
Dor….dor…..
“Kak, Kak Charles kenapa kepalamu berdarah,
astaga, Kak awassssss…..aaaaaa” Qiandra
terkejut melihat pelipis Charles berdarah. Belum hilang keterkejutannya, Qiandra kembali berteriak histeris saat melihat mobil yang mereka pakai menabrak dengan bebas sebuah mobil lainnya yang entah bagaimana sudah ada di depan mobil mereka.
Mobil mewah itu terhenti seketika dengan asap mengepul dari bagian depannya. Qiandra masih terpaku dalam keterkejutannya, tubuhnya bergetar hebat dan seluruh persendiannya terasa lemah saat melihat
darah yang mengalir dari kepala Charles. Namun, Charles masih bisa bertahan dan segera menyadarkan Qiandra dari
keterkejutannya.
“Qi, apa kamu baik-baik saja, ayo kita keluar dari mobil ini” seru Charles, dia segera keluar dari mobil mewah itu, walau dengan setengah kesadarannya. Qiandra yang baru tersadar setelah mendengar seruan Charles, segera mengikuti Charles ingin keluar dari mobil, tapi seat belt yang dipakainya sulit untuk dilepaskan. Berkali-kali Qiandra berusaha melepaskan seat belt itu, tetap saja tidak bisa, seat belt itu seperti terkunci dan kuncinya
macet. Sayup-sayup Qiandra mulai mencium aroma barang hangus dalam mobil, membuat wanita ini semakin panik.
“Kak, Kak Charles, tolong….tolong aku, aku
tidak bisa keluar” seru Qiandra pada Charles yang terlihat tertatih melangkah keluar dari mobil itu. Charles yang mendengar seruan istrinya, segera berjalan dengan tergesa sambil berpegangan pada mobilnya agar tubuhnya tidak ambruk. Dia berusaha keras membuka
pintu tempat Qiandra duduk.
“Ada apa, Qi, mengapa kamu tidak cepat
keluar” seru Charles dengan panik melihat Qiandra, namun Qiandra kembali terkejut melihat semakin banyak darah keluar dari kepala Charles.
“Kak, kenapa kepalamu berdarah sebanyak itu, ah ini tidak bisa dilepas” Qiandra sangat terkejut melihat keadaan Charles, dengan
kepala yang berdarah dan terlihat sedikit terhuyung. Charles tidak menjawab pertanyaan Qiandra, dia membuka dashboard di hadapan Qiandra dan menemukan cutter kecil. Charles segera mengambilnya dan memotong seat
belt yang digunakan oleh Qiandra, sehingga Qiandra bisa segera terbebas dari seat belt itu.
“Cepat keluar, Qi, lari sejauh yang kamu
mampu” seru Charles setelah dia berhasil melepas seat belt Qiandra. Qiandra yang panik segera mengikuti perintah Charles, secepatnya dia keluar dan berlari menjauhi mobil mewah itu. Namun diantara kepanikannya, tiba-tiba Qiandra tersadar kalau Charles tidak ada bersamanya dan tidak mengikutinya, hal itu membuat wanita ini segera berbalik untuk mengetahui kemana suaminya. Namun, betapa terkejutnya Qiandra saat melihat Charles jatuh dan terbaring di samping mobil mewah yang sudah mulai dilalap api.
“Kak, cepat pergi dari situ, kenapa….kenapa
kamu berbaring disitu” seru Qiandra dengan panik saat melihat keadaan Charles. Dia ingin melangkah kembali membantu suaminya untuk segera menjauh dari mobil itu, namun tiba-tiba “Kak Charlesssss……aaaaaaa” Qiandra berseru dengan histeris saat mendengar suara yang sangat nyaring…..
Dor…..dor……duarrrrrr
Suara dua buah tembakan yang disusul dengan
ledakan mobil mewah milik Charles, membuat
Qiandra terpekik tanpa bisa berbuat apa-apa. Qiandra dapat melihat tubuh Charles yang
terkulai dan berada tepat disamping mobil itu langsung disambar api. Setelah itu, Qiandra merasa kehilangan kekuatannya, walau kedua tangannya berusaha menggapai suaminya yang diselimuti api, namun kedua kakinya terasa lemah dan perlahan dia mulai kehilangan kesadarannya. Qiandra jatuh terkulai tapi dia masih bisa mendengar suara
orang-orang disekelilingnya.
