PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS EMPAT PULUH ENAM


__ADS_3

Charles tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, “Tidak, Sayang, bukan itu masalahnya, aku justru merasa sangat bahagia melihatmu bisa menemukan cintamu lagi. Kita berbeda alam, dan sangat membahagiakan bagiku melihatmu bisa menjalani hidupmu dengan bahagia, dan memang aku sangat mengharapkan hal itu” ucap Charles dengan lembut.


“Jadi, kembalilah ke duniamu, Qi, disini aku akan selalu menjagamu dan aku akan mengembalikan anak kita padamu” lanjut Charles dengan lembut sambil menatap langsung manik mata Qiandra.


“Maafkan aku, Kak, aku memang mencintai Dean, kamu tahu itu.  Tapi aku juga tidak ingin menambah masalah dalam hidupnya dengan mencintai wanita pembawa sial sepertiku.  Dean bisa menemukan kebahagiaan lain dengan wanita lain, Kak, tapi bukan aku” ucap Qiandra dengan wajah sendu.


“Apa menurutmu dia bisa melupakan dirimu, Qi, hmmmm” tanya Charles dengan senyum lembut dan jemarinya membelai wajah Qiandra dengan penuh kasih.


Qiandra perlahan merobah posisi duduknya dan membaringkan tubuhnya serta meletakkan kepalanya di pangkuan Charles.  “Kak, dia punya segalanya, bukan hal yang sulit baginya untuk menemukan pengganti diriku. Apalah aku, Kak, aku hanya wanita pembawa sial bagi orang orang yang ku sayangi” desah Qiandra tanpa sadar dia merasakan nyeri di hatinya.


“Ha ha ha, hanya mengatakan dia menemukan penggantimu saja kamu sudah merasa sedih, Qi, dan apa kamu yakin dia bisa menemukan penggantimu dengan cepat setelah beberapa waktu yang dia lalui hanya untuk menemukan dirimu, lalu bagaimana kamu bisa berpikir dia akan mudah melupakan dirimu” tanya Charles lagi masih sambil membelai rambut panjang Qiandra. Charles tahu kalau hati wanita yang dicintainya itu sedang bersedih.


“Mana ada aku merasa sedih, dan lagi dia tidak bisa dan kesulitan mencari penggantiku karena aku masih ada di dunia yang sama dengannya, Kak, berbeda jika aku sudah berada di dunia yang berbeda dengannya, dia pasti akan segera menemukan penggantiku dengan mudah” sahut Qiandra dengan yakin walaupun masih tidak bisa memungkiri rasa sakit dalam hatinya.


Charles tersenyum saat menatap wajah wanita yang sangat dicintainya itu merengut sendu.  “Apa kamu yakin dia tidak akan seperti kamu setelah kehilangan aku, kamu butuh waktu bertahun tahun kan, Qi, lalu bagaimana dengannya, apa kamu tidak berpikir bahwa dia akan mengambil keputusan untuk memilih hidup sendiri setelah kehilangan dirimu, padahal kamu sendiri tahu kalau dia keturunan terakhir dari keluarga besarnya.  Jadi, apa kamu siap menjadi penyebab hilangnya suatu garis keluarga hanya karena kamu” tanya Charles lagi.


“Kak, jangan menakuti aku seperti itu, lagi pula kalaupun aku kembali, belum tentu aku bisa memberikannya keturunan, aku sudah kehilangan sekali dan aku takut sekarang pun aku akan kehilangan lagi” sahut Qiandra dengan sedih.


Charles menatap wanita itu dengan mata sendu, “ Aku sudah berjanji akan mengembalikan putra kita jika kamu benar benar siap, Qi.  Dulu aku memilih untuk mengambilnya darimu karena aku tidak ingin membuatmu kesulitan saat harus mengurusnya tanpa ada seseorang yang bisa membantumu dan terus berada di sisimu.  Tapi sekarang, kamu sudah memiliki dia yang akan selalu setia mendampingi dirimu, jadi tinggal kamu mempersiapkan dirimu saja” ucap Charles lagi.


