PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS EMPAT PULUH EMPAT


__ADS_3

Dean, asisten Vian dan dokter Albert menatap semua bodyguard itu dengan mata tajam.  Walaupun mereka punya kemampuan bela diri yang mumpuni, namun jika harus menghadapi musuh sebanyak ini pasti tidak akan mudah.  Belum lagi Dean yang tidak akan bisa bergerak sama sekali karena kadu tangannya masih menggendong tubuh Qiandra.


Semua bodyguard Daniel terlihat bersiaga penuh saat melihat ketiga orang itu turun dari lantai dua.  Apalagi saat mereka melihat Dean yang sedang menggendong Qiandra, mereka mulai merapatkan barisan untuk menghalangi langkah ketiga laki laki itu.  Mereka bahkan mulai ergerak maju dan melangkah mendekati Dean dan kedua sahabatnya.


“Biarkan mereka”


Sebuah suara yang menggema dari lantai atas membuat semua orang segera mengarahkan mata dan memandang sumber suara itu.  Seorang laki laki tampan namun dengan sorot mata dingin menatap ke bawah.  Semua bodyguard yang awalnya hendak menghalangi langkah Dean, asisten Vian dan dokter Albert sekejap terpaku mendengar perintah itu.


“Kalian dengar bukan, beri mereka jalan dan biarkan mereka membawanya pergi dari sini” ucap Laki laki yang tak lain dari Daniel Putra Mahardika kepada para bodyguard yang masih ragu ragu itu.


Mendengar seruan keras sang pemimpin mereka, membuat para bodyguard itu segera bergerak dan membuka jalan bagi ketiga orang itu.  Dean menatap ke atas sekilas, untuk kemudian segera melanjutkan langkahnya dengan tergesa.  Asisten Vian memimpin langkah mereka di depan, dengan Dean yang mengendong Qiandra di tengah dan disusul oleh dokter Albert.


“Dean, urusan ini antara kita, jangan libatkan anak buahku, aku akan melepaskan para bodyguardmu, tapi kamu pun harus melepaskan semua anak buahku” seru Daniel membuat langkah ketiga orang itu terhenti.


Dean menatap ke atas, sebagai seorang pemimpin, Dean bisa mengerti dengan keinginan Daniel.  Walaupun dalam hati kecilnya dia ingin menghancurkan semua orang yang terlibat, tapi Dean juga tahu kalau mereka semua hanya melaksanakan perintah.  Namun, berbeda dengan para bodyguard Daniel, mereka tidak terima dengan keputusan pemimpin mereka itu.


“Tuan …...” seru para bodyguard Daniel bersamaan, namun tidak diperdulikan oleh Daniel.


“Deal ….” seru Dean yang selain mengerti keinginan Daniel, juga menyadari kalau mereka saat ini adalah pihak yang kalah.  Selain itu, Dean juga tidak ingin terlalu banyak beradu argumen dengan Daniel.  Bagi Dean , keselamatan Qiandra saat ini adalah hal yang utama.


Setelah menyetujui permintaan Daniel, Dean kembali melanjutkan langkahnya.  Sementara asisten Vian bertahan sebentar dan memberikan perintah pada para bodyguard yang berada di luar untuk masuk dan membantu rekan rekannya.


Dean membawa Qiandra langsung menuju ke helikopter yang sudah siap berangkat, dokter Albert dan asisten Vian segera mengikuti masuk ke dalam helikopter itu.  “Tempatkan Qiqi dalam posisi ternyaman, aku harus segera memasang infus untuknya” seru dokter Albert pada Dean.


Dean mengangguk dan perlahan mengatur posisi Qiandra dalam helikopter itu agar wanita itu bisa bersandar dengan nyaman dalam pelukannya.  Setelah dilihat posisi Qiandra sudah cukup nyaman, dokter Albert segera memasang cairan infus dengan cepat di tangan wanita itu.  Seementara asisten Vian membantu dokter Albert untuk mengurus semua peralatannya.


“Langsung menuju rumah sakit” seru dokter Albert pada asisten Vian yang diteruskan oleh asisten Vian kepada pilot yang ada di depan.  Dokter Albert mengeluarkan beberapa alat pemerikasaannya dan mulai melakukan pemeriksaan secara menyeluruh pada Qiandra.


Dean menatap dokter Albert dengan hati yang sangat khawatir, dia merasakan tubuh sang istri yang begitu lemah dalam pelukannya.  Asisten Vian mengambil selimut tebal, lalu membantu menyelimuti tubuh Qiandra agar wanita itu tidak merasa kedinginan.  Setelah itu, asisten Vian membantu Dean melepas perlengkapan di tubuh laki laki laki itu yang bisa membuat Qiandra merasa tidak nyaman.

