
“Duduklah, Qian” ucap Daniel, saat Qiandra masuk ke dalam ruangannya. Qiandra mengikuti perintah Daniel dan duduk di salah satu sofa yang tersedia di ruangan mewah itu. “Apakah urusanmu sudah selesai” tanya Daniel.
“Sudah, Tuan, aku tinggal menyerahkan buku rekening ini ke bagian keuangan saja” sahut Qiandra dengan ramah.
“Hmmm, jadi bagaimana, kapan kamu akan menempati rumahmu lagi” tanya Daniel yang cukup senang mendengar nada bicaa Qiandra yang cukup bersahabat.
“Aku harus memastikan beberapa hal dulu, Tuan sebelum memutuskan akan menempati rumah itu, karena aku tidak ingin ada hal-hal yang tidak inginkan terjadi lagi” sahut Qiandra masih dengan nada bersahabat.
“Apa itu, Qian, aku bisa membantumu” ucap Daniel, dia berharap Qiandra akan meminta petolongannya sehingga dia bisa kembali mendekati wanita itu.
“Ah, hanya hal-hal yang bersifat pribadi saja, Tuan, lagipula, rumah itu sangat besar untukku sendiri, aku pasti akan kesulitan mengurusnya, jadi, mungkin aku harus mengumpulkan uang dulu untuk merekrut beberapa pelayan dan penjaga keamanan” sahut Qiandra berusaha mencari-cari alasan.
“Kalau masalah itu, kamu jangan khawatir, Qian, aku bisa memberimu beberapa pelayan juga penjaga keamanan, jangan pikirkan masalah gajinya, aku yang akan membayarnya” sahut Daniel, sudut bibirnya sedikit terangkat. Daniel akan dengan senang hati menempatkan orang-orangnya didalam rumah Qiandra.
“Ah, tidak, tidak perlu Tuan, aku rasa aku hanya perlu minta ijin Tuan, aku ingin mengambil gajiku bulan ini dan juga uang lemburku lebih dulu, Tuan, jadi aku bisa secepatnya mencari orang-orang yang aku perlukan” sahut Qiandra.
“Hmmm, baiklah, Qian, jika itu maumu, kamu hubungi saja bagian keuangan, mereka akan memberi semua yang kamu perlu, katakan saja berapa jumlahnya” sahut Daniel masih berusaha membujuk Qiandra agar bisa menerima bantuannya.
“Baiklah, Tuan, terima kasih banyak, kalau begitu saya permisi dulu, Tuan saya akan langsung ke bagian keuangan” sahut Qiandra dengan senyum manisnya, lalu dia berdiri dan membungkukkan badannya.
Daniel segera berdiri dan mendekati Qiandra, “Qian, kamu nggak harus kesana, aku siap membantumu, kamu tahu itu, kamu tinggal sebutkan berapapun yang kamu perlukan” ucapnya sambil memegang kedua bahu Qiandra, membuat wanita itu terkejut.
Qiandra mengagngkat kepalanya dan menatap mata Daniel dengan lekat, “Terima kasih, Tuan, Tuan sudah sangat banyak membantuku, aku tidak ingin merepotkan Tuan lagi” sahut Qiandra dengan berusaha menahan kekesalannya.
“Qian, kamu tahu aku tidak pernah merasakan direpotkan olehmu, justru aku sangat senang jika kamu mau menerima bantuanku, karena aku sangat mencintaimu” ucap Daniel dengan sendu. Dia menarik tubuh Qiandra dan memeluknya dengan erat.
Qiandra benar-benar terkejut, dia berusaha melepaskan diri, namun kekuatan Qiandra tidak sebanding dengan kekuatan tubuh kekar Daniel. “Biarkan seperti ini dulu, Qian, kumohon” bisik Daniel ditelinga Qiandra membuat Qiandra merinding.
Setelah beberapa saat, Daniel mengurai pelukannya, dia mengecup kening Qiandra pelan, “Jangan pernah sungkan untuk meminta bantuanku, Qian, ingatlah aku selalu ada untukmu” ucapnya lagi.