Sebuah tangan yang kuat tiba-tiba datang dan menahan tubuh Qiandra sehingga tidak tergeletak di aspal jalan. Lalu Qiandra merasakan tubuhnya diangkat oleh tangan kekar itu, “Tuan, kemana akan Anda bawa Nona ini” sebuah suara terdengar di telinga Qiandra.
“Ke mansion, bawa dokter terbaik ke mansion, jangan sampai ada yang tahu” suara orang yang mengangkat tubuhnya terdengar oleh Qiandra.
“Lalu bagaimana dengan mobil dan laki-laki
itu” tanya suara yang lain lagi.
“Buat semuanya sebagai kecelakaan” sahut
laki-laki yang menggendong Qiandra, setelah itu Qiandra benar-benar kehilangan
kesadarannya. Qiandra tidak tahu siapa
orang-orang itu, dia juga tidak tahu seberapa lama dia tidak sadarkan diri. Qiandra bahkan tidak tahu kemana dirinya dibawa dan bagaimana keadaan Charles.
Beberapa waktu berlalu, dan saat kesadaran
perlahan menghampiri Qiandra, dia tidak segera membuka matanya, karena dia
__ADS_1
merasa matanya sangat berat. Namun Qiandra berusaha menajamkan pendengarannya karena dia tiba-tiba mendengar sayup-sayup pembicaraan orang-orang disekelilingnya.
“Tuan, Nona ini sedang hamil muda” sebuah
suara terdengar oleh Qiandra.
“Apa?, hah, ya sudah buang saja, jangan
sampai ada jejak laki-laki itu yang tersisa” sahut suara lain. Qiandra tekejut mendengar hal itu, dia mengerti kalau orang-orang ini ingin membuang bayinya. Qiandra berusaha membuka matanya dan menggerakkan tubuhnya, namun dia sama sekali tidak mampu melakukan apapun juga. Bahkan untuk membuka matanya saja, Qiandra benar-benar tidak mampu, dan akhirnya dia kembali kehilangan kesadarannya.
Qiandra kembali mendengar suara sayup-sayup, “Pastikan dia tidak tahu apa-apa, katakan saja jika dia mengalami keguguran, kalian tahu resikonya jika dia mengetahui semuanya bukan” sebuah suara penuh penekanan dan ancaman masuk ke dalam pendengaran Qiandra.
“Baik, Tuan” sahut beberapa orang lain yang
ada di sekitar Qiandra. Qiandra merasa
kehilangan semua tenaganya dan semangat hidupnya, saat dia menyadari dia telah
kehilangan bayinya. Bagi Qiandra, Charles adalah penyemangat hidupnya, dan bayinya adalah hadiah terindah dalam hidupnya. Jika harus kehilangan keduanya, Qiandra merasa tidak punya tujuan hidup lagi, sehingga Qiandra sama sekali tidak mau membuka mtanya.
Tiba-tiba Qiandra terkejut saat melihat
Charles melangkah mendekatinya, Qiandra berusaha untuk bangun, namun dia tetap
tidak mampu bergerak. Charles melangkah dengan tenang dan mendekati Qiandra, Charles
terlihat menggendong sesuatu di tangannya. “Qi, lihatlah, aku menepati janjiku, dia akan
selalu bersama denganku, dan aku akan menjaganya sepanjang waktu” ucap Charles
sambil menatap gendongannya dengan senyum bahagia.
Qiandra menatap suaminya dengan rasa sakit
yang teramat dalam, dia melihat Charles menggendong sesuatu yang kemungkinan
adalah bayi. “Kak, apakah dia anak kita” tanya Qiandra dengan air mata berlinang. Qiandra berusaha untuk bangun agar bisa melihat apa yang sedang digendong oleh Charles. Sayangnya, lagi-lagi Qiandra tidak mampu menggerakkan tubuhnya, dia hanya mampu berbicara tapi tak bisa bergerak sama sekali.
“Iya, Qi, jangan cemas, kami akan selalu
dia akan selalu bersama denganku dan aku akan selalu ada di sisimu. Percayalah, aku akan merawatnya sebaik kamu merawatnya, Qi” ucap Charles dengan senyum bahagia terlihat menghiasi wajahnya yang semakin bersinar. Kemudian Qiandra melihat Charles membalikkan badannya dan mulai melangkah menjauhi Qiandra.
