PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS EMPAT


__ADS_3

Saat itu semua kamera sedang terfokus pada mereka berempat, daddy Walt dan Risty juga Dean dan Qiandra.  Tidak hanya kamera tetapi juga mata semua tamu undangan yang hadir saat itu juga sedang memperhatikan interaksi keempat orang itu.


Risty yang memang sangat menyadari kalau semua perhatian sedang tertuju kepada mereka, tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.  “Astaga, kalian benar-benar pasangan yang serasi, sayang sekali baru kali ini anakku membawa menantu keluarga Zacharias untuk bertemu dengan ibunya.  Jika saja sejak awal, aku yakin kalau aku dan menantuku ini akan menjadi sahabat karib” ucapnya dengan senyum tulus yang benar-benar mampu menipu semua orang.  Suara wanita itu sengaja sedikit diperkeras agar semua orang langsung memperhatikan dirinya.


Dan keinginan Risty ternyata terkabul.  Semua kamera segera terfokus padanya yang saat itu sedang berhadapan dengan Qiandra.  Kedua wanita dengan kecantikan yang mampu membuat semua orang tidak bisa


memalingkan wajah dari mereka.  Kecantikan paripurna yang bisa menjatuhkan hati siapapun yang menatap mereka.


Dean menggenggam erat jemari Qiandra berusaha menahan emosi yang kembali membara dalam hatinya.  Namun, dia tersadar saat merasakan belaian lembut tangan sang istri pada jemarinya yang sedang menggenggam tangan wanita itu.


“Maafkanlah jika saya belum sempat mampir dan berkenalan dengan Anda, mohon dimaklumi kesibukan kami sebagai pengantin baru.  Apalagi kami berdua memang cukup lama terpisahkan oleh jarak dan waktu, tentu Anda mengerti bagaimana rasanya merindukan sesuatu yang seharusnya bisa kita miliki” ucap Qiandra dengan suara lembut


namun terdengar jelas oleh orang-orang yang ada di sekitar mereka.


Kata kata Qiandra yang terdengar lembut dan sedikit bercanda, membuat gumaman dan senyuman dari semua orang.  Namun, kata kata itu menohok dengan tepat ke jantung Risty, wanita itu sangat memahami sindiran yang diucapkan oleh menantunya itu.  Sesaat wajah Risty memerah, namun sebagai seorang yang sudah terbiasa bermain peran di hadapan orang banyak, Risty mampu segera menguasai dirinya.


“Aha, tentu saja menantuku, tapi ku rasa bukankah sangat tidak sopan jika kamu datang dan masuk dalam kehidupan anakku tanpa permisi pada aku sebagai ibunya.  Tapi, yah sudahlah, semuanya sudah berlalu, bukankah sekarang saatnya kita menapaki masa depan.  Aku sangat mengerti kalau kamu masih belum memahami tata krama dalam keluarga Zacharias, karena memang kamu tidak tahu dan tidak terbiasa dalam kehidupan keluarga bangsawan” ucap Risty


dengan sedikit tawa yang seolah meremehkan Qiandra.


Dean yang mendengar istrinya dilecehkan dengan kata kata Risty, benar benar meradang.  Seandainya mereka tidak berada ditengah pesta, sudah bisa dipastikan tangannya akan melayang menampar mulut wanita itu.  Berbeda dengan Dean, Qiandra yang memang sudah mempersiapkan diri


menghadapi penghinaan Risty hanya tersenyum pada wanita itu.


“Terima kasih atas pengertian Anda, dan yah, Anda benar saya memang tidak terbiasa dengan kehidupan keluarga bangsawan, karena saya memang tidak suka memaksakan diri bergaya bangsawan padahal hanya rakyat biasa.  Bagi saya bisa menjadi bagian dari keluarga bangsawan namun tetap bersikap sebagai rakyat biasa itu jauh lebih terhormat.  Dan untuk sopan santun, yah, saya memang terbiasa bersikap sopan pada orang yang juga memperlakukan saya dan orang yang saya kasihi dengan sopan.  Karena  bagi saya, apapun yang


dilakukan orang kepada saya, jelas itu adalah gambaran perlakuan saya kepada orang itu” ucap Qiandra dengan lembut namun lantang.


