PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS TIGA


__ADS_3

Tidak berselang lama, seorang  pemuda berdiri dengan tegap dan segera berlutut di hadapan Dean, “Hormat saya yang mulia, mohon ijin Anda, yang mulia Qiandra akan segera keluar” ucapnya dengan wajah menunduk di hadapan Dean.


“Bawa istriku kesini” sahut Dean dengan tegas.


“Baik yang mulia” sahut pemuda itu, lalu dia berdiri dan masih dalam posisi membungkuk melangkah mundur.  Kemudian dia berdiri tegap, “Yang Mulian Qiandra segera memasuki ruangan” serunya.


Suasana hening membuat suara langkah


beberapa orang yang sedang melangkah menuju ruangan itu terdengar jelas.  Wajah Dean berbinar seketika dan senyumnya


mengembang dengan sempurna, saat malihat wanita yang muncul di atas tangga itu.


Qiandra tampil dengan wajah yang sudah di


rias dengan sederhana namun terlihat sangat anggun.  Di kepalanya juga terlihat sebuah mahkota kecil melengkapi kecantikan wanita itu.  Gaun mewah nan indah yang dikenakan oleh Qiandra terlihatg melekat sempurna di tubuh indahnya.  Jubah kerajaan mewah yang ditempelkan di bahunya dan menutupi bahu putih Qiandra membuatnya terlihat seperti seorang ratu.


Dean segera mengulurkan tangannya kepada


Qiandra saat wanita cantik itu sudah mulai menuruni tangga dan mendekati dirinya.  Uluran tangan sang suami segera disambut oleh wanita cantik itu dengan lembut.  Dean mengecup lembut tangan sang istri, “Kamu sangat cantik sekali, seperti bidadari, Honey, aku rasa aku tidak akan membiarkan pesta ini


berlangsung terlalu lama” desis Dean pada sang istri.


“Terima kasih, Yang Mulia, Anda pun terlihat luar biasa” sahut Qiandra dengan suara lembut dan sopan, membuat Dean semakin merasa gemes dengan sikap istrinya itu.


Keduanya lalu melangkah dengan anggun dan


penuh wibawa melewati barisan pelayan dan para bodyguard yang semuanya menundukkan kepala.  Saat melewati dokter Albert, Dean mendengar suara laki-laki itu yang membuat Dean hampir saja lupa kalau dia sedang memakai pakaian kerajaannya.


“Haish, kalau sampai penjagaan lengah, aku


juga bisa ikut dalam komplotan penculik Qiqi, dia teramat sangat sempurna” desis dokter Albert yang memang sengaja diucapkan saat Dean melewati dirinya.


Dean hampir saja mengangkat tangannya dan


memukul sahabatnya itu, karena dia tidak menyangka kalau dokter Albert ternyata masih bisa bercanda dalam saat serius seperti ini.  Untung saja, tangan lembut sang istri yang


memegang lengan Dean sempat menyadarkan laki-laki itu, sehingga dia tidak jadi memukul sahabatnya itu.


Dean hanya bisa menatap sang sahabat dengan tajam, namun yang ditatap sedang dalam posisi menunduk sehingga tidak tahu


bagaimana wajah horor sang putra mahkota itu.  Akhirnya, untuk melampiaskan kekesalannya, Dean menginjak kaki sahabatnya itu dengan keras membuat sang pemiliki meringis menahan sakit.


Kedua pasang insan yang sedang berbahagia


itu terus melangkah menuju ke arah lift yang sudah dipersiapkan khusus untuk mereka berdua.  Saat hanya mereka berdua di dalam lift itu, tiba-tiba Dean berlutut di hadapan istrinya membuat Qiandra benar-benar terkejut.


“Love, apa-apaan sich, jangan seperti ini,


kita terlihat oleh para penjaga” ucap Qiandra dengan pelan, wanita ini menyadari kalau lift mereka dilengkapi dengan kamera CCTV dan para penjaga pasti sedang memperhatikan mereka.


“Honey, maafkan lah keadaan ini, seharusnya


tidak seperti ini, seharusnya kamu turun dari tangga mewah di mansion utama, dimana pesta kita dilaksanakan.  Tapi sekarang, kamu hanya keluar dari apartement ini saja, aku sungguh merasa bersalah padamu” ucap Dean sambil menatap wajah sang istri.


