
Risty mengambil phonsel itu, dan setelah
menekan beberapa nomor dan menunggu hubungan jarak jauh itu tersambung,
“Hallo....” sapa Risty dengan suara lembut saat teleponnya sudah tersambung.
Sesaat Risty mengernyitkan keningnya, karena
tidak mendengar jawaban apapun dari seberang sana. Risty menatap layar phonselnya untuk memastikan bahwa panggilan itu sudah tersambung, walaupun Risty sangat yakin kalau sambungan telepon itu memang sudah tersambung.
“Hallo, aku tahu kamu ada disana, mengapa
tidak menjawab aku” ucap Risty dengan sedikit kesal karena merasa diabaikan.
“Ada apa, aku sedang sibuk, jika tidak penting
aku akan mengakhiri panggilan ini” sahut suara seorang laki-laki diseberang sana dengan nada tegas.
“Ck ck ck, sesibuk apa dirimu sebenarnya, aku
tidak yakin kamu akan berkata sibuk jika aku menyebutkan nama Qiandra, hmmm” ucap Risty dengan senyum smirk menghias wajahnya.
“Sudah berapa kali kukatakan jangan berani
bermain-main dengan Qiandraku, atau kamu akan merasakan sendiri akibatnya” desis suara laki-laki itu lagi.
Risty tertawa mendengar ancaman laki-laki itu,
“Ha ha ha, bagaimana bisa kamu menyebutnya Qiandraku, apa kamu masih percaya diri menyebutnya seperti itu, sementara nama itu sekarang sudah akan hilang dan akan segera resmi menyandang status sebagai Nyonya Dean Walt Zacharias” ucap wanita itu dengan nada mengejek.
Risty langsung mematikan panggilan telepon
setelah mengucapkan kalimat yang membuat laki-laki diseberang sana benar-benar meradang. Wanita ini segera melangkah
keluar dari balroom mewah itu menuju ke balkon dan mengambil tempat agak tersembunyi.
Belum lagi Risty tiba di tempat yang
diinginkannya, phonselnya sudah bergetar kembali. Saat dia melihat layar phonselnya, wanita itu tersenyum penuh kemenangan. “Dasar bodoh, semudah itu aku menjebakmu dalam emosimu sendiri” desis Risty.
Risty baru mengangkat panggilan itu setelah
dia menemukan tempat yang tersembunyi namun tetap bisa mengawasi ke sekelilingnya. “Haish, Daniel, ternyata kamu memang masih seperti Daniel yang dulu” ucap Risty bahkan sebelum laki-laki yang menghubunginya itu berbicara.
Laki-laki yang tak lain dari Daniel itu terdengar menggeram menahan amarahnya, “Jaga mulut kotormu itu, Risty, atau aku sendiri yang akan merobeknya hingga kamu tidak bisa berkata-kata lagi” seru Daniel dengan nafas tersengal menahan amarahnya.
“Ck ck ck, laki-laki sepertimu memang hanya
bisa mengancam kaum wanita lemah seperti diriku, tapi baiklah, aku tak mau membahas hal itu sekarang, ada hal yang lebih penting yang harus aku bicarakan denganmu” ucap Risty tanpa memperdulikan kemarahan Daniel.
“Katakan saja langsung, aku tidak suka
membuang-buang waktuku untuk berbicara tentang hal yang tidak berguna dengan wanita sepertimu” desis Daniel.
“Baiklah, ini tentang rencana kita, aku tidak
mau ada bantahan ataupun pertanyaan, aku akan memberikan petunjuk apa yang harus dilakukan, dan setelah ini jangan hubungi aku lagi sampai semuanya benar-benar berhasil” ucap Risty kali ini dengan nada tegas.
Setelah itu, Risty memutuskan panggilan
telepon itu. Namun jari-jari tangannya bergerak dengan lincah mengetik pesan di phonselnya. Setelah beberapa saat, wanita itu terlihat
tersenyum simpul, kemudian dia menghapus dan mereset phonsel itu agar semua aktifitas terhapus dari memori phonsel itu.
Risty kembali masuk ke dalam ballroom mewah
tempat acara akan dilangsungkan, dia menatap ke sekeliling ruangan ballroom itu. Risty memang tidak ada niat untuk ikut campur dengan semua ***** bengek persiapan pesta itu. Kehadirannya di tempat itu semata-mata untuk memastikan semua yang dia rencanakan bisa berjalan dengan lancar.
