PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS ENAM PULUH DELAPAN


__ADS_3

“Tapi, kamu sendiri sejak kapan mengenal ibu dan keluarganya, kalian terlihat cukup akrab” tanya Dean lagi.


Pertanyaan Dean membuat Qiandra tersenyum seraya mengingat masa lalunya, “Aku mengenal mereka sejak aku masih kecil, Love, dan aku memang sangat akrab dengan ketiga putra putri Ibu, karena memang kami tumbuh dan besar bersama di lingkungan panti” ucap Qiandra.


Namun, tiba tiba wajah Qiandra berubah pucat dan tubuhnya sedikit bergetar, entah mengapa dia merasakan sebuah ingatan yang begitu menakutkan.  Tiba tiba Qiandra merasakan sebuah ketakutan akan ditinggal sendirian, sehingga tangannya memegang tangan Dean dengan erat.


Dean terkejut dengan perubahan tiba tiba dari sang istri, “Honey, ada apa, apa ada yang sakit, mengapa tubuhmu bergetar dan wajahmu menjadi pucat” tanya Dean dengan sedikit panik.


Qiandra hanya berdiam diri, wanita itu bahkan menutup matanya dan berusaha menggelengkan kepalanya beberapa kali.  Qiandra berusaha menepis rasa takut yang tiba tiba saja menyergap dirinya, Qiandra sendiri bahkan tidak tahu apa yang dia takutkan.  Dia hanya merasa tidak mau ditinggal sendirian dan itu benar benar membuatnya ketakutan.


Dean meraih ponselnya yang ada di atas nakas dekat tempat mereka duduk, “Al, segera kesini, cepat” serunya saat panggilannya tersambung.  Dan belum sempat ada jawaban, Dean sudah memutuskan panggilannya karena dia harus segera membaringkan tubuh Qiandra yang semakin melemah.


Tidak berapa lama terdengar ketukan di pintu kamar mereka, “Masuk” seru Dean yang tidak mau meninggalkan Qiandra walau hanya sesaat.  Terlihat dokter Albert masuk masih dengan jubah dokternya, kepanikan terlihat jelas di wajah dokter tampan itu.


“Apa yang terjadi” serunya pada Dean seraya bergerak mendekati Qiandra dan langsung meraba nadi wanita itu.


“Aku tidak tahu, semuanya baik baik saja tadi, sampai aku menanyakan kapan dia mengenal Bu Sum, Qiqi masih bisa bercerita dengan santai, entah mengapa tiba tiba wajahnya memucat dan tubuhnya mulai bergetar seperti sedang ketakutan.  Dan saat aku menghubungimu tadi, tubuhnya terlihat semakin lemah dan berkeringat dingin” ucap Dean menceritakan keadaan Qiandra.


Dokter Albert memeriksa keadaan Qiandra dengan hati hati.  Sementara wanita itu masih belum mampu membuka matanya dan keringat dingin terlihat mengucur di pelipisnya.  Kening dokter Albert mengernyit dalam saat mendapati kondisi fisik Qiandra tidak bermasalah.  Tanpa berkata kata lagi, dokter tampan itu langsung meraih phonselnya dan menelepon seseorang.


“Segera ke mansion Dean, Nyonya Muda sepertinya kembali mengalami trauma” seru dokter Albert yang ternyata menghubungi dokter Tirta, dokter yang khusus menangani traumatik Qiandra.


“Trauma?” desis Dean dengan kening mengernyit, “Bagaimana kamu bisa mengatakan dia mengalami trauma, sementra dia sedang aman bersama denganku, apa yang bisa memicu traumanya” seru Dean dengan rasa heran yang begitu besar.


“Aku juga tidak mengerti, tapi dari gejala yang diperlihatkan Qiqi saat ini, sama persis dengan keadaan saat dia mengalami trauma dulu.  Entah apa yang menjadi pemicunya kali ini, hanya dokter Tirta yang bisa memahaminya” sahut dokter Albert.


“Lalu, apa yang harus kita lakukan sekarang” tanya Dean dengan rasa khawatir yang begitu besar.


“Teruslah berbisik di telinganya, berusahalah menembus alam bawah sadarnya dan yakinkan bahwa dia tidak sendiri, kamu ada disini bersama dengannya” ucap dokter Albert.


