
"Vian, bagaimana bisa sudah berhari hari berlalu tapi masih belum ada informasi apa apa tentang kebaradaan Qiqi” seru Dean kepada asisten Vian. Asisten Vian benar benar merasa terkejut mendengar seruan bos sekaligus sahabatnya itu.
“Maafkan saya, Tuan, sepertinya Daniel bukanlah orang biasa, sepertinya dia memiliki kelompok mafia yang cukup kuat. Sehingga semua akses untuk mencari informasi tentang kebaradaan dirinya benar benar tertutup. Setiap kali kita menemukan celah untuk mendapatkan informasi, tidak berapa lama jalur itu langsung ditutup” ucap asisten Vian dengan wajah lelah.
Berhari hari asisten Vian benar benar tidak bisa beristirahat dengan benar, dia berusaha melakukan berbagai cara untuk bisa mencari keberadaan Qiandra. Namun dia begitu terkejut saat beberapa kali jalur informasi yang didapatkannya tiba tiba di blokir. Padahal tim IT mereka bukanlah tim sembarangan, mereka bisa dengan mudah meretas berbagai sistem yang sulit.
Sayangnya, saat berhadapan dengan Daniel, mereka benar benar mengalami kesulitan. Daniel seperti memiliki dinding pelindung yang begitu kokoh. Dan setiap kali mulai mendekati dinding itu, mereka akan dihadang dengan pemblokiran dan bahkan beberapa kali justru data mereka yang hampir dibobol.
Tiba tiba saat mereka berdua sedang tercenung, phonsel asisten Vian berbunyi. Awalnya asisten Vian mengabaikannya ketika melihat nomor asing yang menelepon dirinya. “Siapa, Vian” tanya Dean yang melihat Vian enggan mengangkat phonselnya.
“Nomor asing Tuan, saya sudah ratusan kali menerima panggilan dari nomor asing, Tuan” sahut asisten Vian.
Dean mengernyitkan kening menatap asisten Vian, “Mengapa ada banyak nomor asing menghubungi dirimu, Vian” tanya Dean dengan heran.
“Itu karena saya memberikan nomor ini untuk bisa dihubungi oleh siapa saja yang mempunyai informasi tentang keberadaan Nyonya Muda” sahut asisten Vian.
“Lalu mengapa sekarang kamu tidak mau mengangkatnya, siapa tahu itu memang orang yang ingin menginfokan tentang keberadaan Qiqi” ucap Dean masih dengan wajah heran menatap asisten Vian.
“Hah, tidak ada yang bisa dipercaya dari semua penelepon itu, Tuan, tidak ada info yang benar benar akurat yang mereka berikan, mereka hanya mengincar uang yang dijanjikan jika mereka memberikan info keberadaan Nyonya Muda” sahut asisten Vian.
Asisten Vian memang jengkel dengan orang orang yang hanya ingin mengambil hadiah puluhan juta yang ditawarkan itu. Bahkan tidak jarang diantara para penelepon itu hanya menghubungi untuk menggoda dirinya atau hanya sekedar berkenalan dengannya saja.
Dean akhirnya mengerti, “Ya sudah, kalau begitu kamu bisa mengganti nomor yang bisa dihubungi itu, biar langsung kepada tim IT kita, sehingga mereka bisa langsung melakukan pelacakan” lanjut Dean.
“Baiklah, Tuan” sahut asisten Vian, namun baru saja dia selesai berbicara, phonselnya kembali bergetar menandakan ada pesan masuk. Asisten Vian melihat phonselnya, dan dia melihat sebuah foto yang dikirim oleh nomor asing tadi.
Walaupun enggan, tapi asisten Vian tetap membuka pesan itu, karena jarang ada yang mengirimkan foto untuk menyertai pesannya. Dan betapa terkejutnya asisten Vian saat melihat foto itu, serta pesan yang tertulis di bawah foto itu.
“Tuan, …..” seru asisten Vian seraya menyerahkan phonselnya pada Dean.
“Ada apa, Vian kamu membuat jantungku hampir jatuh” kesal Dean yang benar benar terkejut mendengar asisten Vian berteriak.