Risty memperhatikan peta ballroom itu dan
menelusuri setiap ruangan yang terhubung dengan balroom mewah itu. Tidak seperti biasanya, Risty yang biasanya selalu memerintahkan orang lain untuk melakukan semua yang diinginkannya. Kali ini dia terlihat benar-benar serius dan tidak mengluarkan kata-kata sedikitpun.
Para pelayan termasuk pelayan pribadinya hanya bisa melihat aktifitas sang nyonya besar itu dari jauh. Mereka semua bersiap jika ada kode dari sang nyonya besar kepada mereka, oleh karena itu tatapan mereka benar-benar tidak terlepas dari semua aktifitas wanita itu.
Sementara itu, asisten Vian memperhatikan
tingkah laku Risty melalui kamera CCTV yang terhubung ke layar besar di ruang pemantauan. Asisten Vian mengernyitkan keningnya, saat melihat wanita itu terlihat begitu serius mengamati setiap ruangan yang terhubung dengan ballroom.
Jika melihat kesibukan wanita itu, maka bagi
orang lain yang tidak mengenal watak seorang Risty, pasti akan berpikir bahwa wanita itu benar-benar sedang memastikan segala sesuatunya berjalan dengan baik. Aktifitas wanita itu seakan menunjukkan bahwa memang dialah penanggung jawab dari pesta itu.
Tapi bagi asisten Vian, tingkah laku Risty ini
benar-benar sangat mencurigakan. Karena
asisten Vian sangat tahu kalau wanita seperti Risty tidak akan mau menyibukkan dirinya hanya untuk memeriksa kesiapan suatu pesta. Risty adalah wanita yang terbiasa menjadi
bintang pesta, dan selalu hadir sebagai ratu pesta, entah pesta milik siapapun, dia selalu menjadi bintangnya.
Jadi, sangat tidak mungkin seorang Risty mau
berlelah-lelah mempersiapkan sebuah pesta. Apalagi pesta ini adalah pesta perkenalan wanita yang sangat dibencinya. Asisten Vian sangat yakin kalau Risty pasti sedang merencanakan sesuatu.
Asisten Vian meraih phonselnya dari dalam saku bajunya lalu segera menghubungi seseorang. “Hallo, Tuan Dean” ucap asisten Vian saat panggilannya sudah tersambung.
__ADS_1
“Oh maaf kak Vian, Dean lagi mandi, apa ada
pesan yang ingin disampaikan, aku akan menyampaikannya nanti kalau dia sudah
selesai” sahut suara merdu diseberang sana.
“Ops, suara ini merdu sangat, haish, Tuan Dean
benar-benar beruntung, hanya mendengar suaranya saja rasa hati seakan meleleh” bisik hati asisten Vian saat mendengar suara wanita yang menjawab panggilan teleponnya.
“Hallo, Kak Vian, apa kakak masih ada di sana”
tanya suara itu lagi.
“Oh iya, iya, Nyonya Muda, maaf tadi ada yang
harus aku bereskan dulu” sahut asisten Vian yang terkejut karena memang dia sempat terdiam saat mendengar suara wanita yang tak lain dari Qiandra itu.
“Oh, tidak apa-apa, Kak, ada apa Kak Vian
menghubungi Dean, apa ada yang ingin disampaikan, sebentar lagi dia akan selesai”
ucap Qiandra lagi masih dengan suara lembut yang membuat hati asisten Vian benar-benar meleleh.
“Ah, baiklah, Nyonya Muda, minta tolong
menyampaikan pada Tuan Dean kalau aku menghubunginya, ada beberapa hal yang
ingin aku pastikan tentang konsep acara nanti” ucap asisten Vian.
Asisten Vian memang menyadari kalau Qiandra
berhak mengetahui tentang situasi pesta nantinya. Namun, asisten Vian lebih suka jika Dean sendiri yang menjelaskannya pada Qiandra, karena menurutnya akan jauh lebih
mudah jika dia berbicara dengan Dean tentang situasi saat ini.
“Baiklah kalau begitu, Kak, akan aku sampaikan
nanti pada Dean kala dia sudah selesai mandi” ucap Qiandra dengan lembut lalu menutup panggilan telepon itu.