Tanpa menunggu lagi, Dean kembali merengkuh tubuh lemah Qiandra dan terus memanggil wanita itu dengan lembut berbisik di telinganya.  “Qiqi, Honey, kamu dengar aku, kembalilah sayang, buka matamu, aku disini, Dean, your love, selalu ada di sini.  Kamu tidak sendiri, dan kamu tidak akan pernah sendiri, karena aku tidak akan meninggalkanmu” bisik Dean terus menerus di telinga Qiandra.


Beberapa saat kemudian, dokter Tirta datang dan langsung disambut oleh dokter Albert.  Dokter Albert juga memberi penjelasan sama persis seperti yang diampaikan oleh Dean kepadanya.  Dokter Tirta mengangguk memamahami penjelasan singkat dokter Albert.

__ADS_1


Dokter Tirta segera mendekati Qiqndra yang masih dalam pelukan Dean, “Maafkan saya, Tuan Muda, bisakah saya meminta sedikit ruang” ucap dokter Tirta pada Dean.


Dean hanya mengangguk sekilas, lalu perlahan mengurai pelukannya pada tubuh Qiandra.  Namun tiba tiba tangan Qiandra menahan tangan Dean dengan kuat.  “Tidak, tidak, jangan tinggalkan aku, Kak, ku mohon jangan tinggalkan aku” ucap Qiandra dengan kening berkerut dan keringat dingin yang semakin deras mengalir di dahinya.


“Kak?” desis Dean, setahu Dean satu satunya orang di masa lalu Qiandra yang dipanggilnya kak hanyalah mantan suaminya, Charles.  Tanpa sadar muncul sebuah tanda tanya di hati Dean, “Apa Charles pernah meninggalkan Qiandra dalam keadaan begitu ketakutan dan tertekan”  bisik hati Dean.


Berbeda dengan dokter Tirta yang mengamati sikap Qiandra, “Siapa yang kamu panggil adik kecil” ucap dokter Tirta dengan suara berat dan dalam, membuat Dean juga dokter Albert terkejut.  “Bagaimana bisa dokter Tirta memanggil Qiandra adik kecil” desis hati kedua laki laki itu.


Namun keduanya tidak berkomentar melainkan membiarkan dokter Tirta meneruskan kata katanya, “Jika kamu tidak ingin ditinggalkan, maka katakan siapa yang kamu inginkan berada di dekatmu saat ini adik kecil” tanya dokter Tirta lagi.


Qiandra terlihat menggelengkan kepalanya perlahan, lalu dengan bibir bergetar dia berdesis, “Kak …. Kak Dika, ku mohon jangan pergi jangan tinggalkan Feli sendiri” membuat Dean dan dokter Albert seketika membeku.


Dokter Tirta yang melihat reaksi Dean dan dokter Albert yakin ada sesuatu yang diketahui oleh kedua laki laki itu.  Oleh sebab itu dia tidak bertanya lagi pada Qiandra melainkan berusaha menenangkan wanita itu.  “Adik kecil, kamu dengar suara ini, ikutilah suara ini maka kamu akan bertemu kakakmu” ucap dokter Tirta yang berusaha mengembalikan kesadaran Qiandra.


Dokter Tirta memukul sebuah alat yang menimbulkan bunyi berdenting dengan irama yang beraturan.  Perlahan dia memukul benda itu, “Adik Kecil, jika kamu tidak ingin ditinggalkan, ayo ikuti suara ini, agar kamu tidak tertinggal” ucap dokter Tirta lagi.


Qiandra tampak mengernyitkan keningnya namun terlihat kepalanya mengangguk dengan samar seolah ragu ragu.  Saat wajah Qiandra terlihat mulai tenang, dokter Tirta memberikan kode kepada Dean untuk memanggil nama istrinya sambil menepuk lembut pipi wanita hamil itu.


“Qi, Qi, Honey, kamu dengar aku, bukalah matamu sayang, hmmmm, bukalah sebentar dan lihatlah aku disini” ucap Dean dengan wajah khawatir namun seulas senyum perlahan terbit dibibirnya saat melihat mata Qiandra yang terpejam mulai bergerak.


“Ada apa, Honey” tanya Dean yang melihat wajah Qiandra seperti sedang kesakitan.


