PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS TUJUH PULUH TIGA


__ADS_3

“Pah, aku ke kamar Qiqi dulu ya, sepertinya sekarang sudah hampir waktunya dia makan siang” ucap Bu Sum pada sang suami yang terlihat sedang asyik dengan note book di tangannya.


Karena permintaan Qiandra, akhirnya baik Chris maupun kedua putrinya Zanetta dan Delicia terpaksa harus menyelesaikan pekerjaan mereka dari mansion itu.  Untungnya, mereka bukanlah pengusaha yang harus selalu berpacu dengan waktu.


Chris dan kedua putrinya mengelola beberapa restoran besar yang dulunya dirintis oleh Chris.  Mereka bis dengan santai menjalankan bisnis mereka, hanya sesekali mereka akan mengadakan pertemuan dengan beberapa kolega yang ingin mengadakan pesta besar dan meminta restoran mereka untuk menyediakan hidangannya.


Chris mengangkat kepalanya, “Iya, Sayang, eh, apa kamu belum memutuskan kapan akan menyampaikan rahasia itu pada Feli” tanya Chris sebelum sang istri pergi.


“Pah, jangan bicara sembarangan, semua dinding mansion ini punya telinga.  Jangan lagi membahas apapun di sini” ucap Bu Sum sambil melihat ke sekelilingnya.


“Oke, oke, Sayang maafkan aku” ucap Chris yang menyadari kalau dia kelepasan bicara.  Chris juga tahu kalau mansion itu pasti dilengkapi dengan CCTV di berbagai sudutnya.  “Silahkan saja kamu menemui Qiqi, aku akan berjalan jalan sejenak di taman sampi mansion ini” ucap Chris yang juga ikut beranjak mengikuti sang istri meninggalkan kamar tempat bereka beristirahat.


Bu Sum langsung menuju ke lift yang membawanya menuju ke kamar utama tempat Qiandra sedang beristirahat.  Di depan kamar terliahat dua orang pelayan yang selalu bersedia menunggu perintah dari sang Nyonya mansion itu.  Bu Sum hanya mengganggukkan kepalanya sekilas untuk menyapa keduanya, lalu masuk ke dalam kamar Qiandra.


Saat Bu Sum masuk, terlihat kalau Qiandra masih terlelap dalam tidurnya.  Bu Sum tersenyum melihat wajah damai ibu hamil itu yang walau sedang tidur pun terlihat sangat cantik.  “Kak Quensha benar benar melahirkan seorang malaikat” bisik hati Bu Sum menatap wajah Qiandra.


Bu Sum melangkah mendekati tempat tidur Qiandra, wanita paruh baya itu berencana ingin membangunkan Qiandra.  Namun, baru saja dia tiba di samping tempat tidur mewah dan besar dimana Qiandra sedang terlelap, tiba tiba phonselnya berdering.


Bu Sum benar benar terkejut, dia melirik Qiandra yang sepertinya masih tidak terganggu, lalu kemudia melihat siapa yang menghubunginya.  “Dika, …" desis Bu Sum tanpa sadar, lalu dia segera melangkah keluar menuju ke balkon kamar itu, sambil melihat ke arah Qiandra memastikan wanita itu masih terlelap.


“Dika, ada apa, Nak, mengapa kamu menghubungi tante” tanya Bu Sum saat dia sudah berada di balkon kamar Qiandra.


“Tante, apa benar sekaran tante ada di mansion Dean, apa tante sekarang sedang bersama Feli” tanya Dika dengan beruntun.


“Iya, Nak, sekarang tante sedang ada di mansion Dean, dan tante memang sedang bersama Feli, baru saja tante ingin membangunkannya saat kamu menghubungi tante” ucap Bu Sum.


“Tante, jika memungkinkan, aku harap tante segera mengatakan kebenarannya pada Feli, aku tidak bisa terus menerus menahan diri tante” Dika kembali mendesak Bu Sum.


“Tapi Dika, tante benar benar tidak tahu bagaimana caranya mengatakan hal itu pada Feli, tante tidak tahu harus memulai darimana” sahut Bu Sum yang benar benar kebingungan.  Di satu sisi, Bu Sum juga sangat ingin menceritakan hal itu pada Qiandra tapi di sisi lain, Bu Sum juga tidak ingin membuat wanita itu kembali bersedih.