Risty yang mendengar kata kata dari mulut Qiandra benar-benar tertegun.  Dia tidak


menyangka Qiandra punya kemampuan untuk membalik semua ucapannya bahkan dengan


sindiran tajam yang terbalut dengan sangat manis.  Bagi orang yang mengenal Risty dan gaya hidupnya, semua akan mengerti maksud ucapan Qiandra yang sedang menyindir Risty.


Risty tidak mampu berkata-kata, giginya hanya bergemeletuk menahan kemarahannya.  Wajahnya  terlihat memerah menahan amarah yang tidak bisa di keluarkannya.  Risty hanya bisa mengepalkan tangannya sendiri, karena memang daddy Walt tidak pernah mau menggandeng dirinya.  Sementara dihadapan Risty, terlihat Dean terus menerus menggenggam jemari Qiandra dan tak pernah mengalihkan pandangannya dari wajah sang istri.


Tatapan penuh cinta dan kekaguman terlihat jelas tergambar di mata elang seorang Dean Walt Zacharias.  Tatapan yang selalu difokuskan pada wajah seorang Qiandra, membuat semua mata yang melihatnya hanya bisa tersenyum.  Tidak bisa dipungkiri, kalau sang presidir tampan itu benar-benar


tergila-gila pada wanita yang berdiri dengan anggun disampingnya itu.


Semua itu tidak luput dari perhatian Risty, karena memang mereka berdiri berhadapan.  Namun, tidak pernah sekalipun Dean memberikan tatapan lembut padanya.  Jika Dean menatap dirinya, Risty bisa melihat


aura keinginan untuk membunuh yang sangat besar tergambar di mata laki laki itu.  Risty tiba tiba merasa begitu hampa, karena

__ADS_1


sepertinya tidak ada sedikitpun tempat di sudut mata laki-laki itu untuk dirinya.


Ditambah lagi kata kata menohok dengan sindiran tajam yang diucapkan oleh Qiandra dan ditujukan untuk Risty.  Membuat wanita itu seakan kehilangan segenap kemampuannya untuk bermain kata kata lagi.  Semua yang terjadi ini benar-benar diluar ekspetasi seorang Risty.


Keadaan hening itu segera dicairkan oleh daddy Walt, “Mari masuklah anak-anakku, kita lanjutkan pesta ini dan nikmatilah pesta penyambutan dirimu ini, Nak” ucapnya dengan lembut pada Qiandra.


“Terima kasih, Dad, maaf sudah menyita waktumu” ucap Qiandra sambil sedikit membungkukkan badannya.


Daddy Walt segera memegang bahu Qiandra, “Hei, hei jangan sungkan begitu, bagaimana pun sekarang kamu adalah bagian keluarga ini, kamu adalah anakku” ucap daddy Walt.  Laki-laki paruh baya itu langsung meraih tangan Qiandra dan menggandeng wanita itu untuk masuk ke dalam ruang pesta.


Dean yang seharusnya menggandeng tangan Risty, justru tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari tangan sang istri.  Sehingga jadilah Qiandra berjalan dengan anggun diantara kedua ayah dan anak yang sama-sama tampan dan berkharisma itu.  Sementara itu, Risty dengan berat hati,


terpaksa mengikuti ketiganya melangkah sendiri di belakang mereka.


Padahal Risty sempat berharap bisa menggandeng tangan Dean saat suaminya menggandeng tangan Qiandra.  Karena memang demikianlah seharusnya dalam tradisi pesta perkenalan keluarga kerajaan mereka.  Sang ayah akan membawa menantu wanita masuk ke dalam ruangan, dan sang anak akan melangkah dibelakangnya bersama dengan ibunya.


Terdengar gumaman menggema di seantero ruangan pesta yang mereka masuki.  Gumam serta senyum melecahkan dari para tamu undangan terdengar dan terlihat jelas diarahkan pada Risty yang melangkah sendirian dibelakang ketiga orang di depannya.  Rasa malu benar-benar sulit disembunyika oleh Risty.  Wanita yang biasanya selalu melangkah dengan angkuh itu, saat ini harus melangkah dengan sangat


terpaksa.  Bahkan untuk mengangkat


wajahnya saja Risty merasa sangat berat.


