PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
DUA PULUH DELAPAN


__ADS_3

“Bagaimana, Tuan, apa Anda akan membeli rumah itu” tanya asisten Vian pada Dean.


“Tentu saja, Vian, aku akan membeli rumah itu berapapun harganya, karena itu adalah rumah yang sangat disayangi oleh Qiqi, hanya saja  kita harus pastikan surat menyuratnya nanti benar-benar asli” sahut Dean.


“Kita bisa membawa notaris untuk memastikannya nanti pada saat kita sedang bertransaksi” ucap asisten Vian.


“Tapi sejujurnya, aku merasa penasaran dengan siapa yang menjual rumah itu, Vian” ucap Dean lagi.


“Maksud Tuan, apa?, bukannya Tuan sendiri yang melihat kalau Nona Qiandra sudah menanda tangani surat penyerahan rumah itu” tanya asisten Vian dengan kening berkerut.


“Benar, tapi, entahlah, firasatku mengatakan ada yang janggal disini” ucap Dean.


“Hmmm, kalau memang Tuan ragu, kita bisa membatalkanya, atau menunda dulu untuk menyelidikinya” sahut asisten Vian.


“Tidak, tidak, Vian, bukan itu maksudku, aku memang merasa aku harus membeli rumah ini, tapi, ah, …. entahlah.  Hubungi saja mereka sekarang dan katakan kita akan segera melakukan transaksi, kuharap kita bisa bertemu langsung dengan mereka dan melihat wajah mereka” sahut Dean.


“Dan bagaimana dengan harganya, Tuan, apakah Tuan sudah sepakat” tanya asisten Vian.


“Aku tak perduli dengan harganya, Vian, berapapun itu aku tetap akan membelinya” sahut Dean


“Baiklah, Tuan, saya akan menghubungi orang itu tadi” asisten Vian mengambil  phonselnya lalu kembali menghubungi orang yang sudah menawarkan rumah Qiandra.


“Ya, selamat siang” sapa asisten Vian.


“Siang Tuan, jadi bagaimana, apakah Anda berminat” tanya orang itu.


“Baiklah, kami akan membeli rumah itu” sahut asisten Vian.


“Dan bagaimana dengan harganya, Tuan” tanya orang itu lagi.


“Kami sepakat, besok kita akan melakukan transaksi, kita bertemu di café XX, pukul sepuluh pagi, dan kuminta tuanmu harus datang” jawab asisten Vian.


“Baik, terima kasih, Tuan, akan kami sampaikan pada Tuan kami nanti” sahut orang itu lagi.


“Baik, kalau begitu sampai bertemu besok” ucap asisten Vian lalu mengakhiri sambungan telepon itu.


Dean berdiri dan menatap keluar jendela apartemennya, “Apa belum ada khabar tentang keberadaan Qiqi, Vian” tanya Dean.


“Belum, Tuan,  para bodyguard juga sudah berusaha mencari di beberapa titik tempat taksi yang ditumpangi Nona Qiandra, namun masih belum menemukan titik terang” sahut asisten Vian.


Dean terdiam, matanya memandang jauh keluar jendela, “Qi, mengapa kamu menghindariku, apa kamu benar-benar telah memaafkan aku, aku tahu kamu juga merasakan hal yang sama denganku, tapi mengapa kamu berlari menjauhi aku.  Qi, aku sungguh merindukanmu, tatapan matamu,  sentuhanmu, ah, Qi, aku benar-benar tergila-gila padamu” bisik hati laki-laki tampan itu.


“Vian, siapkan beberapa bodyguard besok untuk mengamati keadaan disekitar café, aku merasa benar-benar ada yang janggal” ucap Dean tiba-tiba membuat kening asisten Vian berkerut.

__ADS_1


“Apa maksudmu Tuan” tanya asisten Vian lagi.


“Entahlah, Vian, kenapa aku merasa ini ada hubungannya dengan Qiqi” desah Dean sedikit ragu.


“Mungkin karena ini memang rumah Nona Qiandra, dan mereka juga menghubungi karena tahu kita sedang mencari Nona Qiandra” sahut asisten Vian.


