PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SEMBILAN PULUH LIMA


__ADS_3

Qiandra menatap punggung kekar sang suami saat laki-laki itu sedang asyik dengan aktifitasnya. “Ayolah, Qi, mengapa kamu tega menyakiti hatinya, lihatlah betapa besar kasihnya kepadamu. Apakah hanya karena kesalahan sekecil itu kamu akan merusak kebahagiaannya” bisik hati Qiandra sambil menatap sendu pada punggung Dean.


Rasa sedih dan rasa bersalah merasuk dalam hati Qiandra saat dia melihat presidir tampan itu dengan tulus hati mau menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Qiandra perlahan berdiri dan berjalan mendekati laki-laki itu, lalu tangannya terulur dan memeluk pinggang Dean dengan erat. Wajah wanita itu menempel di punggung Dean yang hanya terbalut singlet tipis, sehingga Dean bisa merasakan saat air mata membasahi punggungnya.


Dean segera mematikan kompor dimana dia sedang memasak makanan mereka. “Honey….” desis laki-laki itu dengan lembut, tangannya menggenggam erat tangan Qiandra yang melingkari tubuhnya. Lalu perlahan Dean berpaling dan langsung memeluk tubuh sang istri dengan erat.


“Seumur hidupku, kamulah yang terbaik, Love, dalam hal apapun, bahagia terbesarku adalah bisa memiliki dirimu. Maafkan aku jika tidak bisa menjadi seperti yang kamu harapkan, kuharap kamu mau menerima diriku ini, walaupun aku sudah bekas dari…..” ucapan Qiandra terhenti saat Dean meraih wajahnya dan langsung menyambar bibirnya.


“Jangan pernah merasa dirimu bekas, Honey, kamu tetap gadis bagiku, kesucian hatimu jauh kebih indah dibandingkan yang lainnya. Maafkan aku karena keegoisan hatiku yang selalu ingin menjadi yang terbaik bagimu sehingga aku mengeluarkan kata-kata yang menyakiti hatimu” ucap Dean saat pautan bibir mereka terlepas.


“Love….” Qiandra ingin berbicara lagi, namun jari Dean telah menempel di bibirnya.


“Jangan mengucapkan kata-kata yang akan membuatmu merasa sedih, Honey. Maafkan aku, dan kumohon tetaplah jadi dirimu sendiri, aku mencintaimu apa adanya, sangat mencintaimu. Kumohon jangan pernah menutup dirimu dan kembali menyimpan semua rasamu sendiri. Teruslah berbagi denganku, karena aku sangat bahagia jika bisa merasakan semua yang kamu rasakan, karena bahagiamu adalah bahagiaku dan dukamu juga menjadi duka bagiku. Biarkan aku dan hanya aku yang ada dalam hati dan hidupmu, selamanya, hmmm” ucap Dean sambil menangkup kedua pipi Qiandra dan menatap langsung kedalam dua bola mata indah yang terlihat berair itu.


“Tetaplah menjadi Qiqiku yang ceria dan bahagia, dan berdirilah mendampingiku menghadapi semua badai hidup, kamu tahu bagiku kamulah sumber kebahagiaanku dan juga kekuatanku” lanjut Dean lagi.


Qiandra tidak mampu berkata-kata lagi, hatinya terasa meleleh saat mendengar keindahan kata-kata laki-laki tampan itu. Qiandra hanya bisa terus menenggelamkan wajahnya di dada bidang sang suami, dengan air mata yang masih mengalir dipipinya. Tangan wanita itu terus melingkar erat di pinggang Dean.


Dean perlahan mengangkat wajah Qiandra yang dipenuhi air mata, membuat wajah itu mendongak menatap wajah Dean yang sedang menunduk. Perlahan Dean mengecup air mata yang memenuhi wajah Qiandra dengan penuh kasih, “Jangan lagi menangis, bidadariku, tersenyumlah, karena senyummu seperti cahaya mentari yang akan menerangi langkahku” ucap Dean.


