
Qiandra memasuki mansion mewah itu dengan mulut menganga dan mata membeliak lebar. Saat memasuki ruang tamu, senyum wanita itu merekah ketika melihat sebuah figura besar yang berisi foto Qiandra bersama Dean saat pernikahan mereka dulu. Pelukan di pinggang rampingnya menyadarkan wanita itu sehingga perlahan memalingkan wajahnya dan menatap wajah laki laki yang telah membuatnya begitu bahagia.
“Kita akan membuat foto baru lagi nanti, saat baby ini sudah lahir, Honey, aku akan mengisi seluruh dinding mansion ini dengan semua foto kebahagiaan kita” bisik Dean di telinga wanita yang sangat dicintainya itu.
“Love, terima kasih” hanya itu kata yang bisa diucapkan oleh Qiandra, dia tidak bisa melukiskan betapa bahagia hatinya saat ini.
Dean hanya tersenyum menanggapi perkataan Qiandra, lalu dia meraih kursi roda yang sudah dipersiapkannya, “Duduklah, Honey” ucap Dean sambil menepuk tempak duduk di kursi roda yang masih terlihat baru itu.
“Ish, Love, aku masih bisa melangkah dan berjalan, aku tidak mau duduk seperti seorang pesakitan” rengek Qiandra. Sungguh sangat aneh rasanya jika dia harus duduk di kursi roda padahal dia merasa seluruh tubuhnya sangat sehat.
“Honey, kalau kamu masih mau berkeliling, kamu harus memilih mau duduk di sini atau aku gendong saja. Aku tidak akan mengijinkan kamu untuk terlalu lama berdiri dan berjalan” ucap Dean dengan tegas.
“Tapi, Love …..” rengekan Qiandra terputus dan langsung dipotong oleh Dean.
“Kamu tinggal memilih, jika kamu tetap ingin jalan maka aku akan langsung membawamu untuk beristirahat dikamar” ucap Dean membuat Qiandra hanya bisa merengut tanpa bisa membantah lagi kata kata sang suami. “Ini semua demi keselamatan kalian, Honey” lanjut Dean lagi seraya membelai perut rata sang istri.
“Terima kasih, Love, maaf jika aku masih belum terbiasa dengan keberadaannya” sahut Qiandra dengan bibir tersenyum manis seraya ikut membelai perut ratanya.
Dean tersenyum memahami keadaan Qiandra yang memang terbiasa selalu bergerak aktif, tentu bukan hal yang mudah bagi wanita itu untuk menyesuaikan diri dengan keadaannya saat ini. Dean masih bersyukur karena istrinya ini tidak pernah membantah perintahnya terutama jika sudah diingatkan dengan keberadaan bayi dalam kandungannya.
Dean segera membantu Qiandra untuk duduk di kursi roda yang sudah dipersiapkannya, kemudian Dean menyelimuti kaki sang istri dengan selimut yang membuat tidak hanya tubuh wanita itu merasa hangat, tetapi juga hatinya. Hati Qiandra benar benar tersentuh dengan perlakuan lembut yang diberikan oleh sang suami. “Terima kasih, Love” desis Qiandra.
“Hei, apa kamu harus selalu mengucapkan terima kasih, Honey, aku rasa sudah terlalu banyak terima kasih kamu ucapkan sejak tadi. Sudahlah, tidak perlu berterima kasih lagi, semua yang aku lakukan sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawabku. Justru jika ada yang kurang, kamu wajib mengatakannya padaku dan jangan pernah menyembunyikan apapun dariku” ucap Dean seraya mengacak lembut rambut Qiandra.
Bu Sum yang melihat interaksi kedunya juga merasakan kebahagian di hatinya walau hanya sejenak. Sayangnya, sesaat setelah itu, Bu Sum menyadari bahwa kebahagiaan itu tidak akan bisa berlangsung lama. “Semoga Qiandra bisa terus merasakan kebahagiaan ini, sekalipun kelak dia mengetahui kebenaran apapun yang terjadi di masa lalunya” desah wanita paruh baya itu dalam hati.
