PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SEMBILAN PULUH TIGA


__ADS_3

“Baiklah, Dad, tapi setidaknya, walaupun aku bukan seorang ratu dalam keluarga ini, aku harap kamu mau mengabulkan satu permohonanku, aku sangat berharap padamu, sebab hanya kamu yang dapat mengabulkannya” ucap Risty dengan wajah memelas.


Walt Zacharias hanya tersenyum simpul mendengar perkataan wanita yang duduk di hadapannya itu.  Laki-laki paruh baya ini memang sudah sangat memahami sifat Risty,


wanita yang sudah bertahun-tahun menjadi sekertarisnya dulu dan beberapa tahun


terakhir telah menjadi istrinya.  Walt


Zacharias sangat tahu bahwa Risty datang menemuinya dengan berbagai macam


sandiwara yang dipenuhi dengan drama hingga meneteskan air mata, pasti mempunyai keinginan terselubung.


Walt Zacharias tahu kalau wanita ini tidak akan datang menemui dirinya jika tidak ada hal yang diinginkannya.  Dan keinginan wanita ini, tentunya bukan masalah materi, karena Risty sudah memegang beberapa black card tanpa batasan, yang bisa digunakannya dengan sesuka hatinya.  Jadi, jika dia sampai rela melakukan sandiwara penuh drama sudah bisa


dipastikan kalau hal yang diinginkannya itu sangatlah penting baginya.


“Katakan saja, Risty, apa yang kamu inginkan” sahut Walt Zacharias setelah beberapa saat berdiam diri.


“Aku akan mengatakannya, tapi berjanjilah kamu akan mengabulkannya, Dad, please” pinta Risty dengan wajah penuh permohonan.


“Aku tidak akan menjanjikan apapun padamu, tapi aku akan berusaha memenuhi keinginanmu, sepanjang itu rasional dan tentunya tidak berbahaya” sahut Walt Zacharias.


Risty membulatkan matanya menatap pada suaminya itu, “Astaga, Dad, apa aku sejahat itu di matamu, sampai-sampai kamu berpikir aku


akan meminta sesuatu yang berbahaya” Risty kembali memasang wajah sendu di hadapan Walt Zacharias.


“Aku hanya menjaga reputasi keluarga ini, dan aku juga tidak ingin ada yang merusak keluarga ini, terlebih jika itu dilakukan oleh orang dalam sendiri” ucap Walt Zacharias.


Risty perlahan menghembuskan nafasnya untuk menahann kekesalan hatinya pada sang suami.  “Huh, seandainya kamu bukan pemimpin tertinggi keluarga ini, sudah ku balas semua kata-katamu itu.  Sabar.... sabar Risty, kamu harus bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan, jangan biarkan tua bangka ini memancing emosimu sehingga kamu tidak fokus pada tujuanmu” bisik hati Risty.


“Dad, walau bagaimana pun, aku juga bagian dari keluarga ini, apapun statusku di matamu dan seluruh keluarga Zacharias, aku tetaplah


bagian dari keluarga ini.  Jadi, bagaimana mungkin aku membahayakan keluarga ini, justru aku ingin menyelamatkan harkat dan martabat keluarga ini” ucap Risty dengan perlahan.


“Menyelamatkan harkat dan martabat keluarga ini, apa maksudmu, apa menurutmu harkat dan martabat keluarga ini sedang terancam” tanya


Walt Zacharias dengan kening sedikit berkerut.


“Dad, bagaimana bisa kamu tidak menyadari kalau harkat dan martabat keluarga Zacharias sedang dipertaruhkan saat ini” tanya Risty, dalam hati dia merasa sedikit senang karena Walt Zacharias terihat mulai tertarik pada pembicaraan mereka.


Sejak masuk ke dalam ruang kerja suaminya itu dan mulai berbicara, Risty sangat menyadari kalau Walt Zacharias sama sekali tidak


tertarik dengan pembicaraannya.  Laki-laki itu malah selalu melontarkan kata-kata sinis walaupun diucapkan dengan tenang dan tersenyum.  Semua pendapat dan keinginan Risty ditolak mentah-mentah oleh Walt


Zacharias.


Jadi, jika saat ini Walt Zacharias terlihat sedikit tertarik dengan mengajukan pertanyaan keingin tahuan, tentu saja hal itu cukup menyenangkan bagi Risty.  Karena wanita ini sangat berharap kalau suaminya itu akan mengabulkan permintaannya.


