
“Dean, istrimu sedang hamil muda, dan di saat seperti ini, hatinya menjadi sangat sensitif. Dia bisa menjadi sosok yang sangat berbeda dengan kesehariannya, bahkan nanti dia mungkin akan punya keinginan keinginan yang tidak rasional. Itulah yang dinamakan hormon ibu hamil” jelas dokter Albert kepada Dean.
“Apa maksudmu” tanya Dean dengan kening berkerut.
“Seorang wanita yang sedang hamil cenderung mengalami perubahan hormon. Yah, walaupun tidak semua wanita hamil mengalami hal tersebut. Hormon HCG meningkat pesat dalam trimester pertama, kemudian menurun levelnya pada trimester kedua. Inilah alasan mengapa Ibu di trimester pertama mengalami morning sickness alias mual-muntah di pagi hari, juga menjadi sering buang air kecil. Hormon HCG menekan sistem imunitas Ibu agar tubuh Ibu lebih toleran pada si Kecil. Akibatnya Ibu lebih mudah terkena penyakit, misalnya flu” sahut dokter Albert lagi.
“Lalu apa hubungannya dengan sikap Qiandra tadi” tanya Dean lagi dengan kening berkerut.
Dokter Albert mendesah sebentar, lalu kembali melanjutkan penjelasannya, “Selain itu, perubahan hormon ini juga dapat memengaruhi emosi ibu hamil. Peningkatan produksi hormon estrogen dan progesteron di awal-awal kehamilan misalnya, dapat berdampak pada kemampuan otak dalam mengatur emosi ibu hamil. Perubahan hormon dalam tubuh wanita hamil dapat memengaruhi tingkat neurotransmiter, yaitu bahan kimia otak yang salah satu fungsinya adalah mengatur emosi. Hal ini membuat ibu hamil kadang merasa sedih, ingin menangis, dan mudah tersinggung. Di lain waktu, ibu hamil juga bisa tiba-tiba merasa senang dan bahagia. Perubahan suasana hati dan emosi ibu hamil selama kehamilan mungkin tidak terkendali” lanjut dokter Albert lagi.
Dean terkejut mendengar penjelasan dari dokter Albert, dia sama sekali tidak tahu mengenai hal seperti itu. “Itu artinya kehamilan akan membuat seorang wanita menderita” desisnya seakan berbicara pada diri sendiri.
“Pada kenyataannya memang banyak kehamilan yang membuat seorang wanita menderita, tidak hanya fisik tapi juga psikis. Jadi, tidak jarang banyak wanita yang takut hamil, atau ada yang sudah pernah hamil, kemudian trauma dan tidak ingin mengalaminya lagi. Tetapi kehamilan juga memberikan kebahagiaan bagi seorang wanita. Bisa menghasilkan keturunan apalagi dari orang yang sangat dicintai, tentunya menjadi kebanggaan tersendiri bagi seorang wanita. Dan sangat banyak wanita yang bersedia menjalani penderitaan ini dengan rasa syukur dan penuh kebahagiaan. Jadi, sekarang menjadi tugas kaum pria lah untuk menempatkan dirinya” ucap dokter Albert.
“Apa maksudmu” tanya Dean.
“Yah, jika kaum laki laki sungguh mencintai pasangannya, wanitanya yang sedang mengandung buah cinta mereka, keturunan si laki laki itu, maka seharusnya dia bisa mendukung sang ibu hamil menjalani masa kehamilannya. Kita hanya mendukung dengan memberi perhatian lebih, memberi rasa aman dan nyaman, juga berusaha memenuhi keinginan dari wanita yang sedang hamil. Semua itu tentunya untuk memberikan rasa nyaman dan bahagia bagi wanita hamil, yang secara otomatis akan mendukung kesehatan dan juga perkembangan janin yang ada dalam rahimnya” lanjut Dokter Albert lagi.
Dean terpekur mendengar penjelasan dari dokter Albert, sungguh semua ini adalah hal yang sangat baru baginya. Dean tidak menyangka bahwa seorang wanita yang sedang hamil akan mengalami penderitaan seperti itu. Karena sepengetahuannya, seorang wanita hamil selalu terlihat sangat bahagia, dia tidak pernah melihat seorang wanita hamil yang menderita.