Asisten Vian masih menempelkan phonsel itu
ditelinganya, walaupun sambungan telepon itu sudah tertutup. “Haish, wanita seperti Qiandra ini, janda berapa kali pun aku tidak akan menolaknya” bisik hati asisten Vian yang masih
terpesona dengan suara sang nyonya mudanya itu.
Saat laki-laki muda itu sedang termangu,
tiba-tiba phonsel yang masih melekat di telinganya itu bergetar, membuat asisten Vian terkejut bukan main. Ketika dia melihat layar phonselnya ternyata Dean yang sedang menghubungi dirinya.
memikirkan istri bos, kalau ketahuan bisa disembelih aku” ucap asisten Vian saat menggeser tombol hijau di phonselnya.
“Ada apa Vian, apa ada masalah, Qiqi bilang
kamu ingin mengkonfirmasi tentang konsep acara, bukankah semuanya sudah fix” tanya suara di seberang sana pada asisten Vian.
“Maaf, Tuan, sebenarnya ini masalah wanita
itu” sahut asisten Vian saat menyadari bahwa yang berbicara dengannya memang Dean.
“Ada apa lagi dengan iblis itu, apa dia berbuat onar lagi” tanya Dean dengan sedikit gusar.
“Tidak, Tuan, justru sebaliknya, dia tadi
sepertinya menghubungi laki-laki itu, kami berhasil merekam pembicaraannya, memang sepertinya dia merencanakan sesuatu malam ini, tapi kami tidak tahu apa rencananya. Dan saat ini dia terlihat sedang sibuk menelisik setiap ruangan yang terhubung dengan ballroom utama” sahut asisten Vian sambil memperhatikan layar monitor yang terhubung dengan CCTV diballroom.
“Apa yang dilakukannya disana, dengan siapa
dia” tanya Dean lagi.
“Dia tidak melakukan apa-apa, Tuan, dia hanya
memperhatikan setiap ruangan seolah memastikan semuanya sudah tepat dan sesuai
saja. Dan dia juga seorang diri saja, para pelayan tidak ada satupun yang ada disekitarnya” ucap asisten Vian.
“Hmmm, baiklah, terus perhatikan dia, aku
yakin dia sedang menyusun sebuah rencana untuk mengacaukan acara nanti malam” ucap Dean lagi setelah dia mersa yakin bahwa memang tidak ada hal lain yang bisa dilaporkan oleh asisten Vian.
“Baik Tuan” sahut asisten Vian.
Sementara itu, Dean yang baru saja menutup
panggilan telepon dari asisten Vian, menatap wanita yang sedang mengeringkan
rambutnya di belakang punggungnya. “Bagaimana menurutmu, Honey” tanya Dean pada istrinya itu.
Ternyata selama menghubungi asisten Vian tadi, Dean sudah membuat phonselnya dalam mode loudspeaker, sehingga Qiandra bisa
mendengar langsung semua pembicaraan Dean dan asisten Vian.
Qiandra menarik nafas sejenak, “Love, apa
kalian punya ahli IT yang bisa mencari penyadap, kamera atau yang sejenisnya”
__ADS_1
tanya Qiandra pada Dean membuat kening laki-laki itu berkerut.
“Maksudmu apa, Honey” tanya Dean dengan nada bingung.
“Kalian punya atau tidak” tanya Qiandra lagi
tanpa memperdulikan kebingungan suaminya.
“Tentu saja kita punya, Honey, memangnya
kenapa” tanya Dean lagi.
“Jika begitu, perintahkan mereka untuk
menyisir setiap jejak Risty, aku rasa dia telah memasang sesuatu di setiap ruangan yang dimasukinya” sahut Qiandra dengan tenang.
“Astaga, kamu benar, Honey, mengapa tidak
terpikir olehku, jelas dia pasti memasang sesuatu. Aku akan menyuruh tim IT membersihkan semuanya” seru Dean yang baru menyadari akan apa yang dilakukan oleh Risty.
“Jangan” seru Qiandra, “Jangan dibersihkan”
lanjutnya lagi.
“Lho, jadi untuk apa mereka mencarinya jika
tidak untuk dibersihkan, Honey” tanya Dean kembali dengan rasa heran.
“Mereka cukup menemukannya dan meretasnya, bersikaplah dengan normal, seolah kita memang tidak tahu apa-apa” sahut
Qiandra.
