
“Apa Daddy baik baik saja, Love” tanya Qiandra saat melihat Dean masuk ke dalam kamar dengan wajah lusuh. Bahkan jejak air mata juga terlihat di sudut mata laki laki itu.
“Daddy baik, Honey” sahut Dean seraya duduk di samping sang istri, membuat Qiandra segera melepaskan gadget yang sedang dibukanya untuk membaca informasi seputaran kehamilan, ibu dan anak.
“Lalu kenapa wajahmu terlihat lusuh” tanya Qiandra dengan kening mengernyit seraya membelai wajah sang suami dengan penuh kasih. Dean tersenyum, lalu perlahan memejamkan matanya merasakan kasih sayang sang istri melalui sentuhan selembut kapas itu.
“Apakah kadar ketampananku berkurang karena lusuh seperti ini, Honey” tanya Dean dengan mengedipkan sebelah matanya.
“Ish,......” kesal Qiandra mendengar pertanyaan sang suami lalu mencubit hidung mancung Dean.
“Awwww, Honey, apa kamu mau tanggung jawab kalau hidungku jadi panjang seperti hidung pinokio” keluh Dean dengan wajah dibuat meringis seraya memegang hidungnya.
“Mana ada hidung bisa jadi panjang hanya karena ditarik begitu, ada ada saja” sahut Qiandra dengan wajah cemberut.
“Ha ha ha, kamu benar juga, Honey” kekeh Dean, lalu dia merengkuh pinggang Qiandra, “Honey, aku ingin membicarakan sesuatu yang penting denganmu, tapi aku mau kamu akan memberikan jawabab yang jujur untukku” lanjutnya seraya memalingkan wajah Qiandra agar menghadap ke arahnya.
Qiandra mengernyitkan keningnya, namun sesaat kemudian dia tersenyum, “Love, kamu tahu kalau aku tidak akan bisa menutupi apapun darimu, jadi katakan saja apa yang
ingin kamu sampaikan dan kamu ketahui dariku” ucap Qiandra.
“Daddy menginginkan kita untuk tinggal di istana, beliau bahkan sudah mengeluarkan
semua orang yang terlibat dalam kasus itu, agar kita tidak merasa khawatir lagi. Tapi, aku sudah mengatakan padanya bahwa aku menyerahkan masalah ini padamu, aku akan tinggal dimanapun kamu tinggal dan merasa nyaman. Aku tidak akan memaksamu untuk tinggal di suatu tempat yang dapat membuatmu merasa tertekan dan tidak bahagia” ucap Dean sambil menatap mata sang istri dengan intens.
“Hmmmm, memang siapa lagi yang ada dan tinggal di istana ini, Love” tanya Qiandra. Sejujurnya, Qiandra merasa belum siap untuk
menempati istana yang begitu megah itu.
“Tidak ada, Honey, dan tidak akan ada” sahut Dean.
__ADS_1
“Keluargamu, paman dan bibi juga nenekmu” tanya Qiandra.
“Mereka menempati kastil yang ada di sekitar istana, tapi istana memang hanya boleh ditempati oleh keluarga inti raja dan ratu” sahut Dean.
Qiandra mendesah perlahan, “Kalau begitu, bukankah kita tidak punya pilihan, Love” desis
Qiandra.
“Kita tetap bisa menentukan pilihan, Honey, jangan memaksakan diri, aku tidak ingin kamu merasa tertekan” ucap Dean dengan sungguh sungguh.
“Love, sejujurnya aku memang belum siap untuk tinggal di istana ini, tapi cepat atau lambat aku sendiri menyadari kalau itu merupakan tanggung jawabku. Siap ataupun tidak siap, saat aku menerima kamu menjadi suamiku, maka aku harus siap mendampingi kamu dalam keadaan apapun. Tolong bantu dan ajari aku agar dapat menempatkan diri sesuai dengan tugas dan tanggung jawabku, Love” ucap Qiandra dengan yakin.
“Honey, ......” Dean tidak tahu harus mengatakan apa, hatinya begitu kagum dengan Qiandra, “Terima kasih” desisnya pada akhirnya saat dia menarik Qiandra masuk dalam pelukannya. “Kamu tidak perlu memikirkan harus bagaimana, tetaplah menjadi dirimu sendiri, karena sekarang tidak ada yang bisa menyalahkan kamu, kamulah aturan dalam istana ini. Apapun yang kamu putuskan, maka itulah yang akan berlaku tanpa harus meminta ijin padsa siapapun” ucap Dean.