Saat Dean sedang tenggelam dalam lamunannya, tiba tiba phoselnya bergetar, dia segera mengangkatnya, “Ada apa Vian” tanya Dean langsung saat melihat nomor orang yang menghubunginya.
“Tuan, Nyonya Muda sudah bangun, tapi dia langsung menangis, dan dia juga melarangku memberitahukan padamu” bisik asisten Vian yang masih terdengar jelas ditelinga Dean.
“Shit!!!” seru Dean segera memutuskan panggilannya dan segera berdiri melangkah meninggalkan ruangan dokter Albert.
“Mau kemana kamu” seru dokter Albert saat melihat sahabatnya itu bergegas.
“Qiandra bangun dan menangis” seru Dean sebelum meninggalkan kamar dokter Albert, dokter Albert terkejut mendengar jawaban Dean, dia juga segera berdiri dan menyusul Dean. Dokter Albert mengkhawatirkan kondisi janin Qiandra jika wanita itu kembali bersedih dan stres.
__ADS_1
Sementara itu di ruangan Qiandra, wanita hamil itu baru terbangun dari lelapnya. Dan saat dia mengingat sikap Dean yang membuatnya merasa kesal tadi, dia kembali merasa sedih, apalagi saat dia tidak menemukan Dean di sampingnya. “Apa Dean benar benar marah padaku, ah ternyata dia memang tidak sungguh sungguh menyayangiku. Masa hanya karena masalah seperti itu dia marah sampai meninggalkan aku” desis Qiandra dalam hatinya.
“Nyonya Muda, ada apa, apa ada yang sakit, saya akan menghubungi Tuan Dean dan dokter Albert” sebuah suara mengejutkan Qiandra. Qiandra seraya berpaling dan melihat asisten Vian yang sudah berdiri di sampingnya. Qiandra perlahan menghapus airmata yang mengalir dari sudut matanya.
“Tidak apa apa Kak Vian, tidak perlu menghubungi mereka, aku baik baik saja, jadi tolong jangan hubungi mereka ya” ucap Qiandra dengan suara sendu yang membuat asisten Vian tertegun. Asisten Vian sempat merasa ragu, dia ingin menghubungi Dean tapi dia juga tidak bisa menolak permintaan wanita cantik ini yang terlihat begitu memohon padanya.
“Baiklah, tapi bisakah Anda tetap tenang, aku perlu ke kamar kecil sebentar” ucap asisten Vian yang dibalas Qiandra dengan anggukan kepalanya. Asisten Vian segera bergegas menuju kamar kecil, walaupun dia tidak bisa menolak keinginan Qiandra, tapi asisten Vian lebih tidak bisa lagi melihat air mata di wajah wanita itu.
“Tuan, Nyonya Muda sudah bangun, tapi dia langsung menangis, dan dia juga melarangku memberitahukan padamu” ucap asisten Vian dengan berbisik saat panggilannya langsung terhubung bahkan pada dering pertama. Setelah mengatakan itu, dia segera bergegas keluar dari kamar kecil itu dan di sana dia masih melihat Qiandra yang masih menangis bahkan sedikit terisak.
Saat asisten Vian hendak melangkah mendekati Qiandra untuk menenangkan waanita itu, pintu ruangan sudah terbuka dan terlihat raut wajah Dean yang sangat khawatir. “Honey, kamu sudah bangun, maafkan aku sempat meninggalkan kamu tadi, aku keluar sebentar menemui dokter Albert” seru Dean yang segera melangkah mendekati Qiandra.
Qiandra terkejut melihat kehadiran Dean di ruangan itu, dia melirik tajam ke arah asisten Vian. Sementara asisten Vian sendiri segera berlalu setelah melihat dokter Albert di luar ruangan memanggil dirinya. “Maafkan saya, Tuan, Nyonya Muda, saya ijin keluar dulu” ucap asisten Vian tanpa memperdulikan tatapan Qiandra.