“Tapi dengan begitu berarti kita membiarkan
mereka melakukan rencana jahatnya itu, Honey” sahut Dean, “Aku tidak akan
membiarkan mereka merusak acara kita” lanjut laki-laki itu lagi.
“Love, jika mereka tahu kita telah mengetahui
rencana mereka maka mereka akan segera mengubah rencananya. Jadi, kita ikuti saja apapun rencana mereka, bukankah akan jauh lebih mudah bagi kita untuk menghadapi musuh saat kita mengetahui rencananya” ucap Qiandra sambil memijit dengan lembut kepala
suaminya.
Dean terdiam mendengar rencana Qiandra, dalam hati dia mengakui kebenaran kata-kata istrinya itu. Namun, Dean masih sangat sulit menerima kenyataan bahwa dia sudah mengetahui rencana jahat orang dan membiarkannya terjadi di depan matanya. Apalagi jika hal itu menyangkut keselamatan Qiandra, sungguh Dean merasa berat menerima
saran Qiandra itu.
“Tapo, Honey, aku sungguh tidak rela jika
mereka menyakitimu lagi, baik dengan mempermalukan dirimu maupun dengan
menyakiti fisik dan psikismu” ucap Dean dengan rasa khawatir yang tidak bisa
disembunyikannya lagi.
“Love, harus berapa kali aku menjelaskan
padamu dan memintamu untuk mempercayaiku. Percayalah, aku bisa menghadapi semua ini, aku sudah meletakkan semua kepercayaanku padamu, jadi kuharap kamu juga percaya padaku” ucap Qiandra
sambil menatap mata sang suami melalui pantulan cermin hias di hadapan keduanya.
“Honey, bukan aku tidak mempercayai dirimu,
aku sangat, sangat percaya padamu. Tetapi sebagai suamimu, aku sungguh tidak rela membiarkanmu menghadapi bahaya yang sebenarnya bisa aku hancurkan sebelum menyentuh dirimu” ucap Dean dengan bersungguh-sungguh. Dean menggenggam jemari Qiandra yang sedang memijat bahunya.
“Terima kasih atas kepedulianmu, Love, tapi
kita tidak akan bisa menyelesaikan semua masalah ini jika kita terus menghindar
dan menghindar. Ayo kita hadapi dan kita
selesaikan semua ini bersama-sama, aku sangat yakin kita pasti berhasil” ucap Qiandra berusaha meyakinkan sang suami.
“Hah, baiklah, Honey, aku akan mengikuti semua rencanamu, semoga saja semua ini bisa berjalan dengan baik dan benar-benar bisa
menyelesaikan semua kemelut dalam keluarga Zacharias. Terima kasih mau melibatkan dirimu dalam masalah ini, Honey” ucap Dean sambil meraih jemari Qiandra dan mengecupnya dengan lembut.
“Terima kasih mau mempercayai rencanaku, Love, dan satu hal lagi, tolong perlengkapi diri kita berdua dengan alat pendeteksi
suara dan lokasi, minta tim IT untuk memasangnya pada pakaian yang akan kita
gunakan” ucap Qiandra yang membuat kening Dean kembali berkerut.
“Untuk apa, Honey, penjagaan akan dilakukan
dengan super ketat, jadi kita tidak memerlukan semua peralatan itu. Semua pasukan sudah dikerahkan untuk siaga penuh, kamu tidak perlu khawatir” sahut Dean lagi.
“Love, tolonglah, bukan hal yang sulit kan untuk menyiapkan semua itu. Bukan aku tidak percaya dengan pasukanmu, tapi setidaknya dengan semua alat itu, kita bisa tetap saling berkomonikasi sekalipun kita berada di tempat yang terpisah” ucap Qiandra.
Kata-kata Qiandra benar-bear membuat Dean
kembali berpikir untuk mengikuti rencana wanita itu. Karena Dean merasa kalau sepertinya Qiandra sudah bisa membaca tentang apa yang akan terjadi dalam acara pesta nanti malam.
Tanpa diketahui oleh Dean, Qiandra berusaha
__ADS_1
mati-matian untuk terlihat tetap tenang dihadapan suaminya itu. Padahal dalam hatinya, Qiandra sendiri merasa khawatir dan takut terhadap bahaya yang akan mengincar dirinya dan sang suami. Namun, Qiandra tahu kalau dia harus meyakinkan Dean, agar presidir tampan itu mau mengikuti rencananya.