PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
DUA RATUS ENAM BELAS


__ADS_3

Seluruh istana benar benar gempar, para pelayan terlihat hilir mudik dalam kepanikan dan bibir yang komat kamit merapalkan doa.  Bagaimana tidak, pagi ini kegaduhan muncul dari kamar utama di istana megah itu.  Sang raja, yang bangun di pagi pagi buta berteriak teriak seperti orang kesetanan, memanggil semua orang dalam istana.


Bukan tanpa alasan jika sang raja terlihat sangat panik, di dalam ruangan utama, Qiandra terlihat bersimbah peluh sedang menahan kesakitan.  Dean benar benar merasa panik saat merasakan tangan sang istri menggenggam jemarinya dengan erat.  Betapa terkejutnya laki laki itu, saat membuka mata dan melihat wajah Qiandra yang pucat pasi dengan air mata berlinangan.


Tanpa pikir panjang, Dean segera bangun bahkan tanpa sempat memakai jubah tidurnya, dia langsung berteriak di depan kamarnya.  Padahal di dalam kamar mewah itu sudah tersedia alarm yang tinggal di


tekan saja maka akan tersambung keseluruh bagian istana.  Sayangnya, kepanikan sang raja membuatnya benar benar melupakan hal itu.


Setelah berteriak penuh kepanikan, Dean kembali ke kamar dan mendapatkan tatapan dengan senyum lucu di wajah sang istri.  “Ada apa, Honey, mengapa kamu menatapku seperti itu” tanya Dean sambil menghampiri sang istri.


“Love, pergilah membersihkan dirimu dan berpakaianlah dulu” ucap Qiandra di sela sela rasa sakit yang sedang di tahannya.


“Tapi, Honey, aku tidak bisa meninggalkanmu ....” kata kata Dean terhenti saat pintu ruang utama diketuk dari luar.


“Ini masih lama, Love, pakailah jubahmu, dan bukalah pintu, biarkan mereka menemaniku sebentar sementara kamu membersihkan diri” ucap Qiandra berusaha setenang mungkin.  Rasa sakit yang kembali perlahan menyerang dirinya, sedapat mungkin di tahannya agar sang suami bisa tenang.


Dean akhirnya pasrah dan mengikuti perintah istrinya, dia mengambil jubah tidur dan


mengenakannya, setelah itu barulah dia membuka pintu utama.  Saat pintu terbuka, terlihat puluhan orang telah berdiri di depan pintu, mulai dari pelayan, para bodyguard, perawat, dokter dan di barisan paling depan berdiri dengan wajah panik asisten Vian dan


dokter Albert.


“Ada apa, ....” asisten Vian belum lagi menyelesaikan pertanyaannya, dokter Albert sudah menerobos masuk dan melewati Dean.  Dean sendiri hanya bisa berdiam diri, dia segera berbalik dan mengambil pakaian yang sudah disiapkan untuknya.  Dean langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri secepat yang dia bisa.


Sementara itu, dokter Albert langsung melangkah mendekati Qiandra, “Sejak kapan rasa sakitnya muncul” tanya dokter Albert tanpa bertanya apa yang terjadi.


“Sebenarnya sudah sejak tengah malam” sahut Qiandra.


“Oh, astaga, Qi, mengapa baru sekarang kamu memberi tahukan padanya” seru dokter Albert.


“Tidak apa apa, Kak Al, aku hanya tidak ingin membuatnya panik” ucap Qiandra dengan wajah meringis.

__ADS_1


“Tidak panik apanya, lihat saja, bagaimana bisa seorang raja keluar kamar dengan tidak


mengenakan apapun” sungut dokter Albert sambil mulai melakukan pemeriksaan pada


Qiandra.


“Jangan banyak bicara, lakukan saja tugasmu” sebuah suara besar dan dalam membuat perhatian dokter Alber dan Qiandra segera teralih.  Mata keduanya terbelalak saat melihat penampilan orang yang menegur dokter Albert.


“Love, kemarilah, aku akan memperbaiki bajumu” ucap Qiandra, bagaimana tidak, Dean keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah dan acak acakan.  Belum lagi kemeja yang bahkan tidak dikancingnya sama sekali.  Hanya dokter Albert yang berani terkekeh melihat kekacauan sahabatnya itu, sementara yang lainnya hanya bisa menundukkan kepala sambil menggigit bibir menahan senyum.