Qiandra hanya diam membisu, tangannya terkepal menahan amarah yang sangat ingin meledak. Namun, Qiandra tidak ingin membuat masalah saat ini, sehingga dia hanya menganggukkan kepalanya dan segera keluar dari ruangan itu.
Sementara, Daniel tersenyum puas, dia sangat yakin Qiandra sudah memaafkannya, karena wanita itu tidak lagi berontak dan memakinya, saat Daniel memeluk Qiandra.
__ADS_1
Qiandra bergegas menuju bagian keuangan dan menemui sahabatnya, Tari, “Tar, aku mau minta tolong nich” ucap Qiandra.
“Iya, presidir sudah meneleponku tadi, memang seberapa banyak yang kamu perlu” tanya Tari yang memang baru saja dihubungi oleh Daniel.
“Tolong hitung berapa gajiku sampai hari ini dan berapa uang lemburku sampai kemaren” sahut Qiandra.
“Lho, Tuan Daniel tadi bilang kamu boleh ambil berapa aja yang kamu perlu, Qian” sahut Tari yang merasa heran mengapa Qiandra justru memintanya menghitung gaji dan uang lemburnya.
“Tari, aku cuma ingin mengambil gaji dan uang lemburku saja, dan kalau bisa aku ambil cash aja ya” sahut Qiandra. Walau masih tidak mengerti, Tari mengikuti kemauan Qiandra, dia menghitung berapa gaji Qiandra dan juga uang lembur yang diperoleh Qiandra selama bulan ini.
“Ada enam puluh dua juta, itu sudah kuhitung semuanya, Qian, termasuk bonus dan tunjangan lainnya” ucap Tari setelah beberapa saat berkutat dengan komputernya.
“Boleh kuambil cash” tanya Qiandra.
“Oke, sebentar ya, aku proses dulu” sahut Tari, beberapa saat kemudian Tari menyerahkan sebuah amplop berisi uang Qiandra, “Ini, Qian, kamu yakin ini cukup” tanya Tari.
“Ya, harus cukuplah, kan ini yang memang hasil kerja kerasku, oh ya ini rekeningku untuk menggantikan rekening yang lama” ucap Qiandra lalu menyerahkan buku rekeningnya.
“Hei, kamu cukup memberikan nomornya saja padaku, buat apa juga kamu menyerahkan bukunya” ucap Tari.
Tari hanya menggelengkan kepalanya, dia sungguh tidak mengerti dengan pemikiran sahabatnya itu. Semua orang tahu, kalau presidir mereka menyukai Qiandra, namun tidak pernah sekalipun Qiandra memanfaatkan hal tersebut. Qiandra hanya mengambil apa yang menjadi haknya, bahkan dia juga lembur seperti karyawan lainnya jika dia memerlukan uang lebih.
Saat kembali ke mejanya, Qiandra terkejut saat melihat sebuah black card diletakkan diatas mejanya. Qiandra tahu siapa yang melakukannya, dia ingin marah dan segera mengembalikan kartu itu. Namun, sebuah ide terbersit dipikirannya, hingga akhirnya dia mengambil kartu itu dan menyimpannya.
Qiandra kembali dengan aktifitasnya, dia tidak mau menguras emosinya dengan hal-hal yang tak penting saat ini. Qiandra cukup lega karena hingga saat ini, semua rencananya berjalan dengan lancar. Qiandra tinggal menyelesaikan beberapa pekerjaan yang akan ditinggalkannya.
Saat jam pulang kantor, Daniel menghampiri meja kerja Qiandra, “Qian, apa kamu sudah menyimpan titipanku tadi” tanya Daniel.
“Maksud Tuan, black card ini” tanya Qiandra memastikan.
“Betul, gunakanlah sepuasmu, Qian, tidak perlu lembur lagi, ayo, aku antar kamu pulang sekarang” ucap Daniel dengan lembut, hatinya benar-benar bersorak karena Qiandra tidak menolak black card itu.
