
"Astaga, bagaimana ini, apa yang harus aku lakukan jika ketakutanku ini menjadi kenyataan. Aku benar benar harus lebih berhati hati menghadapi Daniel, jangan sampai dia mengetahuinya" desis Qiandra dalam kegelisahaannya.
Qiandra akhirnya bisa terlelap setelah sekian waktu berlalu, namun beberapa kali Qiandra masih berbaring dengan gelisah. Tubuhnya bergerak bolak balik masih dalam tidurnya, sehingga tanpa dia sadari kegelisahaannya itu menyebabkan laki laki yang awalnya sudah terlelap kembali terjaga. Daniel menatap Qiandra yang berbaring dengan gelisah dalam tidurnya. Hingga setelah beberapa waktu, akhirnya Daniel menghampiri Qiandra dan memperhatikan wanita itu dengan seksama.
Daniel mengernyit saat melihat Qiandra beberapa kali menggelengkan kepalanya, bibir wanita itu terlihat komat kamit. "Tidak, tidak, tolong lepaskan aku, tolong jangan sakiti kami" racau Qiandra dalam tidurnya.
Daniel akhirnya tidak sampai hati melihat wanita itu tidur dengan begitu gelisah. Daniel merayap naik ke atas tempat tidur, dan dengan gerakan sangat perlahan dia masuk ke dalam selimut Qiandra. Perlahan Daniel meraih tubuh wanita itu dan membawanya masuk dalam dekapannya dengan sangat hati hati agar tidak membuat Qiandra terbangun.
Daniel merengkuh tubuh Qiandra dengan lembut, sambil mengecup kening wanita itu perlahan. Lalu dia membelai rambut Qiandra dengan penuh kasih, bahkan Daniel tanpa ragu membersihkan keringat yang terlihat di kening Qiandra. Daniel menjadikan lengannya sebagai bantal untuk kepala Qiandra.
Sementara Qiandra yang memang baru terlelap itu sama sekali tidak menyadari kalau dia sedang berada dalam pelukan Daniel. Dalam alam mimpinya, Qiandra hanya merasakan kehangatan yang melingkupi dirinya. Hal ini menyebabkan tubuhnya secara refleks bergerak merapat kepada sumber kehangatan itu. Aroma maskulin yang menyeruak ke dalam hidungnya justru membuatnya semakin merasa tenang.
Belaian Daniel di atas kepala Qiandra, justru membuat wanita itu semakin terhanyut dalam mimpinya. Dan Daniel tersenyum bahagia saat merasakan tubuh Qiandra yang semakin merapat ke tubuhnya. Tanpa ragu lagi Daniel semakin mengeratkan pelukannya namun masih lembut sehingga membuat Qiandra semakin merasa nyaman.
Qiandra yang menempel erat di dadanya membuat darah Daniel berdesir hangat. Daniel menempatkan kepalanya di atas kepala Qiandra, sehingga aroma rambut wanita cantik itu menyeruak masuk ke dalam hidung Daniel. Daniel menghirup aroma menyejukkan itu dengan tarikan nafas dalam, lalu perlahan dia menghembuskan nafasnya agar tidak membuat Qiandra terkejut.
Malam semakin larut, beberapa kali Daniel ingin bangun dan meninggalkan Qiandra sendirian. Namun, tangan wanita itu justru melingkar erat dipinggang Daniel membuat Daniel tidak bisa bergerak sama sekali. Daniel sadar jika dia bergerak dan melepaskan tangan Qiandra, maka wanita itu pasti akan terbangun.
Bukannya tidak ingin terus dalam posisi seperti itu, Daniel justru sangat menyukainya dan bahkan ingin terus seperti itu. Tapi Daniel sungguh tidak ingin membuat Qiandra kembali marah dan mengganggap dirinya tidak konsekuen dengan janjinya. Oleh sebab itu, Daniel tetap menunggu hingga beberapa saat, namun karena Qiandra tak kunjung melepaskan dirinya dan bahkan semakin mengeratkan pelukannya, akhirnya Daniel pun terlelap.