Dean sendiri tanpa bantahan, bergerak mendekati sang istri seperti robot yang diperintahkan dengan mudah.  Qiandra mengambil handuk di tangan Dean lalu mengeringkan rambut laki laki itu, bahkan dia meminta dokter Albert mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambut Dean.  Setelah itu, Qiandra masih sempat meminta suaminya untuk memakai pakaian lengkap dan langsung diikuti oleh laki laki itu.


Sementara itu, asisten Vian sudah memerintahkan semua orang dalam ruangan itu untuk keluar dan menunggu di depan pintu.  Asisten Vian tidak ingin mereka melihat kekacauan sang raja yang terlihat seperti tidak mampu berfikir sama sekali.


“Love, aku mohon, tenangkan dirimu jangan panik, semua baik baik saja.  Aku memang akan merasakan kesakitan yang luar


biasa, tapi semua masih bisa aku tangani.  Jadi kumohon jangan panik, kita hadapi ini bersama sama, kita akan menyambut kehadiran putra pertama kita dengan sukacita” ucap Qiandra sambil meringis.


Kemudian Dean mulai bisa bersikap sedikit tenang, meski rasa khawatir begitu tergambar jelas di wajahnya.  Sementara dokter Albert


yang sudah selesai memeriksa keadaan Qiandra kembali mengumpulkan


perlengkapannya.  “Jadi, kamu tetap akan melahirkan normal, Qi?” tanya dokter Albert.


Qiandra menganggukkan kepalanya, “Jika memungkinkan, aku ingin tetap melahirkan dengan cara normal, namun aku menyerahkan semua keputusan pada tim dokter dan juga Yang Mulia, aku akan mengikuti apapun yang terbaik untukku dan anak kami” ucapnya sambil meremas tangan Dean saat rasa sakit kembali menerpanya.


“Kita segera menuju ruang bersalin” seru dokter Albert, dan asisten Vian pun segera membuka pintu kamar utama.  Bersamaan dengan itu sebuah brankar dengan fasilitas lengkap langsung di dorong masuk ke dalam


ruangan.


Dean tidak mengijinkan siapun menyentuh Qiandra, sehingga dia sendirilah yang mengangkat sang istri ke atas brankar.  Setelah itu, brankar itu langsung di dorong oleh perawat yang sudah dipersiapkan. Mereka pun bergegas menuju ke ruang bersalin yang memang sudah dipersiapkan jauh jauh hari, karena Dean tidak mau Qiandra

__ADS_1


melahirkan di rumah sakit.


Saat mereka memasuki ruang bersalin, terlihat beberapa orang dokter telah bersiap dengan perlengkapan masing masing.  Dokter Albert memberikan kode pada dokter kandungan yang langsung memeriksa kondisi


kandungan Qiandra.  Dean yang melihat hal


itu mengeryitkan keningnya, dia paham ada hal yang tidak beres pada sang istri.


Setelah dokter kandungan memeriksa keadaan Qiandra, dia sedikit menggelengkan kepala pada dokter Albert yang membuat Dean mulai merasa was was.  Dokter Albert langsung memberikan kode kepada Dean untuk keluar sebentar, sebenarnya Dean tidak ingin meninggalkan sang istri.  Tapi melihat keseriusan di wajah dokter Albert akhirnya dia mengalah, dengan beralasan ingin buang air kecil, Dean kemudian melangkah dengan tergesa mengikuti dokter Albert.


“Katakan dengan cepat” ucap Dean saat keduanya sudah berada di ruang lain yang terpisah dari ruang bersalin.


“Qiandra bisa melahirkan normal, tapi kondisi psikisnya pasca trauma membuat hal tersebut cukup beresiko, kami khawatir tiba tiba traumanya kembali di saat kritis” ucap


dokter Albert.


"Lalu apa/solusinya” tanya Dean.


“Dokter kandungan dan aku merekomendasi untuk operasi cesar, ini jauh lebih aman untuk


Qiandra.  Hal inipun tidak boleh disampaikan padanya, agar tidak memicu traumanya.  Kami akan memberikan bius total untuknya,


tanpa dia sadari.  Tugasmu mengalihkan


perhatiannya, dan buat dia masuk dalam alam bawah sadar dengan pikiran bahagia


dan harapan terbaik” ucap dokter Albert.


Dean sempat terpaku mendengar penjelasan dokter Albert.  Walaupun resiko ini memang sudah mereka prediksi jauh jauh hari, namun


saat menghadapinya secara langsung, tetap saja hal itu menjadi berat.  Namun, Dean tidak punya banyak waktu untuk berpikir, dia hanya mengangguk, “Lakukan yang terbaik, apapun yang terjadi selamatkan Qiqiku” ucapnya penuh harap pada sang sahabat.

__ADS_1


__ADS_2