
“Tolong, Qiandra, setidaknya beri aku waktu
sampai mereka bisa menemukan kita disini” ucap Daniel lagi sambil menatap wajah
Qiandra dengan kelembutan dan permohonan yang begitu tulus yang terpancar dari mata birunya.
Qiandra menatap laki laki itu dengan perasaan bimbang, hatinya sungguh yakin kalau dia tidak akan mungkin tergoyahkan. Namun, dia juga tidak tega menolak permohonan Daniel yang terlihat begitu menghiba di hadapannya. Qiandra tidak bisa melupakan begitu saja pertolongan laki laki itu dalam hidupnya yang begitu sult dulu.
“Dean akan segera menemukan aku, Daniel,
kamu tidak akan sempat berbuat apa apa” desis Qiandra pada akhirnya.
“Ya, kamu benar, mereka pasti akan
menemukan tempat ini, tapi sebelum itu, tolong beri aku kesempatan untuk
membuktikan ketulusan cintaku padamu. Jangan ragukan aku, Qiandra, aku janji aku tidak akan menyentuhmu tanpa ijin darimu. Aku, aku….. aku sungguh tidak ingin lagi mengulangi kesalahanku dulu” ucap Daniel yang diakhiri dengan ******* terbata penuh dengan penyesalan.
Qiandra semakin kebingungan, kata kata
Daniel yang penuh dengan permohonan membuat hatinya yang penuh dengan kasih
sayang merasa iba. Tetapi dia juga tidak
mungkin menyetujui keinginan Daniel, dengan membiarkan laki laki itu berusaha memasuki hatinya, karena itu sama saja dia membuka hatinya untuk laki laki lain selain suaminya.
“Lakukanlah apa yang ingin kamu lakukan,
Daniel, tapi kuharap kamu tidak berharap apapun dariku, karena aku tidak akan bisa mengkhianati Dean, dan hatiku sudah terpatri dengan cinta yang begitu kuat pada suamiku” sahut Qiandra pada akhirnya. Qiandra sadar dia tidak punya pilihan lain saat ini sementara menunggu Dean datang menemukan dirinya.
Daniel menggeram dalam hatinya, ada gejolak amarah yang begitu besar saat dia mendengar Qiandra menyebutkan nama Dean yang disertai dengan besarnya rasa cinta yang begitu jelas terdengar dalam suaranya. Namun, Daniel harus benar benar belajar untuk menahan emosinya, dia sadar nama Dean akan selalu muncul dari bibir Qiandra.
“Baiklah, terima kasih, Qiandra, terima kasih untuk kesempatan yang kamu berikan padaku” ucap Daniel seraya menghembuskan nafas berat karena sarat dengan emosi dalam dadanya. Daniel sangat menyadari kalau dia harus mampu mengendalikan emosinya jika ingin merebut hati Qiandra.
“Tapi aku tidak mau tidur bersama seperti ini lagi, aku mau tinggal di kamar sendiri” ucap Qiandra dengan suara pelan sedkit ragu.
“Tidak, kamu harus tidur denganku, Qiandra,
aku tidak mau berpisah denganmu walau hanya sekejap” seru Daniel yang tidak terima dengan permintaan Qiandra.
“Jika demikian, maka aku tidak akan bicara apapun lagi padamu, terserah kamu mau melakukan apapun sesuai kehendakmu, karena kamu juga tidak akan perduli dengan apapun yang aku inginkan” sahut Qiandra dengan suara pasrah dan sedikit nada kecewa.
“Qiandra……” desis Daniel yang merasa berat
saat harus melihat wajah wanita itu yang terlihat kecewa dengan keputusannya. “Tapi aku ingin setiap detik selalu bersamamu, aku tidak ingin membuang kesempatan walau sedikitpun” desah Daniel.
Tapi Qiandra benar benar teguh dengan
keinginannya, saat mendengar ucapan Daniel, dia segera berpaling muka tanpa mengucapkan kata apapun. Daniel tertegun
menatap wanita itu yang ternyata sudah mulai tidak mau berbicara dengannya.
