
Hai readers kesayangan author, terima kasih karena kalian masih mau mampir di karya author yang masih jauh dari sempurna ini.
Maafkan jika author tidak bisa memenuhi harapan kalian, tapi author tetap berharap dukungan para readers yang baik hati...
Semoga para readers yang setia menantikan uo nya author, berkenan memberikan dukungan buat author...
Tetap semangat, jaga kesehatan dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan memberikan
Like
Vote
Koment
Terima kasih ya 🙏🙏
...--------------######--------------...
“Maaf Dean, kurasa aku jauh lebih berhak mendampingi calon suamiku ini saat ini, dan kamu sebagai calon anakku, kuharap kamu bisa menghormati statusku sekarang” ucap Risty dengan tegas membuat semua keluarga yang berkumpul saat itu terkejut bukan main.
“Risty, apa maksudmu, jangan bercanda di saat seperti ini, kita sedang berada di hadapan jenazah mamah, bercandamu sudah sangat berlebihan” desis Dean berusaha menahan kemarahannya.
“Aku tidak sedang bercanda, aku sungguh-sungguh, Daddy sudah memintaku untuk menggantikan posisi Nyonya Walt Zacharias, dan aku sudah menerimanya, jadi dalam beberapa hari kedepan kami akan segera melangsungkan pernikahan kami” ucap Risty dengan penuh kepercayaan diri.
“Pah, apa maksudnya ini, jangan main-main, Pah” seru Dean yang merasa semakin frustasi mendengar kata-kata Risty.
Papah Walt hanya terdiam dan menundukkan kepalanya, “Pah….” desis Dean bersimpuh di kaki papah Walt.
__ADS_1
“Duduklah di tempatmu, Dean, jangan menambah kekacauan ini lagi” desis papah Walt, yang membuat Dean tak mampu berdiri lagi karena merasakan lututnya yang goyah. Albert dan Vian yang melihat kondisi Dean, segera membantu sahabatnya itu untuk berdiri dan menempatkannya di kursi yang sudah disediakan.
Sepanjang acara perkabungan hingga acara pemakaman, Risty benar-benar mengambil alih posisi mamah Dean. Semua tugas yang harusnya dilakukan oleh Nyonya rumah mansion utama tersebut, semuanya diambil alih oleh Risty. Pernah beberapa keluarga berdebat dan mengajukan protes, namun mereka semua tidak berdaya menghadapi kata-kata tajam dari mulut Risty.
Sementara papah Walt, benar-benar bungkam melihat tingkah Risty, dan sikapnya yang diam itu seakan menyetujui semua tindakan yang dilakukan oleh Risty. Sehingga tidak ada satu orang pun akhirnya yang berani menentang semua keputusan Risty.
Tiga hari setelah pemakaman mamah Dean, Risty dan papah Walt melangsungkan pernikahan mereka. Persiapan yang seharusnya untuk pernikahan Dean dan Risty, saat itu berganti dengan pernikahan papah Walt dan Risty.
Sementara Dean, sejak pemakaman mamahnya, dia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di mansion utama keluarga Zacharias itu. Apalagi saat dia mengetahui, kalau Risty benar-benar mengambil alih semua wewenang yang menjadi tanggung jawab nyonya Walt Zacharias, membuat Dean semakin enggan untuk kembali ke mansion utama keluarganya itu.
Sebulan sejak kejadian itu, papah Walt memutuskan mengundurkan diri dari perusahaan, dan dia menyerahkan seluruh sahamnya pada Dean. Papah Walt tidak menyisakan sedikit pun saham untuknya dan Risty, namun hal ini tidak diketahui oleh Risty. Papah Walt meminta notarisnya membuat berita acara serah terima, dan menyerahkannya langsung pada Dean.
Papah Walt meminta dengan sangat agar semua itu dirahasiakan, baik oleh notarisnya maupun oleh Dean. Hanya mereka bertiga dan kedua sahabat Dean sajalah yang mengetahui kalau semua saham keluarga Zacharias di perusahaan sudah diserahkan sepenuhnya untuk Dean.
Dean sebenarnya ingin menolak semua itu, namun kedua sahabatnya mengingatkan Dean, kalau semua itu adalah haknya. Karena semua itu adalah warisan dari papah dan juga mamah Dean, jika Dean menolaknya maka semua itu secara otomatis akan jatuh ke tangan Risty, apalagi kalau sampai wanita itu mempunyai keturunan.
Albert dan Vian sebenarnya sangat curiga terhadap semua yang terjadi dalam keluarga Dean. Namun, keduanya tidak berdaya saat Dean dengan tegas menolak mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dean merasa tidak
mampu menerima kenyataan yang lebih menyakitkan lagi, jika mereka mencari tahu penyebab semua itu.
Dean lebih memilih meninggalkan dan melupakan masa lalu yang begitu kelam itu. Seiring dengan berjalannya waktu, hubungan Dean dan papah Walt berangsur-angsur kembali membaik, namun Dean tidak pernah mau berinteraksi dengan Risty. Tidak pernah sekalipun Dean berbicara dengan Risty sejak terakhir kali mereka berdua berbicara di hadapan jenazah mamah Dean.
Hingga pada akhirnya, Dean tanpa sengaja mengetahui penyebab kematian mamahnya. Risty telah dengan sengaja menjebak papah Walt, sehingga laki-laki paruh baya itu tergoda dan melakukan hubungan intim dengan Risty. Dan hal itu terjadi di mansion utama dan diketahui bahkan dilihat secara langsung oleh mamah Dean, sehingga wanita paruh baya itu mengalami serangan jantung dan berujung pada kematiannya.
