PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
DUA RATUS SEMBILAN


__ADS_3

Qiandra menatap dokter Albert dan asisten Vian dengan tatapan tajam, “Kalian berdua ini


bagaimana sich, Kak, kok bisa bisanya kalian sampai terlibat perkelahian dengan Dean.  Astaga, bagaimana kalian bisa melupakan kalau dia harus selalu tampil sempurna, lalu bagaimana menyembunyikan lebam di wajahnya.  Sekarang jelaskan ada apa sebenarnya, aku tidak percaya hanya dengan sebuah alasan bermain sampai membuat kalian bertiga terlibat baku hantam yang sangat memalukan” omel wanita hamil itu sambil menghadap kedua laki laki tampan di hadapannya.


Asisten Vian menghela nafas sebentar, “Itu kesalahan sayakarena saya twlah lalai dalam , menjaga Yang Mulia dan membiarkan semua ini terjadi” ucapnya dengan kepala menunduk.  Asisten Vian memang merutuki


kebodohannya yang terpancing dengan tingkah absurb kedua sahabatnya itu.  Niat hati ingin melerai keduanya, malah dirinya harus rela menerima beberapa pukulan di perut dan wajahnya.


“Bukan permintaan maaf yang aku inginkan, Kak Vian, aku perlu penjelasan” seru Qiandra yang makin kesal dengan jawaban asisten Vian.  Qiandra tahu kalau asisten tampan itu akan selalu membela Dean dan membiarkan dirinya yang dipersalahkan.  Jangankan untuk hal sekecil itu, bahkan mendekam dalam penjara pun rela dilakukan demi melindungi Dean.  Oleh sebab itu, Qiandra langsung mengalihkan pandangannya kepada dokter Albert, karena laki laki itulah yang biasanya sangat mudah untuk berbicara.


Dokter Albert yang ditatap Qiandra dengan intens seketika kasak kusuk dengan gelisah.  Dia yang biasanya selalu lancar berbicara,


tiba tiba tidak bisa membuka mulutnya.  Dokter Albert melirik asisten Vian yang kali ini tampak sangat acuh, hingga membuat dokter tampan itu mendesah berat.  “Begini Qi, itu ......” kata kata dokter Albert terhenti saat seorang laki laki tampan masuk ke dalam ruang tamu tempat Qiandra sedang menginterogasi dokter Albert dan asisten Vian.


“Kak Dika, ......” seru Qiandra lalu segera beranjak dan berjalan mendekati sang kakak


dengan wajah bahagia.


“Perhatikan langkahmu, Feli” seru Dika yang selalu saja merasa khawatir melihat sang adik yang suka ceroboh.  Dika segera


menghampiri Qiandra dan membawa wanita cantik itu masuk dalam pelukannya seraya


mengecup kening wanita itu dengan lembut.


“Ada apa Kak Dika tiba tiba mampir kesini” tanya Qiandra saat keduanya melangkah menuju salah satu sofa panjang di ruangan itu.


Dika tersenyum, “Apa kakak tidak boleh mengunjungi adikku sendiri hmmmm” tanyanya sambil menepuk pucuk kepala Qiandra.

__ADS_1


Dokter Albert dan asisten Vian saling melirik lalu sama sama menampilkan senyum samar.  “Nyonya, kalau begitu kami permisi dulu” ucap asisten Vian sambil menunduk kepada Qiandra.


“Haish, kalian berdua beruntung kali ini, tapi jangan harap kalian bisa menghindar lain kali”


desis Qiandra.  Asisten Vian dan dokter


Albert hanya bergeming mendengar ancaman sang ratu, lalu keduanya sama sama


membungkukan badan dan berlalu meninggalkan ruangan itu dengan nafas lega.


“Haish, hampir saja, kalau bukan membela Dean rasanya aku paling malas kalau harus menghadapi interogasi dari seorang wanita, apalagi dalam posisinya sekarang” keluh dokter Albert saat keduanya sudah melangkah meninggalkan ruangan tempat Qiandra sedang bersama dengan Dika.


Sementara asisten Vian hanya berdiam diri seperti biasa, laki laki itu justru kembali melangkah mengambil berkas berkas yang tadinya akan dibawanya menuju ke ruang kerja Dean.  Mereka berdua sebenarnya datang ingin menemui Dean karena ada beberapa hal yang ingin mereka bahas.  Namun, langkah mereka terhenti saat sang ratu menghadang mereka dan membawa mereka untuk bicara.  Oleh sebab itu sekarang keduanya langsung mengarahkan langkah mereka menuju ke ruang kerja Dean.


Sementara itu, Qiandra yang melihat wajah serius sang kakak, langsung mengerti kalau ada hal yang ingin dibicarakan oleh kakaknya itu.  “Kita ke ruang kerjaku saja, Kak” ucapnya yang dijawab Dika dengan anggukan kepala.  Lalu Dika segera membantu sang adik untuk berdiri dan menuntunnya untuk melangkah menuju ruang kerja wanita cantik itu.