“Kepalaku, Love, kenapa kepalaku terasa berat dan sakit sekali” desis Qiandra sambil memegang kepalanya.


Walaupun merasa khawatir, namun ketiga orang laki laki yang menatap Qiandra dengan lekat saat ini bisa bernafas lega karena wanita itu sudah menyadari keberadaan dirinya.  Dean menyentuh kening sang istri dan memberikan pijatan lembut untuk menenangkan Qiandra.


“It’s okey, Honey, kamu hanya sedikit kelelahan, sebentar juga pasti akan hilang” ucap Dean dengan penuh kasih pada sang istri.


Qiandra yang perlahan merasa sakit di kepalanya sedikit berkurang, akhirnya membuka matanya, “Astaga, Love, apa yang terjadi, mengapa ada Kak Al dan Dokter Tirta” tanya Qiandra yang cukup terkejut saat melihat keberadaan dua orang laki laki lain dalam kamarnya itu.


“Kami hanya memeriksa keadaan Anda saja, Nyonya Muda, Tuan Dean sempat khawatir karena Anda terlihat sangat kesakitan” ucap dokter Tirta seraya melirik Dean dan dokter Albert agar mereka tidak membuka dulu apa yang telah diucapkan Qiandra tadi.


Dokter Albert yang mengerti kode dari dokter Tirta segera memberi penjelasan saat melihat kening Qiandra yang sedikit mengerucut.  “Ish, jangan heran kalau sampai ada dua dokter disini, Qi, kamu tahu bagaimana tingkah suami posesifmu ini, kalau kamu sedikit saja kesakitan maka semua dokter yang dikenalnya pasti akan dipanggilnya” ucap dokter Albert.

__ADS_1


Dokter Albert tahu kalau Qiandra tidak akan menerima penjelasan dokter Tirta begitu saja.  Karena kalau hanya sakit biasa maka tidak mungkin sampai dokter Tirta ikut serta, biasanya cukup dokter Albert saja.


“Maafkan aku, Honey, aku benar benar mencemaskan keadaanmu tadi, aku hanya refleks saja memanggil dokter Tirta” ucap Dean yang seolah membenarkan ucapan dokter Albert


“Oh begitu ya, tidak masalah, Love, hanya kasihan dokter Tirta, kita jadi merepotkan beliau” ucap Qiandra.  Sebenarnya hati Qiandra semakin dipenuhi tanda tanya saat melihat sikap ketiga laki laki itu.  Qiandra yakin pasti ada sesuatu yang mereka bertiga sembunyikan, namun dia juga mengerti kalau mereka pasti punya tujuan saat kompak berpura pura begitu.


Hal yang sangat aneh bagi Qiandra saat mendengar sang suami, Dean, bisa langsung setuju dengan kata kata dari dokter Albert.  Apalagi saat kata kata dokter Albert yang terkesan mengejek Dean, jika dalam keadaan biasa, Qiandra tahu Dean pasti akan mendelik marah dan membalas kata kata dokter Albert itu.


Dean yang terus menatap wajah Qiandra menyadari kalau wanita itu merasa tidak puas dengan jawaban mereka.  Presidir tampan itu juga mengerti kalau dia telah sedikit ‘salah’ bersikap menanggapi ucapan dokter  Albert.  “Sudahlah, Honey, jangan terlalu dipikirkan, yang penting sekarang kamu sudah sehat dan baik baik saja.  Apakah sekarang ada sesuatu yang kamu inginkan, hmmm” tanya Dean berusaha mengalihkan pembicaraannya.


Belum sempat Qiandra menjawab, tiba tiba sebuah suara terdengar dari perut wanita itu, membuat wajah Qiandra seketika memerah menahan malu.  “Ha ha ha, ternyata anak Daddy lebih jujur dari mommynya, sekarang apa boleh Daddy tahu apa yang diinginkan anak Daddy untuk sarapan paginya, hmmm” kekeh Dean saat mendengar bunyi yang bersumber dari perut sang istri.


Dean bahkan tidak segan segan langsung membelai dan mencium perut sang istri yang masih rata itu.  Tindakan Dean yang mengabaikan kehadiran dokter Tirta dan dokter Albert, lagi lagi membuat Qiandra semakin malu “Ish, Love, sudahlah jangan membuatku semakin tidak punya muka di hadapan kak Al dan dokter Tirta”ucap Qiandra yang benar benar merasa sangat malu.


