
“Aku merasa sangat bodoh karena tidak pernah bertemu dengan Tante Clay selama kita bekerja bersama dulu, Feli, aku justru baru bertemu saat aku berusaha ingin menjengukmu saat kamu di rumah sakit kemaren” desah Dika. Dika melanjutkan ceritanya saat melihat Qiandra bisa menerima dengan tenang semua cerita masa lalunya.
“Jadi, Kak Dika benar benar baru mengetahui semua ini” tanya Qiandra memastikan.
“Benar, Nak, Kakakmu memang baru mengetahui keberadaanmu, dan Tante sendiri juga baru tahu kalau Kakakmu masih hidup, sungguh saat meninggalkannya dengan membawa kamu dalam kondisi terluka parah, Tante merasa seperti menjadi seorang pembunuh. Tante benar benar tidak bisa berpikir sama sekali karena keadaan kamu yang berlumuran darah” ucap Clayandra.
“Aku benar benar baru mengetahuinya, Feli, dan semua itu semakin diperkuat oleh Daniel …..” ucapan Dika terputus saat Qiandra memotongnya dengan tiba tiba.
“Kenapa selalu ada namanya, Kak, bukankah Kakak sendiri tahu semua yang sudah dilakukannya padaku” desis Qiandra yang merasa enggan mendengar keterlibatan Daniel lagi.
“Tapi dia saksi mata yang secara tidak sengaja melihat Daddy meninggal dunia, dan bahkan Daddy menitipkan pesan padanya untuk mempertemukan kita. Sayangnya, rasa cintanya yang begitu besar padamu dan rasa sayangnya yang begitu besar padaku sebagai saudara angkatnya, membuat dia bersikap egois dan menyembunyikan fakta ini” sahut Dika.
“Jadi, Daniel sudah mengetahui semuanya” tanya Qiandra.
“Dia menduga, dan akhirnya melakukan test DNA sesaat sebelum kamu menghilang. Dia terlalu takut aku akan membencinya jika aku mengetahui kamu adikku sementara dia telah melakukan hal buruk padamu. Dia juga takut aku akan semakin menjauhkan kamu darinya, sementara kamu adalah satu satunya wanita yang dicintainya” desah Dika.
Dika memang sangat marah pada Daniel karena telah menyembunyika fakta ini. Namun, Dika juga tidak berdaya saat mengetahui alasan laki laki itu. “Daniel dan keluarganya yang menjadikan Kakak seperti ini, Feli, bahkan mereka juga yang telah membantu Kakak membalaskan dendam keluarga kita” ucap Dika lagi.
“Membalaskan dendam?, apa maksud Kakak” tanya Qiandra lagi.
“Kakakmu telah menyelesaikan urusan dengan Lee, dan dia harus melakukan hal itu, karena Lee tidak akan membiarkan dia tetap hidup jika dia mengetahui ada keturunan Hamilton yang masih hidup” kali ini Chris yang menjawab pertanyaan Qiandra.
Kening Qiandra semakin berkerut sambil menatap Dika dengan tatapan penuh tanya. “Aku menghabisi Lee beserta seisi mansionnya” ucap Dika perlahan namun kata katanya mengandung kemarahan yang begitu besar.
Qiandra menutup mulutnya yang terngaga dan menatap Dika dengan tidak percaya, “Mengapa harus sekejam itu, Kak” desis Qiandra.
“Aku yang melihat dia menyeret Mommy, aku yang melihat mansion kita dibumihanguskan beserta semua yang ada di dalamnya, aku juga yang harus mendengar kematain Daddy akibat penyiksaan yang mereka lakukan. Dan yang paling parah adalah mereka telah membuat aku hidup bagai tanpa nyawa selama puluhan tahun. Aku hanya hidup seperti robot penjaga Daniel dan berusaha melakukan semua yang terbaik untuk keluarga itu sambil mengumpulkan kekuatan untuk melaksanakan sumpahku di hadapan puing puing mansion kita dulu” ucap Dika dengan emosi yang terlihat jelas dari suaranya.
Qiandra cukup terkejut mendengar perubahan suara Dika yang pada awalnya selalu lembut padanya. Raut wajah Dika juga terlihat memerah, namun matanya menyimpan luka yang begitu dalam. Qiandra akhirnya mengulurkan tangannya dan menggenggam tangan laki laki itu untuk mengembalikan kesadarannya.