“Tapi Kak …..” Qiandra kembali ingin menolak keinginan Charles, namun saat dia menatap wajah Charles, dia melihat lelaki itu bergerak semakin menjauh darinya, “Kak !!!!” seru Qiandra seraya berusaha meraih tubuh Charles tanpa melepaskan genggamannya pada jemari laki laki itu.


“Jalani harimu dengan bahagia, Qiqiku, disini aku akan selalu mendukungmu” ucap Charles yang semakin menajuh dari Qiandra.  Qiandra yang tidak ingin berpisah dengan Charles berusaha tetap menggenggam tangan laki laki itu dengan sekuat tenaga.  Hingga Qiandra bisa merasakan kehangatan mengalir di telapak tangannya dan sayup sayup dia mendengar suara yang sangat familiar memanggil dirinya.


“Qi, Qi, Honey, apa kamu mendengar aku, ku mohon bukalah matamu, Honey, ini aku, Dean, Honey” seru Dean sambil menepuk nepuk pipi Qiandra dengan penuh kasih.


Qiandra berusaha menatap wajah yang terus memanggil namanya itu.  Samar samar terlihat wajah seorang pria yang sangat tampan yang membuat hati Qiandra tiba tiba terasa hangat.  “Love, ….” desis Qiandra walau tidak terdengar jelas namun bisa ditangkap oleh telinga Dean.


“Iya, Honey, ini aku, ini aku, ku mohon kembalilah padaku, cintaku, aku mohon” desah Dean dengan air mata yang mulai menetes di sudut matanya.  Tangan Dean semakin erat menggenggam jemari Qiandra, sementara tangannya yang lain terus menepuk pipi Qiandra dengan lembut berusaha membangunkan wanita itu.


Qiandra perlahan membuka matanya dan mengumpulkan nyawanya yang terasa terserak ke berbagai arah.  Qiandra berusaha menyadarkan dirinya, dimana dia sekarang berada.  Karena sesaat lalu dia bisa merasakan kebahagiaan bersama dengan Charles dan anak mereka.  Tapi sekarang?, Qiandra tidak tahu apa yang dia rasakan, bahagiakah karena bisa kembali mendengar suara Dean laki laki yang sangat dicintainya.  Tapi, dia juga tidak memungkiri rasa sedih menelusup dalam hatinya saat dia kembali kehilangan Charles.

__ADS_1


Qiandra akhirnya perlahan membuka matanya, dan saat itu dia dapat melihat jelas wajah laki laki yang sudah berurai air mata.  Qiandra tersenyum lembut, tangannya yang tidak digenggam, perlahan terulur dan membelai wajah Dean dengan lembut, “Love, …" desis Qiandra lagi.


Dean tersenyum bahagia diantara deraian air matanya saat melihat Qiandra telah membuka matanya.  Dean segera menekan tombol yang ada di atas kepala Qiandra berulang kali.  Lalu dia meraih jemari Qiandra yang sedang membelai wajahnya.  Dean membawa kedua jemari Qiandra dan mengecupnya dengan lembut, “Terima kasih, terima kasih, Honey, terima kasih sudah mau kembali padaku” ucap Dean dengan sedikit terisak karena bahagia.


Tidak berapa lama, derap langkah terdengar di luar ruangan Qiandra.  Dan dalam sekejap mata, ruangan itu sudah dipenuhi oleh dokter Albert dan tim medis lainnya.  “Tunggu disana dulu, kami harus memastikan kondisi Qiqi” seru dokter Albert pada Dean, saat melihat laki laki itu tidak bergeming dari tempatnya.


Dean menatap dokter Albert dengan kesal, namun saat dia menatap Qiandra dan melihat wanita itu mengangguk lemah, Dean akhirnya pasrah.  “Aku akan kembali lagi, Honey” ucap Dean seraya mengecup lembut kening Qiandra, lalu dia berdiri dan melangkah menuju sofa yang ada di ruangan itu.


