
Saat mobil mewah Dean terparkir, terlihat seorang laki- laki muda yang tak kalah tampan datang menghampiri mereka, “Tuan” sapanya pada Dean.
“Apa kamarnya sudah siap, Vian” tanya Dean.
“Sudah, Tuan” sahut asisten Vian, dia mengernyitkan keningnya melihat Bik Sum dan Mang ijal.
“Ini Bik Sum dan Mang Ijal, mereka akan menemani Qiandra disini” ucap Dean melihat kebingungan asisten Vian. “Ini Vian, asistenku, mang, Bik, dia yang akan mengurus segala sesuatunya disini” Dean juga memperkenalkan asisten Vian pada Bik Sum dan Mang Ijal.
“Salam kenal, Tuan” sahut Bik Sum dan Mang Ijal bersamaan seraya membungkukkan badan mereka.
“Salam kenal juga, jangan sungkan, Bik, Mang” sahut asisten Vian.
Dean mengangkat tubuh Qiandra yang masih belum sadarkan diri, “Suruh Albert segera kemari” perintahnya pada asisten Vian, lalu dia melangkah dengan hati-hati membawa Qiandra masuk kedalam mansion mewah itu.
“Baik, Tuan” sahut asisten Vian, “Mari Bik, Mang, silahkan masuk” lanjutnya lagi mempersilahkan kedua orang itu masuk ke dalam mansion mengikuti langkah Dean.
Dean membawa Qiandra masuk kedalam mansionnya, di pintu masuk beberapa orang pelayan sudah berbaris rapi, mereka segera membungkukkan badannya saat Dean melewati mereka, “Selamat datang, Tuan” sapa mereka bersamaan.
Dean terus melangkah menuju lantai dua mansion mewah itu, tanpa menghiraukan sapaan para pelayannya. Asiten Vian yang mengikuti Dean memanggil salah satu pelayan yang merupakan kepala pelayan di mansion itu.
“Pak Rudi, tolong antarkan Bik Sum dan Mang Ijal ke kamar mereka” ucap asisten Vian saat seorang pria paruh baya sudah berdiri dihadapannya.
“Baik, Tuan Vian” sahut Pak Rudi, “Mari, Bik, Mang” ucapnya ramah pada Bik Sum dan Mang Ijal.
“Tuan Vian, bolehkah aku tetap menemani Nyo, eh maksudku Nona Qiandra” tanya Bik Sum yang agak ragu mengungkap identitas Qiandra dihadapan semua pelayan saat itu.
“Istirahatlah dulu, Bik, tenang saja, Nona Qiandra sudah berada di tangan orang yang bertanggung jawab, nanti aku akan mengabari kalian berdua kalau Nona Qiandra sudah sadar” sahut asisten Vian, “Ini Bik Sum dan Mang Ijal, keduanya akan menemani Nona Qiandra yang akan tinggal di mansion ini, harap kalian bisa bekerja sama dengan mereka berdua, Pak Rudi, Bik Sum akan bertugas sebagai pelayan utama Nona Qiandra, beliau yang akan mengurus semua keperluan Nona Qiandra, sedang Mang Ijal, nanti tolong kamu atur pekerjaan untuknya” lanjut asisten Vian lagi.
Semua pelayan yang ada disitu kembali membungkukkan badan mereka, “Baik, Tuan” sahut mereka bersamaan. Pak Rudi mempersilahkan Bik Sum dan Mang Ijal untuk mengikutinya dan mengantarkan mereka ke kamar khusus pelayan yang ada di mansion itu.
Sementara asisten Vian segera melangkah menyusul Dean, sebelum pergi dia berpesan pada pelayan yang ada disitu, “Kalau Dokter Albert datang, suruh dia langsung menuju kamar utama” ucap asisten Vian.
“Baik, Tuan” sahut pelayan itu, asisten Vian langsung bergegas menyusul Dean ke kamar utama.
Asisten Vian masuk ke dalam kamar utama setelah mendengar Dean menyuruhnya masuk, “Sebenarnya ada apa ini, Tuan, mengapa Nona Qiandra kembali tak sadarkan diri” tanya asisten Vian.
“Dia diusir dari rumahnya sendiri, tubuhnya masih belum pulih, dia juga belum sempat sarapan tadi pagi karena terburu-buru pulang, tapi sesampainya disana dia malah diusir oleh keluarga suaminya itu” sahut Dean, dia menatap sendu wajah Qiandra yang terlihat masih pucat.