“Baiklah, baiklah, berarti sekarang semuanya sudah selesai kan, kita bisa mengumumkan hal ini pada dunia dan juga pada keluarga suamiku” ucap Qiandra yang berusaha mencairkan suasana hati Dika.
“Tidak bisa!!!!” seru Dika dan Clayandra bersamaan.
“Kenapa tidak bisa” tanya Qiandra dengan kening berkerut.
__ADS_1
“Sampai saat ini aku belum mengetahui siapa orang yang telah mendukung Lee saat itu” sahut Dika.
“Maksud Kakak?” tanya Qiandra.
“Lee adalah seorang pecundang, dia tidak punya kekuatan apapun untuk melawan Daddy. Tapi malam itu, dia bisa membawa pasukan bayaran yang sangat tangguh sehingga berhasil mengalahkan bodyguard Daddy, sementara dia tidak punya uang dan kemampuan sebesar itu” sahut Dika.
“Mungkin saja dia telah mempersiapkan diri” sahut Qiandra yang masih berusaha berpikir positif.
“Lee seorang penjudi, dia juga telah menghancurkan beberapa perusahaan karena sikap hidupnya yang selalu berfoya foya. Saat dia kembali pada ayahmu, dia benar benar tidak punya apa apa lagi, sehingga ayahmu bersedia menampungnya” sahut Chris.
“Selain itu, Lee tidak punya kuasa yang begitu besar sehingga bisa menutup semua pemberitaan tentang hilangnya keluarga Hamilto secara tiba tiba. Bahkan saat mansion kita meledak dan terbakar, tidak ada satu pun mobil pemadam kebakaran yang datang. Setelah kejadian itu bahkan sampai saat ini benar benar tidak ada pemberitaan tentang keluarga kita, Feli” ucap Dika.
Qiandra menatap semua orang yang ada dalam ruangan itu satu per satu, perasaannya tiba tiba merasa tidak baik baik saja. “Tidak, tidak, jangan katakan itu, ku mohon jangan” ucap Qiandra dengan suara perlahan.
Qiandra mulai menduga duga arah pembicaraan itu dan menghubungkannya dengan larangan Dika padanya agar tidak menemui Dean. Qiandra sangat tahu kalau keluarga Dean adalah keluarga kerajaan yang tentunya punya pengaruh sangat besar pada saat kejadian itu terjadi. Namun, Qiandra masih berharap dugaannya tidak menjadi kenyataan.
“Saat perdebatan Lee dan daddymu, daddymu sangat yakin kalau Lee tidak akan berani berbuat macam macam, karena daddymu juga salah satu penasehat utama Yang Mulia saat itu. Namun, Lee dengan penuh percaya diri mengatakan kalau Yang Mulia sendiri yang mendukungnya untuk melakukan hal itu karena daddymu dianggap sebagai pengkhianat” ucap Clayandra dengan bibir bergetar.
“Pengkhianat?” tanya Qiandra semakin bingung.
“Tapi, tapi Dean mengatakan kalau peralihan kekuasaan itu berlangsung sesuai dengan keinginan keluarga kerajaan juga. Saat itu, daddy Walt yang seharusnya melanjutkan tampuk kekuasaan memang lebih memilih untuk melepaskannya dengan sukarela” ucap Qiandra yang teringat dengan cerita Dean.
“Itulah yang orang luar ketahui, Nak, tapi semua orang yang ada didalam kastil juga para petinggi pada masa itu mengetahui yang sebenarnya. Namun, semuanya ditutupi agar tidak terjadi gejolak di dalam masyarakat” kali ini dokter Freddy yang cukup lama berdiam diri ikut berbicara.
Qiandra menatap dokter Freddy, “Itu pula yang menjadi alasan kami harus menyembunyikan identitasmu, Chris dan Clayandra. Walaupun sudah digulingkan, keluarga kerajaan tetap punya kekuatan yang membayangi pemerintahan. Kami mengkhawatirkan mereka akan mengejar kamu melalui Lee jika mereka mengatahui ada keturunan Hamilton yang masih hidup” lanjut dokter Freddy lagi.
