
Hai readers kesayangan, maafkan ya lama baru update, soalnya bab yang kemaren harus beberapa kali revisi biar bisa tayang. Jadi terpaksa bab selanjutnya mengikuti.
Sekali lagi maafkan keterlambatan author ya....
Dan terima kasih untuk kesetiaan para readers semuanya 🙏🙏🙏
Mohon tetap dukung author ya, biar semakin semangat dengan
Vote...
Komen....
Like....
Terima kasih 🙏🙏🙏
...-----------********-----------...
Daniel yang sudah selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi seperti biasa, duduk di depan jendela kamarnya. Mata biru laki-laki tampan itu menatap jauh keluar jendela, ke arah matahari yang terlihat perlahan mulai bergerak
meninggalkan langit kota metropolitan itu.
Telinga presidir tampan yang sudah sangat terlatih itu, bisa menangkap gerakan dibelakang tubuhnya, dia tahu kalau wanita yang dibiarkannya tergeletak itu mulai sadarkan diri. Namun, Daniel sama sekali tidak mengalihkan pandangannya, dia bersikap
seolah tidak menyadari kalau Risty sudah mulai sadar.
Risty yang baru membuka matanya, perlahan mengerjabkan kedua mata cantiknya. Saat dia akan bergerak, wanita itu berdesis merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Risty segera menutup mulutnya saat melihat sosok laki-laki yang sudah membuatnya begitu kesakitan sedang duduk membelakangi dirinya. Mata wanitu itu menatap punggung laki-laki itu dengan penuh kemarahan.
Risty memaksakan tubuhnya untuk bergerak walau terasa sangat sakit dan lemah. Saat tangannya sedang meraba mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk menutup tubuhnya, tiba-tiba tangannya menyentuh sebuah benda yang membuat bibir wanita itu seketika
tersenyum.
Risty meraih benda dingin itu dengan bahagia, “Kali ini kupecahkan kepalamu, baji*gan” desis Risty dalam hati.
Risty berusaha turun dari atas tempat tidur mewah itu dengan perlahan-lahan agar tidak sampai mengeluarkan suara. Rasa sakit yang mendera tubuhnya membuatnya hampir tidak mampu bergerak. Namun, Risty berusaha untuk tetap kuat, dia ingin membalas rasa sakit yang diterimanya itu. Semakin sakit rasa di sekujur tubuhnya, semakin besar keinginan wanita itu untuk membalasnya.
Risty berhasil turun dari atas tempat tidur dengan tubuh tertatih. Wanita itu bahkan tidak
menghiraukan keadaannya saat ini. Jika
tadi dia masih mencari sesuatu yang bisa menutupi tubuh pol*snya, saat ini dia bahkan tidak menggunakan apapun untuk menutupi tubuhnya.
Risty melangkah perlahan dengan tertatih dan masih dalam keadaan tubuh tanpa ditutupi sehelai benangpun. Kedua tangannya juga tidak bisa digunakan untuk melindungi dirinya,
karena saat ini kedua tangannya sedang menggenggam erat senjata yang akan
digunakannya untuk membalas rasa sakit yang dirasakannya saat ini.
Daniel tersenyum smirk saat merasakan sebuah benda tumpul menempel di pelipisnya. “Kukira kamu wanita yang cerdas, Risty, ternyata selama hidup dengan tua bangka itu,
kecerdasanmu juga ikut menua, hingga kamu bertindak sebodoh ini. Atau apa yang aku lakukan tadi sudah membuat otakmu beku, jika demikian maka aku perlu lebih sering melakukannya agar otakmu itu benar-benar mati” ucap Daniel dengan sinis.
Sebenarnya Daniel cukup terkejut saat menyadari kalau Risty tengah menodongkan pistol ke kepalanya. Daniel baru sadar kalau senjata itu adalah senjata miliknya yang tadi
sempat disiapkan saat dia mendengar keributan diluar kamarnya. Daniel sangat tahu kalau senjata itu bisa memecahkan kepalanya dalam sekejap mata.
Rasa khawatir sedikit terselip di hati presidir tampan itu, karena dia tahu bagaimana watak seorang Risty. Jika wanita itu dalam bahaya, bisa saja dia melakukan tindakan yang nekad. Walaupun, Daniel sangat yakin dia bisa dengan mudah menjatuhkan senjata itu dari tangan Risty. Namun, laki-laki itu lebih memilih bersikap tenang tapi tetap bersiaga penuh.