“Astaga, mengapa bisa begitu” desis asisten Vian yang terkejut mendengar cerita Dean.
__ADS_1
“Panjang ceritanya, sekarang tolong kamu selidiki semua hal yang berhubungan dengan Qiandra dan almarhum suaminya, aku ingin mengetahui semuanya” sahut Dean.
“Baik, Tuan” sahut asisten Vian, tak lama berselang, pintu kamar diketuk dan saat pintu dibuka oleh asisten Vian terlihat dokter Albert datang dengan wajah lusuh.
“Hei, ada apa denganmu, Al” tanya asisten Vian yang heran melihat wajah dokter Albert.
“Jangan sok tidak mengerti, kamu tahu aku baru saja tiba di rumah sakit dengan antrean pasien yang mengular, lalu tiba-tiba kamu memerintahkan aku segera kesini” sarkas dokter Albert. “Dan sekarang ada apalagi Dean” tanyanya lagi pada Dean.
Dokter Albert segera mendekati tempat tidur besar di kamar itu, “Astaga, apa yang terjadi pada Nona Qiandra, bukannya dia baik-baik saja tadi pagi” seru dokter Albert yang terkejut melihat siapa yang terbaring di tempat tidur saat itu.
“Dia belum sempat sarapan tadi pagi, dan tadi saat aku mengantar dia ke rumahnya, dia malah diusir oleh keluarga suaminya” sahut Dean.
“Apa, bagaimana bisa” tanya dokter Albert yang terkejut mendengar penuturan Dean.
“Sudahlah, Al, kamu periksa saja Qiqi, dan berikan tindakan terbaik agar dia bisa segera sadar” ucap Dean dengan suara khawatir.
“Okey, okey, Vian, tolong suruh pelayan menyiapkan bubur dan sup hangat untuk Nona Qiandra, dia harus segera makan saat dia sudah sadar nanti” ucap dokter Albert pada asisten Vian. Dia segera memeriksa keadaan Qiandra, setelah selesai, dokter Albert kembali merapikan barang-barangnya.
“Bagaimana keadaannya, apa Qiqi baik-baik saja” tanya Dean denga rasa cemas.
“Nona Qiandra baik-baik saja, Dean, dia hanya sedikit shock, ditambah tadi dia belum sempat sarapan, letakkan saja ini di dekat hidungnya, agar dia segera sadar dan bisa segera makan” sahut dokter Albert. Dia menyerahkan sebuah botol aroma theraphy pada Dean, Dean segera mengambilnya dan meletakkannya didekat hidung Qiandra.
“Tetaplah berbaring Qi, sebentar lagi pelayan akan membawa makanan untukmu” ucap Dean lembut.
“Maafkan aku, Dean, aku terlalu banyak merepotkanmu” ucap Qiandra dengan rasa tidak nyaman.
“Sudahlah, jangan pikirkan itu dulu, sekarang kamu harus kembali sehat Qi, jangan menyerah” sahut Dean tetap dengan suara lembut.
“Ehmm, maaf nona Qiandra, Anda harus segera makan agar Anda bisa segera minum obat, dan sebaiknya Anda jangan bangun dulu, tetaplah berbaring untuk memulihkan stamina Anda” ucap dokter Albert menyela pembicaraan
kedua orang itu.
“Ah, Dok, maafkan aku kembali merepotkanmu” ucap Qiandra saat menyadari di ruangan itu juga ada dokter Albert dan asisten Vian.
“Jangan sungkan, Nona, sudah jadi kewajiban saya, kalau begitu saya akan menunggu diluar dulu, Nona, silahkan Anda makan dulu” sahut dokter Albert, dia menundukkan kepalanya sekilas lalu melangkah meninggalkan ruangan itu.
Saat dokter Albert keluar, pelayan membawa makanan untuk Qiandra, asisten Vian memerintahkan pelayan untuk menyusun makanan itu diatas sebuah meja kecil. “Nona, apa Anda akan makan sekarang” tanya asisten Vian.
“Ya, Qiqi harus segera makan” sahut Dean, pelayan segera mengangkat meja kecil itu dan meletakkannya dihadapan Qiandra. “Kalian keluarlah” ucap Dean lagi, pelayan dan asisten Vian segera keluar dari ruangan itu meninggalkan Dean dan Qiandra.