“Dad, memang seperti yang kamu katakan tadi, keluarga ini tidak menganggapku sebagai ratu, walaupun statusku sebagai istrimu.  Tapi bagaimana dengan semua relasi kita di luar sana, bukankah bagi mereka aku tetaplah ratu


karena aku adalah istrimu.  Jadi, hal-hal yang menjadi tanggung jawab seorang ratu terutama yang berkaitan dengan publik, bukankah semua relasi kita hanya tahu kalau itu sebagai tanggung jawabku” ucap Risty dengan perlahan, agar setiap kata-katanya tetap teratur tanpa emosi sehingga tidak memancing kecurigaan Walt Zacharias.


Walt Zacharias menatap wanita itu dengan seksama, walaupun dia tahu kalau wanita itu sangat pandai bermain kata-kata.  Namun saat ini, Walt Zacharias tidak bisa membantah kalau kata-kata wanita itu benar adanya.  Bagi keluarga Zacharias, memang mereka semua

__ADS_1


tidak menganggap Risty sebagai ratu, karena mereka tahu semuanya.  Tapi bagi orang yang ada di luar mansion, mereka tidak mengetahui hal itu.


Risty berusaha mati-matian menyembunyikan senyum kepuasan dan rasa bahagianya karena baru kali ini Walt Zacharias terdiam mendengar


kata-katanya.  Risty tahu kalau laki-laki itu tidak bisa membantah kebenaran dari kata-katanya.


Walt Zacharias memang tidak bisa membantah kebenaran kata-kata Risty, namun dia juga tahu ada maksud terselubung dibalik semua itu.  “Lalu, apa maumu” ucap laki-laki itu pada akhirnya, setelah dia sempat diam selama beberapa saat.


Risty hampir saja bersorak mendengar ucapan Walt Zacharias, dia sangat yakin kalau saat ini laki-laki itu tidak akan bisa menolak keinginnanya lagi.   “Dad, aku hanya ingin melaksanakan tanggung jawab sebagai istrimu di hadapan para relasi dan masyarakat, setidaknya mereka tahu kalau keluarga ini tetap memegang teguh adat istiadat dan aturan-aturan dalam keluarga ini yang sudah diwariskan secara turun temurun.  Dan keluarga ini tidak akan membiarkan generasi-generasi mudanya merusak apalagi melanggar aturan


tersebut” ucap Risty masih dengan sikap tenang dan berbicara dengan perlahan.


Walaupun dalam hatinya, wanita ini bersorak kegirangan dan sangat yakin kalau laki-laki yang tak lain dari suaminya ini, pasti mengabulkan keinginannya.  Namun, Risty tidak mau tergesa-gesa dalam berbicara, dia menggunakan setiap kata dengan sangat


hati-hati.  Risty tidak mau kata-katanya nanti bisa menjadi bomerang yang dapat digunakan Walt Zacharias untuk menolak keinginannya.


Walt Zacharias berusaha mencermati setiap kata yang diucapkan oleh istrinya itu.  Dia sangat tahu kalau wanita ini sangat pandai melihat peluang dan menggunakannya untuk


keuntungan bagi dirinya.  Jika dulu, saat


menjadi sekertarisnya, kemampuan Risty ini sangat menguntungkan bagi Walt Zacharias.  Tetapi sekarang, laki-laki itu tahu, kalau ada hal tersembunyi yang pasti akan merugikan kelurganya dibalik setiap rangkaian kata yang keluar dari mulut wanita itu.


Namun sayangnya, Walt Zacharias kembali tidak bisa menolak kebenaran kata-kata Risty.  Semua hal yang diucapkan oleh wanita itu, memang benar adanya.  “Katakan saja apa maumu, Risty” ucap Walt Zacharias.


“Baiklah, Dad, ini masalah pesta perkenalan istri Dean sebagai menantu keluarga ini....” belum sempat Risty menyelesaikan kata-katanya, Walt Zacharias sudah memotong ucapannya.


“Aku tidak akan membiarkanmu apalagi mengijinkanmu untuk melibatkan diri dengan semua persiapan acara itu.  Sudah aku katakan berulang kali, mereka berhak melakukannya sendiri, karena memang tidak ada yang berhak melaksanakan acara tersebut selain ratu” desis Walt Zacharias dengan sedikit penekanan.