Qiandra masih menggelengkan kepalanya dengan lemah, air mata bahkan perlahan mengali di pipinya tanpa dia sadari. Informasi ini bahkan jauh lebih menyakitkan bagi Qiandra dibanding semua kisah tragis dalam keluarganya.
Bukan Qiandra tidak merasa kehilangan kedua orang tuanya, tapi bukankah selama puluhan tahun dia memang sudah berpikir kalau dia memang tidak punya orang tua. Tapi, jika harus kembali merenggut orang yang saat ini menjadi sandaran hidupnya karena masa lalu itu, Qiandra benar benar tidak bisa terima.
Tiba tiba Qiandra tersenyum sendu dan tertawa dengan suara sumbang yang terdengar sangat miris. “Luar biasa, luar biasa takdir mempermainkan aku, hah, lalu apalagi, apalagi yang harus aku hadapi, kenapa kalian tidak membiarkan aku mati saja saat itu dan cukup selamatkan Kak Dika” seru Qiandra dalam keputus asaan yang begitu besar.
“Nak, …..” desis Clayandra dengan tatapan sendu bahkan air mata kembali memenuhi wajah wanita paruh baya itu.
“Tenangkan dirimu, Nak” ucap dokter Freddy yang berusaha menenangkan Qiandra.
__ADS_1
“Tenang?, tenang Anda minta Dok, bagaimana aku bisa tenang, setelah semua yang aku jalani selama hidupku, ditinggalkan oleh suami yang aku cintai bersama dengan bayi dalam rahimku karena mereka melindungi aku, menjalani bertahun tahun hidup dalam rasa bersalah, lalu sekarang mengetahui kalau aku dibohongi oleh orang orang yang aku sayangi” ucap Qiandra sambil menatap Clayandra dan Chris dengan tajam.
“Masih belum cukup semua itu, sekarang aku harus mendengar kalau laki laki yang menjadi kekuatan dan tempatku bersandar saat ini, satu satunya orang yang aku cintai, ayah dari anakku, ternyata berasal dari keluarga yang telah membunuh kedua orang tuaku, lalu dimana letaknya aku bisa tenang, Dok!!!!” seru Qiandra dengan suara frustasi.
Dika berusaha memeluk Qiandra untuk menenangkan wanita itu, namun Qiandra menepis tangannya dengan kasar. “Kalian, kalian semua melihat perjalanan hidupku, kalian semua saksi semua drama di kehidupanku. Dan saat aku berhasil meraih kebahagiaanku, kalian semua tiba tiba muncul dan membuka semuanya untuk merenggut semua bahagia yang aku rasakan saat ini. Sebenarnya hati kalian terbuat dari apa sampai kalian melakukan hal sekejam ini padaku. Jika boleh memilih, aku lebih memilih tidak usah mengingat semuanya!!!!” seru Qiandra lagi.
Air mata sudah memenuhi wajah cantik wanita itu, dan saat Dika ingin mendekatinya Qiandra kembali menepis tangan laki laki itu. “Jangan sentuh aku, aku sungguh tidak menyangka kalian akan sekejam ini padaku, kalian sengaja ingin merenggut kebahagiaanku!!!!” Qiandra tersedu bahkan sekarang tubuhnya luruh dari sofa yang didudukinya tadi. Tubuh wanita cantik itu benar benar terguncang oleh isak tangisnya.
“Cukup, Feli, kami semua tidak sekejam itu, justru kami ingin kamu mengetahuinya lebih dulu sebelum keluarga jahanam itu mengetahui siapa dirimu. Jika mereka telah mengetahui siapa dirimu, kami takut mereka tidak segan segan untuk melenyapkan kamu seperti yang mereka lakukan pada kedua orang tua kita” seru Dika yang merasa sakit hati dengan tuduhan Qiandra.
Dika tidak bisa terima kalau Qiandra menuduh dia dan semua orang yang ada di ruangan itu sengaja ingin merenggut kebahagiaan Qiandra. Karena sesungguhnya mereka juga tidak sampai hati menyampaikan semua ini. Tapi rasa khawatir meraka akan keselamatan Qiandra, membuat mereka terpaksa harus menceritakan pada Qiandra.
