
Sekilas saja anak laki laki tadi melihat dia sudah bisa mendapati kalau orang orang itu bersenjata. "Kamu, cepat masuk ke mobil, Bram, segera berangkat sekarang" ucap anak laki laki itu dengan suara tegas lalu berbalik.
"Tapi, Tuan ......" Bram tidak sempat membantah, karena Tuan Mudanya itu sudah menarik tangan Dika dan membawanya masuk ke dalam mobil. Mau tidak mau Bram juga segera masuk ke dalam mobil dan segera menjalankan mobil mewah itu dengan kecepatan tinggi. Bram juga mengubah plat mobil dengan pengatur otomatis agar plat mobil mereka tidak diketahui oleh para pengejar Dika.
Para anak buah Paman Lee mengumpat saat melihat mobil mewah itu sudah berlalu membawa anak buruan mereka. "Bagaimana ini, bos pasti marah besar pada kita, aku yakin anak tadi adalah salah satu anak Kenrich" ucap salah satu dari mereka.
"Hah, ya sudah, bilang saja kita salah lihat, tembak saja kelinci yang berkeliaran itu, katakan saja kalau yang kita lihat tadi hanya seekor kelinci" ucap orang yang lain yang terlihat seperti pemimpin mereka.
Dan mereka lalu menembak satu kelinci yang ukurannya cukup besar dan melangkah bersama kembali ke reruntuhan mansion dimana Paman Lee sedang menunggu mereka. "Apa yang kalian kejar, mengapa begitu lama" tanya Paman Lee dengan wajah gusar.
"Maaf, Tuan, kami tadi mengira kami melihat orang, tapi ternyata yang kami lihat tadi hanya seekor kelinci. Tadi anak anak juga sempat menembaknya, Tuan, ini dia" ucap laki laki itu sambil mengangkat kelinci yang sudah mereka tembak.
"Haish, ada ada saja kalian ini, ya sudah, lalu bagaimana yang di gazebo, apa itu memang bekas yang masih baru" tanya Paman Lee lagi. Laki laki paruh baya itu benar benar tidak mau ada yang tersisa hidup dari turunan Kenrich, saudara tirinya itu.
"Sepertinya itu memang bekas semalam, Tuan, sepertinya tadi malam mereka sempat bermain di gazebo itu, Tuan" sahut anak buah yang lain membohongi Paman Lee. Mereka memang sudah sepakat membohongi laki laki itu, karena mereka tidak ingin dimarahi dan disiksa karena gagal menangkap anak laki laki tadi.
"Kalian yakin, awas saja kalau kalian salah, akan aku habisi kalian semua termasuk seluruh keluarga kalian" desis Paman Lee yang sedikit curiga dengan laporan anak buahnya itu.
"Tidak, kami sangat yakin, Tuan, tidak ada tanda tanda keberadaan orang lain di sekitar mansion ini, sepertinya memang mereka telah habis dilalap api di dalam mansion tadi malam" ucap pemimpin anak buah Paman Lee dengan tegas.
"Baiklah, aku percaya pada kalian, ya sudah, bagaimana apa sudah bersih semuanya, ingat jangan sampai ada jejak yang tertinggal" lanjut Paman Lee lagi.
"Sudah, Tuan, sudah bersih semuanya" sahut si pemimpin tadi lagi.
"Baiklah, pastikan semua mayat sudah hangus terbakar dan tidak bisa ditemukan lagi" seru Paman Lee pada semua anak buahnya.
"Baik, Tuan" sahut anak buah Paman Lee dengan serempak. Setelah itu Paman Lee kembali masuk ke dalam salah satu mobil ranger itu, senyum puas menghias bibirnya.
"Sekarang aku puas, kamu rasakan pembalasanku, Kenrich, sudah cukup kamu menindas aku selama ini" desis Paman Lee dengan wajah sinis.
Mobil ranger itu segera meninggalkan area puing puing mansion itu bersama dengan satu ranger lainnya. Sementara beberapa ranger lain masih menunggu disitu untuk memastikan semuanya sudah benar benar bersih.
