
Qiandra lama terdiam sehingga yang terdengar hanya isak tangis dari bibir Dika dan Clayandra mengisi sepi dalam ruangan itu. Hati kedua orang itu terasa remuk redam saat kembali mengingat masa lalu kelam yang menimpa keluarga mereka. Rasa sakitnya kembali terasa seolah semua kejadian itu baru terjadi kemaren.
Saat isak tangis keduanya mulai reda, terlihat Qiandra perlahan membuka matanya. Senyum manis terulas dibibir wanita itu walaupun wajahnya terlihat pucat. “Kak, Feli cape, Feli ngantuk, boleh Feli tidur di pelukan kakak, Feli rindu kakak” sebaris kalimat yang keluar dari bibir Qiandra membuat Dika segera berdiri dan memeluk wanita itu dengan erat.
“Tidurlah Feliku sayang, tidurlah, Kakak akan menjagamu” ucap Dika dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya.
“Kakak menangis?, Kakak curang, kakak melarang Feli menangis tapi sekarang Kakak menangis” ucap Qiandra dengan nada manja khas Felicia saat bersama dengan Dika dulu. Dika tidak perduli dengan kata kata Qiandra, dia mempererat pelukannya di tubuh wanita itu dengan sesekali mengecup kening Felicia dengan penuh kasih.
“Tidurlah, Feli, jangan memaksakan dirimu jika kamu lelah, nanti …...” belum sempat Dika menyelesaikan kata katanya, Qiandra sudah melanjutkannya.
“bisa terjatuh karenan kurang konsentrasi” lanjut Qiandra yang mengundang senyum di bibir keduanya diantara air mata yang perlahan meleleh di pipi mereka.
Yah, kata kata itu selalu digunakan oleh Dika saat dia memaksa Felicia untuk segera tidur. “Tapi Kakak janji jangan ninggalin Feli, ya, awas lho”desis Qiandra.
“Iya, iya Sayangnya Kakak, kakak janji tidak akan pernah lagi meninggalkan Feli, kakak akan tetap disini sampai Feli terbangun nanti” sahut Dika dengan bersungguh sungguh. Feli memang selalu mengancamnya jika Dika memaksanya tidur, Feli benar benar tidak mau kakaknya pergi, karena itu sering dilakukan oleh Dika.
Pelukan hangat dari Dika benar benar memberikan rasa damai dan nyaman bagi Qiandra. Qiandra benar benar merasa aman dan bebannya seolah terlepas saat dia bersandar di dada bidang sang kakak. Rasa yang berbeda dengan rasa yang diperolehnya saat berada di pelukan Charles ataupun pelukan Dean.
Tidak memerlukan waktu yang lama, iandra kembali terlelap, masuk ke alam mimpinya dengan wajah yang begitu damai. Sementara Dika benar benar tidak melepaskan pelukannya, dia tidak bosan bosannya mengecup kening Qiandra menyalurkan rindu tiada batas pada adik yang sangat disayanginya itu.
Sementara Clayandra, Chris dan dokter Fredy akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu saat melihat Qiandra sudah cukup tenang. Dokter Fredy memberikan kode pada Dika bahwa mereka keluar dan menunggu di luar ruangan yang dijawab Dika dengan anggukan kecil.
Saat tangan Dika terasa sedikit kram karena posisinya yang tidak nyaman, Dika perlahan mengubah posisinya. Namun, Qiandra kembali mempererat pelukannya, seolah tidak ingin laki laki itu pergi darinya.
Dika hanya tersenyum menatap wajah wanita itu, Dika tetap bergerak sedikit untuk mencari posisi yang nyaman. Lalu dia berbaring di sisi Qiandra dengan tetap memeluk wanita itu. “Sekarang aku baru tahu rasa apa yang selama ini selalu mengganggu hatiku saat memikirkan kamu, Feli. Rasa sayang dan kasih yang tumbuh dari seorang kakak kepada seorang adik, bahkan tanpa aku mengetahui bahwa kamu adalah adikku” bisik hati Dika.