Keduanya sama sama terlelap dan tenggelam dalam mimpi mereka masing masing. Qiandra sendiri justru bisa tidur dengan lebih tenang saat berada dalam pelukan Daniel. Demikian pula Daniel yang memang sangat berharap bisa tidur memeluk Qiandra. Tentu saja kesempatan ini sangat berharga untuk Daniel dan tidak akan disia siakan olehnya.
Hingga menjelang subuh, Qiandra tiba tiba terbangun dari tidur lelapnya. Qiandra tertegun saat menyadari tubuhnya sedang berada dalam dekapan hangat seseorang. Lebih terkejut lagi saat merasakan tangannya sedang memeluk erat pinggang orang itu.
Qiandra ingin segera menarik tubuhnya saat dia menyadari bahwa orang yang sedang memeluknya adalah Daniel. "Astaga, mengapa dia sudah ada di sini dan tidur bersamaku, hah, sudah kuduga, Daniel tidak akan mampu menahan dirinya. Dasar laki laki, mana bisa dia menahan dirinya saat tinggal satu kamar dengan wanita. Tapi masih syukur dia tidak menelanjangi aku, astaga, bagaimana bisa aku tertidur sangat lelap dan bisa bisanya aku merasa sangat nyaman" keluh Qiandra dalam hati.
Qiandra sebenarnya ingin segera bangun, namun dia menyadari sesuatu, "Jika aku bangun dengan gerakan tiba tiba pasti akan membangunkan Daniel. Padahal aku harus segera memeriksakan diri tanpa sepengetahuannya" desis Qiandra masih dalam hati.
__ADS_1
Akhirnya, Qiandra melepaskan diri dengan perlahan dan sangat hati hati. Dia mengganti posisinya dengan sebuah guling agar Daniel tidak terbangun. Lalu dia perlahan turun dari tempat tidur dan meraih benda yang dititipkan oleh dokter Mira tadi pagi. Setelah itu, Qiandra segera berlalu menuju ke kamar mandi.
Di kamar mandi, wajah Qiandra masih tidak menentu, ada gelisah, cemas tapi juga bahagia yang menyeruak dalam sebuah harapan di hati wanita cantik ini. Qiandra kemudian membuka alat yang diberikan oleh dokter Mira, kemudian dia melakukan semua instruksi dalam kemasan alat itu. Setelah menunggu beberapa saat, mata Qiandra terbuka lebar saat melihat garis dua berwarna merah yang terlihat jelas di alat yang dipegangnya.
"A ...... aku hamil" desis Qiandra dengan bibir bergetar. Ya, alat yang diberikan oleh dokter Mira adalah sebuah alat test kehamilan. Ternyata dokter Mira menemukan gejala kalau pasien yang sedang diperiksanya itu sedang berbadan dua.
Qiandra terduduk lemas sambil menggenggam erat alat itu, dia benar benar tidak mengerti bagaimana perasaannya saat ini. Bahagia, iya, sangat bahkan, tapi rasa cemas dan khawatir jauh lebih besar menguasai dirinya saat ini. "Bagaimana ini, mengapa aku baru mengetahui kalau aku hamil justru pada saat aku menjadi tawanan. Bagaimana kalau Daniel mengetahui hal ini, apa dia akan membunuh bayiku" desis Qiandra penuh kekhawatiran.
Bayang bayang kehilangan bayinya di masa lalu yang direnggut dengan paksa darinya, membuat tubuh Qiandra menggigil. Sadar kalau traumanya akan membuatnya tidak berdaya, Qiandra berjuang mati matian meyakinkan dirinya bahwa segala sesuatu akan baik baik saja.
"Tidak, aku tidak bisa lemah saat ini, aku harus berjuang hingga Dean datang menjemputku. Nak, tolong beri mommy kekuatan untuk melewati semua ini bersama denganmu. Tolong jangan tinggalkan mommy lagi ya sayang, bersama kita berdua akan menunggu daddymu menjemput kita. Sementara itu, mommy mohon kamu baik baik ya di dalam sana, mommy harus merahasiakan keberadaanmu, demi keselamatan kita" Qiandra bergumam sambil mengelus perutnya yang masih datar.
Saat Qiandra sedang berada dalam kegelisahannya dan tenggelam dalam pikirannya, Qiandra dikejutkan dengan bunyi gedoran di pintu kamar mandi. "Qi, apa kamu baik baik saja" terdengar suara bariton Daniel memanggil diri Qiandra.