Walt Zacharias sudah menduga kalau Risty pasti menginginkan sesuatu dalam acara tersebut.  Dan Walt Zacharias sudah bertekad untuk menghalangi wanita itu, dia sungguh tidak ingin mengacaukan acara sakral itu.  Karena dia sangat yakin, kalau Risty pasti akan berusaha menggagalkan atau menghancurkan


“Oke, oke, tenang dulu, Dad, aku sangat paham kalau mereka, maksudku kalian memang tidak menginginkan aku terlibat dan bahkan menghindari keterlibatanku, karena kalian berfikir aku akan membuat kekacauan.  Sebenarnya hal itu sangat menyedihkan dan


menyakitkan bagiku, tapi baiklah aku akan berusaha berlapang dada menerima perlakuan kalian padaku” Risty berusaha tetap berbicara dengan tenang.


“Kalau kamu sudah mengetahui fakta itu, lalu apa lagi yang kamu inginkan” tanya Walt Zacharias.


“Dad, sebenarnya aku keberatan dengan kenyataan bahwa mereka merebut pekerjaan yang seharusnya aku yang mengerjakan.  Tapi, yah sudahlah, aku terima hal tersebut dan tetap bersabar dengan semua ini. Tapi, setidaknya aku masih ingin menyelamatkan martabat keluarga ini dihadapan semua relasi dan para undangan lainnya.  Biarlah penghinaan keluarga ini aku tanggung sendiri, karena memang aku hanya sendiri di dunia ini” ucap Risty.


Wajah wanita itu seketika menjadi sendu saat dia mengatakan kalau dia hanya sendiri di dunia ini.  Bagi orang lain perubahan wajah wanita itu adalah keahliannya untuk menipu orang lain.  Padahal wanita itu sungguh-sungguh merasa sedih saat menyadari dirinya hanya sebatang kara.


“Kamu tidak sendiri, Risty, jika kamu bisa menghargai orang lain yang ada disekitarmu, maka kamu akan mempunyai banyak orang-orang yang akan mengasihimu.  Tapi, sikapmu sendiri yang menyebabkan semua orang tidak menghargai bahkan menerima dirimu.  Jadi, jangan pernah menimpakan kesalahan pada


orang lain, karena semuanya berawal dari dirimu sendiri” ucap Walt Zacharias.


Jika wanita ini bukan Risty, maka sudah bisa dipastikan kalau Walt Zacharias akan merasa tersentuh hatinya mendengar kata-kata yang


diucapkan.  Kata-kata yang benar-benar


dapat menarik simpati bagi siapapun yang mendengarnya tanpa mengetahui siapa


wanita yang mengucapkannya.  Namun, karena Walt Zacharias sangat memahami sifat Risty, maka dia tidak memberikan belas kasihan sedikitpun pada wanita itu.


“Yah, biarlah semuanya memang sudah menjadi takdirku, Dad, seperti inilah adanya diriku, mau bagaimana lagi.  Jika orang tidak bisa menerima aku, aku tidak bisa juga memaksakan diriku, bukan” desah Risty, berharap Walt Zacharias semakin bersimpati padanya.

__ADS_1


“Kamu salah, Risty, bertahun-tahun yang lalu saat kamu masih menjadi sekertarisku, kamu tidak seperti ini.  Apa kamu lupa bagaimana semua orang mengagumi dirimu dulu, dirimu dengan semua keahlian dan kepribadianmu.  Begitu banyak orang yang mengasihi dirimu dan bahkan mengharapkan dirimu, tapi apa


yang terjadi padamu sekarang sungguh tidak bisa kumengerti” ucap Walt Zaharias.


“Mereka, kalian semua hanya menerima aku saat melihat semua kelebihanku, tapi saat kalian mengetahui kekuranganku, kalian semua ingin melemparku.  Itulah yang membuat aku


harus bertahan, mencari cara untuk tetap berada dalam posisi aman, walaupun harus menempuh segala cara” sahut Risty.


Walt Zacharias menatap Risty dengan intens, keningnya sedikit mengernyit saat melihat wanita itu tidak menatap ke arahnya.  Karena biasanya, Risty akan selalu menatap lawan


bicaranya saat dia berbicara agar dia mengetahui reaksi lawan bicaranya saat


mendengar perkataannya.


Namun kali ini, Risty terlihat menatap kosong jauh ke luar jendela ruang kerja mewah itu.  Dia


terlihat seperti tenggelam dalam dunia pikirannya sendiri.  Bahkan helaan nafas wanita itu terlihat sangat pelan seolah memang pikirannya sedang terbang ke alam lain.


