PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
E N A M


__ADS_3

“Qi, sebenarnya mengapa kamu begitu ingin cepat pulang, jika kamu khawatir orang-orang dirumahmu berpikiran yang tidak-tidak tentangmu, aku akan menemanimu dan menjelaskan semuanya pada mereka” Dean membuka percakapan dalam mobil mewah itu.  Mereka berdua cukup lama membisu dalam perjalanan menuju rumah Qiandra.


“Ah, tidak, tidak perlu, Dean, terima kasih, kamu sudah terlalu banyak membantuku, dan maaf, boleh kita bersikap seolah tidak saling  mengenal setelah kejadian ini” tanya Qiandra tiba-tiba.


Dean terkejut mendengar ucapan Qiandra, dia menghentikan mobilnya dengan tiba-tiba, membuat Qiandra terkejut.  Untung saja mereka berada di jalan yang lumayan sepi sehingga tidak terjadi kecelakaan.


“Apa maksudmu, Qi” tanya Dean dengan nada sedikit tinggi.


“Dean, kita ada di tengah jalan ini, akan berbahaya sekali” seru Qiandra, Dean tersadar, lalu dia perlaha menepikan mobilnya.


“Sekarang, katakan apa maksudmu” tanya Dean lagi dengan tajam.


“Maaf, Dean, bukan maksudku tidak berterima kasih denganmu, tapi….” Qiandra menarik nafas berat.


“Tapi, apa” tanya Dean penasaran.


“Dean, aku, aku seorang janda, akan sangat buruk untuk reputasimu kalau orang tahu kamu bergaul dengan wanita seperti aku” desis  Qiandra.


“Hah, alasan macam apa itu, berikan alasan lain yang lebih masuk akal” seru Dean dengan sedikit emosi.


“Dean, kumohon, mengertilah, aku hanya seorang janda pembawa sial, aku tidak ingin kamu terimbas karena masalah hidupku” sahut Qiandra, matanya mulai berkaca-kaca.


“Astaga, alasanmu semakin tidak masuk akal, aku tidak mau” seru Dean.


“Dean….” ucap Qiandra dengan sedikit memelas.


“Kamu akan tetap membahas ini atau kita berangkat sekarang, aku yang akan mengantarkanmu hingga masuk rumahmu, aku tidak ingin ada tuduhan yang tidak benar atasmu” ucap Dean dengan nada tegas.


“Baik, baik, tapi kamu tidak perlu mengantarku sampai ke rumah, emmm mereka akan semakin salah paham” desis Qiandra lagi.


“Tidak, aku tetap pada keputusanku, atau kita kembali ke apartemenku” tanya Dean memberikan penawaran yang tentu saja tidak bisa ditolak lagi oleh Qiandra.


“Hah, baiklah, kamu boleh mengantarku, kuharap kamu tidak akan terkejut dengan apa yang akan kamu hadapi nanti, dan sebelumnya aku benar-benar minta maaf, aku sungguh tidak ingin melibatkanmu dalam masalah hidupku, jadi sebaiknya…” Qiandra tidak sempat menyelesaikan kata-katanya.


“Aku tetap harus mengantarmu dan menghadapi orang-orang di rumahmu, Qi” potong Dean dengan cepat.


Qiandra hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan berat, “Sepertinya aku akan menghadapi bencana kali ini, tapi, ah, biarlah, memangnya hal buruk apalagi yang belum kualami” desah Qiandra dalam hati.


Mereka tiba disebuah rumah yang cukup mewah, didepan gerbang seorang penjaga menghentikan mobil mereka, “Selamat pagi, Pak, maaf Anda ingin bertemu dengan siapa” sapa penjaga itu ramah.


“Mang Ijal, ini aku” Qiandra memperlihatkan dirinya pada penjaga gerbang itu.


“Nyo-Nyonya” penjaga yang dipanggil mang Ijal itu terlihat terkejut melihat Qiandra ada di dalam mobil mewah itu, dia segera berlari ke sebelah mobil itu dan berdiri disamping mobil sambil membungkuk pada Qiandra.

__ADS_1


“Mang, tolong buka gerbangnya” ucap Qiandra lembut.


“Ta-tapi Nyonya, apa, apa tidak sebaiknya Nyonya masuk sendiri, keadaan didalam sedang…..” Mang Ijal tidak melanjutkan kata-katanya, dia melirik ke arah Dean.