“Kalau mereka mertuanya Qiqi, mereka pasti sudah mengenal aku, saat aku mengantar Qiqi tempo hari, tapi mereka seperti tidak mengenalku” ucap Dean masih ragu.


“Apa Tuan sempat memperkenalkan diri pada mereka” tanya asisten Vian.


“Belum, aku bahkan hampir tidak sempat bicara waktu itu” sahut Dean.


“Kalau begitu, mungkin saja mereka memang tidak mengenal Tuan, lagipula, nomor yang mereka hubungi adalah nomorku, nomor yang dibagikan para bodyguard kita untuk dihubungi jika ada yang mengetahui keberadaan Nona


Qiandra” sahut asisten Vian.


“Vian, apa aku berlebihan mengejar Qiqi, sehingga dia seperti ketakutan denganku” tanya Dean lagi.


“Mungkin juga, Tuan, tapi saya rasa rasa Nona Qiandra bukan ketakutan pada Anda, tapi mungkin dia menghindar berinteraksi dengan Anda” sahut asisten Vian.


“Tapi, kenapa” tanya Dean lagi.


“Kurasa Tuan sendiri yang bisa menjawabnya, mungkin Tuan bisa mengingat bagaimana reaksi Nona Qiandra saat bertemu Anda kemarin” sahut asisten Vian.


“Dia menyentuh wajahku, bahkan dia menangis saat aku memeluknya, Qiqi mengatakan kalau dia sudah memaafkan aku” sahut Dean.


“Akupun berpikir demikian, Vian, tapi dia juga mengatakan


biarlah waktu yang menjawab apa yang akan terjadi diantara kami berdua” sahut


Dean lagi.


“Maksudnya, Tuan” tanya asisten Vian.


“Akupun tidak tahu, Vian, dan firasatku mengatakan akan terjadi sesuatu pada Qiqi” sahut Dean.


Asisten Vian hanya bisa terdiam, dia tidak tahu harus berkata apa.  “Kenapa cinta jadi serumit ini sich, perasaan aku lebih baik menangani  sebuah proyek besar daripada harus mengurus masalah cinta” desis asisten Vian dalam hati.


Di rumah Mang Ijal, semua orang sudah berkumpul untuk menikmati makan malam bersama.  Setelah makan malam, Mang Ijal mulai membuka pembicaraan dengan Qiandra.


“Qian, aku sudah menemukan orang yang mau membeli rumahmu” ucap Mang Ijal sambil melirik Bik Sum.  Bik Sum mengerti pasti Dean bersedia membeli rumah Qiandra.


“Oh ya, wow, Paman hebat, bisa menjual rumah itu dengan cepat, berapa orang itu berani membelinya” tanya Qiandra dengan antusias.

__ADS_1


“Dia berani membeli seharga dua pulu milyar” sahut Mang Ijal.


“Wow, dia bahkan tidak menawar ya, Paman” tanya Qiandra dengan sedikit curiga.


“Menawar sich, tapi aku tidak mau, soalnya ada beberapa orang yang berminat” sahut Mang Ijal.


“Oh, begitu ya, hmmm, lalu kapan transaksinya Paman, apa dia ingin melihat rumahnya dulu” tanya Qiandra.


“Eh, iya, dia ingin melihat rumahnya, tapi aku mendesak untuk segera bertransaksi karena ada keperluan yang sangat penting, jadi dia bisa melihat rumahnya langsung besok sebelum melakukan transaksi” jawab Mang Ijal.


“Jadi, transaksinya besok ya, Paman” tanya Qiandra.


“I-iya, Qiandra, kenapa, apa ada masalah” tanya Mang Ijal dengan tergagap, dia khawatir Qiandra mencurigai siapa pembeli rumah itu.


“Hmmm, tidak masalah sich, Paman, tapi aku harus menyusun rencana kalau begitu, karena aku harus segera meninggalkan kota ini jika rumah itu sudah terjual, aku tidak ingin Daniel mengetahuinya” sahut Qiandra.


“Lalu bagaimana, Qiandra” tanya Mang Ijal yang jadi kebingungan juga, karena tadi malam Qiandra yang meminta aga rumah itu bisa  terjual secepatnya.  Sekarang, malah Qiandra kebingungan saat rumah itu sudah ada pembelinya.