__ADS_1


Wajah sendu dokter Albert setelah selesai memeriksa keadaan Qiandra membuat Dean semakin khawatir.  “Bertahanlah, Qi” desis dokter Albert yang membuat Dean yang walaupun hanya melihat gerak bibir dokter Albert, mengerti kalau kondisi istrinya itu sedang tidak baik baik saja.


Dokter Albert meraih tangan Dean dan menyuruhnya agar memeluk Qiandra lebih erat lagi, “Hangatkan dia” serunya dengan gerak bibir yang lambat agar Dean mengerti.  Dean yang memahami maksud dokter Albert melepaskan pelukannya untuk membuka kancing pakaian yang digunakannya.


Asisten Vian yang mengerti apa yang ingin dilakukan oleh atasannya itu, segera membantu Dean untuk melepaskan semua pakaian bagian atasnya.  Kemudian Dean membuka kemeja Qiandra pada bagian punggungnya sehingga kulit keduanya bersentuhan tanpa penghalang apapun.  Asisten Vian juga mengambil selimut yang lain dan membungkusnya pada tubuh Dean dan Qiandra.


Sementara dokter Albert memijit perlahan telapak kaki  Qiandra dengan pijatan therapi yang bisa membantu memperlancar peredaran darah wanita itu.  Sedangkan asisten Vian terus berusaha melakukan komunikasi dengan pihak rumah sakit, sampai dia bisa tersambung dan langsung memerintahkan pihak rumah sakit untuk menyiapkan fasilitas untuk menyambut Qiandra.


Enam puluh menit perjalanan yang mereka lakukan terasa sangat panjang bagi mereka semua yang ada dalam helikopter itu.  Dan saat helikopter itu mendarat di helipad yang ada di atas rumah sakit keluarga Zacharias, sejumlah petugas kesehatan telah bersiaga di sana.  Dean segera turun dan mengangkat tubuh Qiandra dengan erat, seolah takut tubuh itu terlempar oleh angin baling baling helikopter yang masih belum sepenuhnya berhenti.


Dean meletakkan tubuh Qiandra dengan perlahan diatas brankar empuk yang telah disiapkan disana.  Dean ingin segera mengikuti brankar itu, namun asisten Vian menahan langkahnya dengan memberikan kemeja pada laki laki itu.  Ternyata Dean tidak menyadari bahwa dia tidak memakai sehelai kain pun untuk menutupi tubuh bagian atasnya.


Pantas saja dia sempat merasa heran melihat para petugas kesehatan yang sebagian besar adalah wanita itu, hampir tidak berani mengangkat wajah menatap ke arahnya.  Bagaimana tidak, tubuh atletis dengan otot perut sixpack yang terpampang di depan mata mereka, tentu saja membuat semua wanita itu salah tingkah.


Namun, Dean tidak memperdulikan hal itu.  Dia meraih kemeja yang diberikan oleh asisten Vian, dan sambil berlari dia menyusul brankar yang membawa Qiandra.  Dean hanya memasang kancing kemejanya dengan asal agar menutupi tubuhnya.  Tanpa disadarinya, kalau penampilannya yang acak acakan itu justru menambah kesan macho dari laki laki itu.


Sebagian kancing kemaja yang terbuka sehingga masih memperlihatkan dada bidang sang presidir tampan itu.  Hal ini membuat mata semua wanita yang mereka lewati melotot seakan tidak ingin melewatkan pemandangan indah itu.  Namun, lagi lagi Dean tidak memperdulikan semua tatapan kagum itu, fokusnya saat ini hanya pada wanita yang saat ini dibawa dengan cepat menujun ruang gawat darurat.


Saat akan memasuki ruang gawat darurat, perawat menghalangi langkah Dean, “Maaf, Tuan, Anda hanya bisa mengantar sampai sini” ucap perawat itu dengan suara sedikit bergetar karena takut.


“Kamu tahu siapa aku kan” seru Dean membuat perawat itu semakin gemetar, “Jadi, menyingkirlah dari jalanku” desisnya lagi dengan tajam.


Perawat itu terlihat gemetar menghadapi tatapan tajam dan menghunus dari mata sang pemilik rumah sakit itu.  Dia tidak berani bersuara lagi untuk melarang Dean, namun dia juga tidak menyingkir dari hadapan Dean.  Untunglah tidak lama kemudian dokter Albert datang ke tempat itu dan menyelamatkan perawat itu.


“Menyingkirlah, Bro, biarkan kami melaksanakan tugas kami, dan jangan membuat kekacauan” ucap dokter Albert.  Bahkan dokter tampan itu sendiri yang menutup pintu ruang gawat darurat itu di hadapan Dean.  Karena jika bukan dokter Albert sudah pasti Dean tidak akan mengikuti ucapan perawat lainnya.


