
Mobil hitam itu segera melaju meninggalkan kantor pusat PT.Mahardika, setelah menempuh perjalanan selama empat puluh menit, mereka sampai di batas kota itu. Qiandra sempat menoleh ke belakang, tanpa terasa airmatanya menetes saat menatap kota yang semakin jauh mereka tinggalkan.
“Selamat tinggal semua kenangan, kalian akan selalu menjadi sejarah dalam hidupku, Kak Charles, maafkan aku jika harus meninggalkanmu, aku ingin meraih bahagiaku seperti yang Kakak inginkan. Dean, Daniel, aku yakin kalian akan menemukan wanita yang jauh lebih baik dariku, kuharap kita tidak akan pernah bertemu lagi” bisik Qiandra dalam hati.
Mereka tiba di batas desa Y, lalu berganti mobil, Qiandra juga mengganti pakaiannya, lalu mereka berpisah di tempat itu. Mang Ijal akan kembali ke kota, sementara Qiandra akan melanjutkan perjalanannya besama dengan Bik Sum.
“Jangan lupa berkirim khabar ya, Qian” ucap Mang Ijal, mata lelaki paruh baya itu berkaca-kaca. Sangat berat baginya melepaskan Nyonya Mudanya ini, Mang Ijal sudah sangat menyayangi Qiandra seperti anaknya sendiri.
“Terima kasih, Paman, oh, ya aku titip ini ya buat kedua adikku, jangan sampai kuliah mereka putus, Paman, juga untuk teman-teman Paman yang sudah membantuku” ucap Qiandra seraya menyerahkan sebuah buku rekening beserta kartu debit yang memang dibuatnya atas nama Mang Ijal.
“Apa ini, Qian, jangan seperti ini, kamu sudah seperti anakku, apa yang aku lakukan tulus” sahut Mang Ijal menolak pemberian Qiandra.
“Paman, itu bukan untuk Paman, tapi untuk kedua adikku, pakailah untuk keperluan sekolah mereka, aku tidak ingin mereka berhenti kuliah hanya karena masalah biaya” sahut Qiandra dengan senyum tulus.
“Simpanlah, Jal, tidak baik menolak rejeki” ucap Bik Sum.
“Hah, baiklah, terima kasih banyak, Qian, berhati-hatilah di jalan” ucap Mang Ijal akhirnya. Setelah itu mereka kembali masuk ke mobil masing-masing dan melanjutkan perjalanan mereka. Mang Ijal kembali ke kota sementara Qiandra melanjutkan perjalanan yang hanya dia yang tahu kemana arahnya.
Saat menjelang subuh, Qiandra meminta sopirnya mengantar mereka berdua ke sebuah bandara yang ada dikota yang saat ini sedang mereka tuju. Di bandara, Qiandra dan Bik Sum langsung check in dan masuk ke dalam pesawat yang ternyata hanya menunggu mereka saja.
Qiandra melanjutkan perjalanannya yang tanpa arah dan tujuan, dia hanya melihat jadual penerbangan yang terdekat, lalu membeli tiket dan langsung berangkat. Demikianlah dilakukannya hingga pada hari yang keempat, Qiandra mendarat dengan sebuah pesawat kecil di sebuah kota kecil di kaki bukit yang terlihat sangat indah.
Qiandra langsung jatuh cinta dengan kota itu, “Bu, bagaimana menurut Ibu dengan kota ini” tanya Qiandra pada Bik Sum. Dia selalu menanyakan kepada wanita tua itu tentang setiap kota yang mereka datangi, mulai dari kota besar, hingga kota kecil. Namun sama seperti Qiandra, Bik Sum juga belum menemukan kota yang cocok dihatinya.
Bik Sum tersenyum, “Aku merasa jatuh cinta pada kota ini, Qian” ucap Bik Sum.
__ADS_1
“Bu…” desis Qiandra memperingatkan Bik Sum.
“Eh, iya, Andra, maaf” ucap Bik Sum yang memang agak kesulitan mengubah nama panggilan Qiandra.
