
Di luar kamar utama yang merupakan kamar tidur Dean dan Qiandra, dokter Albert yang sempat menarik tangan dokter Tirta segera melepaskan tangannya dari dokter paruh baya itu. “Maafkan kelancanganku, Dok, aku sungguh harus melakukan hal itu untuk menghindar dari tatapan penuh tanya dari Qiqi” ucap dokter Albert pada dokter Tirta.
“Tidak masalah, Dok, saya bisa mengerti” sahut dokter Tirta.
“Apa Anda sudah sarapan, Dok” tanya dokter Albert lagi.
“Sejujurnya saya memang belum sempat sarapan tadi, Dok, saat Anda menghubungi saya tadi, saya baru bersiap siap” sahut dokter Tirta.
“Ah, baiklah, aku juga belum sarapan, baiknya kita berdua sarapan dulu, baru nanti kita bicarakan sebenarnya apa yang terjadi dengan Qiandra” sahut dokter Albert. “Kamu juga sebaiknya ikut kami sarapan saja, lagipula aku rasa kamu juga perlu mendengarkan tentang keadaan Qiandra” lanjutnya lagi saat melihat asisten Vian berpapasan dengan mereka.
Asisten Vian segera menghentikan langkahnya dan menatap dokter Albert dan dokter Tirta dengan kening berkerut. “Apa yang terjadi pada Nyonya Muda” tanya asisten Vian yang memang tidak tahu apa apa.
“Makanya sekarang kamu ikut kami saja, daripada kamu akan diusir oleh bos posesifmu itu” sahut dokter Albert dengan acuh. Asisten Vian yang kebingungan akhirnya memutuskan untuk mengikuti langkah dokter Albert dan dokter Tirta menuju ke ruang makan. Saat berada di ruang makan, mereka melihat para pelayan yang sedang mempersiapkan troli makanan.
“Apa Tuan dan Nyonya Muda meminta sarapan di kamar” tanya asisten Vian pada pelayan yang bertanggung jawab dengan makanan di mansion itu.
“Benar, Tuan Vian, baru saja Tuan Muda meminta kami untuk mengantar sarapan dengan menu lengkap” sahut pelayan itu.
“Apa tidak ada pesanan khusus dari Nyonya Muda” tanya dokter Tirta membuat dokter Albert dan asisten Vian segera menatap ke arah dokter Tirta.
“Sepertinya tidak ada, Tuan” sahut pelayan itu lagi.
“Hmmm, baiklah, silahkan dilanjutkan” sahut dokter Tirta seraya mengambil tempat duduk di meja makan besar dimana sudah tersaji aneka menu sarapan. Ketiga laki laki itu akhirnya sama duduk dan mulai menikmati hidangan yang tersedia tanpa membicarakan apapun. Walaupun sebenarnya pikiran mereka masing masing dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.
Setelah menyelesaikan sarapan pagi ketiga laki laki itu langsung menuju salah satu ruang kerja yang merupakan ruang rapat internal di mansion mewah itu. Mereka bertiga duduk mengelilingi sebuah meja bundar dengan membawa gelas kopi masing masing di tangan.
Asisten Vian terlebih dahulu mengirimkan pesan kepada Dean mengabarkan keberadaan dirinya. “Apa kamu sudah laporan” tanya dokter Albert saat melihat asisten Vian memasukkan phonsel ke dalam sakunya. Pertanyaan dokter Albert hanya dijawab dengan anggukan sekilas dari asisten Vian.
“Sekarang, bisakah kalian jelaskan padaku, sebenarnya apa yang sudah terjadi” tanya asisten Vian yang sudah berusaha menahan rasa penasarannya sejak tadi. Dokter Albert pun akhirnya menjelaskan semua keadaaan Qiandra sejak dia dihubungi oleh Dean hingga akhirnya.
“Aku juga ingin mendengar penjelasan Anda, Dok, menurut analisa Anda apa sebenarnya yang terjadi pada Qiandra” tanya dokter Albert pada akhir kalimatnya.
Saat dokter Tirta akan berbicara, phonsel asisten Vian tiba tiba berbunyi, asisten Vian segera mengangkat panggilan tersebut, “Baik, Tuan” sahutnya lalu kembali menyimpan phonselnya.