Sementara itu, Dean sudah mulai perlahan mendorong kursi roda Qiandra dengan sangat hati hati untuk mulai mengelilingi mansion mewah itu. “Untuk hari ini, kamu cukup melihat beberapa ruang penting saja, Honey, untuk ruangan lainnya, kita akan lanjutka di hari lain” ucap Dean yang membuat Qiandra kembali mendesah pasrah.
Sebenarnya Qiandra sangat ingin melihat isi mansion mewah itu secara keseluruhan. Namun, wanita itu juga tahu kalau sang suami tidak akan bisa dibantah. Selain itu, Qiandra juga menyadari bahwa dalam kondisinya saat ini dia benar benar harus menghindari dari kelelahan. Oleh sebab itu, Qiandra tidak membantah perkataan Dean lagi.
“Tapi, kamu janji akan mengantarkan aku besok lagi kan” ucap Qiandra, tapi segera diralatnya, “Eh, tidak, tidak perlu” serunya lagi.
Kening Dean mengernyit sesaat, “Kenapa tidak perlu, Honey, apa kamu tidak ingin melihat seluruh bagian mansion ini” tanya Dean.
__ADS_1
Tanpa sadar ada rasa kecewa menyeruak di hati laki laki itu, dia khawatir kalau Qiandra memang tidak terlalu menyukai mansion mewah itu karena tidak sesuai dengan keinginann Qiandra. Namun, Dean berusaha menyembunyikan perasaan itu, dia tidak ingi sang istri jadi merasa bersalah.
“Bukan tidak ingin, Love, tapi aku tidak ingin merepotkan dirimu. Aku sadar sudah beberapa minggu ini kamu tidak mengurus perusahaan dengan baik. Jadi, aku tidak ingin menyita wakytumu lagi untukku, aku bisa saja minta ditemani Ibu atau pelayan lainnya” sahut Qiandra yang tidak melihat ekspresi lega di wajah Dean.
Yah, Dean merasa sangat lega saat mendengar alasan yang disampaikan oleh Qiandra. Ternyata wanita itu bukannya tidak tertarik dengan mansion mewah itu akan tetapi lebih memperdulikan Dean dan tanggung jawab sang suami.
“Tidak perlu mengkhawatirkan masalah perusahaan, Honey, semuanya sudah dihandle oleh, Vian. Dan kamu, aku tidak akan membiarkan orang lain yang mengurus istri cantikku dan babyku ini” sahut Dean dengan yakin.
“Tapi, Love ….” Qiandra ingin membantah perkataan suaminya. Qiandra sungguh merasa bersalah karena telah banyak menyita waktu Dean untuk mengurus dirinya. Sebagai seorang pengusaha dan pemilik perusahaan, Qiandra sangat tahu besarnya tanggung jawab yang dipikul sang suami.
Bukannya Qiandra tidak percaya dengan kemampuan Vian sebagai asisten Dean. Tapi, seperti juga dirinya yang memiliki asisten, Qiandra tahu kehadiran presidir tentu tidak bisa digantikan begitu saja oleh asisten. Oleh sebab itulah Qiandra meminta Dean untuk lebih mengurus perusahaannya, walaupun dalam hati kecilnya Qiandra masih berharap laki laki itu akan lebih banyak menemani dirinya.
“Honey, aku sudah menghabiskan berpuluh puluh tahun dalam hidupku untuk mengurus perusahaan dan kehidupan orang banyak. Apakah salah jika aku ingin beristirahat sejenak dan mengurus kehidupan pribadiku, bagiku melayani kamu adalah segalanya saat ini” ucap Dean sambil membelai pucuk kepala wanita itu.
“Love, ….” ucapan Qiandra langsung dipotong oleh Dean.
“Jangan berterima kasih lagi dan jangan coba membantahku, Honey, tenanglah, aku tetap bekerja walaupun aku tidak ke kantor. Yah, mungkin nanti sekali sekali aku akan terpaksa meninggalkan dirimu jika memang ada hal urgent yang harus aku selesaikan. Tapi sepanjang aku bisa menyelesaikan dari rumah maka aku akan mengerjakannya dari rumah” potong Dean yang tidak ingin dibantah lagi.