Qiandra tersenyum lembut menatap mata elang yang begitu sendu menatap wajahnya, “Terima kasih, Love, terima kasih untuk semuanya, aku sangat, sangat mencintaimu” ucap Qiandra, dia meraih wajah sang suami dan menyambar bibir laki-laki itu.


Dean cukup terkejut, karena memang sangat jarang Qiandra bisa memulai hal-hal seperti itu. Namun, Dean tidak akan membuang kesempatan itu, dia menyambut bibir sang istri dengan penuh sukacita. Tidak hanya sampai disitu, Dean bahkan perlahan mengangkat tubuh wanita itu dan mendudukkannya diatas meja makan.


Saat gairah terasa semakin tak bisa mereka kuasai lagi, tiba-tiba Dean mendengar rengekan sang istri, “Love, aku lapar” desis wanita itu diantara ******* yang benar-benar semakin memanas.


Dean langsung melepaskan pelukannya, dengan gemes dia mencubit hidung mancung sang istri, “Makanya, jangan coba memancing suamimu, jika kamu belum siap, kamu tahu kalau aku tidak akan pernah membuang kesempatan untuk menikmati setiap keindahanmu” ucap Dean seraya mengecup lama kening Qiandra.


“Aku selalu siap, Tuan, tapi ijinkan aku mengisi tenagaku dulu” ucap Qiandra dengan mimik wajah yang dibuat menjadi lucu.


“Honey….” desis Dean yang merasa wajah sang istri membuat dirinya benar-benar sulit untuk mengontrol gairahnya.


Qiandra perlahan mendorong tubuh suaminya, dia sangat tahu kalau laki-laki itu sedang terbakar gairahnya. Namun, saat ini Qiandra benar-benar merasa lapar, sehingga dia segera turun dari atas meja makan itu dan melangkah dengan gemulai menuju lemari peralatan makan. Tubuh indahnya yang hanya terbalut jubah mandi dengan ikatan yang sudah longgar membuat bahunya terekspos sempurna.


Dean hanya bisa menggeram perlahan menahan gejolak gairah dalam dirinya, apalagi saat dia melihat Qiandra melangkah dengan gaya sensual. Dean akhirnya memutuskan duduk dan menikmati aktifitas wanita itu, yang memang terlihat begitu seksi dengan rambut indahnya yang masih basah dan terurai menutupi bahu putih mulusnya.

__ADS_1


Dean berulang kali menarik nafas untuk mengontrol gemuruh dalam dadanya, saat sang istri dengan sengaja meletakkan peralatan makan di hadapannya dengan menunduk. Tentu saja hal itu membuat dua buah daging kenyal yang tersembunyi di balik jubah mandinya mengintip dan seolah mentertawakan Dean.


“Qi….” desis Dean melihat tingkah sang istri yang seolah sengaja memamerkan pemandangan penuh godaan dihadapan mata laki-laki itu.


“Silahkan makan, Tuan, semoga makanan ini bisa menambah kekuatanmu saat nanti menu utama dihidangkan” desah Qiandra dengan manja ditelinga Dean. Sementara jari wanita itu dengan lembut menelusuri bahu lebar laki-laki itu saat dia melewati kursi Dean.


“Jangan harap kamu akan bisa memejamkan matamu malam ini, Nyonya, kamu benar-benar sudah membangunkan singa muda yang akan siap membuatmu terkapar” desis Dean.


Qiandra terkikik mendengar ancaman sang suami, “Hmmm, aku ragu singa muda itu mampu menaklukkan aku, kurasa dia akan terkulai lemas lebih dulu di hadapanku” ucapnya sambal menjilat bibirnya dengan seksi.


“Nyonya, jangan coba menantangku, aku tidak akan memberimu ampun walaupun kamu memohon” desis Dean menyahut tantangan wanita yang terlihat mulai menikmati makanan di hadapannya masih dengan gaya yang sangat seksi. Qiandra bahkan berulang kali dengan sengaja menjilat makanan yang mengotori bibirnya, membuat Dean menghela nafas berulang kali.