“Tante, pihak Dean semakin gencar melakukan penyelidikan, aku mendapatkan laporan kalau mereka bahkan menempatkan beberapa mata mata untuk mengawasi aku.  Aku takut kalau sampai mereka mengetahui kenyataan ini lebih dulu, maka tidak menutup kemungkinan nyawa Feli akan terancam” ucap Dika dengan suara khawatir.


“Tidak, tidak, Nak, tante tidak percaya kalau Dean sanggup melukai Felicia, dia sangat menyayanginya, Dean bahkan hampir tidak mau beranjak dari sisi Feli.  Hanya karena kehadiran ibu saja Dean baru mau pergi ke kantornya” ucap Bu Sum berusaha meyakinkan Dika kalau apa yang dikhawatirkan Dika itu tidak akan terjadi.


“Tante, jangan selalu berpikir kalau semuanya baik, jangan lupa bagaimana Lee dan segala kebaikan dan kesetiaannya, tapi lihat apa yang dia lakukan pada kita.  Apalagi Dean yang orang  lain, dimana kelangsungan keluarga kerajaan sepenuhnya ada di tangannya.  Apa menurut tante dia bisa membiarkan Feli begitu saja hanya karena dia mencintainya” tanya Dika lagi.


“Hah, baiklah Dika, Tante akan berusaha mencari waktu yang tepat, mungkin tante hanya akan memberitahukan kenyataan kalau kamu adalah kakak kandung Qiandra, maksudku Felicia.  Jika dia ingin mengetahui lebih jauh, maka aku akan memintanya untuk bertemu langsung denganmu” ucap Bu Sum.

__ADS_1


“Baiklah, tante, aku tunggu khabar dari tante” sahut Dika, dan saat Dika akan menutup panggilannya, tiba tiba dia mendengar Bu Sum berseru.


“Qi Qiandra, ….. sejak kapan kamu ada di situ” ucap Bu Sum yang masih terdengar oleh Dika, membuat Dika kembali menajamkan pendengarannya dan berharap Bu Sum tidak menutup panggilannya.


“Feli, …..., Dika, …...., Lee, …..,Paman Lee, ….”ucap Qiandra dengan bibir bergetar.  Wajah wanita itu terlihat semakin memucat, lalu kemudian Qiandra memegang kepalanya yang terasa berdenyut, bayangan hitam dan kelam terasa menyediot seluruh ingatannya.


“Qiandraaaaa, …...”seru Bu Sum saat melihat tubuh Qiandra tiba tiba menjadi lunglai.  Bu Sum segera meraih tubuh Qiandra sehingga tidak langsung terjatuh ke lantai.


“Tante, tante, apa yang terjadi” seru Dika dengan panik.


“Sepertinya Qiandra mendengar pembicaraan kita, dan entah kenapa kini dia jatuh tidak sadarkan diri” seru Bu Sum, “Aku akan menghubungi Dean” ucap Bu Sum lagi.


“Jangan” seru Dean, “Bawa Feli ke mansionku, minta Paman Chris membawanya ke sana, aku akan menunggu kalin bersama dengan dokter Fred” ucap Dika dengan panik.


Bu Sum cukup terkejut dengan permintaan Dika, namun dia sama sekali tidak bisa memikirkan apapun.  Saat dia sedang kebingungan, tiba tiba pintu kamar terbuka dan tampaklah Chris datan diikuti Zanetta dan Delicia.


“Kita akan membawanya ke mansion Dika, biar dokter Fred yang menanganinya” ucap Chris seraya meraih tubuh Qiandra dari pangkuan Bu Sum.  Bu Sum benar benar tidak bisa berkata apa apa, dia tidak bisa menolak ataupun menyetujui rencana Dika dan Chris itu.


Bu Sum hanya bisa melangkah mengikuti Chris dengan dituntun oleh Zanetta dan Delicia.  Pikiran wanita paruh baya itu benar benar sedang kacau, hatinya sedang berperang antara menghubungi Dean atau mengikuti keinginan Dika dan suaminya, Chris.


