
“Kamu sangat tahu bagaimana kehidupanku di
masa lalu, Love. Bagaimana sikap keluarga Kak Charles memperlakukan aku, mereka begitu membenci diriku. Bahkan di saat tersulit sekalipun, saat aku benar-benar membutuhkan dukungan mereka, mereka malah semakin menekan dan memojokkan diriku. Aku yang sedang patah dan kehilangan kekuatan dan sandaran hidup, yang seharusnya ditopang atau setidaknya dihibur, justru harus menanggung berbagai cacian dan makian” sesaat Qiandra menghela nafas melepaskan rasa sakit yang dulu pernah dirasakannya.
Dean menggenggam erat tangan wanita itu,
walaupun dia masih belum mengerti arah pembicaraan Qiandra. Namun, Dean sangat tahu bagaimana beratnya saat saat yang harus dilalui oleh wanita itu. Melalui genggaman tangannya, Dean berharap dapat memberikan kekuatan bagi wanita itu.
“Tapi, lihatlah, aku yang mereka perlakukan
seperti itu, aku pula yang akhirnya menjadi sandaran hidup bagi mereka. Namun demikian, mereka tetap tidak menerima aku karena aku tidak mampu menjadi seperti Kak Charles dalam hal memenuhi kebutuhan mereka. Kebencian mereka membuat mereka buta pada semua ketulusanku, hingga akhirnya aku pergi dari kehidupan mereka. Kebencian seperti itu
membuat kita kadang kehilangan fokus pada hal-hal yang penting, membuat kita selalu membuang tenaga dan pikiran kita untuk hal yang sebenarnya tidak penting. Berhenti untuk membenci dan berusaha memaafkan bukan karena kita bisa menerima semua yang sudah membuat kita sakit hati, tapi membuat hidup kita lebih tenang” ucap Qiandra.
Dean menatap wajah sang istri, dia mulai
mengerti arah pembicaraan wanita itu. Sebenarnya dia sangat ingin menyangkal perkataan Qiandra, namun dia tidak mau memotong pembicaraan wanita itu.
“Aku tidak pernah membenci mereka, sesakit
apapun perbuatan mereka padaku. Aku
tidak mau membiarkan energi negatif mempengaruhi diriku, aku tetap berusaha
berpikir positif dan memaafkan mereka. Dengan begitu, aku bisa bertahan dan menjalani hidupku walaupun terasa berat. Jika saja aku membiarkan diriku tenggelam dalam kebencian dan sakit hati, maka mungkin saat ini kita tidak akan pernah bertemu, karena memang telah berulangkali aku ingin mengakhiri hidupku. Tapi, dari semua itu aku
diajarkan untuk bisa menerima tanpa dendam dan sakit hati. Dan, lihatlah, aku bisa menjalani hidupku dengan baik bahkan aku mendapatkan kehidupan yang luar biasa” ucap Qiandra
dengan senyum lembut menghias wajah cantiknya.
Dean menghela nafas dengan berat, dia sangat
mengerti dengan maksud cerita Qiandra. Namun, bukan hal yang mudah untuk melakukan seperti yang diinginkan oleh
Qiandra. Memerlukan hati yang benar-benar tulus agar bisa memaafkan dan menerima seperti yaang dikatakan oleh Qiandra.
“Aku tahu, hal itu tidak mudah, akupun sudah
mengalaminya, seperti kataku tadi, Love, aku sendiri berulangkali ingin mengakhiri hidupku hanya karena rasa sakit hati dan penyesalan. Tapi, saat itu aku memang hanya sendiri, dan
saat ini, ada aku bersama denganmu, kuharap itu akan membantumu untuk lebih mudah
melakukannya. Memaafkan dan menerima
Risty bukan berarti kamu melupakan apa yang sudah dia lakukan, tapi dengan cara itu, kamu bisa lebih tenang menghadapi dirinya, sehingga kamu bisa berpikir lebih realistis lagi” lanjut Qiandra.
“Tapi iblis betina itu tidak akan pernah punya
niat yang baik, dia pasti punya rencana jahat, dia.....” Dean terdiam saat jari telunjuk lentik Qiandra diletakkan dibibirnya.