“Hei, apa kamu tidak makan, Love, makanlah, aku takut kamu tidak punya tenaga yang cukup untuk malam ini, hmmm” desah Qiandra, tangannya menyentuh leher jenjang putihnya dan mengumpulkan helaian rambutnya untuk kemudian diatur di sisi kanan bahunya.


“Habiskan saja makananmu secepatnya, Nyonya, karena jika aku sudah tidak mampu mengendalikan diri, maka aku akan menerkammu tidak perduli makanan masih ada di piringmu” desis Dean dengan suara serak.


Semua gerakan Qiandra benar-benar sukses membuat laki-laki itu gelisah tak karuan.


Qiandra terkikik dan dengan gaya sensual mengambil minuman yang ada di hadapannya, “Kurasa kamu tidak akan berani, Tuan, karena jika kamu melakukan hal itu aku yakin kamu akan menyesalinya. Karena aku sudah punya tenaga, sementara kamu, haish, aku yakin kamu benar-benar akan terkulai tak berdaya karena kehabisan tenaga” ucapnya setelah meletakkan gelasnya.


“Shit….” seru Dean seraya melemparkan sarbet makan yang ada di pangkuannya. Tanpa berpikir dua kali lagi Dean meloncat dan berlari menyusul sang istri yang di yakininya sekarang sedang menantinya di kamar utama yang ada di lantai atas.


Namun, saat Dean berhasil menyusul Qiandra, dia melihat wanita itu sudah mulai memasang gaun yang diantar oleh asisten Vian. Gaun dengan bahan lembut dan jatuh itu dengan mudahnya menempel di tubuh wanita itu.


“Kamu benar-benar berhasil, Nyonya, apa perlu aku merobek gaun ini untuk bisa melihat apa yang kamu sembunyikan di dalamanya” desis Dean di telinga Qiandra saat dia membantu wanita itu memasang kancing gaun itu yang kebetulan ada di belakangnya.


Qiandra hanya tersenyum mendengar kata-kata suaminya itu, “Kurasa kamu akan berhadapan dengan Kak Vian jika kamu merobek gaun indah ini, Love, lihatlah, ini indah sekali” ucap Qiandra sambil berdiri ala foto model dihadapan cermin besar yang ada di kamar mewah itu.


“Dan gaun ini benar-benar cocok untukmu, Nyonya, tapi aku jauh lebih suka jika gaun ini segera di lepaskan dari tubuh ini” desis Dean.


“Ha ha ha…., kurasa kamu harus bersabar beberapa saat lagi, Tuan, karena masih ada dua gaun lagi yang harus aku coba” Qiandra tertawa renyah sambil melepaskan dirinya dari pelukan sang suami. Qiandra melangkah dan mengambil paper bag lainnya dan membawanya kembali ke tempatnya berdiri tadi, dimana sang suami masih menatap wanita itu dengan lekat.


Saat Qiandra ingin membuaka gaun yang dikenakannya, tangannya sedikit kesulitan meraih retsleting gaun itu. Dean segera membantunya, dan membuka retsleting gaun mewah itu. Sayangnya, saat terbuka, gaun itu langsung terjatuh dan lepas dari tubuh Qiandra, karena memang gaun itu tanpa lengan.


Qiandra terpekik pelan, dan dengan refleks tangannya menutup bagian penting di tubuhnya. Karena memang Qiandra hanya memakai dalamn saja, sehungga saat gaun itu terlepas, tubuhnya lanfsung terekspos.

__ADS_1


Namun, gerakan wanita itu yang berusaha menutup tubuhnya, sudah membuat laki-laki yang berdiri di belakangnya itu tidak mampu lagi menguasai dirinya. Dean dengan cepat meraih tubuh sang istri dan mengangkatnya serta membawanya menuju tempat tidur besar yang ada di tengah ruangan itu.