“Tolong Tuan perhatikan foto ini” seru asisten Vian seraya terus menyodorkan phonselnya pada Dean.
Dean mengambil phonsel asisten Vian, dan betapa terkejutnya dia saat melihat foto itu. Foto sebuah cincin yang sangat dikenalnya, cincin pernikahannya dengan Qiandra.
“Mohon maaf, saya dokter Mira, saya sempat menolong wanita pemilik cincin ini beberapa hari yang lalu. Tapi saya tidak bisa mengatakan dimana wanita ini berada, silahkan Tuan melacak pulau di sekitar pulau tempat saya tinggal ini. Dan satu hal lagi, kemungkinan wanita ini sedang hamil” isi pesan itu membuat Dean terhuyung.
__ADS_1
Asisten Vian segera memberikan kursi untuk Dean, sehingga laki laki itu tidak jatuh ke lantai. “Vian, hubungi nomor ini lagi” seru Dean setelah sadar dari keterkejutannya.
Asisten Vian segera menghubungi nomor itu, namun panggilannya ditolak, membuat asisten Vian mengernyitkan keningnya. Tidak lama masuk lagi notifikasi pesan dari nomor tersebut. “Mohon jangan menghubungi saya, Tuan, karena saya sedang diawasi oleh orang orang yang menculik wanita itu”. Isi pesan itu segera diperlihatkan oleh asisten Vian kepada Dean, membuat Dean hanya bisa menghembuskan nafas berat.
“Segera lacak keberadaan nomor itu, lalu periksa pulau pulau disekitarnya” seru Dean kepada asisten Vian.
“Sedang dikerjakan, Tuan” sahut asisten Vian. Asisten Vian segera menyambungkan pencarian yang dilakukan oleh anak buahnya ke layar lebar yang ada di ruangan itu.
Tidak berselang lama, layar itu menampilkan sebuah peta kepulauan yang terlihat sangat banyak. Sebuah titik merah terlihat ditandai pada salah satu pulau yang cukup besar. “Sepertinya mereka memang membawa Nyonya Muda ke kepulauan ini, Tuan” seru asisten Vian.
“Periksa kepulauan di sekelilingnya, sepertinya ada banyak pulau kecil disitu” sahut Dean.
Asisten Vian mengetikkan keyboard dengan cepat, dan tidak berapa lama terlihat tampilan di layar beberapa pulau kecil di sekitar pulau yang sudah ditandai. Ada sekitar sepuluh pulau yang ditandai oleh asisten Vian.
Saat asisten Vian sedang sibuk mengotak atik keyboard di hadapannya, sebuah pesan kembali masuk ke phonselnya. Dan karena phonselnya sudah dihubungkan dengan layar di hadapannya, maka asisten Vian bisa langsung membuka pesan itu.
“Mereka menjemput saya dengan mata tertutup dan membawa saya memakai helicopter, jarak tempuh dari helicopter sekitar lima belas menit. Kami berhenti di sebuah tempat, lalu saya dibawa memakai lift, dan mata saya baru di buka saat saya sudah berada di depan kamar tempat wanita itu ditahan” kembali pesan dari nomor asing itu memberikan informasi secara lebih terperinci.
Asisten Vian segera membuat prediksi jarak dari titik merah tadi ke beberapa pulau di sekitarnya. Dia juga membuat prediksi waktu yang ditempuh jika menggunakan helicopter dari titik merah itu ke pulau lainnya. “Ada tiga pulau yang memiliki jarak kurang lebih lima belas menit jika ditempuh dengan helicopter, Tuan” asisten Vian melaporkan pada Dean.
“Hmmm, jika melihat info yan diberikan sepertinya Qiqi memang ditahan di sebuah villa dengan sebuah helipad diatasnya. Dan villa ini cukup besar karena juga dilengkapi dengan lift”desis Dean. “Bisakah kamu melihat dimana ada bagunan villa yang cukup besar diantara ketiga pulau itu” tanya Dean pada asisten Vian.