“Tutup mulutmu, Daniel, sekarang ucapkan permintaan terakhirmu, sebelum benda ini meledakkan kepalamu dan membuat maut segera menjemputmu” desis Risty penuh kemarahan.
__ADS_1
“Hah, ternyata begitu caranya ya agar kamu bisa menyebut namaku dengan benar, dan bukan dengan sebutan menjijikkan itu” ucap Daniel tanpa menghiraukan ancaman Risty.
“Jangan salahkan aku jika aku tidak memberimu kesempatan untuk mengucapkan kata-kata terakhirmu” desis Risty, tangannya bergetar berusaha menguasai dirinya sendiri. Karena sesungguhnya, Risty tidak pernah menggunakan senjata itu, walaupun dia bisa memakainya. Risty tidak pernah mau mengotori tangannya, dia lebih suka menyuruh orang lain untuk menghabisi musuh-musuhnya.
“Jika kamu memecahkan kepalaku dan menghabisi nyawaku saat ini, apa kamu yakin kamu bisa keluar dengan selamat dari kamar ini. Bukankah kamu tahu kalau asisten Dika dan para bodyguardku sedang berjaga diluar. Haish, kurasa kamu tidak akan punya nyali untuk meloncat dari kamar apartemenku ini” ucap Daniel tetap dengan nada sinis.
Kamar apartemen Daniel berada di lantai teratas di gedung yang memiliki lima belas lantai. Bisa dibayangkan jika ada yang berani meloncat dari ketinggian tersebut. Risty bergidik sesaat saat menyadari kebenaran ucapan Daniel, karena dia memang sebenarnya tidak sempat berpikir dan menyusun rencana tadi.
Risty hanya dipenuhi oleh kemarahan pada perlakuan Daniel yang begitu menyakiti tubuhnya. Sehingga dia tidak sempat berpikir rasional lagi dan melupakan dimana dia berada saat ini. Yang ada di otaknya hanyalah membalas perlakuan Daniel terhadap dirinya.
Daniel kembali tersenyum smirk, dia tahu kalau Risty baru menyadari keadaannya. Daniel sangat hapal dengan pola pikir wanita itu, oleh sebab itu dia sengaja memberikan Risty
kesempatan untuk berpikir. Daniel yakin,
jika Risty mampu menganalisa keadaannya saat ini, bahwa membunuh Daniel secara
otomatis juga akan membuat wanita itu kehilangan nyawanya.
“Sudahlah, Risty, lebih baik kamu berpakaian sekarang, pakaianmu sudah disiapkan asisten Dika walaupun kamu sudah menghina dirinya,
pergilah, daripada kamu terus menerus
menggodaku dengan tubuhmu itu. Atau kamu
masih belum merasakan kepuasan pada permainan kita tadi, hmmm, aku bisa saja
mengulanginya jika kamu mau, mungkin yang lebih dahsyat lagi dari yang tadi” lanjut Daniel setelah mereka terdiam selama beberapa saat.
Daniel perlahan membalikkan wajahnya dan membiarkan pistol yang diarahkan Risty padanya itu menempel tepat di pelipisnya. Sebelah alis matanya terangkat dengan senyum melecehkan sambil menatap tubuh pol*s Risty seolah dengan penuh minat.
“Kamu benar-benar baji*gan, Daniel” desis Risty penuh kemarahan. Namun, tak urung wanita itu
segera membalikkan tubuhnya dan meraih paper bag yang sudah ada di atas nakas Daniel. Risty melangkah dengan sedikit
Tawa Daniel membahana saat melihat tingkah Risty, “Dasar ja*ang, tak punya rasa malu sama sekali” desisnya saat melihat Risty menutup
pintu kamar mandi. Saat itu Daniel tiba-tiba teringat pada Qiandra, dia teringat bagaimana sikap wanita itu saat dulu dia menyetubuhi wanita itu dengan sebuah jebakan.
Daniel mendesah sesaat, penyesalan kembali merasuk ke dalam relung hatinya, “Seandainya aku bisa mengontrol emosiku saat itu, kamu pasti tidak akan lari dariku, Qiandra, dan saat ini aku sangat yakin aku sudah bisa hidup bahagia bersamamu, bahkan mungkin bersama anak-anak kita” bisik hati Daniel.