Dean tidak memperdulikan asisten Vian, dia segera mengambil posisi dan duduk di samping Qiandra, “Honey, maafkan aku, maafkan kebodohan suamimu ini, kecemburuanku membuat aku sulit untuk mengontrol diriku. Kehilangan dirimu berulang kali sungguh membuat aku menjadi trauma, aku sungguh takut kehilangan dirimu lagi. Tolong maafkan aku, Honey, jangan terus mendiamkan aku, tolong , Honey” ucap Dean dengan suara penuh permohonan.
Qiandra perlahan mengulurkan tangannya dan meraih jemari Dean yang ada di atas tempat tidur di samping dirinya. “Maafkan aku juga, Love, maafkan aku yang terlalu terbawa perasaan” desis Qiandra.
Dean segera mengangkat wajahnya, dan saat itulah Qiandra bisa melihat kalau wajah sang suami itu sudah basah. Ah, Qiandra tiba tiba merasa sangat bersalah pada Dean, dia merasa telah bersikap terlalu kekanakan. Qiandra mengulurkan tangannya dan menghapus jejak air mata di wajah tampan suaminya itu.
Dean menahan jemari Qiandra yang sedang menghapus air matanya, lalu dia mengecup lembut jemari lentik wanita itu. “Maafkan aku, Honey, ini semua pengalaman baru bagiku, tolong ajari aku untuk bisa menjadi suami yang baik untukmu. Maafkan aku yang terlalu fokus pada rasa takutku akan kehilangan dirimu, sampai sampai aku melupakan keadaanmu saat ini” ucap Dean dengan suara sendu membuat Qiandra semakin merasa bersalah.
“Sudahlah, Love, aku juga minta maaf ya, entahlah aku begitu sulit mengontrol emosiku, tolong mengerti keadaanku saat ini” desah Qiandra.
“Tentu, Honey, tentu, aku yang salah telah melupakan keadaanmu dan kekurang tahuanku atas keadaan seorang wanita hamil. Maafkan aku, aku akan berusah memperbaiki diri, dan tolong maafkan aku juga jika aku belum bisa menjadi suami yang baik untukmu” desah Dean seraya menggenggam erat jemari istri terkasihnya.
“Hmmm, apa tadi kamu bertanya pada Kak Al, Love” tanya Qiandra saat dia menyadari kalau kata kata Dean sepertinya baru menyadari akan perubahan pada dirinya.
“Kamu benar, Honey, aku sungguh kebingungan melihat sikapmu, makanya aku pergi ke Albert untuk menanyakan ada apa sebenarnya, dari sanalah aku baru tahu sedikit hal tentang hormon ibu hamil. Maafkan aku jika keinginanku untuk memiliki keturunan justru membuatmu menderita, jika kamu keberatan maka cukup satu saja, aku tidak akan meminta lagi” ucap Dean dengan penuh ketulusan.
__ADS_1
“Ha ha ha, mana ada aku menderita, aku justru sangat bahagia, Love. Secara teori memang kami kaum perempuan disebutkan banyak mengalami penderitaan saat hamil, tapi sebenarnya ini adalah momen yang sangat membahagiakan bagi kami dan saat yang sangat diimpikan oleh seorang wanita saat dia telah memiliki pasangan hidup. Dan, ya, kebahagiaan kami ini akan terasa semakin lengkap saat kami bisa menjalani masa kehamilan ini bersama dengan orang yang sangat kami cintai” ucap Qiandra dengan panjang lebar pada Dean.
“Tentu saja, Honey, aku akan selalu ada disisimu dan aku akan selalu mendukungmu, tolong katakan saja apapun yang kamu inginkan dan apapun yang bisa membuatmu merasa bahagia” sahut Dean. Saat ini hatinya terasa lega, walaupun sesaat tadi dia sempat merasa sangat sedih dan menyesal atas ketidak tahuannya akan keadaan sang istri.
Dean perlahan berdiri dan merengkuh tubuh Qiandra, dia mendekap erat tubuh wanita yang sangat dicintainya itu. “I Love You, Honey, and always Love You” desis Dean dengan penuh perasaan.