“Melenyapkan aku?, jadi itu yang kalian takutkan, tahukah kalian bahwa aku lebih baik mati daripada harus mendengar semua ini. Aku lebih memilih kematian daripada harus kembali merasakan kehilangan lagi dan lagi. Apa kamu lupa berapa kali aku ingin mengakhiri hidupku!!!!” seru Qiandra sambil menatap Dika dengan tajam.
“Feli!!!!!” seru Dika tanpa sadar membentak Qiandra, dia sungguh tidak terima kalau adiknya satu satunya itu lebih memilih kematian.
“Apa!!!!, tahukah kalian kalau aku lebih memilih kematian, lebih baik aku mati di tangan orang yang aku kasihi dari pada aku harus kehilangan lagi” seru Qiandra lagi.
Saat Dika ingin bicara lagi, dokter Freddy mengangkat tangannya memberikan kode agar Dika tidak memperpanjang perdebatan itu. “Lebih baik aku mati, lebih baik aku mati, ….” desis Qiandra dan tiba tiba tubuhnya terkulai lemas.
“Feli!!!!” seru semua orang dalam ruangan itu. Dika yang memang berdiri tidak jauh dari Qiandra bergegas meraih tubuh wanita itu sebelum menghantam lantai. Walaupun Qiandra sudah duduk di lantai tapi jika dia jatuh akan sangat berbahaya untuk kandungannya.
Dika langsung menyangga tubuh Qiandra yang benar benar kehilangan kesadarannya, “Bawa dia ke kamar” seru dokter Freddy membuat Dika segera mengangkat tubuh Qiandra dengan hati hati dan membawanya ke kamar tempat Qiandra tadi beristirahat.
Sementara Chris harus terus menerus berusaha menenangkan Clayandra yang terlihat sangat terpukul. Clayandra hanya terus menerus menangis sambil menepuk dadanya sendiri. Berbagai rasa bercampur aduk dalam dada wanita itu, rasa bersalah, sedih dan sakit hati bercampur menjadi satu.
Akhirnya, Chris memilih menggendong Clayandra dan membawanya meninggalkan ruang kerja itu. Chris membawa sang istri ke kamar lain, untuk sementara waktu, Clayandra harus ditenangkan dulu. Sebagai ibu pengganti yang selama ini selalu berada di samping Qiandra, tentu sangat berat bagi Clayandra melihat keadaan Qiandra saat ini.
Dika sendiri langsung membaringkan tubuh sang adik dengan perlahan di tempat tidur king size yang ada di kamar mewah Felicia. Dokter Freddy segera memeriksa keadaan Qiandra dengan hati hati. Dokter paruh baya itu memastikan kondisi Qiandra dengan sangat teliti agar tidak ada gejala buruk yang terlewat.
Setelah melakukan pemeriksaan, dokter Freddy juga memberikan suntikan penguat kandungan untuk Qiandra. Dia juga memberikan beberapa suntikan vitamin untuk menguatkan stamina Qiandra. “Biarkan dia istirahat, tapi jangan pernah meninggalkan dia sendirian. Kondisinya sangat labil, aku khawatir dia akan melakukan tindakan tanpa pikir panjang” ucapnya pada Dika.
Dika hanya mengangguk dengan wajah penuh kekhawatiran. Ada penyesalan teramat besar dalam hatinya karena membiarkan dirinya terpancing emosi sehingga membentak Qiandra tadi. Laki laki tampan itu perlahan membelai wajah Qiandra dengan penuh kasih.
“Maafkan Kakak, Feli Sayang, Kakak sungguh tidak bisa mendengar kalau kamu lebih memilih kematian dan meninggalkan Kakak lagi, sudah cukup kita terpisah selama puluhan tahun, Kakak tidak akan sanggup jika harus kehilangan dirimu lagi” bisik Dika dalam hatinya.
__ADS_1
Air mata kembali mengalir di sudut mata Dika saat dia melihat wajah pucat Qiandra. Dokter Freddy hanya bisa mendesah dengan berat. Dokter paruh baya itu menepuk bahu Dika, “Sebagai Kakak, kamu harus belajar lebih sabar lagi, apalagi Feli saat ini sedang hamil” ucapnya sebelum meninggalkan kamar Felicia.