Qiandra hanya tersenyum, “Kita akan masuk kota ini dan akan memulai hidup baru disini, dengan identitas yang baru” ucap Qiandra. Mereka menaiki sebuah taksi yang tersedia di bandara kecil itu, dan Qiandra meminta untuk diantar ke hotel yang ada di pusat kota itu.
Setelah tiba di hotel, Qiandra dan Bik Sum yang memang hanya membawa koper kecil untuk sekedar berganti pakaian langsung check ini. Qiandra dan Bik Sum beristirahat di kamar yang sama, karena Bik Sum tidak ingin berada di kamar yang terpisah dari Qiandra.
“Bu, aku akan berkeliling kota ini, dan membeli beberapa kebutuhan, aku juga akan mencari rumah yang mungkin bisa kita beli, untuk kita tempati, apa Ibu akan ikut” tanya Qiandra pada Bik Sum setelah mereka berdua menyelesaikan makan siang di kamar hotel itu.
“Maafkan, Ibu, Andra, bolehkah Ibu beristirahat saja di kamar, ibu masih merasa lelah” ucap Bik Sum.
“Tentu saja boleh, Bu, beristirahatlah, maafkan aku yang sudah membuat Ibu sampai kelelahan seperti ini” ucap Qiandra dengan rasa bersalah.
“Jangan berkata begitu, Andra, Ibu sangat senang kamu mau mengajak Ibu, justru kamu yang repot karena harus membawa wanita tua seperti Ibu” ucap Bik Sum.
Qiandra meninggalkan Bik Sum di kamar hotel, lalu dia mencari taksi dan langsung meminta diantarkan ke sebuah gerai phonsel. Qiandra membeli sebuah phonsel keluaran terbaru yang terbaik di gerai yang lumayan besar itu. Kemudian dia mulai membuat beberapa akun media sosial agar bisa mengakses beberapa informasi umum di kota itu.
Dari gerai phonsel, Qiandra meminta diantar ke sebuah showroom mobil, lalu Qiandra membeli sebuah mobil baru, tapi bukan mobil mewah. Qiandra tidak ingin terlihat terlalu mencolok. Setelah itu, barulah Qiandra mulai mengelilingi kota itu, dengan bermodalkan peta dan GPS yang sudah dipasangnya.
Qiandra mulai mencari beberapa rumah yang dijual di kota itu, setiap kali ada rumah yang menarik perhatiannya, dia akan berhenti, lalu menanyakan informasi tentang rumah itu. Qiandra juga mengambil foto dari rumah-rumah tersebut dari berbagai sisi. Qiandra tidak ingin membuat keputusan sendiri tentang rumah yang akan dibelinya, dia berencana akan melibatkan Bik Sum.
Setelah merasa puas, Qiandra akhirnya kembali ke hotelnya saat hari sudah menjelang malam. Bik Sum menyambut Qiandra dengan wajah cemas, “Astaga, Andra, kamu kemana saja, bikin ibu cemas” ucapnya saat Qiandra masuk ke dalam kamar mereka.
“Maafkan, Andra, Bu, Andra tadi keasyikan berkeliling kota ini, sampai lupa waktu, sekarang Andra mau membersihkan diri dulu. Oh, iya, ini beberapa potong pakaian yang sempat Andra beli tadi, yang ini buat Ibu” ucap Qiandra seraya menyerahkan beberapa paper bag untuk Bik Sum.
__ADS_1
“Astaga, Andra, ini terlalu berlebihan untuk Ibu” ucap Bik Sum melihat beberapa potong pakaian yang terlihat cukup bagus itu.
“Bu, Ibu adalah orang tua Andra, jadi pilihannya hanya apa Andra yang mengikuti gaya pakaian Ibu, atau Ibu yang mengikuti Andra” ucap Qiandra seraya bersimpuh di kaki wanita tua itu, dia menggenggam tangan keriput wanita itu.
“Hah, baiklah, Andra, terima kasih kamu benar-benar mau menganggap aku sebagai Ibumu” ucap Bik Sum dengan airmata yang mengalir di pipi keriputnya.