Qiandra juga membalas pelukan sang suami dengan penuh kebahagiaan. Apalagi saat mendengar kata cinta dari Dean yang terdengar begitu tulus, hati wanita cantik itu seketika meleleh. “Love you too, Love” sahutnya diantara bahagia yang menbuncah di hatinya.
“Heh, harap jaga sikap Anda pada pasien kami, Tuan, aku bisa saja memerintahkan petugas keamanan untuk membawa Anda keluar bahkan mendeportasi Anda ke luar negara ini, jika Anda tidak bisa mentaati aturan di sini” sebuah suara yang sudah sangat jelas milik siapa kembali merusak momen syahdu antara Dean dan Qiandra.
Jika Dean mengabaikan suara dokter Albert, berbeda dengan Qiandra yang tertunduk malu dan berusaha melepaskan pelukan Dean. “Love, ada Kak Al” desis Qiandra saat merasakan kalau pelukan Dean justru semakin erat.
“Jangan hiraukan manusia seperti dia, Honey, dia hanya merasa iri dengan kita, salah sendiri tidak bisa mendapatkan pasangan. Akhirnya, kerjaannya cuman mengganggu kemesraan orang lain saja” seru Dean dengan suara sedikit nyaring sehingga terdengar jelas oleh dokter Albert.
“Hei, siapa bilang aku tidak bisa mendapatkan pasangan, aku hanya belum ingin saja” seru dokter Albert.
“Hah, itu sama saja artinya jomblo lapuk” seru Dean, namun tak urung dia tetap melepaskan pelukannya pada tubuh Qiandra. Dean juga perlahan memperbaiki posisi berbaring Qiandra serta kembali menyelimuti tubuh sang istri dengan penuh kelembutan.
“Dasar manusia tidak tahu berterima kasih, tadi saja wajahnya sudah seperti pakaian tidak pernah disetrika, pas sudah bahagia lalu lupa dengan yang memberi saran” seru dokter Albert yang tidak mau kalah dengan Dean. Dokter tampan itu melangkah mendekati Qiandra dengan membawa beberapa alat pemeriksaan di tangannya.
Qiandra hanya bisa tersenyum mendengar perdebatan kedua orang sahabat itu. Qiandra sudah sangat hapal dengan perilaku keduanya, karena itu dia tidak merasa heran lagi dengan perdebatan mereka. Qiandra tahu kalau keduanya selalu berusaha menciptakan suasana bahagia di sekitar Qiandra, dan wanita ini merasa sangat bersyukur karena itu.
“Baiklah, Nyonya, bagaimana keadaanmu saat ini, apakah masih ada keluhan” tanya dokter Albert saat dia sudah berada di sisi Qiandra dan mulai melakukan pemeriksaan. Dokter Albert memang sempat merasa khawatir saat mengetahui kondisi Qiandra yang sempat menangis tadi, namun saat ini dokter Albert bisa bernafas lega melihat senyum di wajah cantik wanta itu.
“Aku merasa jauh lebih baik, Kak, terima kasih sudah membantu kami” ucap Qiandra dengan suara selembut salju.
“Apapun, Qi, apapun untukmu, jangan pernah ragu untuk mengatakan padaku apapun yang kamu rasakan atau kamu inginkan. Jangan hiraukan laki laki tidak peka ini, bahkan jika kamu merasa terganggu dengan keberadaannya, aku akan dengan senang hati menjauhkannya darimu” sahut dokter Albert. Matanya menatap ke arah Dean yang sama sekali tidak mau bergeming dari sisi Qiandra.
Dean hanya bisa melotot menatap ke arah dokter Albert saat mendengar kata kata terakhir sahabatnya itu. Namun, sikapnya itu tentu saja tidak diperdulikan oleh dokter Albert. Dokter tampan itu terus memeriksa Qiandra dan memastikan bahwa wanita itu benar benar baik baik saja. Dan saat melihat kalau sahabatnya itu sedang berkonsentrasi, Dean akhirnya memilih diam dan tidak menjawab kata kata dokter Albert.
__ADS_1