Entah keyakinan darimana yang dimiliki laki-laki itu, sehingga dia begitu percaya kalau Qiandra pasti akan menjadi miliknya
seandainya dia tidak melakukan kekerasan seksual pada waktu itu. Daniel benar-benar tidak mau menerima kalau Qiandra tidak pernah mencintai dirinya. Bagi Daniel semua kebaikan dan kelembutan Qiandra selama bersama dirinya sudah cukup membuktikan kalau wanita itu menyukai dirinya.
Daniel selalu berfikir kalau Qiandra hanya marah dan membenci dirinya karena kejadian itu. Oleh sebab itu presidir yang menjadi rebutan banyak wanita ini tetap yakin, kalau kemarahan Qiandra telah reda maka wanita itu akan memaafkan dirinya. Dan jika Qiandra telah memaafkannya, Daniel sangat yakin kalau wanita itu pasti bersedia menjadi pendamping hidupnya.
Daniel kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar, “Apalagi yang bisa aku lakukan untuk mendapatkan maaf darimu, Qiandra, aku cinta kamu, sangat, tidak ada wanita yang bisa sepertimu” bisik hati Daniel.
Sementara itu, di dalam kamar mandi, Risty harus berusaha membersihkan seluruh bagian tubuhnya dengan hati-hati. Rasa perih yang menerpa tubuhnya saat terkena air, membuat wanita itu meringis bahkan mengeluarkan air mata. Risty menatap bayangan tubuhnya dalam cermin besar yang ada di kamar mandi mewah itu.
Wanita itu meringis saat melihat begitu banyak lebam dan luka kecil di seluruh bagian tubuhnya. “Kamu memang baj*ngan Daniel, tunggu saja pembalasanku, kamu akan
merasakan penderitaan yang besar saat aku berhasil merenggut nyawa wanita itu. Dan setelah itu, maka nyawamu pun akan aku habisi sebagai pembalasan atas semua luka ini” desis Risty sambil meraba bagian tubuhnya yang mengalami luka.
Risty perlahan menyiapkan air hangat di bak mandi lalu mengisinya dengan beberapa tetes aroma theraphy. Setelah itu, dengan perlahan dia masuk ke dalam bak besar itu sambil meringis menahan perih di tubuhnya. Walaupun perih, tapi Risty sangat tahu hanya
inilah cara paling cepat membuat tubuhnya kembali segar.
Risty merendam tubuhnya selama beberapa saat dalam air hangat dengan aroma theraphy, hingga dia merasakan rasa perih di sekujur
__ADS_1
tubuhnya mulai berkurang. “Aku tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan ini, aku harus berhasil membujuk Daniel untuk bekerja sama. Hanya dia yang mampu dan pasti mau membantuku menghancurkan pernikahan Dean. Aku telah salah menduga, ternyata cinta Daniel pada wanita itu bahkan jauh lebih besar
daripada cintanya padaku. Hah, itu akan
semakin mempermudah aku untuk membujuk Daniel agar mau menghancurkan pernikahan
Dean. Dan setelah itu, saat tidak ada yang berdiri disamping wanita itu, aku akan menghabisi wanita itu” bisik Risty dalam hatinya.
Risty tersenyum puas dengan pemikirannya sendiri, dia sangat yakin akan berhasil menjalankan semua rencananya. Apalagi saat dia melihat Daniel sudah tidak lagi mencintai dirinya, yang berarti Daniel sangat mencintai Qiandra. Risty hanya perlu sedikit memberikan ide-ide liciknya agar Daniel menghancurkan pernikahan Dean dan Qiandra, tanpa Risty
harus campur tangan.
Risty memang tidak pernah mau turun tangan langsung untuk menyelesaikan masalahnya. Dia sudah terbiasa memanfaatkan orang lain untuk menjalankan ide-ide ambisiusnya, sementara dia sendiri tetap bersih. Risty memang selalu berusaha menjaga image sebagai seorang bangsawan di mata masyarakat. Oleh sebab itu, sedapat mungkin dia menghindar terlibat secara langsung dengan berbagai masalah yang bisa mencoreng nama baiknya.
Setelah merasa cukup lama merendam tubuhnya dalam bathup mewah di kamar mandi Daniel, Risty perlahan keluar dari bak mandi. Dia membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa
sabun, setelah itu dia meraih handuk bersih yang tersedia disitu. Risty mendengus kasar saat mengeluarkan pakaian yang ada dalam paper bag yang diambilnya tadi.