“Haish, lihatlah tingkah lelaki itu, Qi, dia benar benar seperti anak kecil yang diambil permennya” cicit Dokter Albert saat melihat wajah cemberut Dean ketika meninggalkan Qiandra.  “By the way, selamat datang kembali, Qi, aku bahagia karena kamu masih mau membuka matamu.  Karena aku benar benar merasa sedih jika aku tidak bisa melihat mata indahmu bersinar menghiasi wajah cantikmu” ucap dokter Albert, yang membuat Qiandra tersipu.


“Al, apa kamu sudah tidak sayang nyawamu” seru Dean yang bisa mendengar kata kata dokter Albert.


“Astaga, bagaimana bisa dia hanya duduk di situ, bukankah seharusnya dia menunggu di luar, dasar laki laki posesif” ucap dokter Albert dengan suara yang bisa didengar jelas oleh Dean.


“Al …..” seru Dean lagi.


Qiandra hanya bisa tersenyum mendengar celotehan dokter Albert yang memang selalu saja suka menggoda Dean.  Qiandra memang sudah terbiasa dengan sikap dan celotehan dokter Albert dan Dean.  Qiandra tahu kalau dokter Albert selalu ingin membuat suasana yang menyenangkan di sekitar Qiandra.  Dan Qiandra juga tidak bisa memungkiri kalau celotehan dokter tampan itu yang seringkali memancing emosi Dean, selalu mampu membuat Qiandra tersenyum.


Setelah semua tim medis itu keluar, dokter Albert memberikan kode pada Dean untuk mendekat.  Saat Dean sudah mendekat, barulah dokter Albert mulai berbicara.  “Aku tidak ingin menyembunyikan apapun dari kalian berdua, karena semua ini harus kalian berdua ketahui dan hanya dengan saling mendukung untuk bisa melewati masa ini” ucap Dokter Albert pada pasangan suami istri itu.


“Ada apa, Al” tanya Dean dengan wajah khawatir.


“Secara umum kondisi Qiandra sudah membaik, hanya saja keadaan kandungannya sangat lemah.  Qiandra harus tetap menjalani bed rest beberapa waktu ke depan, tentu harus dengan pikiran yang tenang dan menghindari stress serta beban pikiran yang berat” sahut dokter Albert.


“Lalu, apa masalahnya” tanya Dean lagi.


Dokter Albert mendesah dengan sedikit kesal, “Tahukah kamu kalau sedikit saja Qiqi merasa stress, maka kalian kemungkinan besar akan kehilangan bayi ini” desisnya dengan sedikit gusar pada Dean.


“Maka aku akan menjaganya, tidak akan aku biarkan dia memikirkan masalah yang berat apalagi sampai stress” ucap Dean dengan yakin.


“Haish, aku hanya berharap semoga saja kamu bisa melakukannya, karena aku justru lebih khawatir kalau kamu sendiri yang menjadi penyebab Qiqi menjadi stress, hingga aku berpikir ingin menjauhkan dirimu darinya” sungut dokter Albert.

__ADS_1


“Hei, apa maksudmu, mana mungkin aku membuat dia menderita seperti itu, apa kamu pikir tanpa aku kamu bisa menjaganya dengan lebih baik” seru Dean dengan gusar dan sedikit posesif.


“Astaga, Bro, baru saja aku bilang kalau kita harus beri suasana menyenangkan untuk Qiqi, kamu sudah berteriak di dekatnya karena keposesifanmu itu” desis dokter Albert dengan mata mendelik.  “Ya, sudah, sekarang bisakah kamu keluar dan biarkan keluarganya lagi menjenguk Qiqi” lanjut dokter Albert menyerah untuk berdebat dengan Dean.


“Qiqi sudah sadar dan baik baik saja, jadi aku akan tetap berada disini untuk menjaganya, persilahkan saja mereka masuk” ucap Dean yang memang tidak mau bergerak sedetik pun menjauh dari Qiandra.


“Love, ….” ucap Qiandra dengan lembut berusaha memberi laki laki itu pengertian.


“Qi, Honey, ku mohon kamu jangan mengusirku, kamu tahu bagaimana menderitanya aku terpisah darimu” bisik Dean yang paham maksud sang istri.


