
“Qiandraaaaaa………” seru Daniel dengan sekuat tenaga dan segala kepanikannya saat dia belum berhasil meraih tubuh wanita itu, namun ombak sudah berhasil menggulung tubuh Qiandra dan menelannya dengan mudah.
Dalam keputus asaan Daniel menerjang ombak besar yang telah menelan tubuh Qiandra. Laki laki itu bahkan tidak memperdulikan bahaya yang di hadapinya. Saat ini, meraih tubuh Qiandra dan menyelematkan wanita itu menjadi tujuan utama Daniel.
Hempasan ombak dan dinginnya air laut tak dirasakan oleh Daniel, mata birunya hanya focus mencari sosok tubuh wanita yang sangat dicintainya itu. Daniel menajamkan matanya, meski ada perih yang dirasakannya, dia tidak perduli.
Tampaknya keberuntungan masih memihak pada Daniel, dalam keputus asaannya dia melihat sekelebat bayangan tubuh Qiandra. Daniel segera berenang dengan sekuat tenaga, dan berusaha meraih tubuh wanita
itu. Beruntungnya, Daniel berhasil meraih pergelangan tangan Qiandra dan dengan sekali sentakan, dia berhasil meraih seluruh tubuh Qiandra.
Daniel memeluk tubuh wanita itu dengan erat, lalu keluar dari dalam air untuk menghirup oksigen sebanyak banyaknya. Daniel kembali
tercekat saat melihat sebuah ombak besar kembali datang dan akan menelan tubuh
keduanya. Daniel bisa saja melepaskan
Qiandra dan menyelematkan dirinya, namun dia tetap tidak melepaskan tubuh wanita itu.
“Aku tidak akan melepaskanmu, Qi, apapun yang terjadi, jika harus kehilangan nyawa, maka aku bersedia mati bersama denganmu” desis Daniel dalam hatinya.
Saat Daniel sudah putus asa, sebuah suara mengejutkan dirinya, “Tuan, raih ini” seru seorang pengawal Daniel. Ternyata para pengawal Daniel datang dengan memakai sebuah motor boat untuk menyelamatkan Daniel. Mereka yang memang selalu memperhatikan keadaan di sepanjang pesisir pantai itu, sempat melihat Daniel yang berenang ke tengah lautan.
Saat melihat tuannya dalam bahaya, mereka segera menyusul dengan menggunakan motor boat sehingga mereka berhasil datang tepat waktu, pada saat Daniel benar benar sudah pasrah. Pengawal Daniel melemparkan sebuah pelampung kepada Daniel yang langsung berhasil di raih oleh laki laki itu.
Para pengawal segera menarik pelampung itu, dan saat sudah berada di dekat motor boat, mereka segera membantu mengangkat tubuh Qiandra terlebih dahulu. Sementara Daniel segera naik ke atas motor boat itu tanpa menunggu anak buahnya membantunya lagi. Rasa khawatir begitu besar dalam hati laki laki tampan itu.
Daniel dengan sigap merengkuh tubuh Qiandra dan memeluknya dengan erat saat motor boat itu melaju dengan cepat mengarah ke tepi pantai. Dan sebelum perahu itu tertambat, Daniel sudah lebih dahulu meloncat keluar, dengan cepat dia membawa tubuh Qiandra menuju ke pantai.
Daniel memangku tubuh Qiandra, kemudian dengan cepat dia membuka kemejanya dan menghamparkannya di pasir pantai. Setelah itu dengan perlahan dibaringkannya tubuh Qiandra di atas pasir pantai dengan beralaskan kemejanya. Sementara Daniel yang hanya bertelanjang dada berusaha menyadarkan Qiandra.
“Qi, Qi, bangunlah, buka matamu” seru Daniel sambil menepuk lembut ke dua pipi wanita itu. Namun, Qiandra tetap tidak bergeming, mata wanita itu tertutup dengan rapat.
Daniel semakin panik, dia segera memberikan nafas buatan untuk wanita itu dengan mencium bibir wanita itu. Tanpa nafsu apapun, Daniel terus menerus berusaha memberikan nafas buatan untuk Qiandra. Sesekali tangannya menekan dada wanita itu
untuk memberikan rangsangan agar jantung Qiandra bisa kembali berdetak.