Qiandra yang memahami maksud perkataan Mang Ijal, menatap Dean dengan intens, “Dean, aku sungguh tidak ingin melibatkanmu dalam masalahku, aku sudah berhutang budi padamu, kumohon, pergilah, biarkan aku


menyelesaikan masalah ini” desah Qiandra dengan wajah putus asa.


“Mang, buka gerbangnya” ucap Dean tak menghiraukan kata-kata Qiandra.  Mang Ijal, terlihat ragu-ragu, namun saat dia melihat Qiandra menganggukkan kepalanya, dia segera berlari membuka gerbang rumah mewah itu.


“Dean, aku harap kamu siap menghadapi ini, jika kamu merasa tidak mampu, pergilah dan jangan hiraukan aku” ucap Qiandra dengan suara sedikit bergetar.


Dean mengernyitkan keningnya, “Sebenarnya apa yang akan terjadi, kenapa Qiqi terlihat begitu ketakutan” bisik Dean dalam hatinya.


Dean memarkirkan mobilnya di halaman luas rumah mewah itu, namun saat mobil sudah berhenti dengan sempurna, Qiandra tak juga berusaha untuk beranjak.  “Qi, ada apa, apa kamu tidak turun” tanya Dean dengan lembut.


“Dean,…” wajah Qiandra terlihat sedikit pucat dan tubuhnya bergetar.


“Qi, seberat apapun yang akan kamu hadapi, aku akan tetap mendampingimu, aku tidak akan meninggalkanmu” ucap Dean, dia malah menggenggam tangan Qiandra yang terlihat bergetar, untuk meyakinkan wanita itu.


Qiandra hanya diam, dia menatap mata Dean sekilas, kemudian dia membuka sabuk pengamannya dan turun dari mobil mewah itu.  Dean segera mengikuti langkah Qiandra dan  berjalan disamping wanita itu.


Saat masuk ke dalam rumah mewah itu, Dean melihat sepasang orang tua paruh baya dan seorang wanita yang mungkin seumuran Qiandra dengan dandanan yang terlihat sedikit menggoda.  Mata wanita itu berbinar saat melihat Dean yang melangkah di belakang  Qiandra.


“Ma, maaf aku….” Qiandra belum menyelesaikan kata-katanya.


“Jangan banyak bicara, sekarang kamu tanda tangani berkas ini” si pria paruh baya berkata dengan nada dingin.


“A-apa maksudnya, Pa” tanya Qiandra bingung.


“Sudahlah, kamu tanda tangani saja” si wanita muda tadi berjalan mendekati Qiandra dan berdiri disamping Dean, “Silahkan duduk, Tuan” ucapnya ramah dengan nada sensual pada Dean, membuat laki-laki itu mendecih  dalam hatinya.


“Ta-tapi….” kata-kata Qiandra kembali terputus oleh ucapan laki-laki paruh baya yang dipanggilnya Pa itu.


“Sejak kapan kamu punya hak untuk membantah” desis pria paruh baya itu.


Qiandra hanya menundukkan kepalanya, dia akhirnya meraih pena yang sudah tersedia diatas meja dan akan menandatangani berkas itu.  “Qi, tunggu, apa maksudnya ini” seru Dean yang tida terima Qiandra diperlakukan seperti itu.


“Jangan ikut campur, Tuan, biarkan kedua orang tuaku menyelesaikan masalah mereka dengan janda murahan ini” seru wanita muda itu, dia menarik tangan Dean, “Ayo, kita duduk diluar, Tuan, tak perlu melibatkan diri dengan masalah ja*ang ini, aku bisa menyajikan yang lebih menarik untukmu” bisik wanita muda itu ditelinga Dean.


“Jauhkan tanganmu dari tubuhku” desis Dean dengan nada dingin dan tajam, dia menatap wanita muda itu dengan tajam, membuat wanita itu segera melepaskan pegangannya pada tangan Dean dan melangkah mundur.


Qiandra menunduk dia sempat membaca sekilas isi surat itu, “Ma, Pa, apa maksudnya ini, rumah ini pemberian Charles untukku, bagaimana bisa kalian akan mengambilnya dariku” seru Qiandra.

__ADS_1


“Kamu tidak berhak apapun atas harta Charles, kamu ingat itu” seru laki-laki paruh baya itu, “Cepat tanda tangani” serunya lagi.