“Oh, terima kasih banyak, Tuan, tapi saya masih harus lembur malam ini, saya sudah terlanjur menyusun semuanya” ucap Qiandra seraya melirik tumpukan berkas yang ada di mejanya.
__ADS_1
“Hmmm, baiklah, Qian, tapi berjanjilah, ini malam terakhir kamu lembur, aku tidak ingin kamu sampai sakit hanya karena lembur” ucap Daniel dengan senyum penuh pesona yang justru membuat Qiandra merasa mual.
“Baik, Tuan” sahut Qiandra singkat.
“Kalau begitu, aku pulang duluan ya, jika ada apa-apa kamu bisa menghubungi aku” ucap Daniel lalu melangkah meninggalkan meja Qiandra, diikuti oleh asisten Dika. Qiandra membungkukkan badannya dan setelah Daniel berlalu, dia segera kembali pada pekerjaannya.
Ketika jam sudah menunjukkan pukul dua puluh satu, Qiandra mengirimkan pesan pada Mang Ijal, “Paman, apa semuanya sudah siap” tanya Qiandra.
“Mobil hitam yang sederhana tapi masih bagus dengan pelat palsu sudah siap Qian, dan sekarang aku dan Ibu sedang dalam perjalanan” balas Mang Ijal.
“Bagaimana yang di luar kota” tanya Qiandra lagi.
“Juga sudah siap, tinggal menunggu perintahmu dimana dia harus menunggu kita” jawab Mang Ijal lagi.
“Suruh dia menunggu di batas masuk desa Y” sahut Qiandra.
“Baik, jam berapa kami menjemputmu” tanya Mang Ijal.
“Tepat pukul dua puluh tiga, aku akan keluar lewat pintu belakang, saat itu waktu pergantian shift jaga CCTV” sahut Qiandra.
“Baik” sahut Mang Ijal.
Qiandra segera menyelesaikan berkas-berkasnya dan merapikan mejanya, Qiandra juga mengganti pakaian kantor yang digunakannya, dan meletakkannya dalam sebuah paper bag. Semua pakaian yang dibeli oleh asisten Dika, diletakkannya diatas mejanya. Kemudian, Qiandra mengambil sebuah amplop dan memasukkan surat pengunduran dirinya beserta black card pemberian Daniel.
Qiandra masuk kedalam ruangan Daniel, karena memang hanya dia dan asisten Dika yang punya akses untuk masuk ke sana. Qiandra meletakkan amplop tersebut diatas meja Daniel, lalu dia menunduk sebentar ke arah meja Daniel kemudian Qiandra segera keluar dari ruangan itu. Setelah yakin semuanya sudah selesai, Qiandra kembali duduk di kursinya menunggu waktu keberangkatannya.
Qiandra membuka emailnya, lalu membuat sebuah surat untuk Daniel juga untuk Dean, dia membuat settingan agar surat itu terkirim besok siang. Setelah itu Qiandra menutup akun emailnya dan menutup layar komputernya.
Saat waktunya tiba, Qiandra bergegas keluar dari ruangannya dan melalui pintu belakang yang biasanya dilalui para ob, dia keluar dari kantor pusat PT. Mahardika. Sebuah mobil hitam sudah menunggu Qiandra, dan saat Qiandra melihat ada Bik Sum didalamnya, dia langsung masuk ke dalam mobil itu.
“Apa semua baik-baik saja, Qian” tanya Mang Ijal saat Qiandra telah masuk ke dalam mobil itu.
“Iya, Paman, maaf kita jadi harus seperti ini, aku sungguh tidak ingin mereka bisa melacak keberadaanku” sahut Qiandra.
__ADS_1
“Jangan khawatir, Qian, kurasa mereka tidak akan bisa menemukan jejakmu, sekalipun mereka orang kaya dengan segala kemampuannya” sahut Mang Ijal.