Beberapa pelayan yang ada di luar kamar utama sangat terkejut saat melihat Chris menggendong tubuh Qiandra yang dalam keadaan tidak sadarkan diri.  Mereka ingin mencegah Chris membawa Qiandra, namun mereka juga tahu kalau Bu Sum adalah ibu angkat dari Qiandra, sehingga mereka tidak berani mencegahnya.  Namun, mereka segera melaporkan hal itu [pada kepala pelayan di mansion itu.


Chris menatap ke arah Bu Sum, “Jangan khawatir, Pak, aku ibunya akan membawa Qiandra ke tempat yang tepat” hanya itu jawaban yang bisa diberikan oleh Bu Sum.


Kepala pelayan itu tidak tahu harus berkata apalagi, dia masih berusaha menghubungi Dean maupun asisten Vian, namun masih belum tersambung.  Sementara itu, Chris sudah membawa Qiandra masuk ke dalam mobil mereka yang ternyata sudah terparkir di depan mansion.  Zaneta dan Delicia segera duduk di belakang dan menahan tubuh Qiandra, sementara Bu Sum duduk di depan bersama dengan Chris.


“Jika Dean mencari Qiandra, katakan pada beliau untuk menghubungi aku” ucap Bu Sum pada kepala pelayan sebelum mobil mereka bergerak meninggalkan mansion mewah itu.  Kepala pelayan hanya bisa menggangguk dengan ragu, dan saat mobil Chris sudah keluar dari pagar mansion, asisten Vian menghubungi kepala pelayan itu.


“Apa …..” seru Dean yang ada di dekat asisten Dika saat mendengar laporan kepala pelayan itu.  “Segera kejar dan cegat mereka” seru Dean lagi.


“Tapi, Tuan, apa itu tidak berbahaya untuk keselamatan Nyonya Muda” tanya kepala pelayan itu lagi.


“Bodoh, segera ikuti mereka” teriak Dean dengan panik, “Aku akan langsung menuju ke titik dimana kalian bisa menyusul mereka” serunya lagi.


“Ba …. baik Tuan” sahut sang kepala pelayan dengan gugup.  Setelah itu dia berlari dan memerintahkan beberapa bodyguard terbaik yang ada di mansion itu untuk segera menyusul mobil Chris.  Sayangnya, mereka benar benar kesulitan melacak keberadaan mobil Chris karena lalu lintas yang benar benar sedang padat.


“Dimana kalian” tanya Dean beberapa saat setelah kepala pelayan dan para bodyguard sedang berusaha mencari keberadaan mobil Chris.

__ADS_1


“Ma maaf, Tuan, kami masih berusaha melacak keberadaan mobil mereka” ucap kepala pelayan itu dengan gugup.


“Cari sampai dapat, kerahkan semua bodyguard di mansion untuk segera melacak dimana mereka berada” seru Dean lagi.  Dean sendiri sudah bersama dengan asisten Vian sedang terjebak di tengah kemacetan lalu lintas yang memang bertepatan dengan waktu istirahan makan siang.


“Vian, ….” desis Dean pada asisten Vian.


“Maafkan saya, sudah meragukan firasat Anda, Tuan” ucap asisten Vian dengan rasa bersalah yang begitu besar.


“Segera cari jalur alternatif, hubungi semua pihak yang bisa melacak keberadaan mobil mereka.  Aku tidak mau kehilangan Qiandra lagi” desis dean dengan suara bergetar menahan amarah dan khawatir yang luar biasa.


“Baik, Tuan” sahut asisten Vian yang memang sudah melakukan semua yang dikatakan oleh Dean bahkan sebelum laki laki itu memberi perintah.


Saat dalam kepanikan dan kekhawatiran yang begitu besar, tiba tiba phonsel Dean berdering.  Dean segara meraihnya dan betapa terkejutnya dia saat melihat siapayang menghubungi dirinya, “Qiqi, ….” desis Dean.  Asisten Vian yang mendengar Dean menyebut nama Qiandra juga seketika menoleh ke belakang.