“Qi, jangan, jangan menyerahkan apa yang sudah menjadi hakmu” seru Dean, walau dia tidak mengetahui banyak, tapi sekilas Dean mengerti kalau surat itu adalah surat pengalihan hak kepemilikan atas rumah mewah itu dari Qiandra kepada kedua orang tua tersebut.


“Tutup mulutmu, Anak Muda, kamu tidak tahu apa-apa” seru laki-laki paruh baya itu.


Dean merasa geram dan ingin melawan laki-laki itu, namun niatnya terhenti saat dia melihat Qiandra menggeleng lemah saat menatap  kearahnya.  Qiandra kembali membungkuk dan membubuhkan tanda tangannya di berkas itu, walau dengan air mata berderai.


Setelah Qiandra menandatangani berkas itu, wanita paruh baya tadi segera mengambil berkas itu, “Bi Sum, bawa kesini semuanya” serunya, lalu seorang wanita tua terlihat melangkah pelan dengan wajah yang sangat sedih.


“Sekarang, kamu angkat kaki dari rumah ini, dan jangan pernah kembali lagi kesini ataupun menampakkan wajahmu dihadapan kami lagi,  dasar ja*ang pembawa sial” seru wanita itu pada Qiandra.


“Tapi, Ma, Qian mohon, jangan usir Qian, hanya ini tempat Qian berteduh, satu-satunya peninggalan Charles, Ma, Pa, tolong, tolong jangan usir Qian” seru Qiandra dengan menghiba, dia bersimpuh dihadapan kedua orang tua paruh baya itu.


“Hah, jangan membawa nama anakku, saat kesetiaanmu telah luntur” seru pria paruh baya itu.


“A-apa maksudmu, Pa” tanya Qiandra terkejut mendengar ucapan laki-laki itu.


“Selama ini kami hanya mendengar desas desus saja kalau kamu memang menjadi janda penggoda untuk memenuhi gaya hidupmu, dan sekarang kamu bahkan berani membawa pelangganmu masuk ke rumah kakakku” seru wanita muda tadi yang merasa kesal karena Dean menolak dirinya.


“Fani, ini tidak seperti yang kalian duga, Tuan ini…..” seru Qiandra pada wanita muda yang merupakan adik dari Charles.


“Kami tidak perlu penjelasan, sekali mura*an ya, akan tetap mura*an, sekali ja*ang ya akan tetap menjadi ja*ang, bukankah seperti ini juga kamu menggoda Charles dulu, sehingga anakku yang polos itu tergoda pada wanita


pembawa sial seperti dirimu” sarkas wanita paru baya itu yang tak lain  dari mama Reni, ibu dari Charles.


“Ma, Qian tidak pernah melakukan hal seburuk itu, Qian berani bersumpah” seru Qiandra dengan suara menghiba.  Bik Sum tak mampu lagi menahan air matanya melihat Nyonya Mudanya duduk bersimpuh dan menghiba hanya untuk tinggal di rumahnya sendiri.


“Sudahlah, sekarang kamu segera angkat kaki dari rumah ini, aku tak sudi Rumah ini dikotori oleh wanita sepertimu” seru pria paruh baya  yang tak lain dari papa Jhon, ayah Charles.


“Tuan, Nyonya, kurasa ada kesalah pahaman disini, Qiandra sama sekali tidak melakukan apa yang kalian tuduhkan itu” seru Dean berusaha bersikap tenang walaupun darahnya sudah mendidih melihat dan mendengar


perkataan orang-orang itu pada Qiandra.


“Jangan ikut campur, Anak Muda, sebaiknya kamu jauhi wanita pembawa sial ini, atau kamu juga akan tertimpa kemalangan seperti anak kami” seru mama Reni pada Dean.


“Sekarang kamu mau pergi baik-baik atau perlu aku paksa” seru papa Jhon pada Qiandra.


“Pa, Qian mohon jangan usir Qiandra” Qiandra masih berseru dengan menghiba.


“Tuan, Nyonya, tolong jangan usir Nyonya Muda” tiba-tiba Bik Sum ikut bersimpuh disamping Qiandra.


“Bik Sum….” seru Qiandra terkejut melihat wanita tua itu ikut bersimpuh disamping dirinya.

__ADS_1


__ADS_2