Namun, Risty berusaha tetap melangkah dan meyakinkan dirinya bahwa semua penghinaan ini tidak akan berakhir, jika dia membiarkan dirinya menyerah kali ini.  Justru semua hujatan ini akan semakin menjadi-jadi jika dia tidak berhasil membalikkan keadaan.  Karena itu, Risty akhirnya mampu tetap


Namun, saat mereka akan naik ke atas pelaminan mewah, Daddy Walt akhirnya melepaskan tangan Qiandra dan mempersilahkan wanita itu bersama dengan Dean untuk naik terlebih dahulu.  Lalu, laki-laki paruh baya itu baru menyusul naik bersama dengan Risty, istrinya.  Tapi, Daddy Walt tetap tidak mau menggandeng sang istri, dia hanya berjalan berdampingan dengan wanita itu.


Dean sebenarnya ingin protes kepada ayahnya, karena sang ayah malah melangkah di belakangnya hanya untuk menunggu Risty.  Karena seharusnya, sang ayah terus melangkah bersama menantu perempuannya dan mengantar Qiandra hingga ke tempat


duduknya.  Namun, lagi-lagi genggaman


tangan dan senyum lembut di wajah wanita cantik di sampingnya membuat Dean tidak bisa berbuat apa-apa.


Qiandra memang sudah mengetahui semua aturan secara mendetail dalam acara sakral itu.  Namun, dia sudah bertekad tidak akan mengajukan protes ataupun bertanya jika ada hal yang tidak berjalan dengan semestinya.  Karena Qiandra sudah bisa menduga kalau kejadian seperti ini sangat mungkin terjadi.  Qiandra menyadari pertentangan dalam keluarga Zacharias terhadap kehadiran Risty pasti akan menyebabkan banyak perubahan dalam aturan baku yang ada.


Qiandra kagum pada sikap Daddy Walt yang bisa bersikap cukup bijaksana dalam menghadapi sikap Dean.  Daddy Walt tidak marah atas sikap Dean yang benar-benar tidak mau berdekatan bahkan sekedar menyapa Risty pun tidak dilakukan oleh Dean.  Daddy Walt tetap tersenyum menghadapi sikap istri, anak bahkan menantunya, yang Qiandra sadari cukup berlebihan.


Karena itulah, Qiandra tidak ingin suaminya memprotes sikap ayahnya itu.  Qiandra menyadari kalau Daddy Walt juga harus menjaga kehormatan sang istri, sekalipun orang tua ini terlihat sangat tidak respek terhadap istrinya itu.


Qiandra memang bisa melihat dengan jelas kalau daddy Walt tidak begitu perduli dengan Risty.  Sikap dingin sang ayah dari suaminya itu terlihat sangat jelas di mata Qiandra.  Dimulai dari mereka masuk tadi, daddy Walt


sama sekali tidak berniat memperkenalkan Risty kepada Qiandra.  Dan hingga saat ini, Qiandra tidak mendengar laki-laki paruh baya itu berbicara sekali pun dengan istrinya.


Qiandra terus memegang pergelangan tangan suaminya sambil sedikit menggeleng dan tersenyum lembut pada laki-laki itu.  Dia tidak melarang suaminya dengan terang-terangan, karena itu pasti akan mempermalukan sang suami jika dia terlihat menurut keinginan istrinya.

__ADS_1


Dean yang memahami larangan sang istri hanya bisa mendesah dalam diam.  Memang sudah biasa baginya menerima protes dari sang istri, namun Dean juga sangat menghargai sikap wanita itu yang tidak pernah melarang dirinya secara terang terangan di hadapan orang banyak.  Karena banyak wanita yang baru masuk dalam sebuah keluarga kaya selalu ingin menunjukkan kalau suaminya sangat


mencintai dirinya dengan cara meminta suaminya menuruti semua keinginannya di


hadapan orang banyak.


Hal itu sudah sangat sering Dean lihat bahkan dialami sendiri olehnya saat dia bersama dengan Risty dulu.  Risty sangat suka memanfaatkan posisinya sebagai kekasih Dean untuk mendapatkan semua yang diinginkannya.  Bahkan tidak jarang dia membuat Dean harus menahan diri agar tidak mempermalukan wanita itu di depan umum kalau dia menolak keinginan Risty.