Dean segera menekan tombol hijau di phonselnya, “Honey, Honey, Qi, dimana kamu sayang …..” ucap Dean bahkan sebelum mendengar suara orang yang memanggilnya itu.


“Maaf Nak Dean, ini Ibu,…"ucap suara di seberang sana yang membuat Dean mengernyitkan keningnya dan sesaat melihat phonselnya. Dean segera memberikan kode pada asisten Vian untuk segera melacak dimana keberadaan nomor tersebut.


Asisten Vian langsung mengotak atik tablet yang ada di tangannya untuk melakukan pelacakan.  “Ibu, dimna Ibu, kemana Ibu membawa Qiqi, apa yang terjadi padanya, Bu” tanya Dean dengan bertubi tubi.  Rasa khawatirnya sedikit berkurang saat mendengar suara Bu Sum, setidaknya Dean yakin kalau Qiandra saat ini berada di tangan yang aman.


“Tenang, Nak, Qiandra baik baik saja” ucap Bu Sum.


“Tapi para pelayan di mansion mengatakan kalau Qiqi tidak sadarkan diri dan dibawa meninggalkan mansion, kemana Ibu membawa Qiqi, Bu, aku akan segera menyusul” ucap Dean berusaha menekan rasa marahnya pada Bu Sum.


“Qiqi memang masih belum sadarkan diri sampai sekarang, Nak, tapi jangan khawatir dia baik baik saja, disini juga sudah ada dokter yang menangani Qiqi” ucap Bu Sum.


“Disini, disini dimana, Bu, tolong katakan dimana kalian saat ini Bu, aku akan segera menyusul kalian” ucap Dean penuh permohonan.  Dean sangat berharap Bu Sum mau mengatakan dimana keberadaan mereka apalagi saat dia melihat asisten Vian memberi kode dengan menggelengkan kepala padanya.


“Maafkan kami, Nak, tapi untuk saat ini saya tidak bisa memberitahukan kemana kami membawa Qiqi.  Kami akan menunggu Qiandra sadar dan biarlah dia sendiri nanti yang memutuskan apa akan memberitahukan keberadaannya padamu atau tidak” sahut Bu Sum.


“Apa, …..” seru Dean penuh kemarahan, namun sesaat kemudian dia menghembuskan nafas berat, “Bu, tolongj angan lupakan kalau aku ini suaminya, dan Qiandra sekarang sedang hamil.  Tolong jangan melakukan hal yang dapat membahayakan Qiandra dan bayi kami, tolong beritahu aku  dimana kalian sekarang” ucap Dean mati matian menahan kemarahannya.


“Maafkan Ibu, Nak, ibu benar benar tidak bisa memberitahukan halitu padamu, keputusan sepenuhnya berada di tangan Qiandra dan kakaknya.  Tapi kamu tidak perlu cemas, Nak, Qiandra akan baik baik saja bersama Ibu disini” ucap Bu Sum dengan suara seperti berat hati.


“Tapi, Bu …..” Dean belum sempat menyelesaikan kata katanya, tapi sambungan telepon itu sudah terputus, membuata Dean menatap nanar pada phonselnya.  “Vian, …" seru Dean membuat sopir dan asisten Vian terlonjak saking terkejutnya mendengar seruan Dean.


“Maafkan saya Tuan, nomor tadi berada di wilayah yang tidak bisa kita tembus sehingga kita tidak bisa melacaknya” ucap asisten Vian dengan suara sedikit bergetar.

__ADS_1


“Tidak bisa????, oh astaga Vian, apa kita berada di jaman batu sampai kita tidak bisa melacak hal seperti itu.  Lalu dimana semua ahli IT di kerajaan apa benar benar tidak ada yang punya kemampuan untuk melacak nomor tadi, hah” seru Dean dengan penuh kemarahan.


Asisten Vian hanya berdiam diri, dia sendiri terus berkoordinasi dengan semua ahli IT yang dimiliki oleh PT Zacharias.  Sayangnya, sistem pertahanan saluran komonikasi yang digunakan oleh Bu Sum benar benar dilindungi dengan ketat.  Bahkan saat Dean ingin kembali menghubungi nomor Qiandra yang dipakai Bu Sum tadi, panggilannya langsung terblokir.


__ADS_2