“Qiandra, setidaknya ijinkan aku tetap
tinggal satu kamar denganmu, aku bersedia tidak tidur di satu tempat tidur denganmu, tapi sungguh aku hanya ingin bisa selalu berada di sekitar dirimu. Merasakan kehadiranmu sudah cukup membuatku bahagia, jika aku hanya bisa bertemu saat kamu keluar kamar, dan aku yakin kamu akan sangat sulit melakukan itu, maka itu sama saja dengan kamu tidak memberikan aku kesempatan untuk membuktikan kesungguhanku padamu, jadi aku mohon, Qiandra, tetaplah tinggal dalam satu kamar denganku. Atau apa perlu aku menghancurkan semua kamar lain dalam villa ini, atau membangun satu rumah kecil yang hanya ada satu kamar di dalamnya. Akan aku lakukan semuanya asal kamu mau tinggal bersama denganku” ucap Daniel panjang lebar.
Qiandra berpikir keras, dia sadar Daniel
benar benar tidak akan mau berpisah kamar dengannya. Tapi Qiandra juga sangat takut kalau laki laki itu akan khilaf jika mereka selalu bersama, “Haish, aku benar benar harus bisa menjaa diriku, jika aku terlalu keras bukan tidak mungkin dia akan melakukan
kekerasan kepadaku sebelum Dean menemukan diriku. Ayo, Qi, berpikir cepat” bisik hati Qiandra.
Qiandra sangat sadar kalau sebenarnya
sebagai seorang sandera, dia tidak punya hak untuk bernego. Namun dia hanya mencoba keberuntungan saja, dengan sedikt memanfaatkan keinginan Daniel yang bersikukuh membuktikan ketulusan cintanya. Qiandra juga takut jika dia terlalu banyak menuntut, bukan mustahil akan memancing kemarahan seorang Daniel yang memang dikenalnya sangat arogan itu.
“Baiklah, tapi aku harap kamu benar benar
memegang janjimu, jangan pernah mencoba menyentuh diriku” akhirnya Qiandra mengalah kepada Daniel.
“Terima kasih, terima kasih, Qiandra, aku
janji tiidak akan menyentuhmu, aku hanya ingin selalu berada disekitarmu” Daniel merasa bahagia karena Qiandra bersedia tinggal dalam satu kamar dengannya.
Daniel kemudian berdiri, “Qiandra, pergilah
membersihkan dirimu, aku akan segera menyiapkan pakaianmu” ucapnya dengan wajah berseri penuh semangat.
“Tidak, aku akan memilih pakaianku sendiri,
tolong Daniel, aku tidak mungkin membiarkanmu menyediakan semua keperluan pribadiku” ucap Qiandra dengan tergesa. Bagaimana bisa Daniel sampai ingin menyiapkan pakaiannya, memangnya
__ADS_1
Qiandra bisa tenang memakai pakaian terutama pakaian dalam yang disiapkan oleh
Daniel.
“Hah, baiklah jika itu maumu, semua
keperluanmu ada di walk in closet, semuanya telah disiapkan khusus untukmu” ucap Daniel yang tanpa sadar membuat kening Qiandra berkerut.
“Disiapkan untukku?, memang sejak kapan
kamu menyiapkan semua itu untukku” tanya Qiandra dengan rasa penasaran.
Daniel tersenyum melihat wanita yang sangat
dicintainya itu merasa penasaran, “Sejak lima tahun yang lalu, Qi, mmmhhh boleh aku memanggilmu begitu” tanya Daniel dengan sedikit ragu.
Qiandra mengangguk pelan sambil terus
berpikir, “Lima tahun yang lalu, apakah saat aku…..” Qiandra ragu ragu menyelesaikan ucapannya.
“Kenapa Qi, kenapa kamu tidak menyelesaikan ucapanmu, kamu tahu benar kan sejak kapan itu” ucap Daniel dengan wajah bahagia, dia sudah merancang semuanya dan berharap wanita cantik ini akan goyah dan bersedia membuka hati untuknya.
“Mmmm, jadi maksudmu semuanya sudah
dipersiapkan sejak aku mulai bergabung di perusahaanmu” tanya Qiandra pada akhirnya walau dengan ragu.
“Betul sekali, Qi, villa ini sudah kubuat dan sudah kupersiapkan khusus untukmu. Yah, karena memang pada kenyataannya aku sudah jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu, walaupun saat itu kamu masih bersama Charles. Aku sudah tergila gila padamu, karena itulah saat mengetahui kepergian Charles, aku segera datang padamu dan siap membantumu” jelas Daniel dengan tenang.
“Kamu kenal Kak Charles dan pernah bertemu
aku saat bersama Kak Charles, tapi kapan dan dimana?” tanya Qiandra masih dengan rasa pensaran.