Sejak saat itu, kebencian Dean kepada Risty semakin mendarah mendaging, bahkan hanya untuk menyebut namanya saja sudah membuat Dean murka. Dean sama sekali tidak mengerti mengapa papah Walt membiarkan Risty berbuat seenaknya saja, dan yang lebih membuat Dean tidak mengerti mengapa papah Walt mau menikahi Risty, padahal dia tahu kalau dia dijebak.
Dean sangat penasaran, namun dia juga sangat enggan bersentuhan lagi dengan Risty. Oleh sebab itu, Dean memilih tidak akan pernah lagi menginjakkan kakinya di mansion utama. Dean hanya bertemu dengan papah Walt, saat orang tua itu berkunjung ke perusahaan. Atau pada saat-saat tertentu, papah Walt meminta Dean untuk menemaninya makan malam bersama di tempat-tempat tertentu.
__ADS_1
Dean tidak pernah bertanya pada papah Walt tentang masalah Risty, dia selalu menghindari pembicaraan tentang wanita itu. Dan papah Walt pun sangat mengerti, sehingga meraka berdua tidak pernah sekalipun membicarakannya. Setiap bertemu, papah Walt selalu menikmati kebersamaannya dengan Dean sambil mengenang masa lalu saat mamah Dean masih hidup.
Dan sejak saat itulah, Dean tidak pernah lagi percaya pada wanita, dia seakan menutup semua pintu hatinya untuk kehadiran seorang wanita. Dan hal itu juga berimbas pada kedua sahabatnya, karena rasa persaudaraan yang begitu kental diantara ketiganya, membuat Albert dan Vian juga menutup diri untuk wanita.
Flasback off….
“Begitulah ceritanya, honey, hingga sore itu aku bertemu denganmu saat hujan itu, aku sudah beberapa kali melihatmu dan menyadari kalau hatiku mulai tertarik padamu. Meski aku hampir menikah dengan wanita ular itu, belum pernah sekalipun aku membawanya masuk ke kamar pribadiku, apalagi menempatkannya di tempat tidurku. Kamulah wanita pertama yang aku bawa, aku tidak tahu apa yang terjadi, yang aku tahu aku ingin melindungimu, menjagamu dan semua rasa itu semakin bertumbuh saat aku mulai mengenal sedikit demi sedikit tentang siapa dirimu” ucap Dean dengan mendesah berat.
“Jadi, karena itukah kamu sampai mengucapkan kata-kata kasar itu, love” tanya Qiandra.
“Honey, kumohon jangan ingat lagi hal itu, aku sungguh merasa bersalah, bertahun-tahun aku memendam rasa bersalahku padamu. Yah, trauma itu begitu membekas dihatiku dan pikiranku, sehingga membuatku kehilangan akal sehatku” ucap Dean dengan sendu.
“Dan bagaimana jika hal seperti itu terjadi lagi, apa kamu akan melakukan hal yang sama lagi” tanya Qiandra.
“Tidak, honey, aku tidak akan lagi begitu mudah mempercayai semua hal seperti itu, aku hanya akan percaya pada mulutmu, apapun yang akan kamu katakan, itulah kebenaran bagiku. Aku tidak mau lagi mengulang kesalahan yang sama, sudah cukup dua tahun ini kamu menyiksa dan menghukumku, honey” ucap Dean lagi.
“Hah, aku rasa jalan kita tidak akan mudah, love, secara keluarga besarmu sekarang berada dibawah kekuasaan wanita itu. Apalagi kalau dia sampai mengetahui semua saham telah diserahkan padamu, aku rasa dia tidak akan semudah itu melepaskanmu, apalagi untuk wanita sepeti diriku” ucap Qiandra dengan wajah sendu.
“Dia tidak berhak apapun dalam menentukan siapa yang akan menjadi pendamping hidupku, aku mohon, honey, tetaplah berdiri disisiku apapun yang terjadi. Kumohon bantu aku menghadapi semua ini, kamu maukan, honey” ucap Dean dengan mata tajam yang penuh dengan permohonan.
“Ini keputusan besar dalam hidupku, love, aku tidak tahu apa yang terjadi, namun setelah suamiku meninggal, satu-satunya laki-laki yang bisa membuat hatiku bergetar hanya kamu. Dan sejak saat itu, aku memang sudah berpikir ingin membuka hatiku untukmu. Bahkan setelah kejadian itu, aku tidak pernah bisa membencimu” ucap Qiandra dengan suara sendu.
“Benarkah, honey, kalau begitu, apakah kamu bersedia mendampingi aku menghadapi semua ini” tanya Dean lagi dengan wajah berbinar.
“Aku akan berusaha semampuku, love, satu hal saja yang aku minta darimu, tolong jaga kepercayaanku dan percayalah padaku. Karena hanya dengan saling mempercayai, kita berdua bisa menghadapi semua rintangan yang akan menghadang kita berdua” ucap Qiandra dengan yakin.
“Pasti, honey, pasti, terima kasih banyak, honey” ucap Dean dengan kebahagiaan yang tidak bisa disembunyikannya sama sekali. Dean merengkuh tubuh Qiandra dan memeluknya dengan erat, berkali-kali dia mengecup pucuk kepala wanita itu dengan penuh kasih.
__ADS_1
Kedua insan itu menyadari jalan yang akan mereka lalui tidak akan mudah, namun dengan penuh keyakinan keduanya bertekad akan menghadapi semua rintangan yang akan menghalangi cinta mereka. Cinta yang telah teruji tidak goyah selama dua tahun ini, bahkan saat belum ada kepastian sama sekali. Cinta mereka berdua tetap bertahan, dan bertumbuh dengan sangat subur saat keduanya bisa bersama kembali.