“Love, berdirilah, jangan merusak acara kita dengan hal seperti ini” ucap Qiandra dengan lembut lalu menarik tangan sang suami untuk berdiri.  “Bagiku ini sudah sangat luar biasa, dan yang terpenting bagiku adalah kamu ada dan berdiri di sampingku, tidak perduli bagaimana pun situasi dan kondisinya” lanjutnya lagi.


“Terima kasih, Honey” ucap Dean saat dia


telah berdiri tegak disamping sang istri.  Dan saat Dean sudah berdiri tegak, bertepatan dengan pintu lift terbuka.


Sebuah mobil mewah sudah menunggu kehadiran keduanya, dengan barisan iring-iringan mobil mewah para bodyguard di bagian


depan dan belakangnya.  Disisi tempat


mengemudi sudah terlihat dokter Albert yang berdiri dengan tegap namun kepalanya menunduk.


Para bodyguard dan pelayan wanita segera


membantu Dean dan Qiandra untuk masuk ke dalam mobil, karena pakaian kerajaan yang mereka gunakan sedikit menyulitkan keduanya untuk masuk ke dalam mobil.


Saat sudah berada dalam mobil, Dean segera menekan tombol untuk menaikkan pembatas

__ADS_1


dengan sopir.  Namun, tombol itu tidak


berfungsi, “Al…..” desis Dean, dia sangat yakin ini pasti perbuatan usil sang sahabat.


“Maafkan saya, Yang Mulia, saya hanya


melaksanakan perintah, untuk tidak membiarkan kecantikan sang permaisuri


dirusak saat dalam perjalanan menuju lokasi  pesta.  Karena kita tidak punya waktu lagi untuk memperbaikinya” ucap dokter Albert dengan senyum smirk


“Kamu…..” Dean hanya bisa menendang kursi


dokter Albert dengan kesal.


“Bagaimana menurut Anda, Yang Mulia Ratu,


apakah saya salah” tanya dokter Albert seraya mulai menjalankan mobilnya.


“Tidak salah, Kak Al” sahut Qiandra membuat


kedua laki-laki itu segera menoleh ke arahnya.  “Ups, maaf, agak susah juga mengubah cara memanggilku ini” lanjut Qiandra sambil menutup mulutnya saat dia menyadari kalau kedua pria itu memprotes caranya menyebut dokter Albert.


“Baiklah, ehm, silahkan lakukan sesuai


dengan prosedur yang seharusnya” ucap Qiandra kembali namun dengan tegas dan


anggun, membuat kedua pria itu segera tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala


mereka.


“Bagaimana keadaan di lokasi pesta” ucap


Dean membuka percakapan dengan dokter Albert.


“Sampai saat ini semuanya terlihat masih


kondusif, kondisi di lokasi pesta akan ditampilkan di monitor” sahut dokter Albert.  Dia menekan beberapa tombol dan sebuah monitor mini turun dari bagian atas mobil mewah itu.


Di layar itu, Qiandra dan Dean dapat melihat hampir ke seluruh bagian ruangan pesta, karena di layar monitor ditampilkan beberapa sisi ruangan pesta.  “Astaga, mengapa sebanyak ini undangan yang hadir” seru Qiandra yang begitu terkejut saat melihat ruangan tersebut sudah dipenuhi oleh para undangan dengan jumlah yang tidak sedikit.


Yang Mulia, seharusnya jumlahnya dua kali lipat dari yang ada sekarang” jelas dokter Albert.


“Daddy Walt yang sudah memverifikasi daftar


undangan, Honey, semua yang hadir hanya yang benar-benar harus hadir dan tidak bersama keluarga, melainkan hanya pasangan saja.  Oleh sebab itu, jumlahnya hanya seperti ini” Dean juga ikut menjelaskan untuk Qiandra.


“Bagiku, ini saja sudah sangat banyak, jadi


kalau sampai dua kali lipat ini, aku nggak bisa membayangkan… sebentar, bisakah di ulang sedikit monitor tiga” seru Qiandra tiba-tiba membuat Dean dan dokter Albert mengernyitkan kening.


Dokter Albert segera memberikan perintah


melalui alat komunikasi yang ada di telinganya.  Lalu di monitor segera terlihat fokus pada monitor tiga seperti yang diminta Qiandra.  Gambar di monitor terliahat bergerak mundur dengan perlahan, “Stop, tolong perbesar pada pria dengan jas putih yang membawa minuman itu” ucap Qiandra lagi.