Sesampainya di ruang kerja Qiandra, seorang pelayan langsung membuka pintu ruangan untuk keduanya.  Dika tetap menuntun Qiandra bahkan membantu wanita hamil itu untuk duduk di sofa khusus ibu hamil yang


“Astaga, Kak, tidak usah sampai begini juga, aku kan hanya sedang hamil, bukan sakit” keluh Qiandra yang merasa kalau perlakuan Dika terlalu berlebihan.


“Hei, adik kecil, jangan bilang kamu lebih suka para pelayanmu itu yang membantumu dibandingkan kakakmu sendiri” seru Dika seraya mengambil tempat duduk di hadapan


Qiandra.  Dika sangat tahu bagaimana sang


adik diperlakukan di dalam istana itu.  Qiandra benar benar diratukan, hingga segala keperluannya selalu disiapkan dan setiap kali dia akan bergerak selalu ada pelayan yang sigap membantunya.


“Hmmmm, bukan begitu, Kak, tapi kamu tahu kan kalau bagian itu justru menjadi hal yang

__ADS_1


menyulitkan aku dan kadang membuat aku merasa kesal” desis Qiandra dengan wajah


sendu.


Dika tersenyum menatap wajah sendu sang adik, yah, Dika sangat tahu kalau semua pengaturan pelayanan untuk seorang ratu itu pasti akan membuat Qiandra tidak nyaman.  Dika sangat hapal bagaimana lincahnya sang


adik yang memang sangat mandiri dan selalu bergerak bebas dan sesuka hatinya itu.


“Nikmatilah semua ini, Feli Sayang, karena harusnya semua ini yang kamu dapatkan jika saja keluarga kita masih ada.  Aku yakin semua orang pasti akan selalu menjadikan kamu sebagai ratu, karena aku bisa melihat


bagaimana semua orang selalu memanjakan gadis kecil yang cengeng waktu itu” ucap Dika yang sontak membuat Qiandra membelalakkan matanya menatap sang kakak.


“Aku tidak cengeng, kakaklah yang selalu menggoda aku” seru Qiandra.


Dika tertawa mendengar ucapan Qiandra, “Yah, hanya aku yang bisa membuatmu menangis dan berani melakukannya, kalau yang lain, mereka pasti akan selalumemenuhi semua keinginanmu makanya kamu tidak pernah menangis” sahut Dika dengan


santainya.  Namun, Dika terkejut saat melihat perubahan wajah wanita hamil di depannya itu.


Wajah Qiandra berubah menjadi sendu saat mendengar ucapan sang kakak.  Bahkan tanpa sadar buliran bening mulai mengalir di pipinya yang halus dan lembut.  Hal itu tentu saja membuat Dika terkejut, laki laki tampan itu segera berdiri dan melangkah mendekati Qiandra.  Saat Dika menyentuh pucuk kepala Qiandra, wanita itu malah segera berdiri dan memeluk sang kakak dengan tangis yang semakin terisak.


Dika akhirnya mengerti kalau sang adik sedang teringat pada masa lalu mereka dulu.  Dika tidak bisa melarang Qiandra untuk


menangis, karena dia pun bisa merasakan bagaimana persaan sang adik.  Oleh sebab itu, Dika tidak berkata kata, hanya tangannya terus memeluk sambil menepuk punggung wanita cantik itu.


Dika terus berusaha memberi ketenangan pada Qiandra dengan memberikan tepukan lembut pada punggungnya.  Namun, sesaat kemudian Dika terkejut saat merasa tubuh sang adik di tarik dari pelukannya.  Saat Dika melayangkan pandangnya, dia hanya bisa tersenyum pasrah, niat hati ingin terus memeluk sang adik tapi Dika langsung tidak berdaya saat melihat siapa yang menarik Qiandra dari prlukannya.


“Kenapa, hmmmmm, apa yang membuat air mata berhargamu ini harus kembali mengalir, Honey” bisik Dean dengan lembut pada Qiandra saat wanita itu sudah bersandar dengan nyaman dalam pelukannya.  Sementara itu di belakang Dean, terlihat dokter Albert dan asisten Vian juga yang tampaknya segera menyusul laki laki itu.

__ADS_1


Kedua laki laki di belakang Dean itu justru mengalihkan pandangannya kepada Dika yang masih berdiri di belakang Qiandra.  Selain asisten Vian dan dokter Albert, Dean juga memberikan tatapan penuh tanya pada


Dika, yang membuat laki laki itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal.  Dika hanya bisa mengangkat bahunya seolah menyampaikan bahwa tidak ada masalah yang serius.  “Feli teringat masa kecilnya” ucap Dika singkat membuat ketiga laki laki tampan yang terlihat khawatir itu bisa bernafas lega.


__ADS_2