“Shtttt, jika kamu selalu berpikir tentang
kejahatannya, maka kamu tidak akan bisa membaca rencana yang dia susun di balik
topeng kebaikannya. Cobalah untuk menerimanya dan tetap tenang saat menghadapi dia, maka semua topengnya akan
terlepas dengan sendirinya. Karena
kebencianmu dan kemarahanmu akan membuat dia membangun benteng pertahanan yang kokoh, tapi jika kamu bersikap baik, maka dia tanpa sadar akan membuka semuanya, tidak hanya di hadapan dirimu, tapi juga di hadapan semua orang. Jadi, bukan kamu yang harus menjatuhkannya, tapi biarlah dirinya sendiri yang menjatuhkan dirinya” ucap Qiandra.
Dean menatap Qiandra dengan tatapan kagum, “Luar biasa, Honey, bagaimana bisa kamu punya pemikiran seperti itu. Ini seperti senjata yang mampu membunuh tanpa harus menyentuh, menggunakan tenaganya sendiri untuk menghancurkan dirinya. Baiklah, aku akan mengikuti saranmu, aku akan belajar untuk memaafkannya dan menerimaa masa lalu kelam itu. Sejujurnya, akupun merasa lelah dengan semua kebencian dan sakit hati
ini, yang membuat aku kehilangan kebahagiaanku bersama seluruh keluarga besar
Zacharias. Hah, kenapa tidak sejak dulu, aku bertemu denganmu, agar aku tidak harus diam dalam beban tak berguna ini. Terima kasih, Honey, terima kasih untuk semua saranmu, kumohon bantu aku, aku sungguh menginginkan rasa damai itu” ucap Dean dengan penuh kesungguhan.
__ADS_1
Qiandra tersenyum, “Aku senang jika kamu
bersungguh-sungguh dengan ucapanmu, Love, dan satu hal lagi, terkadang kita harus bisa membiarkan diri kita seolah jatuh saat menghadapi musuh yang sangat pandai bersandiwara, agar musuh kita bisa membuka semua aibnya sendiri. Hanya keyakinan dan kepercayaan kita berdua akan kekuatan cinta kita yang bisa membuat kita berdua tetap berdiri dan berpikir rasional. Apapun yang akan
terjadi, bagaimanapun sikapku dan tindakanku, aku harap kamu tetap percaya bahwa cinta aku hanya untukmu demikian pula sebaliknya, keyakinanku pada dirimu” ucap Qiandra.
“Apa maksudmu, Honey, kamu tahu aku tidak akan membiarkan kejadian buruk terjadi padamu, tidak akan pernah” ucap Dean dengan
sedikit penekanan.
“Tidak ada yang tahu hari esok, Love, tapi
cinta kita harus benar-benar tahan uji, aku sangat percaya padamu, demikian pula aku ingin kamu percaya padaku” ucap Qiandra seolah bisa memprediksi masa depan.
“Honey, jika seperti itu, lebih baik aku pergi
dan menjauh dari semua masalah ini, aku sungguh tidak ingin melukai dirimu dan
hatimu lagi. Aku tidak mau melihatmu
menderita lagi, lebih baik aku kehilangan yang lain daripada aku membuatmu menderita lagi” ucap Dean dengan suara cemas.
“Tidak, tidak, Love, berlari tidak akan
menyelesaikan masalah, kamu tahu aku pernah mengalami hal itu. Bersembunyi hanya akan memperpanjang masalah dan membuatnya semakin rumit, sebaliknya, ayo kita hadapi dan kita selesaikan semua ini, bersama-sama, saling mendukung dan saling menguatkan. Yakinlah kita pasti bisa, sudah cukup masalah
ini terpendam dan berlarut-larut, lihatlah penderitaan keluarga besarmu. Ayo kita akhiri dan kita mulai dengan kehidupan yang lebih damai tanpa dendam dan sakit hati” ucap Qiandra dengan panjang lebar.
Dean terdiam mendengar kata-kata Qiandra, dia
tidak bisa memungkiri kebenaran dalam kata-kata wanita itu. Namun, dia juga merasa sangat kagum dengan kemampuan Qiandra untuk memikirkan semua masalahnya. Dean semakin merasa yakin kalau istrinya ini
pasti mampu menghadapi Risty, kemampuan Qiandra untuk merangkai kata-kata dan
meyakinkan dirinya jauh lebih andal dibandingkan Risty.
menghadapinya” tanya Dean pada akhirnya setelah dia cukup lama berdiam diri
memikirkan semua perkataan Qiandra.