“Ah, itu di salah satu jamuan makan bersama, aku melihatmu, senyummu, tawamu dan gaya bicaramu benar benar membuat aku jatuh cinta padamu. Seandainya Charles tidak menjagamu dengan ketat, sudah pasti aku akan menculikmu saat itu juga, ha ha ha” kekeh Daniel saat mengenang masa lalu itu.
“Sudahlah Qi, kita akan banyak bercerita
nanti, sekarang pergilah membersihkan dirimu dulu, aku akan menyiapkan sarapan
untuk kita berdua, ya” ucap Daniel dengan suara yang sangat lembut membuat
Qiandra tertegun.
sekalipun Qiandra mendengar Daniel berkata dengan lembut. Laki laki itu selalu tampil sempurna dengan wajah angkuh dan dingin yang membuat setiap orang langsung merasa segan bahkan ketakutan.
“Hei, Qi, ada apa dengan dirimu, mengapa kamu terdiam begitu, hmmmm, apa ada kata-kataku yang salah, maafkan aku jika aku membuatmu tersinggung” ucap Daniel masih dengan suara lembut berusaha menyadarkan Qiandra.
“Aku ehm, eh, aku, ba baiklah, aku akan
membersihkan diri dulu” ucap Qiandra dengan gugup, wajah wanita cantik itu
seketika merona karena merasa malu saat menyadari bahwa dia sempat terkesima
dengan suara lembut laki laki tampan bermata biru itu.
Daniel tersenyum bahagia menatap wanita
cantik itu yang terlihat semakin cantik dengan rona merah di wajahnya, “Ah, rasanya aku tidak ingin melepaskan mataku dari wajah cantik ini, entah sampai kapan aku bisa selalu merasakan semua bahagia ini, aku ingin bisa selamanya seperti ini” desah Daniel dalam hati.
Daniel bahkan tidak perduli walaupun dia
sangat menyadari bahwa semua ini hanyalah sementara. Namun, Daniel sudah bertekat untuk mendapatkan hati Qiandra, bukan lagi dengan paksaan atau kekerasan tapi dengan
kelembutan. Bertahun tahun Daniel sudah
mencoba menekan dan memaksa Qiandra, namun tidak ditanggapi sama sekali oleh
wanita itu.
“Hei, Qi, apa kamu tidak menyiapkan
pakaianmu dulu, atau kamu sengaja ingin mencarinya nanti setelah kamu selesai mandi, hmmmm” seru Daniel dengan sedikit rasa geli melihat Qiandra yang tergesa menuju ke arah kamar mandi.
Qiandra terkejut mendengar seruan Daniel
yang mash terdengar lembut bahkan dengan sedikit candaan di dalamnya. “Astaga,
Qi, ada apa denganmu, mengapa jadi salah tingkah begini, fokus, fokus, Qi, ingat suamimu sedang berusaha menemukan dirimu” bisik hati Qiandra berusaha
menenangkan dirinya.
Qiandra pada akhirnya melangkah menuju walk in closet, dan betapa terkejutnya dia saat melihat di dalam ruangan itu telah
__ADS_1
berjejer beberapa lemari pakaian. Dalam
lemari pakaian itu terlihat pakaian wanita dan pria yang digabungkan jadi satu. “Astaga, apa apaan Daniel, bagaimana bisa dia menyatukan lemari pakaian kami seperti ini, dengan Dean saja lemarinya terpisah” gumam Qiandra.
“Walau aku tidak bisa berasatu denganmu,
setidaknya pakaian kita sudah bersatu, Qi, aku berharap tidak lama lagi kita pun bisa bersatu” ucap Daniel dengan suara lembut namun benar benar mengejutkan Qiandra yang masih terpaku menatap lemari besar di hadapannya.
“Astaga, Daniel, kamu membuatku hampir
jantungan” seru Qiandra sambil menepuk dadanya karena terkejut.
Daniel hanya tersenyum melihat tingkah
Qiandra, “Maafkan aku jika sudah membuatmu terkejut, Qi, aku tidak bermaksud
begitu, aku hanya ingin menjelaskan untukmu karena aku tahu kamu pasti merasa heran dengan keadaan lemari pakaian kita” ucap Daniel seraya mendekati Qiandra.