Sementara itu, didalam mobil limousine yang sudah melaju cukup jauh dari lokasi kejadian, seorang laki laki paruh baya menatap anak kecil yang baru masuk ke dalam mobilnya.
"Benar kamu di kejar oleh orang orang jahat, atau kamu sengaja melarikan diri dari rumahmu" tanya laki laki itu penuh selidik pada Dika.
"Sudahlah, Dad, dia masih terguncang, mulai sekarang dia akan menjadi tanggung jawab Daniel, tidak perlu bertanya banyak hal padanya" bukan Dika yang menjawab pertanyaan laki laki paruh baya itu, tapi anak laki laki yang tadi menarik Dika masuk ke dalam mobilnya.
"Tapi, Daniel, bisa saja dia memang sengaja kabur dari rumahnya" sahut laki laki paruh baya yang dipanggil daddy oleh anak laki laki tadi.
"Dad, Daniel sudah biasa kabur dari rumah, tapi Daniel tidak akan mau sampai mengalami hal seperti dia tadi. Jadi, Daniel yakin dia tidak sedang berbohong, untuk hal lainnya, nanti akan Daniel pastikan bahwa semuanya akan baik baik saja" sahut anak laki laki yang bernama Daniel itu.
__ADS_1
"Baiklah, Daniel, Daddy tidak akan ikut campur lagi, tapi Daddy hanya ingin bertanya satu hal saja" sahut sang Daddy pasrah pada keinginan putranya itu.
"Tanyakan saja, Dad, tapi jangan pertanyaan yang membuat dia tertekan" sahut Daniel dengan suara dingin.
"Hey, boy, aku hanya ingin bertanya siapa orang tuamu" tanya Daddy Putra lagi, laki laki paruh baya itu memutuskan menanyakan siapa orang tua anak itu. Dia berpikir akan menyelidiki latar belakang keluarga Dika saat sudah mengetahui siapa orang tuanya.
"Maaf sebelumnya, Tuan, saya sudah merepotkan Anda, dan terima kasih sudah menyelamatkan saya. Perkenalkan nama saya Andika Kenrich Hamilton, saya putra pertama Daddy Kenrich Hamilton dan Mommy Queensha Hamilton" jawab Dika dengan lugas dan tegas.
Ayah Daniel tersentak mendengar Dika memperkenalkan kedua orang tuanya, "Apa yang terja ....." Daddy Putra ingin kembali mengajukan pertanyaan, namun tatapan tajam Daniel yang disertai dengan gelengan kepala membuatnya terdiam dan tidak meneruskan pertanyaannya.
Daddy Putra akhirnya hanya menghembuskan nafas berat, lalu dia mengambil gawainya dan mengetikkan pesan pada anak buahnya,
"Selidiki sekarang juga, apa yang terjadi dengan keluarga Kenrich Hamilton" perintahnya pada asisten pribadinya melalui pesan.
Daddy Putra tidak ingin menghubungi anak buahnya secara langsung, karena dia tahu Daniel pasti tidak akan setuju jika dia menyelidiki anak itu. Tidak lama berselang sebuah pesan masuk ke dalam phonsel Daddy Putra.
"Tuan, menurut berita yang saya dengar, mansion keluarga Hamilton mengalami kebakaran hebat tadi malam, dan seluruh keluarga terbakar habis di dalamnya, sementara Tuan Kenrich sendiri meninggal saat berada di rumah sakit Mahardika Hospital tadi malam" lapor sang asisten pribadi juga melewati pesan.
Daddy Putra tidak bisa lagi menahan diri lagi, dia segera menghubungi asistennya itu untuk memperjelas semuanya, "Jadi maksudmu dia masuk ke sana saat kami berada di sana tadi malam" tanyanya langsung saat panggilannya tersambung.
"Sepertinya begitu, Tuan, saya sudah menerima laporan lengkapnya" sahut sang asisten lagi.
"Saya tidak tahu, Tuan, apa perlu saya selidiki" tanya sang asisten lagi.
"Tidak, tidak perlu" sahut Daddy Putra, dia bisa melihat tatapan Daniel yang begitu tajamnya saat dia menyadari sang Daddy sedang ingin mencari tahu tentang keluarga Dika.