"Ya, aku hanya sedikit sakit perut" sahut Qiandra. Qiandra sadar jika dia tidak segera menyahut, Daniel bisa mendobrak pintu kamar mandi lagi. Qiandra segera berdiri dan mengumpulkan semua sampah bekas alat pemeriksaannya. Qiandra merobek semuanya menjadi potongan potongan yang kecil lalu membuangnya ke dalam toilet.
Kemudian Qiandra menekan tombol di toilet agar semua sampah itu terbuang, Qiandra bahkan berulang kali menekan tombol itu hingga tidak ada satu serpihan pun yang tersisa. Setelah itu Qiandra kembali melihat berkeliling untuk memastikan tidak ada sampah sekecil apapun yang tersisa.
Qiandra yang sudah naik kembali ke atas tempat tidurnya tidak bereakasi sama sekali. Dia hanya diam saja, Qiandra hanya menrik selimutnya dan berbaring dengan posisi membelakangi Daniel.
"Qi, ......" desis Daniel yang takut kalau Qiandra benar benar marah padanya.
"Lupakan saja, aku mengantuk" sahut Qiandra akhirnya. Qiandra tahu Daniel akan terus meyakinkan dirinya dan meminta maaf padanya jika dia tidak berbicara.
Dan benar saja, setelah mendengar jawaban Qiandra barulah Daniel merasa lega, "Baiklah terima kasih untuk pengertianmu, Qi, tidurlah, jika kamu masih mengantuk" ucap Daniel pada akhirnya.
Sementara Qiandra, sebenarnya sama sekali tidak mengantuk, dia hanya merasa malas berdebat dengan Daniel. Karena dia tahu semuanya akan berakhir pada kata kata cinta dari laki laki itu, dan Qiandra benar benar tidak ingin mendengar hal itu dari mulut Daniel.
__ADS_1
Daniel sendiri memutuskan untuk meninggalkan Qiandra sendirian dan pergi menuju ruang fitness untuk berolah raga. Daniel merasa perlu meregangkan seluruh tubuhnya setelah dua hari yang penuh dengan tekanan. Bukan, bukan dua hari, Daniel bahkan sudah menjalani semuanya selama satu minggu ini untuk mempersiapkan segala sesuatunya.
Setelah mendengar pintu kamar tertutup, walau dengan perlahan, Qiandra perlahan membuka matanya. Dia kembali menajamkan pendengarannya memastikan bahwa Daniel benar benar keluar dari kamar itu. Saat dia merasa yakin, barulah Qiandra perlahan membalikkan tubuhnya dan memandang ke sekeliling kamar itu.
"Hah, akhirnya aku bisa juga tidak harus berbagi udara dengan laki laki itu. Rasanya benar benar menyesakkan saat harus berusaha tetap tenang sementara hatiku sendiri begitu gelisah" Qiandra baru saja duduk tercenung sendiri.
Perlahan wanita cantik itu melangkah turun dari atas tempat tidur besar itu, dia mengambil sebuah selimut tebal dari walk in closet. Qiandra kemudian perlahan membuka pintu menuju balkon kamar, udara dingin langsung menerpa tubuhnya. Untungnya selimut tebal yang digunakan Qiandra melindungi tubuhnya sehingga dia tetap merasa hangat.
Qiandra menghirup udara pagi yang terasa begitu sejuk dan menyegarkan, dan membiarkan paru parunya terisi hingga penuh. Kemudian dengan mata terpejam, dia menghembuskan semua udara itu dengan perlahan, seakan berusaha melepaskan semua beban dalam hatinya. Tangannya yang tidak memegang selimut perlahan mengelus perut datarnya.
Qiandra menatap jauh di batas cakrawala, dimana semburat merah terlihat malu malu menampakkan dirinya. "Daddymu akan segera menjemput kita, Nak, dan saat itu kita bisa menikmati kehidupan dengan tenang. Aku yakin saat ini Risty sudah di tahan, dan Daniel, heh, saat daddymu menemukan kita, aku tidak bisa menjamin laki laki ini akan selamat" bisik Qiandra dalam hati berusaha menghibur dirinya.