Dika yang selama ini harus selalu bergumul dengan perasaan tidak menentu, akhirnya benar benar memahami rasa yang ada di hatinya saat ini. Kekhawatiran dan rasa yang ingin selalu melindungi Qiandra dan menjauhkannya dari segala bahaya. Sekarang Dika benar benar mengerti mengapa semua rasa itu selalu menguasai alam bawah sadarnya.
Ikatan batin yang begitu kuat, sehingga walaupun mereka berdua tidak saling mengetahui kalau mereka terikat hubungan darah. Dika tetap menyimpan rasa sayang yang begitu kuat pada sang adik yang membuatnya selalu ingin melindungi wanita itu. Rasa yang membuatnya juga turut bahagia saat Qiandra hidup bahagia.
“Terima kasih, terima kasih tetap bertahan hingga saat ini, terima kasih tetap hidup diantara beratnya semua beban yang kamu hadapi. Maafkanlah kebodohan kakakmu ini, aku berjanji akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, aku Andika Kenrich Hamilton, tidak akan lagi membiarkan air mata membasahi pipimu, mulai saat ini hanya bahagia saja yang boleh kamu rasakan, Feli” desis Dika seraya kembali mengecup kening Qiandra dengan lembut.
Dika begitu larut dalam alam pikiran dan rasa bahagia yang menguasai hatinya. Hingga perlahan rasa damai itu membuatnya mulai mengantuk dan akhirnya jatuh dalam lelap yang sama dengan Qiandra. Dika dan Qiandra benar benar terlelap dengan tangan saling berpelukan erat.
Entah berapa lama waktu telah berlalu, hingga akhirnya mata cantik Qiandra perlahan mengerjap. Dia menatap tangan yang memeluk tubuhnya dengan erat, hingga dia perlahan menatap ke arah wajah laki laki yang terlihat tertidur sangat lelap.
Sejenak Qiandra terkejut saat menyadari kalau laki laki yang memeluknya itu bukanlah suaminya. Namun sesaat kemudian dia tersenyum saat kembali teringat pada kenangan masa lalunya yang terungkap semua saat sebelum dia tidur tadi. Tangan Qiandra terulur dan perlahan membelai wajah Dika dengan lembut.
Dika yang merasa sentuhan lembut di wajahnya perlahan membuka matanya, dan saat dia melihat wajah wanita yang masih ada di pelukannya itu, senyum manis terukir di wajah Dika. “Kakak sudah janji kan kalau kakak akan tetap disini saat kamu membuka matamu” ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.
“Jadi, asisten Dika, Presidir Dika, ternyata benar benar kakakku, Andika Kenrich Hamilton” desis Qiandra tidak menanggapi ucapan Dika.
__ADS_1
“Maafkan kakak yang begitu lama baru menemukan dirimu, Feli, dan …....” Dika hampir tidak mampu melanjutkan kata katanya. “...... maafkan atas semua musibah yang kamu harus hadapi selama ini, kakak gagal melindungi kamu” desis Dika penuh rasa bersalah.
“Sstttt, jangan pernah mengatakan hal itu lagi, karena Feli tahu selama ini kakak selalu berusaha melindungi Feli, bahkan kakak melakukannya meskipun kakak belum tahu kalau Feli dan kakak bersaudara” sahut Qiandra.
“Kamu ….. tahu, tapi apa yang kamu tahu” tanya Dika dengan penuh keingin tahuan.
“Aku tahu kakak sudah membiarkan aku pergi jauh saat itu, aku juga tahu kalau kakak terus mengawasi diriku. Awalnya aku berpikir itu kakak lakukan karena tugas dari Daniel, tapi ternyata setelah beberapa waktu berlalu, Daniel tetap belum menemukan aku. Padahal aku sangat tahu kalau kakak mengetahui keberadaanku” sahut Qiandra yang membuat Dika tersenyum simpul.
“Yah, saat saat itu adalah saat dimana aku sendiri merasa bingung dengan perasaanku sendiri. Aku begitu mengkhawatirkan dirimu, begitu ingin melindungimu, entahlah, bahkan sikapku ini sempat disalah artikan oleh kedua presidir itu” ucap Dika dengan kekehan di akhir kalimatnya.