Berbeda jauh dengan Qiandra, wanita ini tidak pernah memanfaatkan posisi Dean untuk memenuhi keinginannya.  Dan, tiba-tiba Dean tersadar kalau Qiandra sama sekali belum pernah meminta apapun padanya yang hanya untuk bersenang-senang.  Bahkan, Dean belum pernah menerima laporan transaksi keuangan yang dilakukan oleh istrinya itu, walaupun Dean sudah memberikan beberapa black card untuk wanita itu.


Menyadari hal itu, Dean berpaling dan menatap wajah sang istri yang sedang tersenyum padanya.  Dean melepaskan pegangan jemari Qiandra di lengannya, dan beralih menggenggam kedua jemari wanita itu.  Dean menghadapkan dirinya pada Qiandra, dan dengan penuh kelembutan dia


mencium jemari sang istri.


Tidak hanya itu, Dean bahkan meraih pinggang istrinya dan mencium kening serta bibir wanita itu dengan lembut, “As you want, my Queen” bisiknya lembut di telinga Qiandra.


Tepuk sorak seluruh hadirin menggema saat melihat adegan mesra yang dilakukan secara spontan oleh sang putra mahkota itu.  Tidak ada yang menyangka bahwa seorang Dean


Walt Zacharias bisa melakukan hal sefrontal itu di hadapan banyak orang.  Semua itu menunjukkan dengan jelas seberapa besar rasa cintanya pada sang istri.


Qiandra yang mendapatkan perlakuan seromantis itu di hadapan orang banyak, tentu saja merasa sangat terkejut sekali.  Wajahnya seketika merona menambah kecantikan sempurna yang terpancar di wajahnya.  Wanita itu bahkan tidak bisa berkata-kata, dia hanya bisa tersenyum


malu-malu dengan mata sedikit melotot pada sang suami.


Dean yang melihat wajah sang istri, hampir tak mampu menahan tawanya.  Dia tahu Qiandra pasti kesal atas sikapnya itu, karena Qiandra memang bukan tipe wanita yang suka mengumbar kemesraan di hadapan banyak orang.  Namun, Dean memang sangat ingin melakukan semua itu, agar semua orang


tahu kalau dia tidak main-main dengan pernikahannya.


Namun, kebahagiaan dan rona merah di wajah Qiandra berbanding terbalik dengan rona merah di wajah Risty.  Wajah wanita ini memerah karena menahan kekesalannya pada kedua sejoli yang sedang berbahagia itu.  Risty tidak habis pikir bagaimana bisa Dean bersikap seperti itu kepada Qiandra di hadapan orang banyak.


Sementara dulu saat bersama dengan Risty, jangankan mencium Risty, untuk bergandengan tangan saja Dean selalu menolak jika mereka sedang di tengah orang banyak.  Tidak pernah sekalipun Dean bersikap mesra kepada Risty, baik saat mereka hanya berduaan apalagi di hadapan orang banyak.  Jika Risty berusaha sedikit bersikap manja pada Dean, maka laki-laki itu akan memberikan tatapan tajam kepadanya seolah memperingatkan dirinya.


Hal itulah yang membuat Risty dulu merasa ragu terhadap perasaan Dean kepadanya.  Tapi saat ini, Risty bisa melihat sendiri bagaimana Dean menatap Qiandra.  Tidak ada tatapan setajam mata elang yang


diarahkannya pada wanita itu.  Tetapi


tatapan lembut penuh kekaguman dan cinta yang terlihat jelas di mata laki-laki itu saat dia menatap Qiandra.


Terlalu sulit bagi Risty untuk menerima kenyataan bahwa laki-laki yang diharapkannya masih mencintai dirinya itu ternyata sudah jatuh cinta sedalam ini pada wanita lain.  Wanita ini tetap berusaha menolak kenyataan yang ada di depan matanya itu.  Risty berusaha berpikir bahwa semua itu dilakukan oleh Dean hanya untuk sebuah popularitas dan nama baik keluarga


saja.


Karena memang seperti itulah yang biasa dilakukan oleh Risty.  Bersandiwara dihadapan orang banyak dan kamera hanya untuk sebuah konten yang bisa mendapatkan tanggapan positif dari dunia.  Risty sudah biasa berpura-pura mencintai dan berbahagia saat di hadapan kamera.  Dia sangat pandai menyembunyikan perasaan dan keadaan hatinya yang sebenarnya.

__ADS_1


__ADS_2