“Ada apa” tanya dokter Albert yang bisa menduga siapa yang menghubungi asisten Vian.
“Tuan Dean meminta kita menunggunya sebentar, beliau akan segera menyusul ke sini” sahut asisten Vian dan dijawab dengan anggukan oleh dokter Albert.
“Apa Nyonya Muda sudah beristirahat” tanya dokter Tirta.
“Sudah pasti, Dok, Dean tidak akan meninggalkan istrinya kalau Qiqi belum tenang” sahut dokter Albert yang sangat hapal dengan tingkah sahabatnya itu.
__ADS_1
Tidak berselang lama pintu ruangan itu terbuka dan terlihatlah Dean datang dengan wajah yang masih belum lepas dari kekhawatiran. Presidir PT.Zacharias itu langsung mengambil tempat duduk, “Jelaskan padaku, Dok” ucapnya mengarah pada dokter Tirta.
Dokter Tirta menghela nafas sesaat, “Sepertinya ada trauma masa kecil yang terpendam dalam diri Nyonya Muda” ucap dokter Tirta.
“Trauma?, lagi?” desis dokter Albert, sungguh dia tidak habis pikir bagaimana kehidupan yang dijalani Qiandra selama ini. Bagaimana bisa ada begitu banyak trauma yang melingkupi kehidupan wanita yang terlihat begitu sempurna itu.
“Ya, dan sepertinya Nyonya Muda benar benar telah melupakan trauma ini, namun entah mengapa bisa tiba tiba muncul” ucap dokter Tirta.
“Aku hanya menanyakan kedekatan hubungannya dengan Bu Sum dan keluarganya, karena dia baru saja video call dengan bu Sum dan kedua putri beliau. Mereka terlihat sangat akrab sehingga aku berinisiatif untuk mencari tahu. Awalnya Qiqi bisa menceritakan dengan tenang bahkan wajahnya terlihat bahagia, hingga tiba tiba wajahnya menjadi pucat dan dia tidak bisa melanjutkan ceritanya” ucap Dean.
“Apakah Nyonya memang mempunyai saudara yang bernama Dika, sepertinya dia sangat dekat dengan nama itu, bahkan dia memanggilnya Kakak” ucap dokter Tirta yang serta merta membuat asisten Vian membeku.
Dokter Albert yang menyadari kalau mereka belum bisa membuka fakta tentang hubungan Dika dan Qiandra yang masih belum jelas itu segera angkat bicara. “Sepengetahuan kami, Qiqi tidak punya saudara sama sekali, Dok, Qiqi dibesarkan di panti asuhan benar benar tanpa saudara dan kejelasan siapa orang tuanya” sahut dokter Albert.
Dokter Tirta mendesah sesaat, melihat reaksi dokter Albert dan juga Dean saat mendengar Qiandra menyebut nama ‘Kak Dika’, juga reaksi asisten Vian yang tiba tiba membeku saat mendengar nama itu. Dokter Tirta menduga kalau sebenarnya mereka mengetahui sesuatu, “Saya harap, Tuan Tuan tidak menyembunyikan apapun dari sa(ya, semua ini semata untuk pemulihan Nyonya Muda. Keadaan beliau yang sedang hamil muda sangat tidak baik jika harus terus menerus mengalami tekanan mental dan phisikis” ucap dokter paruh baya itu.
“Maafkan kami, Dok, bukan maksud kami menyembunyikan apapun, tapi kami sendiri sekarang sedang melakukan penyelidikan tentang masa lalu istriku. Kami tidak bisa memberikan informasi yang bahkan kami sendiri pun belum memastikan kebenarannya” ucap dean dengan sungguh sungguh.
Dean, asisten Vian dan dokter Albert juga menyadari kalau apa yang diucapkan oleh dokter Tirta itu benar adanya. Tapi mereka sendiri saat ini juga masih kebingungan menyambung benag merah antara Dika dan Qiandra juga dengan Bu Sum.