“Tidak usah malu dengan sikap laki laki itu, Qi, atau kalau memang dia malu maluin, kamu bisa ganti kok, banyak yang ready” celetuk dokter Albert yang sontak membuat Dean mendelik ke arahnya.  “Ah, sebaiknya kita segera keluar dok, aku merasa ada hawa jelous di dalam ruangan ini, mungkin juga ketakutan kalau pesonaku ini akan lebih kuat darinya” lanjut dokter Albert lagi.  Tanpa menunggu jawaban Dean dan Qiandra, dokter Albert langsung menarik tangan dokter Tirta.


Dokter Tirta yang cukup terkejut karena ditarik oleh dokter Albert, akhirnya hanya bisa memalingkan wajahnya seraya sedikit menunduk ke arah Dean dan Qiandra.  “Saya permisi dulu, Nyonya Muda, Tuan” seru dokter Tirta sesaat sebelum menghilang di balik pintu kamar Qiandra dan Dean.


Setelah kepergian dokter Albert dan dokter Tirta, keadaan sunyi kembali melingkupi ruangan itu.  Dean dan Qiandra seolah kompak bersama sama tenggelam dalam pikirannya masing masing.  Jika Qiandra sedang berusaha mempertimbangkan apakah dia akan bertanya lagi pada sang suami.  Berbeda dengan Dean yang berusaha mempersiapkan jawaban terbaik jika sang istri mengajukan pertanyaan untuknya.


“Hmmm, sekarang katakan padaku apa yang kamu inginkan untuk sarapanmu, Honey” ucap Dean pada akhirnya untuk memecahkan kesunyian yang sempat tercipta diantara keduanya.


“Love, ….”desis Qiandra yang sedikit ragu mengutarakan keinginannya.


“Aku hanya memintamu menyebutkan apa yang kamu ingin makan sekarang, Honey, jangan tanyakan hal lainnya, karena aku tidak akan menjawabnya saat ini, anakku jauh lebih memerlukan asupan gizi dibandingkan masalah lainnya” potong Dean yang memang belum bisa memberikan jawaban jika Qiandra mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.


Qiandra hanya bisa menghela nafasnya perlahan, ada sedikit kecewa di hatinya karena sang suami tidak terbuka padanya.  Namun, Qiandra tetap berusaha meyakinkan dirinya kalau semua itu dilakukan oleh sang suami dengan tujuan yang baik untuk dirinya.  Oleh sebab itu, akhirnya Qiandra memutuskan untuk mengalah dan tidak lagi mencoba bertanya pada Dean.


“Aku merasa sangat lapar, Love, bolehkah aku meminta agar pelayan segera mengantarkan saja menu apapun yang saat ini sudah mereka siapkan” tanya Qiandra yang memang tidak menginginkan apapun secara khusus saat ini.


“Ah, baiklah, tentu saja boleh, Honey, apapun yang kamu inginkan akan diantarkan segera” sahut Dean yang segera menekan interkom dan memerintahkan pelayan mengantar sarapan dengan menu lengkap ke kamar mereka.  “Maafkan Daddy, Nak, kamu jadi sempat kelaparan, sekarang kamu harus banyak makan ya, jangan biarkan mommymu menahan dirinya untuk menyantap semua hidangan yang akan diantar nanti” lanjutnya lagi serya membelai dan mencium perut datar sang istri.


Qiandra hanya tersenyum mendengar ucapan Dean, perlahan tangannya terulur dan membelai kepala laki laki tampan itu.  Walaupun hatinya dipenuhi dengan berbagai pertanyaan, namun Qiandra juga merasa sangat bahagia melihat ketulusan sang suami yang terlihat sangat mencintai dirinya.  Qiandra semakin yakin bahwa apapun yang sedang disembunyikan oleh Dean saat ini, pastilah bertujuan untuk kebaikan dirinya.

__ADS_1


Tidak lama berselang pintu kamar mereka diketuk dari luar, dan Dean segera membukanya dengan menggunakan remote control, sehingga dia tidak meninggalkan sang istri.  Berbagai menu sarapan sehat akhirnya tersaji dan siap untuk dinikmati oleh keduanya.


__ADS_2