“Mana bisa seperti itu, Love” protes Qiandra mendengar kata kata Dean. “Bukankah istana sudah punya aturan sendiri, tentu tidak bisa aku serta merta mengubahnya” lanjutnya lagi.
“Jangan terlalu dipikirkan, Honey, semua aturan itu adalah aturan yang sudah dibuat turun temurun, banyak yang harus diperbaharui. Tapi sementara ini, kamu tidak perlu memusingkan hal itu, biarkan
“Hah, baiklah, Love, aku akan berbicara dengan semua keluarga nanti, khususnya nenek dan bibimu” sahut Qiandra pasrah.
“Itu jauh lebih baik, Honey” sahut Dean, “Jadi kamu setuju untuk tinggal diistana ini mulai
sekarang, Honey” tanya Dean lagi memastikan.
Qiandra tersenyum, “Tentu, Love, siapa yang tidak mau tinggal di istana semegah ini”
sahut Qiandra sambil mengedipkan mata pada sang suami. “Aku sekarang benar benar menjadi sang Cinderella” lanjutnya lagi.
“Jangan menggodaku, Honey” desis Dean yang merasa gerah saat melihat wajah imut sang istri.
__ADS_1
“Singkirkan pikiran mesummu itu, Tuan, atau kamu harus berpuasa selama seminggu ke depan” sungut Qiandra. Bagaimana tidak, sampai saat ini saja Qiandra masih merasa tubuhnya remuk akibat melayani sang suami.
“Heiii, kenapa ancamanmu begitu mengerikan, Honey” seru Dean, “Kamu memang paling tahu ancaman apa yang paling menakutkan aku” kekehnya lagi. “Ya, sudah, sekarang kamu bersiaplah, karena nanti beberapa pelayan akan membawa kamu ke kamar ganti untuk mencoba beberapa gaun untuk upacara penobatan nanti” lanjut Dean.
“Memang kapan acara penobatannya, Love” tanya Qiandra.
“Minggu depan, karena itu segala sesuatu sudah mulai dipersiapkan. Aku juga akan memanggil Albert dan Vian agar segera membantu, karena mereka sangat memahami dan mengetahui apa saja yang harus dipersiapkan” sahut Dean.
“Oh, begitu, dan bagaimana dengan Kak Dika” tanya Qiandra lagi yang teringat pada keberadaan sang kakak.
“Aku akan meminta Dika untuk meninggalkan istana, karena dia nanti harus berdiri di pihakmu saat upacara penobatan sebagai bagian dari keluargamu” sahut Dean.
“Oh, begitu, tapi apa aku boleh bertemu dengan Kak Dika sebelum dia meninggalkan istana” tanya Qiandra.
“Tentu saja, Honey, atau apa kamu ingin bertemu Kak Dika sekarang sebelum kamu mencoba gaun gaunmu” tanya Dean menyetujui keinginan sang istri.
“Apa boleh, Love” tanya Qiandra dengan antusias dan mata berbinar.
“Hei, memang apa yang tidak boleh untuk sang ratu” kekeh Dean yang merasa cukup bahagia melihat sang istri begitu bahagia.
“Ah, baiklah, kalau begitu, aku ingin bertemu Kak Dika sekarang, Love, aku merindukannya,
sudah lama kamu tak bertemu” ucap Qiandra. “Tapi, apa orang tidak curiga dan merasa heran, Love” tanyanya lagi.
“Mereka toh akan tahu juga pada akhirnya bukan, jadi jangan khawatir, aku akan memanggil Kak Dika sekarang. Apa kamu ingin bertemu dengannya disini atau di ruangan lain” tanya Dean lagi.
“Apa boleg di ruangan lain, Love, rasanya tidak etis saja aku membawa Kak Dika masuk ke dalam kamar pribadi kita” sahut Qiandra. Dean tersenyum, dia sengaja ingin mendengar jawaban Qiandra, tentu saja tidak etis jika membiarkan Dika masuk ke dalam kamar pribadi mereka, sekalipun Dika
saudara kandung Qiandra.
__ADS_1
“As you want, my Queen, tunggulah sebentar disini” sahut Dean lalu memanggil pelayan melalui interkom yang ada di ruangan itu. Dean memerintahkan pelayan pribadinya untuk memanggil Dika dan membawanya ke salah satu ruang kerja yang ada di istana.
Saat Dika sudah berada di ruang kerja, seorang pelayan kembali memberitahukan kepada Dean. “Honey, Kak Dika sudah menunggumu, ayo” ucap Dean seraya mengulurkan tangannya untuk Qiandra dan menuntun wanita hamil tersebut menuju ruang kerja dimana sang kakak sudah menunggu Qiandra.