
Setelah menyelesaikan sarapan pagi yang sudah sangat terlambat, akhirnya Qiandra dan Dean bisa duduk bersama saling berhadapan. Dean sangat tidak suka dengan posisi ini, dia ingin berbicara sambil memeluk tubuh sang istri. Namun, dia tidak berdaya karena Qiandra mengancam akan meminta Dika mengusirnya kalau dia tidak mau mengikiuti keinginan Qiandra.
Bukan tanpa alasan Qiandra ingin berbicara dengan posisi seperti ini. Pertama, Qiandra tidak ingin pembicaraan mereka tidak focus karena tingkah sang suami yang seakan
tidak pernah puas itu. Selain itu, Qiandra juga ingin menangkap semua ekspresi wajah Dean saat dia menceritakan semunya pada laki laki itu. Qiandra tidak ingin Dean menyembunyikan apapun darinya.
“Semuanya berawal saat terjadi peristiwa tragis yang menimpa keluarga kecilku lebih dari dua puluh tahun yang lalu” ucap Qiandra membuka pembicaraan mereka. Wajah Dean yang pada awalnya terlihat kesal segera berubah dalam mode serius saat mendengar kata “tragis” diucapkan oleh Qiandra. Tiba
tiba hati Dean menjadi was was, dan hal itu terlihat jelas di wajahnya oleh Qiandra.
Qiandra melanjutkan menceritakan semua kejadian dengan mendetail kepada Dean sambil terus memperhatikan ekspresi wajah sang suami. Qiandra bisa melihat raut terkejut dan khawatir di wajah Dean saat Qiandra menceritakan tentang tuduhan pengkhianat yang dituduhkan pada ayahnya. Setelah itu, Dean benar benar tidak bisa menyembunyikan kegelisahan dan kegundahannya.
“Jadi, Love, yang ingin aku tanyakan padamu sekarang, apakah kamu mengetahui kisah ini” tanya Qiandra masih dengan intens menatap wajah sang suami.
Dean beberapa kali mendesah dengan nafas berat, bahkan tanpa sadar dia mengusap wajahnya. “Jadi, kamu putri siapa” tanya Dean tanpa menjawab pertanyaan Qiandra.
“Aku adalah putri kedua Kenrich Hamilton, namaku Felicia Kenrich Hamilton, dan kakakku satu satunya yang tidak berhasil dibunuh adalah Andika Kenrich Hamilton, atau yang selama ini kita kenal sebagai asisten Dika” sahut Qiandra dengan tegas.
“A…. apa????, Hamilton katamu ……. A ….. apa kamu yakin dengan semua itu, mung …. Mungkin saja ada kesalahan bukan, kamu sendiri bilang kalau kamu tidak mengingat masa kecilmu, apa kamu tidak berfikir kalau semua ini adalah manipulasi dari Dika saja karena dia ingin menyatukan kamu dengan
Daniel” tanya Dean dengan terbata dan bertubi tubi.
Qiandra cukup terkejut karena Dean tiba tiba mengubah panggilannya dan menyebut Qiandra dengan ‘kamu’. “Aku awalnya tidak percaya, tapi lama kelamaan seluruh ingatanku mulai pulih, dan aku benar benar bisa mengingat semuanya. Walaupun tidak begitu jelas karena usiaku masih kecil, tapi aku bisa mengenali wajah kedua orang tuaku”
sahut Qiandra menegaskan keyakinannya.
“Tapi, bukankah seluruh keluarga Hamilton telah meninggal, tidak ada yang tersisa termasuk kedua anaknya dan juga seisi mansionnya” desis Dean dengan resah.
“Sayang sekali, semua itu hanya harapan semu, karena kami berhasil selamat dari tragedi maut itu. Walaupun kami harus berpisah selama puluhan tahun, sekarang disinilah kami, bisa berkumpul bersama di mansion yang dulu sudah dibumihanguskan, namun sekarang sudah berhasil dibangun Kak Dika lagi” kembali Qiandra menyahut dengan suara tegas walaupun sedikit bergetar.
Sikap dan pertanyaan bahkan ucapan terakhir Dean yang mengatakan keluarganya telah mati semua, membuat hati Qiandra seketika terluka. Dari situ, Qiandra bisa menduga kalau Dean mengetahui semuanya dan Dean seakan membenarkan bahwa semua itu memang ada kaitannya dengan keluarga kerajaan. Meski hatinya hancur, Qiandra berusaha untuk tetap tegar di hadapan
__ADS_1
Dean, dia tidak ingin mengeluarkan air matanya.
Dean mendesah kasar, tangannya tanpa sadar terkepal, “Kenapa, kenapa, Qi, kenapa diantara sekian banyak wanita kenapa harus kamu” serunya dengan frustasi. Dean berdiri
dan melangkah menuju ke jendela kamar Qiandra dan menatap ke arah taman yang
selalu dipandang oleh Qiandra. Tangannya
bersandar di tembok samping jendela itu dengan mata menatap ke arah taman itu.