“Bu, Andra bersungguh-sungguh saat meminta ibu menjadi ibuku, Ibu tahu aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi” sahut Qiandra. “Ya, sudah, sekarang, Andra membersihkan diri dulu, nanti ada yang akan mengantar makan malam untuk kita, Ibu buka aja ya” ucap Qiandra, lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.
Qiandra mengisi bathub dengan air hangat lalu memberikan beberapa tetes aroma theraphy. Qiandra ingin menikmati mandi yang tenang, sudah beberapa pekan ini, Qiandra jarang bisa merasa cukup tenang. Ada begitu banyak masalah yang terus menerus mengejarnya, sehingga membuat Qiandra kadang merasa lelah dan putus asa.
Namun, sekarang, Qiandra merasa sangat bersemangat untuk memulai hidup baru. Ada berbagai ide muncul dalam benaknya, kota kecil ini benar-benar menumbuhkan keinginan Qiandra untuk memulai berbagai usaha yang masih belum dilihatnya ada di kota ini.
Keesokan harinya, Qiandra dan Bik Sum, pergi menuju beberapa rumah yang sudah dipilih oleh keduanya tadi malam. Selera keduanya ternyata tidak terlalu jauh berbeda, mereka memilih sebuah rumah yang tidak terlalu besar, namun memiliki halaman yang cukup luas dan terlihat masih asri.
Setelah itu, Qiandra membeli berbagai perlengkapan untuk mengisi rumah barunya itu, sementara Bik Sum hanya membantu menyiapkan makanan dan minuman saja. Keesokan harinya, Qiandra dan Bik Sum sudah mulai menempati rumah baru mereka, Qiandra juga mencari dua orang pelayan, yang satu untuk di rumah dan yang satu khusus untuk mengurus taman yang ada di sekeliling rumah itu.
Bik Sum awalnya keberatan, karena dia merasa dia cukup mampu mengurus rumah itu, tapi Qiandra benar-benar membuat wanita tua itu menjadi nyonya rumah. Dia tidak mengijinkan Bik Sum mengerjakan pekerjaan pelayan, Bik Sum hanya mengurus makanan dan minuman saja. Sementara pekerjaan lainnya diserahkan pada pelayan.
Satu pekan setelah itu, Qiandra sudah mulai menjalankan bisnisnya, pada awalnya dia mulai membuka butik, lalu mulai merambah ke pertokoan hingga akhirnya Qiandra kembali ke keahlian awalnya yaitu mengurus perusahaan. Qianda mendirikan sebuah perusahaan dengan nama CV. Chaenqi, yang artinya Charles dan Qiqi.
Dengan pengalaman dan kecerdasan seorang Qiandra yang sudah tidak diragukan lagi, CV. Chaenqi bisa berkembang dengan pesat walau hanya dalam waktu singkat. Hanya dalam waktu satu tahun, Qiandra sudah mampu mengembangkan semua bisnisnya dengan pesat.
Ada berbagai penawaran untuk kerjasama dan mengembangkan bisnisnya ke luar daerah, namun selalu ditolak oleh Qiandra. Dia memang hanya ingin berusaha dikota itu saja, dan tidak ingin mengembangkan ke skala yang lebih besar lagi.
Sebagai seorang wanita karir yang sukses dan cantik, Qiandra menjadi primadona di kota kecil itu. Ada begitu banyak laki-laki yang berusaha mendekatinya, dari kalangan pengusaha juga pejabat kota. Namun. tidak ada satupun yang mampu membuat hati beku Qiandra goyah.
__ADS_1
Beberapa kali Bik Sum menasehatinya dan meminta Qiandra membuka hatinya, namun, Qiandra hanya tersenyum dan mengatakan masih belum ingin memulai suatu hubungan yang baru. Pesona Qiandra bahkan sampai ke kota-kota lain yang ada disekitar kota kecil itu, sehingga ada banyak tawaran kerjasama yang mengalir ke perusahaan Qiandra sebagai kedok keinginan para lelaki mengenal seorang Direktris cantik bernama Andra ZA.