"Dad, tolong hargai Daniel" ucap laki laki muda itu dengan tegas pada ayahnya.
"Baiklah, tapi sepertinya ini menyangkut kekuasaan, Daniel, Daddy harap kamu bisa bersikap bijaksana" sahut Daddy Putra lagi.
Laki laki paruh baya itu tidak ingin berdebat dengan putranya yang memang terkenal sangat keras kepala.
"Mulai sekarang kamu menjadi sahabatku, dan aku minta kamu cukup memperkenalkan dirimu dengan nama Dika saja. Mulai sekarang kamu akan menjadi asistenku, dan kamu hanya akan dikenal dengan nama asisten Dika" ucap Daniel dengan suara tegas.
Kening Dika mengernyit sesaat, tapi kemudian dia mengangguk, "Baik, Tuan" sahutnya dengan mantap. Dika tahu saat ini dia tidak punya pilihan lain selain menyetujui keinginan Daniel. Dika sadar kalau dia memang memerlukan tempat berlindung, tidak hanya sekedar rumah, tapi sebuah kekuatan yang bisa melindungi dirinya dari Paman Lee.
Daniel menyunggingkan sedikit senyumnya saat mendengar jawaban Dika, dia merasa cukup puas dengan ketegasan anak kecil itu. Sementara, Daddy Putra memandang kedua anak laki laki itu dengan kening mengernyit tak habis pikir, bagaimana bisa kedua anak kecil yang baru beranjak remaja itu sudah terlibat pembicaraan seperti orang dewasa.
"Dad, aku siap melanjutkan pendidikanku di Amerika, tapi aku harus bersama dengan Dika. Apapun yang akan aku dapatkan maka seperti itu juga yang akan didapatkan oleh Dika" ucap Daniel membuat Daddy Putra kembali terkejut.
Bagaimana tidak, sudah berpuluh kali Daddy Putra membujuk Daniel agar mau melanjutkan pendidikannya di Amerika. Dia sangat ingin menggembleng anak tunggalnya itu dengan ilmu bisnis sejak usia dini.
__ADS_1
Namun, Daniel selalu menolak keinginan sang Daddy, tidak jarang dia sengaja kabur dari rumah karena tidak ingin berdebat dengan daddynya.
Namun, sekarang dengan tiba tiba sang anak mau mengikuti keinginannya hanya karena keberadaan seorang Dika. Tapi, Daddy Putra tidak ingin memusingkan hal itu lagi, baginya asalkan Daniel mau, maka dia akan menyanggupi apapun syarat yang diminta anaknya itu.
"Baiklah, jika itu keinginanmu, Daniel, daddy akan persiapakan segala sesuatunya, dalam tiga hari kalian akan berangkat ke sana. Bagaimana denganmu Dika, apa kamu bersedia meninggalkan kota ini, kamu mungkin tidak akan kembali ke sini hingga beberapa tahun ke depan" daddy Putra bertanya pada Dika.
"Saya bersedia, Tuan, saya akan selalu mengikuti Tuan Muda Daniel, kemanapun beliau membawa saya" sahut Dika dengan yakin. Dika sendiri sebenarnya merasa lega jika dia bisa segera meninggalkan kota itu, walau bagaimana pun, dia tetap merasa khawatir sang Paman akan menemukan keberadaan dirinya.
"Baiklah, kalau begitu bersiaplah, dalam tiga hari kalian akan berangkat ke Amerika" ucap daddy Putra.
"Bukan tiga hari lagi, tapi besok, Dad, aku mau berangkat besok pagi, dan aku tidak mau di tunda" ucap Daniel dengan suara dingin pada sang Daddy.
Daddy Putra kembali mengernyitkan keningnya, tapi dia tidak akan menolak keinginan Daniel. Daddy Putra khawatir anaknya akan menolak dan berubah pikiran lagi jika dia tidak mengikuti keinginan Daniel.
"Baiklah, jika itu maumu, Daniel, besok pagi kalian akan berangkat" sahut Daddy Putra menyetujui permintaan anaknya.
Daniel hanya sedikit menganggukkan kepalanya, "Bram, suruh dokter Andri menunggu di mansion" serunya pada sopir mobil mewah itu.