“Taman itu adalah tempat aku dulu selalu bermain bersama Kak Dika dan mommy, aku masih bisa mengingatnya walau samar, terkadang Daddy juga menemani kami bermain bersama. Kenangan itu masih terasa sangat indah dan membuat hatiku menghangat, sayangnya keegoisan telah membuat semua itu hilang terenggut dari hidupku dan berakhir dengan rentetan penderitaan yang aku alami” ucap Qiandra dengan suara bergetar.
“Egois katamu, Qi, tahukah kamu jika saat itu nyawaku pun dipertaruhkan, tidak hanya orang tuaku yang akan dimusnahkan, tetapi juga aku, para pengkhianat itu benar benar ingin memusnahkan kami, sekarang katakan
padaku, apakah egois jika kami berusaha melindungi diri, apakah egois jika kami
menggunakan sisa kekuatan yang kami punya untuk membela orang yang kami
Qiandra terkejut mendengar Dean berseru kepadanya, Qiandra ingat terakhir kali Dean marah saat dulu dia dijebak oleh Daniel. Qiandra berusaha menguasai dirinya, dia
mengelus lembut perutnya dan menatap Dean dengan mata sendu. Saat melihat reaksi Qiandra, Dean seolah tertampar dengan kenyataan yang ada.
Dean dengan terburu melangkah mendekati Qiandra dan bersimpuh di hadapan wanita itu. Dia menenggelamkan kepalanya di perut Qiandra seraya memeluk pinggang sang
istri. “Maafkan Daddy, Nak, maafkan Daddy lepas kendali, ya Tuhan, mengapa semua ini terjadi” desisnya hingga bahunya bergetar.
Qiandra bisa merasakan perutnya basah, sehingga dia tahu kalau laki laki yang sangat dicintainya itu sedang menangis. Walau berat, Qiandra tetap menguatkan dirinya
untuk memastikan dugaannya, “Jadi, benar kalian yang telah memerintahkan untuk
memusnahkan keluarga kami” tanya Qiandra dengan dada bergemuruh.
__ADS_1
Qiandra merasakan gerakan di perutnya, namun dia tetap meminta kepastian pada Dean, “Jawab aku dengan jujur” desis Qiandra.
Dean mengangkat kepalanya, “Seingatku, ada lebih dari sepuluh keluarga yang terindikasi sebagai pengkhianat, dan mereka telah
merencanakan pemusnahan keluarga kerajaan, kakek, nenek, dan kami sekeluarga
terutama daddy dan aku adalah sasaran utama saat itu. Beberapa kali percobaan pembunuhan berhasil digagalkan, hingga akhirnya Kakek memutuskan untuk membalas demi melindungi keluarga” sahut Dean sambil menatap Qiandra.
“Apa ada bukti kalau Daddyku memang seorang pengkhianat” tanya Qiandra dengan suara sendu, air mata sudah tidak bisa ditahannya lagi.
“Aku baru berumur sepuluh tahun saat itu, aku hanya diberitahukan secara garis besarnya dan nama nama keluarga yang berkhianat, dan Hamilton adalah keluarga terakhir, sehingga aku bisa ingat dengan sangat jelas
nama keluarga itu” sahut Dean.
Qiandra tiba tiba terkulai tak sadarkan diri, membuat Dean panik seketika, “Qi, Qi, Honey, ku mohon jangan membuat aku khawatir, buka matamu, Honey” seru Dean dengan panik. Dean menekan tombol yang ada di sisi Qiandra, dia yakin tombol merah itu adalah tombol emergency.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka dan terlihat Dika berlari dengan tergesa, saat melihat Dean membaringkan Qiandra dalam kondisi tidak sadarkan diri, Dika tidak mampu menahan dirinya. “Apa yang kamu lakukan pada adikku, bajingan” serunya seraya melayangkan pukulan telak ke wajah Dean.
Dean yang baru saja meletakkan tubuh Qiandra terkejut dan tidak sempat menghindar sehingga pukulan itu membuatnya terjengkang. Untung saja Chris segera menahan Dika untuk tidak kembali memukul Dean, “Dika tenangkan dirimu, kita belum tahu apa yang terjadi” seru Chris.
“Lepaskan aku, Paman, dengan tanganku sendiri aku akan membunuh laki laki ini” seru Dika berusaha melepaskan dirinya dari Chris.
“Dika, utamakan adikmu” seru Clayandra yang juga panik melihat wajah pucat Qiandra. “Cepat panggil dokter Freddy” lanjutnya lagi membuat Dika tersentak dan segera meraih
phonselnya dan menghubungi dokter Freddy.
Sementara Dean hanya bisa terpaku dan tidak tahu harus berbuat apa. Dean sama sekali tidak berniat membalas pukulan Dika, dia sendiri merasa sangat terguncang dengan
kenyataan yang ada. Bagaimana dia bisa
menikah dengan wanita yang menjadi keturunan orang yang pernah ingin membasmi keluarganya. Sungguh hal yang sangat sulit di terima oleh presidir tampan itu.
__ADS_1