“Baiklah, saya bisa mengerti” sahut dokter Tirta yang juga tidak ingin memaksa bertanya lebih lanjut lagi. “Saran saya sebaiknya hindari untuk membicarakan tentang masa kecil dan masa lalu Nyonya Muda, kita benar benar harus menghindari beliau mengalami trauma lagi. Jika ingin mencari tahu, usahakan jangan bertanya pada Nyonya Muda, mungkin bisa pada Bu Sum saja. Kalau bisa, bicarakan saja tentang rencana masa depan yang bisa membuat suasana hati Nyonya Muda bahagia” lanjunya lagi.
“Apa memang harus dipulihkan, Dok” tanya asisten Vian.
“Harus, Tuan Vian, setiapa trauma harus diselesaikan agar tidak berdampak negatif bagi pasien. Saya bahkan curiga kalau semua trauma yang dialami oleh Nyonya Muda justru bersumber dan berawal dari trauma masa kecilnya. Jika kita membiarkannya, maka ada kemungkinan Nyonya Muda akan mengalami berbagai trauma lainnya. Semuanya harus diselesaikan dari akar masalahnya, agar tidak ada lagi yang menghantui beliau khususnya di alam bawah sadarnya” jelas dokter Tirta panjang lebar.
“Apakah itu tidak masalah kalau ditahan sampai Qiqi melahirkan, Dok” tanya Dokter Albert lagi.
“Tergantung keadaannya, Dok, jika keadaannya tidak ada yang memicu trauma itu muncul, maka sepanjang itu semuanya bisa dipastikan aman. Tapi jika ada keadaan yang memicu trauma itu muncul lagi, maka itu akan sangat berpengaruh pada Nyonya Muda” sahut dokter Tirta.
“Jadi, kita tidak bisa memulihkannya saat ini” tanya Dean yang merasa benar benar khawatir dengan keadaan sang istri.
“Saya tidak berani mengambil resiko, Tuan, sepertinya jika kita memaksa Nyonya Muda membuka semua memori kelam di masa kecilnya, pasti akan menguras tenaga dan beban mental yang cukup besar. Saya hanya mengkhawatirkan hal itu akan berdampak pada kehamilan Nyonya Muda” sahut dokter Tirta lagi.
Mereka semua kahirnya sama sama terdiam, “Baiklah, jika begitu, Dok, terima kasih atas waktu dan penjelasan Anda. Kami akan berusaha mencari informasi tentang Qiqi, dan kami akan segera mengabarkannya pada Anda jika ada sesuatu hal yang bisa kami yakini kebenarannya” ucap dokter Albert memecah keheningan diantara mereka.
Dokter Tirta mengangguk lalu segera berdiri, “Baiklah, saya tunggu infonya Dok” ucapnya seraya menjabat tangan dokter Albert, “Kalu bmemang tidak ada yang ingin ditanyakan lagi maka saya akan permisi dulu, Tuan Dean, Tuan Vian” ucap dokter Tirta.
Dean dan asisten Vian hanya menganggukkan kepalanya, kemudian dokter Albert ikut berdiri dan mengantar dokter Tirta keluar dari mansion mewah itu. Sementara itu, Dean dan asisten Vian tetap duduk di ruangan itu.
“Bagaimana penyelidikanmu, Vian” tanya Dean setelah dokter Tirta dan dokter Albert keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
“Maafkan saya, Tuan, semua akses informasi sepertinya benar benar telah dihapus, baik tentang Dika maupun tentang Bu Sum” sahut asisten Vian dengan sedikit rasa bersalah.
“Hmmm, jika begitu segera tempatkan beberapa orang untuk mengawasi keluarga Bu Sum, juga Dika. Aku merasa mereka memang menyimpan sesuatu, yang entah mengapa tidak ingin mereka katakan padaku” ucap Dean.
“Apakah berbahaya” tanya dokter Albert yang sudah kembali masuk ke dalam ruangan itu.
“Entahlah, tapi aku rasa bukan niat jahat, tetapi sesuatu yang mungkin saja berhubungan dengan masa lalu dan kehilangan seluruh anggota keluarga Qiandra” sahut Dean.