“Love, aku belum selesai mencoba gaun-gaun itu” rengek Qiandra dengan manja, namun tak urung tangannya tetap terulur dan bertahan di leher sang suami.


“Aku tidak perduli dengan gaun-gaun sialan itu, Nyonya, sekarang kamu harus menerima hukuman untuk semua tindakanmu sejak tadi” desis Dean.


Qiandra tidak lagi bisa menjawab perkataan suaminya itu, yang keluar dari mulutnya hanyalah *******-******* kenikmatan. Qiandra hanya bisa pasrah pada perlakuan lembut sang suami yang mampu membuat jiwa leduanya melambung menuju nirwana.


Kedua insan itu baru berhenti setelah tenaga mereka benar-benar terkuras habis. Dean dan Qiandra akhirnya jatuh dalam dunia mimpi dalam posisi saling berpelukan. Mereka bahkan tidak punya tenaga yang cukup untuk pergi membersihkan diri mereka.


Saat pagi hari menyapa bumi, dan sang mentari mulai merangkak naik untuk melaksanakan tugasnya, dua insan yang hanya menutup tubuhnya dengan selimut tebal itu perlahan mulai menggeliat. “Selamat pagi, bidadariku, you are so beautiful” bisik Dean ditelinga sang istri yang terlihat masih terpejam.


Perlahan wanita itu membuka matanya, pemandangan pertama yang tertangkap oleh netra cantiknya adalah wajah tampan sang suami yang sedang menatapnya dengan penuh cinta. “Selamat pagi, Love, kuharap semua pemandangan indah ini selalu bisa aku nikmati setiap pagi, love you so much, Love” desah Qiandra sambil membelai pipi laki-laki itu dengan penuh cinta.


“Harapanmu pasti jadi kenyataan, Honey, hanya akulah yang akan selalu kamu lihat saat kamu membuka matamu di pagi hari” ucap Dean dengan senyum bahagia. Dikecupnya kening Qiandra dengan penuh kasih, membuat wanita itu kembali memejamkan mata menikmati keindahan sentuhan sang suami.


“Love, astaga, jam berapa sekarang, lihatlah matahari sudah tinggi, kamu akan terlambat lagi ke kantor” seru Qiandra saat dia kembali membuka mata dan memperhatikan hari sudah sangat terang.


“Ha ha ha, jangan khawatir, Honey, aku memang tidak akan turun ke kantor hari ini dan juga untuk beberapa hari ke depan” sahut Dean.


“Lho memangnya kenapa, Love” tanya Qiandra dengan kening berkerut.


Dean menyentil kening Qiandra dengan lembut, “Apa kamu lupa kalau kita sedang menghadapi acara besar, bagaimana bisa aku tetap mengurus kantor saat hari penting itu akan tiba tidak lama lagi” ucapnya.


“Ish, sakiiiittt, Love” seru Qiandra dengan manja merajuk pada suaminya sambil mengelus keningnya.


“Hah, benarkah, aduh maafkan aku, Honey” Dean terkejut lalu segera membelai dan meniup kening istrinya.


“Cium....” rengek Qiandra sambil mengerucutkan bibirnya.


Dean sempat terpaku beberapa saat, namun segera dia meraih wajah istrinya dan mencium kening wanita itu dengan lembut. Tidak hanya itu, Dean juga langsung menyambar bibir sang istri yang terlihat sangat menggemaskan baginya.


“Aku suka melihatmu menjadi manja seperti ini, Honey, teruslah bermanja denganku, hanya denganku” bisik Dean sambil membelai rambut sang istri.


Qiandra hanya mengangguk sekilas lalu kembali menenggelamkan dirinya di dalam dada bidang yang memang sangat disukainya itu. Qiandra bisa merasakan detak jantung laki-laki itu, dan itu membuatnya merasa tenang dan sangat bahagia. Kecupan sang suami di pucuk kepalanya, semakin membuat Qiandra enggan melepaskan diri dari kehangatan indah itu.

__ADS_1


__ADS_2