Daniel melakukan berbagai upaya, sambil terus memanggil nama wanita itu, air mata dan air laut menyatu di wajah tampan yang diselimuti dengan kepanikan itu. “Qi, aku mohon, aku mohon, buka matamu, aku mohon, Qi, tatap aku, Qi” seru Daniel dengan putus asa.
Para pengawal Daniel yang baru datang hanya berani melihat kejadian itu dari jarak yang tidak terlalu dekat. Seperti biasa, mereka hanya bersiap menanti sang tuan memberikan perintah. Mereka tidak berani mendekat, karena dalam keadaan seperti itu, mereka sangat tahu kalau Daniel benar benar tidak bisa diganggu.
Daniel terus melakukan pertolongan pertama pada Qiandra seraya terus memanggil nama wanita itu. Hingga akhirnya, perjuangan laki laki itu membuahkan hasil, Qiandra tiba tiba terbatuk dan mengeluarkan air dari
mulutnya.
Uhuk ….. uhuk ….. uhuk ……
Qiandra terbatuk dan berusaha untuk duduk, Daniel segera meraih tubuh wanita itu dan membantunya untuk duduk. Qiandra masih terbatuk beberapa kali, dan Daniel dengan lembut menepuk nepuk punggung wanita itu.
“Qi, apa kamu baik baik saja, apa ada yang sakit” tanya Daniel dengan lembut namun sarat dengan kepanikan. Daniel bahkan tanpa sadar tetap memeluk tubuh Qiandra, sehingga tubuh basah wanita itu menempel dengan erat di dada bidang Daniel yang memang terbuka.
Qiandra yang masih lemas dan masih belum sadar sepenuhnya hanya berdiam diri berusaha mengembalikan kesadarannya. Ada rasa hangat mengalir di tubuhnya saat
merasakan sentuhan kehangatan dari pelukan laki laki ini. Sesaat Qiandra terlena dalam rasa nyaman dalam pelukan Daniel dengan aroma maskulin yang begitu kuat.
Namun, saat kesadaran Qiandra pulih
sepenuhnya, dia baru menyadari kalau dia masih berada dalam dekapan Daniel. Qiandra segera mendorong tubuh Daniel dengan sekuat tenaga, hingga membuat laki laki itu terkejut.
“Lepaskan aku, apa yang kamu lakukan, kamu
sudah berjanji tidak akan menyentuhku” seru Qiandra seraya mendorong Daniel dengan kuat.
“Qi, tenang, Qi, kamu baru sadar” seru Daniel
yang terkejut karena Qiandra mendorongnya hingga dia jatuh tersandar ke belakang.
Qiandra sendiri segera berdiri, namun karena
__ADS_1
kondisinya yang belum betul betul stabil, tubuhnya malah terhuyung dan hampir saja dia jatuh. Untunglah, Daniel dengan sigap kembali menahan dan memeluk tubuh wanita itu hingga jatuh dalam pelukan Daniel lagi.
Qiandra tidak bisa menolak lagi, kepalanya
benar benar pusing dan pandangannya berkunang kunang. Daniel yang melihat keadaan Qiandra seperti itu, dengan sigap kembali menggndong tubuh wanita itu dan membawanya menuju ke villa.
Qiandra hanya bisa memejamkan matanya saat merasakan tubuhnya menjadi ringan dan seakan akan melayang karena diangkat oleh
Daniel. Bahkan tanpa sadar tangannya terulur dan bertahan di leher Daniel untuk sekedar menyangga tubuhnya. Qiandra benar benar merasa sangat lemah, niat hatinya menolak bersentuhan dengan Daniel, sekarang dia malah tak berdaya dalam
pelukan hangat laki laki itu.
Daniel membawa Qiandra dengan cepat bahkan setengah berlari menuju ke arah villa. Tangannya memeluk erat tubuh wanita itu, seakan takut wanita itu akan terlepas dari tangannya. Daniel membawa Qiandra langsung menuju ke kamar mereka, lalu di merebahkan tubuh wanita itu dengan perlahan di atas tempat tidur mereka.
“Qi, ba bagaimana bajumu, apa apa aku boleh
menggantinya” tanya Daniel dengan terbata.
Qiandra hanya menatap Daniel dengan lemah lalu menggelengkan kepalanya pelan, “Tolong pelayan” desisnya dengan perlahan.