Qiandra secara reflek bergerak mundur dan
bersikap waspada, namun melihat wajah waspada wanita ini justru membuat Daniel
merasa semakin ingin menggodanya. Daniel
melangkah dengan perlahan mendekati Qiandra yang terus melangkah mundur, hingga pada akhrnya punggung Qiandra tertahan oleh lemari kaca.
“Berhenti, Daniel, ingat janjimu” seru Qiandra dengan sedikit gugup namun tidak dihiraukan oleh Daniel. Daniel terus mendekati Qiandra dan mengunci pergerakan wanita tu dengan meletakkan kedua tangannya untuk mengapit Qiandra.
“Aku sungguh berharap, kita berdua akan bisa bersatu seperti pakaian kita itu, Qi, hmmmmm” ucap Daniel, mata birunya
mengunci kedua manik mata wanita yang terlihat ketakutan itu. “Dan tentang janjiku, aku tidak akan megingkarinya, tapi aku hanya berjanji tidak akan menyentuhmu, bukan tidak akan mendekatimu, apa aku salah, Qi” ucapnya masih dengan tatapan lembut dari mata birunya.
“A… aku…. aku….” Qiandra bahkan tidak bisa
berbicara saat keadaan keduanya benar benar berdekatan. bahkan Qiandra bisa merasakan hembusan nafas lembut dari laki laki itu menyapu seluruh wajahnya yang harus mendongak agar bisa melhat wajah Daniel.
“Percayalah, aku tidak akan mengingkari
janjiku, Qi, untuk sekarang cepatlah mandi, atau kamu ingin mandi berdua denganku
agar kita bisa selesai dengan cepat dan bisa segera sarapan, hmmmm” ucap Daniel yang terkekeh karena merasa senang sudah berhasil menggoda Qiandra dan membuat
wanita itu salah tingkah.
Daniel perlahan berbalik dan melangkah
meninggalkan Qiandra, “Mandilah, Qi, jika kamu butuh bantuan untuk mandi, kamu tahu aku sangat siap membantumu” ucapnya dengan senyum di bibirnya.
Qiandra mendesah perlahan, “Hasih, kenapa
aku begitu ketakutan, harusnya aku bisa bersikap lebh tenang tadi” desahnya
dalam hati. Qiandra berusaha menenangkan
diri, lalu mulai memilih gaun yang dirasa cocok untuk dirinya.
Qiandra tidak merasa heran kalau semua
pakaian wanita di dalam lemari itu memang sesuai dengan ukurannya. Karena memang Daniel sangat sering membelikan pakaian untuknya dulu saat dia masih bekerja dengan laki laki itu. Qiandra kembali mendesis saat melihat banyak gaun yang terbuka yang tersedia di situ, walaupun Qiandra senang model seperti itu, tapi tidak untuk saat ini.
Qiandra benar benar harus memilih pakaian
yang tertutup agar tidak terlihat menggoda di mata seorang Daniel. “Haish, dia benar benar masih mengingat semua yang aku sukai, sayangnya aku harus menghindari semua pakaian ini. Akan sanga berbahaya jika dia melihatku memakai pakaian ini” desis Qiandra.
Qiandra akhirnya keluar dengan seperangkat
pakaian yang sudah dipilihnya dan dianggap sesuai dengan keadaannya saat ini. Qiandra langsung melangkah menuju kamar mandi mewah yang juga menjadi satu dengan kamar mewah itu. Qiandra menatap berkeliling kamar dan dia tidak menemukan sosok Daniel di dalam kamar itu.
Qiandra tidak memperdulikan hal itu, dia
justru merasa lebih nyaman saat mengetahui kalau laki laki itu tidak ada di dalam kamar itu. Oleh sebab itu, Qiandra segera masuk ke dalam kamar mandi dan dia kembali tertegun saat melihat betapa mewahnya kamar mandi itu. Qiandra berdecak dalam hati saat kembali mengingat kalau Daniel mengatakan semua itu memang dipersiapkan untuk dirinya.
Qiandra mengisi bathup besar nan elegan
yang ada di ruangan itu, dia merasa perlu merendam tubuhnya sejenak untuk merelax
tubuhnya yang terasa tegang. Setelah dirasa cukup, Qiandra memberikan beberapa tetes aroma theraphy dan dan sabun mewah yang juga tersedia di situ.
“Astaga, bahkan sabun dan aroma theraphy
ini benar benar sesuai dengan semua yang aku sukai. Daniel ternyata sungguh sungguh mempersiapkan semua ini untukku, haish, ada ada saja” desis Qiandra.
__ADS_1