“Kak, Kak Charles, jangan pergi, jangan pergi, Kak, bawa aku bersama kalian, Kak” seru Qiandra dengan terisak, tangannya berusaha menggapai tubuh suaminya. Nnamun, Charles hanya tersenyum dan melambaikan tangannya pada Qiandra tanpa memperdulikan permohonan Qiandra. Setelah itu, Charles terlihat semakin mejauh seperti terbawa angin yang berhembus.
“Kak…..Kak Charles….Kaaaaaaakkkkk” Qiandra
berteriak dengan histeris, tangannya terulur berusaha menggapai Charles, namun dia tidak bisa bahkan hanya untuk menyentuh Charles pun, Qiandra tidak bisa. Qiandra terkejut saat merasakan tangannya dipegang, hingga dia tersadar saat seseorang menepuk nepuk pipinya.
“Nona….nona Qiandra” sapa suara itu dengan
ramah. Qiandra perlahan membuka matanya,
dia melihat seorang wanita dengan pakaian serba putih berdiri disampingnya dengan tersenyum.
“Di…dimana aku, siapa Anda” tanya Qiandra
dengan perlahan, dia masih berusaha
mengumpulkan semua kesadarannya.
“Anda di rumah sakit, Nona, dan saya perawat disini, karena Anda sudah sadar, saya akan segera memanggil dokter” ucap perawat itu, lalu dia segera berlalu meninggalkan Qiandra. Tinggallah Qiandra sendirian, termangu dan
berusaha mengingat kembali semua yang telah terjadi.
Tiba-tiba pintu kamar perawatan Qiandra
terbuka, Qiandra tekejut melihat keluarga suaminya datang semua. “Papa, Mama, Fani, mana Kak Charles” seru Qiandra, dia merasa sedikit terhibur karena keluarga suaminya mau datang mengunjunginya. Namun betapa terkejutnya dia saat melihat wajah ketiga orang itu, wajah yang dipenuhi dengan kemarahan
dan kebencian. Qiandra segera menyadari,
mereka datang bukan untuk menghiburnya.
“Dasar jal*ng pembawa sial, lihatlah, akibat perbuatanmu, aku harus kehilangan putraku, mengapa bukan kamu saja yang mati, hah, sekarang, lebih baik kamu mati di tanganku, perempuan tidak tahu malu” seru Mama Reni dengan sumpah serapahnya. Sementara Papah Jhon dan Yuni juga menatap Qiandra dengan tatapan kebencian dan kemarahan yang sangat besar. Mereka sama sekali tidak berusaha mencegah Mama Reni, bahkan mereka seakan mendukung perbuatan wanita itu.
__ADS_1
Mama Reni melangkah mendekati Qiandra,
masih dengan berbagai sumpah serapah yang diucapkannya, wanita itu kemudian mencabut
semua peralatan di tubuh Qiandra. Qiandra hanya berdiam diri, dia tidak berusaha melawan ataupun menjawab kata-kata mertuanya itu untuk membela diri. Wanita ini bahkan menutup mata dan tersenyum seolah menanti kematian segera menjemputnya.
Karena sejujurnya Qiandra sendiri benar-benar merasa sangat bersalah, dia bahkan berharap ibu mertuanya itu benar-benaar membunuhnya. Qiandra merasa semua yang dikatakan oleh Mama Reni itu benar adanya, Charles harus kehilangan nyawanya karena menyelamatkan dirinya dan bayinya. Qiandra benar-benar berharap agar malaikat maut segera mencabut nyawanya agar dia bisa segera menyusul suami dan anaknya.
Perlahan Qiandra mulai kehilangan
kesadarannya, suara sumpah serapah Mama Reni perlahan terdengar semakin jauh. “Kak Charles, tunggu aku, aku akan segera menyusul kalian” bisik hati Qiandra, dia benar-benar berharap kematian segera mempertemukannya dengan Charles dan anaknya. Namun, harapan Qiandra ternyata masih sia-sia belaka, karena tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka.
“Berhenti, panggil keamanan dan bawa mereka
keluar dari ruangan ini” seseorang memberikan perintah.
“Baik, Dok” sahut salah satu perawat yang juga masuk bersama orang yang disebutnya dokter
itu, sementara perawat lainnya segera berlari dan berdiri di dekat Qiandra.
