksama, dan karena memang betul itu cek yang dimaksud Qiandra, Nita menyuruh tellernya untuk menyampaikan bahwa cek itu harus diverifikasi lagi dan baru besok bisa dicairkan.  Walau agak heran, teller itu keluar dan menyampaikan pesan itu kepada istri Mang Ijal.


Istri Mang Ijal kembali menghubungi Qiandra, dan saat Qiandra mengatakan semua sudah beres, istri Mang Ijal segera meninggalkan bank itu.  Didalam ruangan Nita, dia langsung  memproses pencairan cek tersebut, kemudian uang yang telah dicairkan langsung disetorkan ke beberapa rekening yang sudah dibuatnya.


Tak berapa lama, semua proses telah selesai dilakukan, dan Nita menghampiri Qiandra yang masih menunggunya, “Ini, ada lima rekening tempat aku meletakkan uangmu dengan jumlah yang bervariasi agar tidak mudah dilacak,


dan ini rekening kosong untuk gajimu” ucapnya seraya menyerahkan enam buah rekening beserta kartu debitnya untuk Qiandra.


“Terima kasih banyak, Nit, aku berhutang padamu” ucap Qiandra.


“Hei, jangan bicara seperti itu, aku tidak akan ada disini jika waktu itu kamu tidak menyelamatkan nyawaku” sahut Nita dengan tersenyum pada Qiandra.  Nita memang pernah diselamatkan oleh Qiandra saat dia hampir mengakhiri hidupnya karena ditinggal  oleh kekasihnya.  Saat itu, Qiandra yang  membawanya ke rumah sakit dan terus menguatkan dirinya, sehingga dia mampu  bangkit hingga saat ini.


“Ya, sudah, kalau begitu aku pergi dulu ya, sekali lagi terima kasih banyak” Qiandra berdiri dan memeluk sahabatnya itu.


“Segera kabari aku, jika kamu sudah menemukan tempat yang baru, Andra, dan sebaiknya kamu lewat belakang, takutnya ada orang yang sedang mengawasimu” ucap Nita lagi.


“Baiklah, kalau begitu, aku pergi dulu ya” kedua sahabat itu kembali saling berpelukan, setelah itu Qiandra meninggalkan bank itu dengan  melewati jalur karyawan di belakang bank.

__ADS_1


Saat tiba di kantor pusat PT.Mahardika, Qiandra langsung pergi menghadap Daniel, setidaknya dia ingin ada kesan yang baik yang  ditinggalkannya pada laki-laki yang sudah bertahun-tahun mejadi atasannya.  Tak bisa dipungkiri oleh Qiandra kalau Daniel telah sangat banyak menolong diriya, seandainya bukan karena kejadian itu yang  membuat Qiandra kehilangan simpati pada Daniel.


__ADS_2