“Dean, ….” desis Qiandra yang tiba tiba teringat pada suaminya, “Apa Dean tahu aku disini Kak, dan apa dia tahu semua ini” tanya Qiandra dengan bertubi tubi.
“Hmmmm, padahal aku ingin kamu melupakan dia, aku ingin kamu hanya mengingat aku sebagai satu satunya laki laki di hatimu” ucap Dika sambil mengedipkan sebalah mata menggoda Qiandra.
“Kakakkkk ich, ya bedalah, Kak Dika kan kakakku, tapi Dean suami aku” sahut Qiandra sambil memukul dada sang kakak membuat Dika tergelak bahagia.
“Aku tahu, aku tahu, Feli Sayang, tenang saja Tante Clay sudah memberitahukan padanya bahwa kamu baik baik saja. Tapi maaf, aku belum mengijinkan dia mengetahui dimana kamu berada saat ini, ada hal yang harus kamu ketahui terlebih dahulu tanpa Dean boleh mengetahuinya. Tapi nanti, kakak menyerahkan semua keputusan di tangamu” ucap Dika lagi.
“Apa maksud kakak” tanya Qiandra dengan kening berkerut.
“Bagian dari masa lalu kita yang masih menjadi misteri hingga saat ini” sahut Dika.
Qiandra mengernyitkan keningnya, “Kak, apakah, ….... mmmm apakah …..” Qiandra terlihat sangat ragu mengajukan pertanyaan pada Dika.
“Kak, bisakah kamu menceritakan semuanya, apa yang terjadi malam itu” tanya Qiandra dengan bahu sedikit terguncang karena isak yang tertahan.
“Aku akan menceritakan semuanya, Feli sayang, semua yang kakak ketahui. Tapi saat ini kakak rasa keponakan kakak sudah mulai menggeliat didalam sana karena kelaparan, entah dengan mommynya” ucap Dika sambil menoel hidung mancung Qiandra.
“Ish, kakak sengaja ya karena bunyi perutku” ucap Qiandra dengan bibir merengut manja, “Tapi Kak, bolehkah aku menghubungi Dean, aku tidak ingin membuat dia khawatir” ucap Qiandra dengan wajah memohon pada Dika.
Dika menghembuskan nafas berat, sebenarnya dia tidak ingin menghubungi Dean sementara ini, karena Dika juga khawatir pertahanan anti pelacak saluran komonikasinya berhasil dibobol Dean. Dika belum ingin Dean bertemu Qiandra saat ini sebelum iandra mengetahui semuanya.
“Kamu boleh menghubungi Dean, Feli Sayang, tapi kakakk juga mohon, tolong yakinkan dia agar tidak menyusulmu kesini. Kamu harus tahu dulu apa yang terjadi di masa lalu, baru nanti kamu sendiri yang membuat keputusan. Bisakah kamu menenangkan Dean agar tidak menerobos kemari” tanya Dika dengan wajah serius menatap Qiandra.
“Hmmmm, baiklah Kak, aku hanya ingin meyakinkan dia bahwa aku baik baik saja” sahut Qiandra.
“Hanya telepon biasa, Feli, dan bukan video call” ucap Dika lagi dengan tegas yang membuat Qiandra menggangguk pasrah. Dika akhirnya menyerahkan phonsel Qiandra kembali pada wanita itu dan segera disambut oleh Qiandra.
Saat Qiandra menyalakan phonselnya, berbagai notifikasi beruntun masuk dan semuanya berasal dari Dean. Qiandra memperlihatkan itu pada Dika, membuat Dika menggelengkan kepalanya pelan, “Dasar bucin, padahal sudah diberi tahu kalau kamu sekarang sedang bersama Tante Clay” kekeh Dika.
Tanpa membuang waktu lagi, Qiandra langsung menghubungi Dean bahkan tanpa membuka semua notifikasi yang masuk ke phonselnya, karena isinya sudah bisa Qiandra tebak. Pada dering pertama panggilan itu langsung diangkat oleh Dean.
__ADS_1
“Ibu, please tolong ijinkan aku menemui Qiqi” ucap Dean dengan suara syarat khawatir dan sendu.
“Love, ….” ucap Qiandra pelan namun mendapat respon yang luar biasa.