“Hah, sudahlah, Qi, kamu tahu watak laki laki ini, heran aku bagaimana kamu bisa jatuh cinta pada laki laki seperti ini” desis dokter Albert seraya melangkah meninggalkan ruangan itu.


Dean tidak memperdulikan kata kata dokter Albert, dia bahkan tidak menoleh saat mendengar sahabatnya itu sudah meninggalkan ruangan itu.  “Honey, tahukan kamu kalau aku merasa baru saja mendapatkan nyawaku kembali saat kamu membuka mata.  Sungguh, semuanya terasa hampa saat aku kehilangan dirimu, apalagi saat aku menemukanmu dan kamu lebih memilih menutup matamu, itu, sangat sangat menyakitkan” desis Dean di telinga Qiandra.


Qiandra mengulurkan tangannya dan mengelus rahang laki laki itu yang terlihat sedikit menghitam karena di penuhi bulu bulu halus yang sepertinya tidak pernah dicukur sama sekali.  “Terima kasih sudah menemukan kami, Love, terima kasih tetap setia menunggu kami, dan maafkan aku untuk semua yang telah terjadi, terutama tentang Dad ….”


“No, semua bukan kesalahanmu, justru keteledoran kami yang menyebabkan semuanya kacau, aku justru berterima kasih karena kamu telah menyelamatkan nyawaku, Honey, walaupun aku benar benar tidak mengijinkanmu lagi melakukan hal itu.  Percuma kamu menyelamatkan nyawaku jika itu membuat aku harus kehilangan dirimu, karena kehilangan dirimu jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan nyawaku” potong Dean dengan tegas.


Qiandra kembali tersenyum saat merasakan bibir Dean kembali mengecup keningnya dan menyalurkan rasa hangat di hatinya.  Namun sayangnya ciuman itu tidak bisa hanya berhenti di kening Qiandra saja melainkan perlahan turun menuju mata dan terus ke arah bibir Qiandra.  Kerinduan yang begitu dalam seolah berusaha mereka leburkan dengan saling berbagi saliva, sampai sebuah suara berhasil membuat seorang Dean Walt Zacharias mengumpat kesal.


“Oh astaga, aku baru saja meninggalkan tempat ini dan lihatlah sekarang kamu sudah mulai mengganggu pasienku, benar benar pengunjung yang harus dideportasi manusia seperti kamu ini” seru dokter Albert yang terkejut melihat adegan di ranjang pasien VIP nya itu.


“Damn !!!, bisakah kamu mengetuk pintu dahulu, dasar manusia tidak punya sopan santun” seru Dean dengan suara tertahan tanpa berbalik memandang ke arah sumber suara itu.  Karena Dean sudah tahu, kalau suara itu adalah suara yang berasal dari sahabatnya yang paling cerewet.


Namun, Dean terkejut saat melihat Qiandra tersenyum hangat kearah belakang punggungnya.  Awalnya Dean ingin menegur Qiandra agar tidak memberikan senyuman hangat pada dokter Albert, namun dia sedikit tertegun saat melihat siapa yang berdiri di belakangnya saat itu.


“I Ibu ….”desis Dean dengan sedikit salah tingkah persis seperti seorang anak SMA yang kedapatan sedang berciuman di belakang kelasnya.


Bik Sum hanya tersenyum lembut kepada Dean, selanjutnya dia melangkah mendekati Qiandra dan diikuti oleh Jossie.  Dean akhirnya memberikan tempatnya untuk Bik Sum, lalu dia melangkah mendekati dokter Albert yang terlihat sedang berusaha mati matian menahan tawanya.


“Jika kamu ingin tertawa, tertawa saja, dasar sahabat tidak berahlak” desis Dean yang kesal melihat wajah dokter Albert yang memerah menahan tawanya.

__ADS_1


“Ah, aku hanya ingin tahu bagaimana rasanya berhasil mengatai mertua sendiri. Aku bebar benar bisa membayangkannya saat melihat wajahmu” cicit dokter Albert yang sukses membuat kedua bola mata Dean melotot sebal ke arahnya.


__ADS_2