Qiandra lagi lagi harus mengalah mendengar suara tegas dari suaminya itu. Walaupun dalam hati wanita itu sebenarnya sangat bahagia mendengar ucapan Dean, namun tak urung dia juga merasa bersalah. Hal itu terlihat jelas dari wajah Qiandra yang tidak seceria sebelumnya.
Sikap laki laki itu cukup mengejutkan Qiandra dan tak urung membuat wanita itu terkekeh geli, “Kamu apa apaan sich, Love, sudahlah, apa kamu nggak malu dilihat oleh para pelayan” ucap Qiandra diantara tawanya.
“Aku tidak akan malu melakukan apapun yang bisa membuatmu bahagia, Honey” ucap Dean enga senyum bahagia di wajahnya saat melihat sang istri kembali ceria.
Qiandra merasakan kebahagiaannya benar benar sempurna, “Te …...”
“Eits, sudah ku katakan aku tidak mau mendengar ucapan terima kasih lagi” seru Dean seraya berdiri dan mencium dan ******* bibir ranum sang istri selama beberapa saat. Tindakan yang tiba tiba itu tentu saja mengejutkan Qiandra.
“Loveeee, …....” seru Qiandra dengan wajah merah padam menahan malu. Qiandra sungguh tak habis pikir, bagaimana bisa Dean melakukan hal tersebut, sementara di tempat mereka ada Bu Sum juga beberapa pelayan yang sedia melayani mereka.
“Aku akan terus menciummu jika kamu mengucapkan terima kasih lagi, Honey” ucap Dean sambil mengedipkan sebelah matanya. Laki laki itu lalu kembali berdiri dan perlahan melanjutkan mendorong kursi roda Qiandra, “Jadi, jika kamu mengucapkan terima kasih lagi, itu pertanda kamu benar benar menginginkan ciumanku” desis Dean di telinga Qiandra.
“Dasar mesum” desis Qiandra dengan bibir mengerucut. Namun tidak berapa lama wajah Qiandra kembali berseri saat melihat ruang keluarga tempat mereka berada saat ini. Berbagai furniture mewah yang memenuhi dan tertata rapi dalam ruangan itu menambah nilai plus dari ruangan itu. Qiandra juga bisa melihat beberapa fotonya dan foto Dean, juga foto saat mereka bersama.
__ADS_1
Hingga Qiandra terpaku menatap sebuah foto, dimana mereka berdua terlihat sedang duduk di atas pasir pantai. Jika orang melihat foto itu, tentulah mengira bahwa itu adalah foto yang sangat romantis. Namun, bagi Dean dan Qiandra foto itu menyimpan sebuah kenangan yang sangat istimewa. Kenangan yang manis sekaligu kenangan pahit.
“Maafkan jika aku juga memajang foto itu, Honey, jika kamu merasa tidak nyaman maka aku akan menyimpannya. Karena jujur saja, itu adalah foto yang selalu aku pandang saat kamu pergi dan menghilang dari kehidupanku” ucap Dean dengan sedikit perasaan bersalah.
Dean merasa bersalah saat melihat Qiandra terpaku menatap foto itu dengan ekspresi wajah yang datar. Dean segera memberikan kode pada pelayannya agar segera menurunkan foto itu, namun saat pelayan itu akan meraih figura foto itu, Qiandra malah mencegahnya.
“Hei, apa yang kamu lakukan, jangan pernah menurunkannya dari situ” seru Qiandra membuat pelayan itu juga Dean merasa benar benar terkejut.
“Honey, ….” desis Dean.
“Love, jangan khawatir, aku tidak masalah dengan foto itu. Bagiku kenangan itu juga kenangan terindah yang selalu ku ingat saat aku berada jauh darimu” ucap Qiandra dengan lembut.
“Tapi, Honey ….”Dean tidak tahu harus berkata apa lagi.
“Foto itu juga membuktikan bahwa cinta kita pernah menjalani ujian yang berat, Love, aku cukup bersyukur karena kamu tidak merasa jijik padaku setelah kejadian itu” ucap Qiandra perlahan.