Dokter Albert kembali mengulangi perintah


Qiandra melaluialat komonikasi walau


agak sedikit bingung dengan perintah Qiandra itu.  Qiandra terlihat menatap laki-laki itu dengan seksama, lalu dia mendesah sesaat dengan sedikit gurat gelisah di wajahnya.


“Ada apa, Honey” tanya Dean yang juga merasa heran melihat sikap Qiandra.


“Mereka sudah masuk, Love” desah Qiandra dengan sedikit nada ragu.


“Mereka .... mereka siapa maksudmu, Honey” tanya Dean lagi sedikit mendesak Qiandra karena rasa penasarannya.


“Orang Daniel” sahut Qiandra singkat.


“Jadi, maksudmu, pelayan laki-laki itu adalah salah satu orang laki-laki baji*gan itu” seru Dean dengan sedikit meninggikan suaranya.


Qiandra hanya mengangguk lemah, “Dia salah satu bodyguard Daniel, walaupun dia tidak terlalu sering bersama dengan Daniel, tapi sepengetahuanku, dia salah satu yang selalu ada dari jarak tertentu untuk menjaga Daniel” ucapnya dengan yakin.

__ADS_1


“Sniper maksudmu” tanya Dean lagi untuk memastikan.


“Entahlah, aku tidak tahu apa namanya, yang aku tahu asisten Dika mengatakan bahwa itu salah satu bodyguard bayangan Daniel, aku pernah menanyakannya karena aku heran melihat keberadaan laki-laki itu yang seolah mengintai Daniel” Qiandra menjawab dengan


sedikit penjelasan agar Dean tidak salah sangka.


“Al, suruh Vian segera memeriksa semua pelayan, terkhusus laki-laki itu” ucap Dean dengan cepat dan tegas saat mendengar penjelasan Qiandra.


“Ingat jangan lakukan apapun, Kak Al, cukup perhatikan saja gerak gerik mereka, agar kita bisa mengetahui arah gerakan mereka” Qiandra mengingatkan pada dokter Albert.


“Honey....” protes Dean karena mendengar Qiandra memanggil dokter Albert dengan sebutan kak.


“Haish, maaf, maaf, benar-benar sulit ternyata” ucap Qiandra sambil menepuk dahinya saat menyadari kesalahannya.


“Gawat” desis dokter Albert dengan wajah cemas tanpa merespon pembicaraan kedua orang di belakangnya.


“Ada apa, Al” tanya Dean yang bisa mendengar jelas suara sahabatnya itu.


“Ular itu memang telah memasukkan beberapa orang pelayan baru, kepala pelayan belum sempat melaporkan pada Vian karena mereka masuk saat para tamu sudah memenuhi ruangan.  Kepala pelayan tidak bisa menolak karena ular itu sendiri yang langsung memerintahkannya” ucap dokter Albert dengan gusar.


“Honey....” Dean menatap ke arah Qiandra yang terlihat sedang berpikir keras.


“Bisakah kamera memilih dan menunjukkan dimana posisi para pelayan itu, aku ingin melihat mereka” ucap Qiandra tanpa menghiraukan tatapan cemas dari suaminya.


“Bisa saja, tapi itu memerlukan waktu yang lebih lama, dan sekarang kita sudah hampir tiba, tentunya tidak akan baik jika kita bertahan dalam mobil sementara penyambutan sudah


siap” sahut dokter Albert.


Qiandra menghembuskan nafas berat, “Baiklah, kalau begitu tolong kalian perhatikan saja, aku yakin ada Daniel diantara mereka” sahut Qiandra.


Dean menggenggam tangan istrinya dengan erat, ada cemas yang terlihat jelas di mata Qiandra, “Honey, jika kamu ragu kita bisa membatalkan semuanya saat ini juga” ucapnya sambil menatap wajah sang istri.


“Tidak, tidak, jangan lakukan hal bodoh seperti itu, Love, kita tidak hanya akan mempermalukan diri kita sendiri, tapi juga seluruh keluarga besar Zacharias” sahut Qiandra dengan cepat.