“Yah, saya juga menduga demikian, Tuan, sebab jika itu sesuatu yang bermaksud mencelakai Nyonya Muda, mereka, maksudku Bu Sum bisa saja melakukannya sejak dulu. Namun, melihat kasih sayang Bu Sum yang begitu besar pada Nyonya Muda, aku rasa tidak mungkin mereka merencanakan hal jahat padanya” sahut asisten Vian.
“Hmmm, baiklah, lanjutkan saja penyelidikanmu, Vian, dan besok aku akan kembali ke kantor, tapi hanya setengah hari saja” ucap Dean yang menimbulkan reaksi berbea dari kedu sahabatnya itu.
Jika asisten Vian bisa bernafas lega mendengar keputusan Dean yang siap untuk kembali ke kantor dan mulai melakukan pekerjaannya dengan serius dari kantor. Berbdea dengan dokter Albert yang justru menatap Dean dengan serius “ Kamu benar benar akan kembali ke perusahaan, lalu bagaimana dengan Qiqi” tanya dokter Albert yang memang sangat mencemaskan keadaaan Qiandra.
“Juatru Qiqi yang terus menerus memaksaku untuk kembali ke perusahaan” sahut Dean.
“Tapi kamu bisa menolaknya seperti biasa kan, apalagi keadaan Qiqi sedang seperti ini” seru dokter Albert.
“Aku sudah berulang kali menolaknya, dan tadi karena aku lihat kondisinya sudah membaik aku menyetujui permintaannya, jadi jika aku membatalkannya saat ini, Qiqi akan merasa curiga dan aku tidak tahu apa alasan yang bisa aku kemukakan lagi untuknya” sahut Dean.
Dokter Albert ingin membantah lagi, namun setelah dia mendengar kata kata Dean, dokter Albert bisa memahami keadaan sahabatnya itu. “Lalu siapa yang akan menemani Qiqi selama kamu ke kantor” tanyanya lagi, “Jangan bilang kamu akan meninggalkannya bersama pelayan saja” sungut dokter Albert.
“Ada Bu Sum yang bersedia menemaninya” sahut Dean.
“Hah Bu Sum lagi” desis dokter Albert dengan suara sedikit kesal, “Sepertinya Qiqi benar benar tidak bisa terlepas dari wanita itu” lanjutnya.
“Apa boleh buat, dia satu satunya orang terdekat Qiandra yang bisa kita percayai selain adik angkatnya” sahut Dean.
Mereka bertiga kembali terdiam, “ya, sudah aku akan kembali ke rumah sakit, dan tolong ingat pesan dokter Tirta tadi, aku rasa ada baiknya hal itu juga kamu katakan pada Bu Sum, mudah mudahan ada petunjuk atau kamu interogasi saja Bu Sum langsung, agar semuanya cepat menjadi jelas” ucap dokter Albert pada akhirnya.
Dean tidak menanggapi ucapan dokter Albert, “Vian, kamu atur jadualku, fokus pada hal hal yang urgent saja, dimana aku harus hadir secara langsung. Untuk berkas dan ***** bengeknya tetap arahkan untuk aku selesaikan di mansion” ucap Dean seraya berdiri dan setelah memberi perintah pada asisten Vian, dia segera melangkah meninggalkan ruangan itu.
“Baik Tuan” sahut asisten Vian.
“Terima kasih saranmu, Al, akan aku coba tergantung situasinya nanti” ucap Dean sebelum dirinya menghilang di balik pintu ruangan itu.
“Huh, kenapa tidak berterima kasih langsung di hadapanku sich, dasar sok gengsian” geritu dokter Albert yang melihat tingkah sahabatnya.
Asisten Vian hanya terkekeh kecil, “Setidaknya dia sudah berterima kasih padamu, syukuri saja itu” ucap asisten Vian sambil menepuk bahu dokter Albert lalu melangkah meninggalkan ruangan itu.
Dokter Albert hanya bisa menggelengkan kepalanya, dan segera mengikuti langkah asisten Vian. Mereka berdua langsung keluar dari mansion itu untuk kembali ke pekerjaan mereka masing masing. Sedangkan Dean sudah terlebih dahulu kembali ke kamar utama di mana Qiandra sedang beristirahat.
__ADS_1