Dean meremas bahu wanita itu dengan lembut, “Justru aku yang merasa diriku begitu bodoh, Honey, foto itu selalu mengingatkan aku bahwa aku pernah melakukan suatu hal yang sangat bodoh yang sudah melukai dirimu dan diriku juga. Hal itu juga menjadi pengingat bagiku, agar tidak lagi melakukan kebodohan seperti itu. Jadi, apapun masalah yang akan kita hadapi ke depannya aku harap kita berdua bisa benar benar saling terbuka dan jujur, sehingga tidak ada kesalahpahaman lagi yang terjadi” ucap Dean dengan bersungguh sungguh.
“Tentu saja, Love, aku janji akan selalu mengatakan semuanya padamu dan aku berharap kamu juga seperti itu” sahut Qiandra seraya mendongakkan kepalanya menatap wajah sang suami.
“Aku janji, Honey” sahut Dean kemudian dia mengecup kening sang istri dengan penuh kelembutan.
Qiandra memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut bibir sang suami. Sentuhan yang membawa kehangatan hingga ke dalam lubuk hati wanita cantik itu. Memang tidak bisa dipungkiri kalu oto itu juga mengingatkan Qiandra akan kejadian yang dilakukan oleh Daniel pada waktu itu terhadap dirinya.
Sesaat Qiandra memang merasa terkejut dengan foto itu, dan tanpa sadar kenangan buruk itu kembali menerpa pikirannya. Namun, wanita itu segera tersadar saat mendengar ucapan rasa bersalah suaminya kepada dirinya. Sehingga secara spontan Qiandra mencegah foto itu dipindahkan, semata mata agar suaminya tidak merasa sedih dan merasa bersalah.
Sementara Bu Sum yang tetap mengikuti di belakang Qiandra dan Dean hanya bisa berharap dalam hatinya. “Hah, semoga saja kalian tetap bertekad untuk saling terbuka seperti ini saat masalah masa lalu itu dibuka dihadapan kalian” desah wanita paruh baya itu dalam hatinya.
Dean kembali melanjutkan mendorong kursi roda Qiandra dengan perlahan untuk melihat beberapa ruangan lainnya , termasuk ruang kerja dan juga ruang rapat yang sudah disipkan oleh Dean. Dean menjelaskan kalau ruang kerja dan ruang rapat itu dikhususkan agar dia tidak harus selalu pergi ke perusahaan.
Saat melihat semua furniture mewah yang mengisi dan menghiasi setiap ruangan yang mereka lihat, Qiandra hanya bisa berdecak kagum. Bagi Qiandra mansion milik Charles dulu sudah sangat mewah, tapi saat melihat mansion ini, Qiandra sadar mansion Charles masih belum ada apa apanya. Dan semua ini masih berada di lantai satu dari mansion mewah itu, entah bagaimana lagi dengan lantai diatasnya.
“Astaga, Love, apakah semua ini tidk terlalu berlebihan, ini ini sangat sangat luar biasa, aku jadi merasa minder berada di antara kemewahan ini” ucap Qiandra dengan jujur.
__ADS_1
Dean hanya tersenyum mendengar ucapan istrinya itu, lalu dia melangkah ke hadapan Qiandra dan bersimpuh di hadapan wanita itu. “Honey, bahkan semua itu masih belum cukup untukmu, kamu berhak mendapatkan lebih dari ini, jangan lupa kalau kamu adalah seorang ratu yang seharusnya tinggal di istana Zacharias. Namun, saat aku membangun mansion ini, aku memang benar benar tidak berniat membawamu masuk ke dalam istana itu. Oleh sebab itu aku membangun mansion ini sebagai ganti istana itu, maafkan aku” ucapnya sambil meremas lembut jemari Qiandra.
Qiandra tertegun, dia kembali sadar kalau ternyata mansion mewah ini benar benar dibangun oleh Dean justru pada saat dirinya jauh dari laki laki itu. Qiandra tersenyum lalu membalas genggaman laki laki itu, “Kamu bicara apa, Love, semua ini justru benar benar berada jauh di luar ekspetasiku. Bahkan untuk membayangkannya saja aku tidak berani untuk bisa memasuki mansion semewah ini, apalagi memilikinya” ucap Qiandra.