“Honeyyyy …...” seru Dean dengan suara nyaring membuat Qiandra harus menjauhkan phonsel itu sesaat dari telinganya.
“Love, apaan sich, kamu ingin membuat aku tuli” sungut Qiandra.
“Oh, astaga, ini benar kamu Honey, maafkan aku, aku benar benar mengkhawatirkan dirimu, dimana kamu sekarang Sayan, apa kamu baik baik saja, apa kamu …..” pertanyaan bertubi tubi dari Dean segera dihentikan oleh QQiandra.
“Love, aku baik baik saja sekarang, tidak perlu khawatir” sahut Qiandra.
“Dimana kamu Honey, biarkan aku menyusulmu, aku akan segera menjemputmu sekarang” ucap Dean.
“Tidak, tidak Love, aku mohon beri aku waktu dulu, ini menyangkut masa laluku, tenanglah aku baik baik saja, aku bersama keluargaku saat ini” sahut Qiandra lagi.
“Aku tahu kamu bersama dengan Bu Sum, Honey, tapi aku tetap ingin bersama denganmua” sahut Dean.
“Aku bersama kakak kandungku, Love” desis Qiandra yang membuat Dean seketika terdiam.
Namun sesaat kemudian Dean kembali mengajukan pertanyaan beruntun, “Kakak kandung, siapa, bagaimana bisa, bukankah kamu sebatang kara, apa kamu yakin, jangan sampai terjebak, Qi, apa mereka memaksamu mengatakan hal ini agar aku tidak mencarimu, apa …..” Dean mengemukakan apa saja yang ada dalam pikirannya.
“Love, aku baik baik saja dan tidak ada yang mengancamku, aku akan menjelaskan semuanya nanti setelah aku mengetahui semuanya. Jadi tolong tenanglah, Love” seru Qiandra berusaha menenangkan Dean.
“Tapi, tapi setidaknya katakan padaku siapa kakak kandungmu itu, Qi” tanya Dean lagi dengan rasa penasaran.
“Asisten Dika, atau Presidir Dika” sahut Qiandra singkat, membuat Dean seketika membeku.
“Tapi, tapi ….. bagaimana mungkin Honey” desis Dean dengan rasa tidak percaya.
“Itulah kenyataannya, Love, jadi aku mohon jangan mencari aku dulu, aku perlu menghadapi semua ini dengan tenang, Love, tolong beri aku waktu, aku janji akan segera pulang jika semuanya sudah jelas, ya, maukah kamu memenuhi keinginan dan permohonanku dan anakmu” tanya Qiandra lagi.
“Tapi Honey, …..” Dean ingin membantah karena sesungguhnya dia tidak bisa membiarkan iandra sendirian saat ini. Dean sangat ingin mendampingi Qiandra menghadapi saat saat seperti ini.
“Love, please, aku mohon banget” ucap Qiandra dengan suara penuh permohonan, membuat Dean tidak berdaya.
“Hah, baiklah, Honey, aku akan memberimu waktu, tapi jangan terlalu lama atau aku harus mengobrak abrik Mahardika agar mereka segera menyerahkan kamu kembali padaku” ucap Dean dengan kesal.
“Tidak, tidak, Love, semua ini tidak ada hubungannya dengan Mahardika, ini semua murni masalahku dan kakakku Dika, baiklah, terima kasih, Love, aku akan segera memintamu menjemputku, jika aku sudah merasa masalah ini selesai, love you, Love” ucap Qiandra langsung mematikan panggilan phonselnya.
Dika mengambil phonsel dari tangan Qiandra dan segera menon aktifkannya. Qiandra mengernyitkan keningnya saat melihat sikap Dika, “Sebenarnya ada apa sich Kak, mengapa kakak seperti sangat tidak ingin Dean mengetahui keberadaanku” tanya Qiandra.
__ADS_1
“Aku akan menjawab semuanya nanti, untuk saat ini lebih baik si kecil yang sudah kelaparan itu” ucap Dika seraya melirik perut Qiandra. Wajah Qiandra kembali bersemu saat perutnya kembali berbunyi seolah sang baby sudah menabuhkan genderang protes.