"Baik, Tuan Muda" sahut sang sopir lalu segera menghubungi dokter pribadi keluarga Mahardika.
"Dan kamu, Dika, jangan lagi memanggilku Tuan, panggil saja namaku, aku Daniel" ucap Daniel seraya mengulurkan tangannya pada Dika.
Dika menyambut uluran tangan laki laki muda itu, jabat tangan mereka begitu erat, "Aku Dika, baiklah, aku akan memanggil Anda dengan nama Anda" sahut Dika menyetujui keinginan Daniel.
Daniel hanya menganggukkan kepalanya menanggapi persetujuan Dika, dia merasa puas karena Dika tidak pernah sekalipun membantah keinginannya. Daniel merasa semakin yakin untuk menjadikan Dika sebagai sahabat terbaiknya. Daniel tidak tahu mengapa dia merasa begitu cocok dengan Dika sejak pertama kali melihat anak laki laki itu.
Daniel memang telah dididik sang ayah agar selalu percaya pada instingnya saat berhadapan dengan hal hal yang baru. Jika nalar dan otaknya sulit untuk membuat keputusan maka ikuti naluri dan insting, karena itu yang akan menuntun untuk membuat keputusan yang benar.
Dan sejak saat itu, Dika memang selalu mengikuti Daniel, kemana pun laki laki itu pergi. Dika seolah menjadi bayangan bagi seorang Daniel Putra Mahardika. Bahkan dimanapun Daniel menempuh pendidikan maka disitu pula lah Dika akan ikut mengecap pendidikan.
Sebenarnya, Dika punya kemampuan yang hampir setara dengan Daniel, baik dalam segi kecerdasan maupun ketangkasan. Namun, Dika selalu mengalah dan tidak menunjukkan kemampuan terbaiknya, dia tidak ingin menyaingi Daniel. Jika Daniel selalu di peringkat teratas dan terbaik, maka Dika membuat dirinya selalu berada di urut tiga atau empat.
Daniel bukan tidak tahu akan hal itu, dia sangat menyadari kalau Dika punya kemampuan di atas rata rata, bahkan hampir sama dengan dirinya. Tapi Daniel juga menghargai sikap Dika yang tidak ingin melebihi dirinya dalam hal apa pun. Selain itu, Dika juga selalu menghormati dirinya, Dika tidak akan membantah setiap keinginannya, kecuali jika itu berbahaya.
Tidak heran kalau Dika sangat mengetahui segala sesuatu tentang Daniel, segala yang disukai dan tidak disukai oleh Daniel pun Dika sangat tahu. Keduanya bertumbuh bersama walaupun umur keduanya selisih dua tahun, namun mereka berdua terlihat seperti anak sebaya. Karena mereka memang bertumbuh dan bersekolah di tempat yang sama.
Hingga mereka sama sama dewasa, Daniel tidak pernah sekalipun menanyakan perihal keluarga Dika. Daddy Putra beberapa kali berusaha membujuk Daniel agar segera menyelesaikan masalah Dika, namun Daniel tetap menolak. Daddy Putra benar benar merasa kesal atas apa yang sudah dilakukan oleh Paman Lee terhadap keluarga Dika, namun dia tidak bisa berbuat apa apa karena Daniel selalu menolak tawarannya.
Daniel dan Dika selalu bersama, bahkan hingga Daddy Putra menyerahkan perusahaan kepada Daniel. Daddy Putra juga menyerahkan sebuah perusahaan lain untuk Dika, tentunya perusahaan dibawah PT.Mahardika. Dika tidak menolak pemberian Daddy Putra, namun dia lebih memilih tetap berada di sisi Daniel.
Apalagi disaat Daniel sedang tidak berminat dengan urusan perusahaan dan lebih memilih bersenang senang dengan kehidupan jalanan dan Risty. Maka Dika lah yang menhandle semua urusan perusahaan, tentunya dengan masih dibantu oleh Daddy Putra. Tidak hanya masalah perusahaan, bahkan berbagai kekacauan yang dilakukan Daniel di luar perusahaan, semuanya di tangani dan diselesaikan oleh Dika.
__ADS_1