Daniel ingin menolaknya, tapi dia tidak tega
membuat Qiandra bersedih, dia hanya
mengangguk lalu segera melangkah keluar. Daniel segera memanggil seorang pelayan wanita dan menyuruhnya membantu Qiandra mengganti gaunnya.
Beberapa saat kemudian, pelayan itu sudah
keluar dan melewati Daniel yang masih berdiri di luar kamar. “Sudah selesai” tanya Daniel pada pelayan itu dengan suara dingin.
“Su – sudah Tuan, saya sudah membantu Nyonya mengganti gaunnya dengan gaun yang baru” sahut pelayan itu masih dengan
membungkuk.
“Hmmmm” sahut Daniel tanpa menatap lagi ke arah pelayannya, Daniel langsung masuk ke dalam kamar lagi. Dia sungguh mengkhawatirkan keadaan Qiandra, Daniel sedikit heran melihat keadaan Qiandra yang begitu lemah.
bagaimana keadaanmu, apa masih ada yang sakit” tanya Daniel dengan begitu cemas.
“Aku baik baik saja, Daniel, hanya masih
merasa lemah” sahut Qiandra dengan suara lemah.
Daniel terlihat sangat khawatir, dia ingin
menyentuh tangan Qiandra namun ragu, tangannya hanya terulur di sisi tempat
tidur dekat Qiandra. Qiandra merasa serba salah, di satu sisi dia merasa kesal dengan Daniel yang telah menggagalkan dirinya untuk mengakhiri hidupnya. Namun, di sisi lain dia juga bersyukur karena Daniel telah menyelamatkan hidupnya.
Perlahan Qiandra mengulurkan tangannya, lalu dia menyentuh tangan Daniel dan menumpuk tangannya dia atas tangan laki laki itu. “Terima kasih sudah menyelamatkan
nyawaku, dan maaf jika aku tadi sempat marah padamu” ucap Qiandra dengan perlahan.
Daniel segera membalik tangannya dan
menggenggam tangan Qiandra dengan lembut, “Ku mohon, Qi, jangan lakukan hal itu
lagi, karena jika aku harus kehilangan kamu, maka lebih baik bagiku untuk kehilangan nyawaku juga. Aku, aku sungguh tidak bisa kehilangan kamu lagi, Qi” ucap Daniel seraya menunduk dan mengecup tangan Qiandra.
Qiandra terkejut dengan perlakuan Daniel, dia
ingin segera menarik tangannya, namun gerakannya tertahan saat dia merasakan ada air yang membasahi telapak tangannya. Qiandra tertegun, “Apa mungkin Daniel menangis, tapi, tapi bagaimana bisa” bisik hati Qiandra yang merasa tidak percaya kalau laki laki seperti Daniel sampai menangis hanya karena mengkhawatirkan dirinya.
“Daniel.....” desis Qiandra yang merasa
sedikit canggung karena sikap Daniel.
“Qi, aku, aku sungguh mengkhawatirkan dirimu” desis Daniel. Dan betapa terkejutnya
__ADS_1
Qiandra saat melihat mata Daniel benar benar basah dan bahkan ada bulir air mata yang mengalir di pipi laki laki tampan itu.
Secara refleks saja Qiandra segera berbalik
dan menyeka air mata Daniel dengan jarinya. “Terima kasih, Daniel, terima kasih karena begitu mengkhawatirkan diriku” ucap Qiandra seraya memberikan senyum lembut untuk Daniel.
Daniel menatap wajah wanita itu dengan lembut, lalu sebelah tangannya terulur dan membelai pipi wanita itu. “Qi, aku tidak pernah merasa begitu sangat khawatir seperti tadi, rasa taku kehilangan dirimu jauh lebih besar dari rasa khawatirku terhadap hal lainnya” ucap Daniel dengan sendu.
Wajah Qiandra seketika merona mendengar kata kata tulus dari seorang yang begitu sangat mencintai dirinya. Namun, Qiandra segera menguasai dirinya, dia segera menarik tangannya dengan perlahan dan kembali berbaring dengan posisi telentang.
“Aku .... aku .... maaf, bolehkah aku istirahat dulu” ucap Qiandra dengan terbata.