“Kur*ng ajar si asisten breng*sek itu, kenapa dia memberiku pakaian seperti ini” desis Risty melihat pakai yang disediakan oleh asisten
Dika. Pakaian itu sebenarnya adalah pakaian yang sangat sopan, karena merupakan kemeja lengan panjang dilengkapi dengan celana kulot dengan model longgar.
Namun, bagi seorang Risty, pakaian yang tidak bisa memperlihatkan keindahan tubuhnya adalah pakaian yang tidak layak untuk
dipakainya. Apalagi jika pakaian itu tidak memiliki brand yang sesuai keinginannya, sudah bisa dipastikan kalau Risty tidak akan mau mengenakannya.
Sayangnya, saat ini Risty tidak punya pilihan lain, seandainya bisa, wanita itu lebih memilih memakai kemeja Daniel, daripada memakai pakaian yang menurutnya murahan itu. Namun, Risty tahu dia tidak mungkin meminta hal itu dari Daniel, karena dia yakin Daniel akan berpikir kalau dia sengaja menggoda Daniel lagi.
Akhirnya dengan berat hati, Risty terpaksa memakai pakaian yang disiapkan oleh asisten Dika. Dia meraih sebuah gunting dan mulai memotong beberapa bagian pakaian itu. Kemeja lengan panjang dibuatnya menjadi tanpa lengan, sedangkan bagian bawahnya sengaja dipotong agar terlihat lebih seksi. Setelah itu celana kulot juga dipotong oleh Risty hingga diatas lutut.
Kemudian Risty melihat penampilannya di depan cermin, “Haish, lumayanlah, daripada aku harus berpakaian seperti orang berkabung”
desisnya. Setelah selesai dengan aktifitas itu, Risty segera keluar dari kamar mandi mewah itu.
Risty bisa melihat Daniel yang masih duduk di posisinya tadi, walaupun sekarang sudah tersedia dua gelas kopi dan beberapa camilan
dihadapannya. “Jika kamu sudah selesai,
sekarang duduklah disini, mari kita bicarakan apa rencanamu” ucap Daniel tanpa menoleh ke arah Risty.
Risty berdesis kesal, sebenarnya dia sangat enggan untuk berbicara lagi dengan Daniel. Tapi Risty juga tidak ingin apa yang sudah dialaminya menjadi sia-sia. Akhirnya, Risty melangkah mendekati Daniel, dengan berusaha memasang wajah yang tenang.
“Rupanya kamu masih perduli padaku, Niel sa…..” kata-kata Risty terhenti saat Daniel tiba-tiba mengalihkan pandangannya dan langsung
menatap Risty dengan tajam.
“Apa aku perlu memberimu pelajaran lagi hah, agar kamu tahu kalau aku sangat jijik dengan nama itu” desis Daniel dingin dan tajam, membuat
Risty sedikit bergidik, “Ba-baiklah, Daniel, aku tidak tahu kalau kamu sudah tidak mau lagi dipanggil begitu, aku tidak akan lagi memakai nama itu untukmu. Tapi, aku cukup senang karena kamu masih mau menyediakan semua ini untukku” sahut Risty dengan sedikit terbata.
“Aku hanya tidak mau kamu menjadikan alasan tubuh lemahmu itu untuk membuat aku merasa iba padamu, dan harus kamu tahu semua rasa iba padamu sudah mati. Saat ini aku mau
berbicara denganmu karena aku sudah membalas sebagian perbuatanmu, walaupun
belum semuanya. Ada saatnya nanti aku akan membalas semuanya hingga tuntas” sahut Daniel tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Risty hanya tersenyum masam mendengar ucapan Daniel, dia semakin menyadari kalau dihati laki-laki itu benar-benar sudah tidak ada
namanya. Entah mengapa rasa kecewa
__ADS_1
terselip dihati wanita ini, setelah dia melihat bagaimana Daniel benar-benar tidak lagi peduli padanya. Bahkan laki-laki itu tidak bertanya tentang bagaimana kondisinya setelah kejadian tadi.
Namun, Risty segera mengusir semua rasa kecewa yang tiba-tiba menyeruak dihatinya. Risty tidak ingin menjadi wanita cengeng, dia punya tujuan yang ingin dicapainya. Oleh sebab itu, Risty harus tetap kuat dan tidak goyah serta menyerah pada perasaannya sendiri.