“Kalau begitu, besok malam aku dan Bik Sum harus sudah keluar dari kota ini” sahut Qiandra.


“Tapi, bagaimana caranya, Qian, mereka berdua pasti bisa melacak kemana kamu pergi melalui CCTV di berbagai sarana transportasi” tanya  Mang Ijal.  “Dan satu hal lagi, pembeli ini sangat ingin bertemu dengan penjual rumah ini, Qian” lanjut Mang Ijal.


“Bilang saja lagi di luar kota, Paman, karena ada yang harus diurus” sahut Qiandra, Mang Ijal hanya mengangguk, karena memang seperti itu juga rencananya.


“Lalu, bagaimana dengan pembayarannya, Paman bingung bagaimana cara membawa uang sebanyak itu, Qian” ucap Mang Ijal.


“Mereka pasti akan menggunakan  cek, Paman, nanti kalau ceknya sudah ada, Paman bisa menghubungi aku, aku akan menanyakan pada kolegaku yang ada di bank, untuk mengecek apakah cek itu bisa dicairkan.  Kalau memang sudah bisa, Paman bisa langsung bertransaksi, aku telah menyiapkan surat jual belinya, pembeli tinggal menandatangani saja” sahut Qiandra.


“Lalu, bagaimana kamu mencairkannya, Qian, mereka pasti bisa melacak jika kamu mencairkannya di luar kota ini” tanya Mang Ijal lagi.


“Paman tenang saja, besok kalau Paman sudah selesai, Paman bisa langsung ke bank, kita akan bertemu disana, karena aku juga belum sempat membuka rekening yang baru untuk rekening gajiku, dari sana aku akan mengatur


semuanya, Paman.  Dan satu hal lagi, tolong Paman cari dua buah mobil yang bisa disewa, yang satu mobil mewah, untuk Paman dan Bibi melakukan transaksi, dan mobil kedua akan kita gunakan untuk pergi malam ini, mobil kedua harus memakai pelat palsu dulu dan akan menunggu dititik yang akan aku tentukan nanti” ucap Qiandra panjang lebar dengan rencananya.


“Hmmm, baiklah, kalau kamu sudah merencanakan semuanya, Qian, Paman hanya akan mengikuti rencanamu” sahut Mang Ijal.


“Aku harus keluar dari kota ini tanpa meninggalkan jejak, Paman, aku sungguh tidak ingin mereka melacak keberadaanku.  Ibu, tolong bersiap ya, besok malam kita akan  berangkat, mungkin subuh, karena aku akan berpura-pura mengambil lembur lagi” sahut Qiandra.


“Baiklah, Nak, Ibu akan siap kapanpun kamu mau kita berangkat”  sahut Bik Sum.


“Paman, Bibi, aku percaya pada kalian, dan aku sangat berterima kasih atas semua petolongan kalian” ucap Qiandra tulus.


“Jangan sungkan, Qian, kami sudah menganggapmu seperti anak kami juga, kami hanya bisa berdoa semoga kamu bisa menemukan kebahagiaanmu dan memulai hidupmu yang baru” ucap ustri Mang Ijal.

__ADS_1


“Ya, sudah, malam sudah larut, kurasa besok kamu harus keluar pagi-pagi sekali, Qian, agar tetangga tidak mencurigaimu, kamu akan ikut Paman naik motor besok, Paman akan mengantarmu sampai di pangkalan taksi” ucap Mang Ijal.


Qiandra menyetujui rencana Mang Ijal, lalu mereka masuk ke kamar masing-masing untuk beistirahat.  Didalam kamarnya, Qiandra meneteskan airmata, “Kak Chales, maafkan Qi, karena Qi menjual rumah pemberianmu, Qi harap kakak tidak marah, sebenarnya tanpa menjual rumah itu, Qi masih bisa memulai  hidup baru, tapi Qi benar-benar tidak ingin lagi terhubung dengan masa ini, Daniel, Dean, Qi benar-benar ingin menghapus semuanya” bisik Qiandra dalam hati.


__ADS_2