“Apa yang terjadi, Vian, segera tampilkan lagi” seru Dean dengan suara sedikit panik.
“Kita kembali di blokir, Tuan, saya harus segera mengamankan data kita, karena sepertinya ada serangan yang berusaha membongkar data base kita” sahut asisten Vian dengan wajah memerah menahan amarah.
Mata asisten tampan itu sama sekali tidak beralih dari layar computer di hadapannya. Tangannya bergerak dengan lebih cepat dari sebelumnya, walaupun dia berusaha untuk tetap tenang. Namun, Dean bisa melihat kepanikan di wajah asisten sekaligus sahabatnya itu, sehingga Dean tidak bersuara sama sekali.
Enam puluh menit berlalu dalam diam dalam ruangan itu, hanya diisi dengan bunyi tuts keyboard yang ditekan dengan sangat cepat. Sesekali terdengar hembusan nafas kesal dari asisten Vian, tubuhnya bergetar beberapa kali dengan kecemasan memenuhi wajahnya. Bulir bulir keringat terlihat membasahi keningnya padahal pendingin di ruangan itu sudah berada di titik maksimum.
Karena penasaran, akhirnya Dean bangkit berdiri dan berjalan mendekati asisten Vian. dia berdiri di belakang laki laki itu dan memperhatikan dengan seksama apa yang sedang dilakukan oleh asisten Vian. Namun, Dean sama sekali tidak memahami Bahasa program yang sedang dikerjakan oleh asisten Vian saat itu.
Tidak berapa lama, terlihat asisten Vian menghembuskan nafas lega, “Hah, akhirnya …..” seru laki laki itu sambil mengebaskan jemarinya yang terasa kaku. Dan betapa terkejutnya asisten Vian saat mendengar suara seseorang dibelakang punggungnya.
“Memangnya ada apa, Vian, apa kamu bisa menampilkan lagi map ketiga pulau itu” tanya Dean sambil menatap layar computer yang ada di hadapan asisten Vian.
“Maafkan saya, Tuan, kita tidak bisa lagi mengaksesnya, semuanya sudah di blokir. Sepertinya mereka sudah mengetahui kalau kita sudah semakin dekat melacak keberadaan mereka. Mereka punya teknologi yang luar biasa, sehingga begitu kita bisa mengakses sistem mereka segera melakukan pemblokiran dan bahkan balik melakukan penyerangan. Saya tadi harus berjuang mati matian untuk melindungi data base kita, karena sistem mereka langsung memasukkan virus yang begitu cepat menyerang kita” sahut asisten Vian seraya menjelaskan apa yang dilakukannya tadi.
__ADS_1
“Lalu bagaimana sekarang” tanya Dean lagi.
“Sekarang sudah aman, Tuan, walaupun ada beberapa data base kita yang sempat terserang, tapi bisa segera dipulihkan. Untungnya kita juga punya pelindung data yang cukup kuat, sehingga begitu ada serangan seperti itu, kita masih bisa bertahan” lanjut asisten Vian dengan penjelasan yang lebih dalam.
“Ya, sudah, kalau begitu segera siapkan semua armada udara kita, juga minta bantuan pihak otoritas keamanan udara. Kita akan langsung menyisiri ketiga pulau itu” ucap Dean.
“Tuan, saya mengkhawatirkan kondisi dokter Mira, dokter yang sudah menghubungi kita tadi” ucap asisten Vian yang tiba tiba teringat dengan seseorang yang sudah menghubungi dan memberikan informasi pada mereka.
“Ya, aku juga berpikir demikian, baiklah kita bagi saja timnya, agar kita bisa bergerak cepat. Langsung siapkan empat tim udara, tiga untuk mendatangi ketiga pulau itu dan satu langsung menuju ke pulau tempat dokter itu berada. Segera evakuasi dan amankan dokter itu beserta keluarganya” seru Dean pada asisten Vian.
“Siap, Tuan” sahut asisten Dika yang segera melakukan koordinasi dengan menggunakan alat komonikasinya.
Sementara Dean segera mempersiapkan dirinya dengan berbagai perlengkapan tempur membuat asisten Vian mengernyitkan keningnya, “Tuan, mau kemana” tanya asisten Vian.