“Memang aku tidak mengenal Risty secara
pribadi, tapi aku sudah mendengar bagaimana dirinya melalui cerita kalian. Aku pikir dia adalah salah satu wanita yang tidak hanya haus harta tetapi juga tahta, wanita yang sanggup melakukan apapun demi memenuhi ambisinya. Dan dia punya semua yang wanita inginkan, cantik, menarik dan cerdas. Wanita seperti ini memang akan sulit dihadapi oleh kaum lelaki, karena wanita seperti ini sangat pandai menggunakan kelebihannya untuk menguasai laki-laki, dan jika tidak berhasil maka dia akan menggunakan kelemahannya untuk menaklukkan laki-laki” ucap Qiandra lagi.
Dean kembali tertegun mendengar ucapan
istrinya itu, karena semua yang diucapkan Qiandra memang benar-benar sesuai
dengan karakter Risty. Walaupun Qiandra
tidak pernah bertemu dengan wanita itu, tetapi dia mampu membaca karakter Risty dengan tepat.
“Hey, Honey, apa kamu pernah belajar tentang
psikologi” tanya Dean dengan rasa heran yang tidakbisa disembunyikan lagi.
“Apa maksudmu, Love” tanya Qiandra dengan
heran karena mendengar pertanyaan Dean.
“Kamu bisa menyebutkan karakter wanita itu
bahkan tanpa pernah bertemu dengannya, dan semua yang kamu ucapkan benar adanya” ucap Dean masih dengan rasa kagum pada kemampuan istrinya.
“Ha ha ha, kamu ada-ada saja, Love, mana
__ADS_1
pernah aku ini belajar psikologi” kekeh Qiandra saat mengerti arah pertanyaan suaminya.
“Lalu bagaimana bisa kamu menyebut karakternya dengan detil, sementara kamu tidak mengenal orangnya” tanya Dean masih dengan keheranan.
“Selama aku bekerja, aku bertemu dengan banyak orang, dan aku selalu terbiasa untuk mengenal bagaimana orang itu terlebih dulu
sebelum aku bertemu dengannya, tentunya dengan mencari tahu informasi tentang
dirinya. Dari situlah aku belajar untuk mulai mendeskripsi karakter orang lain, awalnya aku sering keliru, karena aku hanya mengandalkan satu sumber, tapi setelah berulangkali belajar, aku tahu kalau membuat penilaian tidak bisa hanya berdasarkan perkataan orang lain, tapi ada banyak hal lain yang juga harus
diperhatikan, dan setelah mencoba, akhirnya, yah, seperti yang kamu dengar tadi, Love. Seperti itulah aku mengenal rekan-rekan bisnisku, sehingga aku bisa menghadapi mereka” Qiandra menjelaskan semuanya pada Dean.
Dean hanya bisa manggut-manggut mendengar penjelasan Qiandra, semakin bertambah kekagumannya pada wanita ini. Qiandra bisa menguasai bahkan punya kemampuan untuk mengenali dan menganalisa orang-orang yang akan dihadapinya hanya dengan mendengar dan mempelajari kehidupan orang itu.
“Lalu apa rencanamu untuk menghadapinya nanti, Honey” tanya Dean penuh antusias.
“Sejujurnya aku tidak punya rencana yang terperinci, Love, untuk menghadapi orang baru
seperti ini, aku biasanya hanya menunggu apa yang akan dilakukannya. Aku hanya akan memberikan efek atas apapun yang akan dilakukannya, jika dia menyerangku dengan kata-kata, maka kata-kata itu pula yang akan aku gunakan untuk menghadapinya. Aku selalu belajar menggunakan apapun yang digunakan orang lain untuk berhadapan denganku, jadi jika dia berbuat baik, maka baik pula yang
didapatkannya dariku, tapi sebaliknya jika dia berbuat jahat, maka dia sendiri yang akan merasakan akibatnya. Kadang memang aku akan menderita dan disakiti tapi aku akan menggunakan itu untuk penyemangat sehingga aku bisa berdiri lagi, dan akhirnya orang itu akan jatuh dengan sendirinya” ucap Qiandra dengan panjang lebar.
“Tidak, Honey, aku tidak mau kamu menggunakan cara itu lagi, aku tidak mau kamu
mengorbankan dirimu lagi, apapun itu, aku tidak akan membiarkan kamu menderita
lagi. Kita akan menyusun rencana lain, tanpa harus membuat kita menderita lagi. Pokoknya aku tidak setuju jika harus ada pengorbanan, apalagi jika harus kamu yang berkorban, tidak, aku tidak setuju” seru Dean.