“Aku tidak perduli, Qi, bagaimana aku bisa meneruskan semua ini saat bahaya benar-benar sudah ada di hadapan kita dan mengancam keselamatanmu” ucap Dean dengan panik.


“Dean, tolong fokus, kita tahu semua ini pasti terjadi, tolong jangan kacaukan” ucap Qiandra dengan suara tegas membuat Dean seketika terdiam.  Sementara dokter Albert tak bisa berkata-kata lagi, baru kali ini dia mendengar ada orang yang berbicara dengan nada tegas seperti memberi perintah kepada seorang Dean Walt Zacharias.


Seandainya tidak dalam keadaan seperti ini, maka dokter Albert pasti akan tertawa terbahak-bahak.  Namun kali ini dia sadar bahwa hanya Qiandra yang bisa bersikap tegas pada Dean dan tidak di tolak oleh presidir tampan itu.


“Maaf, Yang Mulia, kita sudah sampai” ucap Dokter Albert memecah keheningan yang sempat tercipta dalam mobil mewah itu.


“Love, maafkan aku, dan kumohon, tetaplah percaya padaku” ucap Qiandra sambil mencium tangan suaminya dengan tulus sesaat sebelum pintu mobil mewah itu dibuka.


Dean tidak sempat membalas ucapan sang istri, karena pintu mobil sudah terbuka.  Laki-laki tampan itu hanya bisa mendesah menahan


rasa kesal sekaligus rasa khawatir terhadap sikap istrinya itu.  Namun, saat Dean keluar dari dalam mobil mewah itu, senyum paling tampan terlihat diwajahnya walaupun hatinya dipenuhi


dengan kegelisahan.


Demikian pula Qiandra, dia tersenyum ramah pada semua orang yang sudah berjajar dengan rapi di sebelah kiri dan kanan karpet merah yang dibentangkan dari mobil mereka hingga masuk ke dalam ballroom.  Para tamu udangan


menyambut kehadiran keduanya dengan sorak sorai yang bergemuruh.  Taburan bunga di sepanjang jalan yang dilalui oleh Dean dan Qiandra diberikan oleh para brides maid.


Qiandra dan Dean melangkah dengan perlahan tangan Qiandra terlihat menggenggam erat lengan kekar sang suami.  Mereka terlihat benar-benar sangat berbahagia, dengan senyuman secerah mentari yang menghiasi wajah keduanya.


Tidak ada orang yang tahu kalau senyuman itu berusaha menyembunyikan kegelisahan dan kekhawatiran mereka.  Hanya orang-orang tertentu saja yang tahu kalau kedua orang ini sedang melangkah memasuki perangkap yang dibuat untuk mencelakai mereka.


Di ujung karpet merah itu terlihat daddy Walt dan Risty berdiri dengan tegap menanti kehadiran kedua orang yang sedang berbahagia ini.  Saat melihat Risty secara langsung, tanpa sadar Qiandra menggenggam lengan sang suami dengan lebih erat.


Dean yang merasakan pegangan tangan sang istri terasa lebih erat segera menggenggam jemari Qiandra.  Dia bahkan memberikan tepukan lembut yang tidak terlihat oleh orang lain, untuk menenangkan sang istri.  Sikap Dean ini bagi orang lain terlihat sangat mesra, karena laki-laki tampan itu tidak melepaskan genggaman tangannya dari jemari sang istri.


Dean dan Qiandra berhenti tepat saat mereka tiba dihadapan daddy Walt dan Risty.  Dean segera menunduk dihadapan daddy Walt,


“Terima kasih, Dad, karena sudah bersedia menjadi Tuan Rumah dalam acara ini”


ucapnya tanpa menghiraukan Risty yang berdiri di samping daddy Walt.


“Sudah menjadi kewajibanku, Nak, dan hari ini adalah hari yang sangat berbahagia bagiku dan


bagi sang ratu, aku yakin di sorga dia sedang tersenyum menatap kebahagian putra kesayangannya saat ini” sahut daddy Walt dengan senyum bijaksana.

__ADS_1


Daddy Walt sengaja menyebutkan mendiang ibu Dean dan tidak menyinggung keberadaan Risty.  Laki-laki paruh baya itu sangat tahu


bagaimana kebencian sang putra pada istrinya itu.  Karena itu dia tidak ingin merusak perasaan Dean dengan menyebut atau hanya menyinggung kehadiran Risty.


__ADS_2