Cukup lama Qiandra termenung menatap langit gelap yang perlahan mulai menampakkan keindahannya. Wanita itu seolah berharap bisa menemukan satu titik saja di kejauhan sana yang menunjukkan kehadiran orang yang sangat dinantikannya. Namun, apa yang diharapkannya sepertinya hanya kesia siaan saja.
Langit yang perlahan terlihat membiru hanya menunjukkan segerombolan camar yang sedang beterbangan mencari makanan. Qiandra kembali mendesah berat, wajah wanita cantik itu perlahan berubah menjadi muram. "Cepatlah, Dean, selamatkan aku dan anak kita, aku sungguh cemas dengan sikap Daniel yang bisa berubah dalam sekejap. Aku takut dia akan mengetahui bahwa ada kehidupan baru dalam rahimku. Aku sungguh takut dia akan merenggut anak kita karena tidak ingin ada darah dagingmu dalam rahimku" desah Qiandra dalam hati.
Qiandra sangat tahu bagaimana sikap seorang Daniel yang sangat angkuh dan kejam. Jangankan bayi yang masih belum berbentuk dalam kandungannya, Dean saja akan dibunuhnya demi mendapatkan seorang Qiandra. Dan hal itu membuat Qiandra sangat takut, jika hanya nyawanya saja, Qiandra tidak akan perduli.
Qiandra memang sudah bersiap mengorbankan dirinya, bahkan kematian pun tidak di takutinya. Tapi itu kemarin, sebelum dia mengetahui ada nyawa di dalam rahimnya. Dan sekarang, saat dia sudah mengetahui kalau ada kehidupan baru yang harus dijaganya, maka rasa khawatir wanita itu bertambah berkali kali lipat.
Qiandra begitu tenggelam dalam lamunan dan harpannya akan kehadiran Dean untuk menyelamatkan dirinya. Matanya masih menatap sendu ke batas cakrawala, masih dengan harapan yang begitu besar. Udara dingin yang menyentuh wajahnya sama sekali tidak dirasakannya.
Tanpa Qiandra sadari seorang laki laki telah berdiri tidak jauh di belakang tubuhnya. Daniel menatap Qiandra dengan kekaguman yang begitu besar, kecantikan alami wanita itu benar benar memanjakan mata Daniel. Dia sengaja tidak mendekati Qiandra, dia hanya terus menikmati keindahan dan kecantikan wanita itu dengan hati bahagia.
Rambut ikal kecoklatan milik Qiandra melambai dengan indah menebarkan aroma harum yang begitu menyejukkan hati Daniel. "Qi, bagaimana aku bisa berhenti mencintai dirimu, dengan segala kesempurnaanmu, kamu hampir tak memiliki cacat tubuh maupun pribadimu. Kamu satu satunya wanita yang benar benar sempurna di mataku, bahkan saat semua kemewahan dan kasih sayang kucurahkan padamu, kamu tetap setia kepadanya. Tidak tahukah kamu, keteguhanmu justru membuatku semakin berharap untuk bisa menggantikan posisinya di hatimu" desah Daniel dalam hati.
Seperti mata Qiandra yang tidak lepas memandang batas cakrawala, demikian pula mata Daniel tidak lepas dari sosok bidadari yang berdiri di hadapannya. Selimut tebal yang digunakan Qiandra untuk membungkus tubuhnya terlihat sangat panjang mengekor di belakannya sehingga tampak seperti jubah baginya. Dan pemandangan itu benar benar membuat Daniel berkhayal sedang melihat seorang ratu yang begitu sempurna.
__ADS_1
Demikianlah cinta telah membutakan mata dan hati laki laki itu. Kekagumannya pada seorang Qiandra membuatnya sanggup melakukan apapun hanya untuk meraih cinta wanita itu. Daniel benar benar tidak perduli jika semua yang dia miliki akan hilang, asalkan dia bisa mendapatkan seorang Qiandra.
Seperti saat ini, Daniel benar benar tidak perduli bagaimana guncang perusahaan PT. Mahardika saat pemberitaan tentang penculikan Qiandra merebak dengan cepat. Saham PT. Mahardika bergerak drastis menuju ke titik terendah. Ada banyak investor yang sudah bersiap untuk menarik diri dan sahamnya dari PT.Mahardika.