__ADS_1
Dean mengambil mangkok bubur lalu perlahan meniupnya dan menyuapkannya ke mulut Qiandra. “Dean, jangan repot-repot, aku bisa makan sendiri” ucap Qiandra dengan malu-malu, dia sungguh merasa tak enak hati melihat perlakuan Dean.
“Jangan membantah lagi, Qi, lihatlah, akibatnya karena kamu tidak mau sarapan tadi pagi” ucap Dean.
Qiandra terdiam, dia lalu membuka mulutnya dan dengan perlahan Dean menyuapkan bubur itu ke mulut Qiandra, setelah itu dia juga memberikan sup hangat untuk Qiandra. Setelah semuanya habis, Dean menyerahkan segelas susu untuk Qiandra.
“Apa kamu masih mau nambah, Qi” tanya Dean lembut, dia mengambil tissue dan mebersihkan noda yang ada di bibir Qiandra, membuat wajah wanita itu bersemu merah.
“Ti-tidak, Dean, aku sudah sangat kenyang, ini sarapan terbanyakku” sahut Qiandra dengan tersipu malu.
“Hei, ada apa dengan wajahmu, Qi, apa kamu demam, mengapa wajahmu memerah” tanya Dean menggoda Qiandra.
“Ish, Dean, jangan menggodaku” sahut Qiandra tersenyum malu dan berusaha menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“Ha ha ha, terima kasih sudah kembali tersenyum, Qi” ucap Dean dengan tawa bahagia, tanpa sadar dia mengacak rambut Qiandra dengan bahagia.
“Terima kasih, Dean, aku tidak tahu bagaimana cara membalas semua kebaikanmu padaku” ucap Qiandra sendu, “Kalau aku sudah sehat, aku akan segera mencari tempat tinggal untukku dan Bik Sum” lanjutnya lagi.
“Hei, kurasa sudah terlalu banyak kamu berterima kasih hingga saat ini, Qi, heee” kekeh Dean, “Dan masalah tempat tinggal, jangan kamu pikirkan, tinggallah disini bersama dengan Bik Sum dan Mang Ijal, aku tidak akan mengijinkanmu meninggalkan tempat ini” lanjutnya lagi.
“Mang Ijal, maksudmu Mang Ijal juga ikut” tanya Qiandra yang terkejut mendengar perkataan Dean.
“Yah, mereka berdua tidak mau melepaskanmu sendiri, mungkin aku ada tampang penjahat penculik wanita, makanya mereka tidak mempercayaiku, heee” kekeh Dean.
“Ya, nggak gitu juga, Dean, mereka berdua memang sangat menyayangiku, aku yang mempekerjakan mereka, dan karena itu pula mereka tidak pernah mendapat perlakuan yang layak dari keluarga mertuaku, mereka masih bertahan karena aku ada disana, dan saat aku pergi, tentu saja mereka akan pergi juga” sahut Qiandra, “Lagian mana mungkin mereka mencurigai wajah tampanmu bisa menculik aku, dan buat apa juga kamu menculik aku, yang bisanya cuman merepotkan kamu” lanjut Qiandra lagi.
“Jadi, menurutmu aku tampan, Qi” tanya Dean sambil menaik turunkan alisnya.
“Ya, tentu saja, hanya orang sirik yang bisa bilang kamu jelek, Dean” ucap Qiandra dengan jujur, walaupun wajahnya kembali bersemu merah saat menyadari Dean sengaja menggodanya.
“Jika aku tampan, berarti wajar donk kalau aku mendapatkan wanita yang cantik kan, Qi” sahut Dean lagi.
“Aku yakin ada banyak wanita cantik yang mengantri untuk mendapatkanmu” sahut Qiandra dengan senyum lembutnya.
“Mungkin kamu benar, sayangnya hatiku hanya terpaut pada satu wanita” sahut Dean.
“Hei, pasti wanita itu sangat beruntung mendapatkan pria sempurna sepertimu, Dean” ucap Qiandra.
“Tapi, aku ragu wanita itu akan menerimaku, Qi, apa kamu ada saran untukku” tanya Dean lagi.
__ADS_1
“Hanya wanita bodoh yang akan menolakmu, Tuan Dean, sebagai laki-laki, kamu benar-benar sempurna, kaya, mapan dan baik hati, jadi, jangan ragu, nyatakan saja perasaanmu pada wanita itu, aku yakin dia akan menerimamu” sahut Qiandra dengan yakin, tapi dalam hati diam-diam wanita itu merasa sedikit kecewa.