“Jika kamu ingin semua orang menerimamu apa adanya, maka jadilah dirimu sendiri, dirimu yang dulu pernah aku kenal” ucap Walt Zacharias dengan suara pelan.


Risty berbalik menatap ke arah suaminya itu, “Apakah itu berarti kamu juga akan menerima aku, Dad, katakan padaku, Dad, apakah kamu akan menerima aku jika aku kembali menjadi Risty yang dulu” tanya Risty dengan wajah


penuh harap.


Walt Zacharias tersenyum, “Hatiku sudah terisi penuh oleh ratuku dulu, Risty, tidak akan ada tempat lagi untuk wanita lain.  Kematiaannya adalah dosa dan penyesalan terbesar dalam hidupku yang harus aku tanggung hingga akhir hayatku.  Jadi, jangan pernah berharap bisa


menggantikan posisinya, apa dan bagaimana pun dirimu.  Tetapi, aku berjnji, aku tidak akan


menggantikan posisimu saat ini, kamu boleh menikmati semuanya selama yang kamu mau” ucap Walt Zacharias dengan tegas.


Ada kesedihan yang teramat dalam tersirat dalam kata-kataa laki-laki paruh baya itu saat mengingat istrinya yang terdahulu.  Risty yang awalnya bersemangat, tiba-tiba merasakan hujaman rasa bersalah saat melihat wajah sedih suaminya itu.


“Maafkan aku, Dad” desis Risty dengan suara pelan.


“Sudahlah, Risty, semuanya sudah terjadi, setidaknya sekarang kamu tahu posisimu dalam keluarga ini.  Sekarang katakan saja apa yang kamu inginkan dariku” ucap Walt


Zacharias.  Laki-laki itu berdiri dan melangkah kembali menuju meja kerjanya.


Risty mengerti, jika laki-laki itu sudah meninggalkan lawan bicaranya berarti dia ingin mengakhiri pembicaraan itu.  “Dad, aku hanya ingin bisa menjadi tuan rumah dalam acara itu nanti” ucap Risty dengan suara ragu-ragu.


Walt Zacharias duduk di kursinya dan menatap Risty, “Bukankah sudah aku katakan bahwa aku tidak akan mengijinkanmu terlibat dalam acara itu” sahutnya.


“Dad, aku tidak akan mencampuri apapun rangkaian acaranya, aku hanya ingin berdiri di sisimu sebagai orang tua Dean, mendampingimu dan menerima semua undangan yang hadir” sahut Risty dengan cepat sebelum suaminya berbicara lebih lanjut.


Walt Zacharias menatap wanita itu dengan seksama, “Apa lagi rencana ular ini, aku yakin dia pasti sedang merencanakan sesuatu” bisik hati Walt Zacharias.  “Tidak bisakah kamu hadir sebagai keluarga saja, tidak perlu menyibukkan dirimu dengan hal itu.  Kamu tahu jika kamu menjadi pendampingku, maka kamu harus hadir lebih cepat dan keluar paling terakhir” sahut laki-laki itu pada akhirnya.


“Aku siap, Dad, setidaknya aku bisa melaksanakan tugasku sebagai istrimu di hadapan orang banyak.  Dan tentunya hal ini akan memberikan dampak positif bagi keluarga ini, karena sekalipun aku tidak diakui sebagai ratu oleh keluarga ini, tapi bagi para relasi dan masyarakat semuanya tetap terlihat baik-baik saja” ucap Risty.


Walt Zaharias berpikir sejenak, dia menyadari apa yang diucapkan oleh Risty benar adanya.  Namun, memenuhi keinginan wanita itu sama saja membuka peluang baginya untuk membuat kekacauan.  “Baiklah, aku mengijinkanmu, tapi, ingat jangan pernah kamu membuat kekacauan apapun, aku sendiri yang akan mengawasimu.  Dan jika terjadi kekacauan yang disebabkan olehmu, maka jangan harap aku membiarkanmu tetap ada dalam mansion ini” ucap Walt Zacharias dengan penuh ancaman.


Sejenak Risty tertegun mendengar ancaman suaminya itu, “Hmmm, baiklah, Dad, aku janji” ucapnya pada akhirnya dengan senyum penuh


kepuasan.  “Akhirnya, tunggu saja tua bangka, lihat saja apa yang akan terjadi pada

__ADS_1


menantumu itu nanti” bisik wanita itu dalam hatinya.


__ADS_2