“Tentu saja, Qi” sahut Daniel, lalu dia segera
bangkit berdiri lalu duduk di sisi tempat tidur. Tangannya perlahan terulur dan merapikan
beberapa helaian rambut Qiandra yang menutupi wajah cantik wanita itu. “Istirahatlah, Qi, aku akan menjagamu, tapi
aku akan memanggil seorang dokter untuk memastikan bahwa keadaanmu baik baik
saja” ucap Daniel dengan lembut.
Qiandra hanya bisa mengangguk lemah, dia
memang merasa kalau dia memang memerlukan seorang dokter. Lalu dia perlahan menutup matanya, rasa penat
tiba tiba menderanya, tidak hanya tubuh tapi juga jiwanya. Qiandra merasa begitu letih, letih jiwa dan raganya.
Setelah melihat nafas Qiandra mulai teratur,
Daniel yakin kalau wanita itu benar – benar terlelap, lalu Daniel pergi kearah balkon kamar mewah itu. Daniel mengambil phonselnya dari saku celana dan menghubungi pengawalnya, “Segera cari dokter terdekat dan jaga jangan sampai dia membocorkan rahasia villa ini” perintah Daniel.
“Tapi Tuan, sangat beresiko membawa orang lain masuk ke dalam pulau ini” pengawal Daniel berusaha bernegosiasi.
“Aku tidak perduli, bagaimanapun caranya
kalian harus bisa membawa dokter itu kesini tanpa membocorkan rahasia villa ini” seru Daniel.
“Ba – baik Tuan” sahut pengawal Daniel.
Daniel langsung menutup panggilan teleponnya, dan dia kembali melangkah mendekati Qiandra yang masih terlelap. Daniel menarik sebuah kursi dengan perlahan
dan duduk di samping tempat tidur di dekat Qiandra. Matanya menatap lekat wajah wanita itu, seakan menghapal setiap lekuk wajah Qiandra, yang sebenarnya sudah sangat dihapalnya hingga ke tiap incinya.
“Sungguh aku tidak tahu bagaimana aku jika
sampai terjadi sesuatu yang buruk denganmu, Qi, hanya kamu semangat hidupku dan
tujuan hidupku. Aku berjanji tidak akan
lagi membiarkanmu sendirian seperti tadi. Hah, sebegitu besarnyakah cintamu padanya, Qi, hingga kamu lebih memilih kematian dibanding harus hidup tanpa dirinya. Tapi bukankah kamu tahu kalau dia tidak akan membiarkanmu terus bersamaku, kamu tahu kan sekuat dan seberapa besar kekuasaan laki – laki itu. Lalu mengapa kamu seakan begitu putus asa” Daniel terus berdialog dalam hatinya.
Laki laki tampan itu melipat kedua tangannya
di depan dadanya, padahal dia sangat ingin terus menggenggam jemari Qiandra. Namun, Daniel tidak ingin mengganggu istirahat wanita itu, dia bisa melihat wajah damai Qiandra saat terlelap, sudah cukup membuatnya merasa tenang.
Bahkan saat beberapa kali Qiandra bergerak
gelisah, Daniel sangat ingin merengkuh dan menenangkannya. Namun lagi lagi Daniel tidak berdaya saat mengingat bagaimana Qiandra menolak perlakuannya. Hingga akhirnya, Daniel hanya bisa terus menatap wanita itu tanpa berani berbuat apa apa.
Daniel yang terus berada di sisi Qiandra dalam posisi duduk akhirnya merasa begitu mengantuk. Beberapa kali dia menggelengkan kepalanya dan merentangkan tangannya untuk membuang kantuk di matanya. Tetapi pada akhirnya, Daniel tidak bisa menolak rasa kantuknya juga, dan dia pun terlelap dengan posisi duduk namun menelungkup disamping Qiandra.
Qiandra yang memang tidak bisa tidur dengan nyenyak, akhirnya terbangun dengan perasaan tidak nyaman. Saat Qiandra membuka matanya, betapa terkejutnya dia saat melihat Daniel tertidur di sampingnya masih dengan posisi duduk. Qiandra hanya bisa menghela nafas berat menatap iba pada laki laki itu.
“Sebegitu besarnya rasa cintamu padaku,
Daniel, tapi maafkan karena aku tidak akan bisa membalasnya sampai kapanpun. Aku berharap dan berdoa semoga suatu saat kamu bisa mendapatkan wanita yang benar benar tulus mencintaimu dan
__ADS_1
kau cintai” desah Qiandra dalam hati.