Dean tahu maksud rencana Qiandra, namun dia tidak mau melihat wanita yang sangat
dicintainya itu harus menderita lagi, walau hanya sesaat. Bagi Dean, Qiandra sudah cukup banyak merasakan penderitaan, tak seharusnya wanita itu menjadi korban lagi hanya untuk menyelesaikan masalah keluarganya.
“Lalu apa rencanamu, Love, kamu sendiri tahu sampai saat ini kita memang tidak tahu apapun
rencana wanita itu. Kita bahkan baru tahu kalau dia punya keinginan untuk menjadi tuan rumah baru sekarang ini, sementara acara kita akan berlangsung dalam satu hari lagi. Tapi jika memang kamu punya rencana khusus,
baiklah, aku akan mengikutinya” ucap Qiandra dengan tenang.
Dean tercenung menatap Qiandra, apa yang dikatakan wanita ini benar adanya. Mereka memang benar-benar tidak mengetahui apapun rencana Risty, bahkan semua mata-mata dan pelayan yang ada di sekitar wanita itu juga belum memberikan informasi apapun.
“Love, jangan khawatirkan aku, semuanya akan baik-baik saja, kita akan hadapi ini bersama-sama, asalkan kamu tetap percaya padaku sama seperti aku percaya padamu. Apapun yang terjadi nanti, tetap pegang kata-kataku saat ini, aku mencintaimu, hanya kamu. Aku tidak perlu menjelaskan bagaimana kesetiaan hatiku pada orang yang aku cintai, kamu sudah tahu akan hal itu. Oleh sebab itu aku mohon dukung aku, dan akupun akan mendukungmu, kita hadapi dan selesaikan masalah ini. Aku tidak ingin masalah ini berlarut-larut hingga ada anak-anak kita kelak, kita akan selalu merasa khawatir karena musuh yang ada tepat di dalam tubuh kita sendiri” ucap Qiandra berusaha meyakinkan Dean.
“Tapi, Qi…..” Dean tetap merasa berat kalau harus membiarkan Qiandra menderita lagi. Baginya, Qiandra adalah permata dalam hidupnya dan dia tidak akan membiarkan permatanya dilukai, apapun alasannya.
“Shtttt, sudahlah, Love, jangan dipikirkan lagi, ayo kita nikmati persiapan pesta ini, kamu tahu kan dulu aku tidak bisa menikmati persiapan pesta pernikahanku, kamu sudah mempersiapkan semuanya. Sekarang, maukah kamu membantuku mempersiapkan diri, lihatlah gaun-gaun ini semuanya cantik, aku sampai bingung harus memilih yang mana” ucap Qiandra memotong perkataan suaminya.
Qiandra kembali melangkah ke depan cermin besar yang ada di ruangan itu, dan mulai
mematut dirinya. Wanita itu terlihat berputar-putar sambil memperbaiki beberapa pernik yang ada di gaun mewah itu. Qiandra melirik pada sang suami yang masih terpekur menatap dirinya namun terlihat kalau pikirannya sedang
melayang entah kemana.
“Loveee…., apa kamu benar-benar tidak mau membantuku, ayolah beri aku masukan tentang gaun yang ini, kalau menurutku ini yang paling bagus” seru Qiandra namun dengan suara manja.
Dean menghembuskan nafas berat seolah berusaha membuang beban yang ada di
hatinya. Lalu laki-laki itu melangkah mendekati istrinya, dan langsung memeluk pinggang wanita itu dari belakang tubuh Qiandra. Keduanya saling bertatapan melalui pantulan bayangan mereka di cermin, “Aku mecintaimu, Honey, sangat mencintaimu, tidak ada yang bisa mengubah hal itu. Kamu sendiri tahu bagaimana menderitanya aku karena kejadian masa lalu itu, aku sungguh takut hal itu akan terulang lagi, aku tidak akan sanggup menjalaninya” ucap Dean.
Laki-laki itu meletakkan dagunya diatas bahu Qiandra yang terbuka, walaupun untuk itu dia
harus sedikit membungkuk. Perlahan
dikecupnya dengan lembut bahu putih mulus wanita itu dengan penuh kasih. Tangannya melingkar erat dipinggang ramping sang istri seolah takut wanita itu akan hilang dari pelukannya. Qiandra hanya tersenyum sambil menepuk lembut lengan suaminya, perlahan ada haru menyelinap dalam hatinya.
“Aku hanya minta kamu selalu percaya padaku,
__ADS_1
Love, seperti aku percaya padamu” ucap Qiandra dengan lembut pada sang suami.