“Lepaskan aku, aku akan membunuh perempuan jal*ng itu, dia pembunuh anakku” teriak Mama Reni dengan histeris, saat beberapa perawat menahan tangannya.
Beberapa orang perawat dan dokter segera
menarik Mama Reni sementara petugas keamanan datang dan kemudian membawa Mama Reni dan keluarganya keluar dari ruangan itu. Perawat lainnya segera memasang kembali semua peralatan di tubuh Qiandra, sementara Qiandra hanya memejamkan matanya.
Dokter memeriksa seluruh keadaan Qiandra,
“Dia hanya lemah saja, perhatikan semuanya, jangan lalai” perintah dokter itu pada para perawat yang sedang menjaga Qiandra, “Dan jangan biarkan orang-orang tadi mendekati bahkan masuk ke ruangan ini pun tidak boleh, pastikan Nona Qiandra tetap aman” ucapnya lagi dengan tegas setelah dia melihat keadaan Qiandra mulai stabil, lalu dia melangkah keluar dari ruangan itu.
Namun, sebelum dia keluar, phonselnya
berdering, “Ya, Tuan….” ucap dokter itu.
“…………..”
“Dia sudah mulai sadar, Tuan, namun tadi
keluarga suaminya datang, dan mencabut semua peralatan di tubuhnya, membuat dia
hampir kolaps…..” kata-kata dokter itu terhenti.
“…………….”
“Ba-baik, Tu-tuan, akan saya pastikan
semuanya baik-baik saja dan tidak akan terulang lagi” sahut dokter itu dengan suara sedikit bergetar dan ketakutan, lalu dia kembali memasukkan phonselnya ke dalam kantong kemejanya, lalu dia keluar dari ruangan itu.
“Apa dia sadar” tanya salah satu dari perawat yang menjaga Qiandra.
“Entahlah, sepertinya dia sadar tapi tidak mau membuka matanya” sahut perawat lainnya.
“Kasihan sekali Nona ini, dia sudah
kehilangan suaminya dan juga anaknya, dan sekarang keluarga suaminya sepertinya sangat marah padanya, hah, benar-benar sial sekali hidupnya” sahut perawat yang bertanya tadi.
“Iya, padahal banyak orang yang merasa iri
padanya karena keberuntungannya bisa dipersunting oleh Tuan Charles, tapi ternyata keberuntungan baginya justru membawa petaka bagi suaminya, wajar saja keluarga
suaminya mengamuk. Dia benar-benar wanita pembawa sial bagi Tuan Charles, haish, kasihan tuan Charles” ucap sinis perawat lainnya.
“Hei, kenapa kalian berbicara seperti itu”
seorang perawat yang terdengar lebih senior menegur ketiga perawat itu. “Bukan tugas kalian menghina pasien, bagaimana kalau pasien mendengarnya, itu akan membuatnya sulit untuk pulih. Sekarang, lanjutkan pekerjaan kalian, dan jangan lagi menghina pasien seperti itu, tugas kita adalah merawat pasien bukan untuk menghakiminya. Justru kita punya kewajiban memberinya semangat agar dia bisa segera pulih” perintahnya membuat ketiga perawat itu terdiam.
Qiandra hanya terdiam dan tetap menutup
matanya, sakit dihatinya mendengar kata-kata para perawat itu, tidak melebihi rasa sakitnya karena kehilangan suami dan anaknya. Qiandra bahkan tidak mampu meneteskan air
mata lagi, rasa sakit dan perih dalam dadanya seakan membuat hatinya membeku dan air mata juga ikut membatu.
Beberapa kali Qiandra berusaha ingin mencabut semua peralatan di tubuhnya, hingga akhirnya tangannya diikat di tempat tidur agar dia tidak melakukan hal-hal yang dapat membahayakan nyawanya. Bahkan didalam kamar Qiandra juga ditempatka beberapa perawat yang bersiaga selama dua puluh empat jam untuk melihat kondisi Qiandra, membuat Qiandra benar-benar tidak punya kesempatan untuk mengakhiri hidupnya.
__ADS_1
“Honey, honey…..bukalah matamu” sebuah
suara yang lembut tiba-tiba mengejutkan Qiandra dan membuatnya perlahan membuka matanya.