“Aku akan ikut berangkat, Vian, jadi siapkan helicopter pribadiku. Firasatku mengatakan istriku ada di salah satu pulau itu, jadi aku sendiri yang akan menjemputnya” sahut Dean masih dengan berbagai persiapan.
“Tuan, jangan bilang Tuan akan ikut bertrempur, karena saya sangat yakin kalau Daniel tidak sendirian disana. Tolong jangan gegabah, Tuan, keselamatan Anda adalah hal yang utama” seru asisten Vian dengan panik.
“Vian !!!!” seru Dean dengan tatapan tajam pada asistennya itu, “Saat ini menyelamatkan Qiqi adalah hal yang utama, apalagi saat ini dia sedang mengandung penerus Zacharias. Aku tidak perduli dengan nyawaku, asalkan Qiqi dan anakku bisa diselamatkan” sarkasnya pada asisten Vian membuat sang asisten meneguk salivanya yang terasa kering.
Asisten Vian tahu kalau Dean sekarang sangat panik, tapi dia juga tidak bisa mengabaikan keselamatan sang Tuan Muda itu. “Saya akan ikut dengan Anda, Tuan” sahut asisten Vian yang tahu kalau Dean tidak akan bisa dicegah lagi.
“Vian, kamu harus tetap disini untuk memantau semuanya” seru Dean saat melihat asisten Vian sudah bergerak dan mulai mempersiapkan dirinya.
“Disini ada Rio, kalau hanya memantau dan melacak dia bisa diandalkan. Lagi pula ada banyak tim IT kita yang bisa membackup semuanya” sahut asisten Vian tidak menggubris perintah Dean.
Dean hanya terdiam mendengar kata kata asisten Vian, sama halnya dengan asisten Vian memahami dirinya, Dean juga mengerti kalau dia tidak bisa mencegah sang asisten mengikuti dirinya. Lagi pula, Dean juga merasa lebih tenang jika ada asisten Vian didekatnya, karena sahabatnya ini sangat mengerti tentang dirinya. Sehingga apapun yang direncanakan dan diinginkannya, asisten Vian bisa dengan mudah memamahaminya tanpa harus dijelaskan panjang lebar.
Saat keduanya sedang bersiap, tiba tiba pintu ruangan itu di buka, terlihat dokter Albert datang dengan wajah masam. “Sahabat macam apa kalian ini, sehingga diriku sama sekali tidak kalian anggap dan kalian tinggalkan sendirian” serunya seraya ikut bersiap siap.
“Al, bagaimana dengan daddy jika kamu juga turut pergi bersama dengan kami” seru Dean yang cukup terkejut dengan kehadiran dokter Albert.
“Disana ada dokter Dewi, dia sudah aku perintahkan untuk stand by. Di sekeliling ruangan juga sudah aku tempatkan puluhan bodyguard terbaikku” sahut dokter Albert masih dengan santai terus mempersiapkan dirinya.
Dean hanya menghembuskan nafas berat, dia sangat tahu kalau dia tidak akan bisa mencegah kedua sahabatnya itu untuk ikut serta. Karena jika dia mencoa melarang mereka, maka perdebatan yang Panjang tidak akan bisa dielakkan lagi.
Akhirnya, ketiga orang itu telah bersiap dengan rompi anti peluru dan beberapa senjata yang menempel di tubuh mereka. Asisten Vian meghampiri Dean dan memeriksa semua perlengkapan laki laki itu, seakan tidak percaya kalau Dean bisa melakukannya sendiri.
__ADS_1
“Ku mohon jangan gegabah, Tuan, ada aku dan Albert yang akan menghadapi mereka” desis asisten Vian dengan sedikit kecemasan dalam suaranya.
Dean hanya berdiam diri dan tidak merespon ucapan asisten Vian. “Hah, rasanya sudah sangat lama kita tidak melakukan ini, aku merasa sangat bersemangat sekali” seru dokter Albert yang berusaha mencairkan ketegangan di ruangan itu.