“Selamatkan, dia, aku mohon” desis Dean dengan suara lemah yang hanya di jawab dengan anggukan kepala dan tepukan di bahunya oleh dokter Albert, sebelum dokter Albert menutup pintu ruangan itu.


Dean menatap brankar istrinya yang didorong menjauh ke dalam ruang gawat darurat, dan saat matanya tidak dapat melihat lagi, saat itulah tubuh Dean tiba tiba merosot.  Dean merasa seakan kehilangan semua tenaganya, saat melihat orang yang sangat dicintainya itu berada dalam keadaan seperti itu.

__ADS_1


Asisten Vian yang melihat keadaan Dean seperti itu, segera mendekati laki laki dan merengkuh tubuh kekar itu.  Asisten Vian juga segera menuntun tubuh lemah Dean menuju salah satu kursi tunggu yang ada di depan ruang gawat darurat itu.  Asisten Vian tidak mengucapkan apapun, dia hanya menepuk bahu Dean perlahan, seolah memberi kekuatan pada laki laki itu.


Dean hanya melangkah mengikuti kemana asisten Vian menuntunnya, dan saat dia sudah duduk, matanya kembali menatap ke arah pintu ruang gawat darurat itu.  Tatapannya terlihat begitu hampa, seolah semua semangatnya telah hilang.  Dean bahkan tidak mengeluarkan suara apapun, sehingga suasana menjadi benar benar hening.


Asisten Vian juga tidak ingin mengganggu laki laki itu, dia bahkan menghubungi anak buahnya dengan suara yang pelan dan sedikit menjauh dari Dean.  Dan tidak berapa lama, seorang anak buah mereka datang dengan membawa paper bag dan juga kopi dalam gelas kertas.  Asisten Vian segera mengambil semua itu dari tangan anak buahnya.


“Terima kasih, dan siagakan beberapa bodyguard terbaik di sekitar sini juga di areal rumah sakit ini, segera laporkan jika ada hal hal yang mencurigakan” ucap asisten Vian pada anak buahnya itu.


“Baik, Tuan” sahut si anak buah lalu segera berlalu dari hadapan asisten Vian.  Asisten Vian memang sudah memerintahkan agar ruang gawat darurat itu di sterilkan, sehingga tidak ada orang yang berlalu lalang di tempat itu.


Asisten Vian mendekati Dean dan meletakkan kopi panas itu di hadapan laki laki itu.  Aroma kopi yang langsung terhirup oleh Dean ternyata hanya membuat laki laki itu menoleh sejenak ke arah gelas itu.  Kemudia Dean kembali mengarahkan pandangannya pada pintu ruang gawat darurat dan tidak menghiraukan kopi itu lagi.


“Ini pakaian ganti Anda, Tuan” ucap asisten Vian sambil meletakkan paper bag di tangannya di samping Dean.  Asisten Vian tahu kalau Dean selalu segera mengganti pakaiannya jika dia baru kembali dari kegiatan di alam terbuka.


Namun, lagi lagi tidak ada reaksi dari Dean saat asisten Vian mengatakan hal itu kepadanya.  Dean bahkan tidak menoleh ke arah asisten Vian, seolah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh sang asisten.  Asisten Vian hanya bisa menghembuskan nafas perlahan, dia juga tidak berniat memaksa Dean, dia sangat memahami kondisi laki laki itu.


Asisten Vian merasakan getaran di phonsel yang ada dalam saku celananya, saat dia membukanya dia melihat kalau ada panggilan dari nomor Jossie.  Asisten Vian segera kembali menghubungi nomor Jossie karena panggilan tadi sempat terputus.


“Tuan, apa benar kakakku sudah ditemukan, dimana dia sekarang, bagaimana keadaannya, apa dia baik baik saja, apa dia …...” Jossie melontarkan pertanyaan yang bertubi tubi kepada asisten Vian.


“Datanglah ke rumah sakit Zacharias, ruang gawat darurat private” sahut asisten Vian memutus pertanyaan bertubi tubi dari Jossie.  Laki laki itu bahkan tidak menjawab satupun dari sekian banyak pertanyaan Jossie tadi.  Bahkan setelah mengatakan itu, asisten Vian langsung memutuskan sambungan telepon itu.


Bukan karena tidak menghargai Jossie sebagai satu satunya adik angkat Qiandra yang membuat asisten Vian berbuat seperti itu.  Dia hanya tidak ingin terlalu banyak berbicara dan memberi penjelasan pada Jossie.  Karena dia yakin, satu jawabannya akan membuat wanita itu membuat rentetan pertanyaan berikutnya.  Sementara asisten Vian benar benar tidak ingin ketenanga Dean saat ini terganggu oleh apa pun.


Asisten Vian sangat hapal dengan keadaan Dean yang seperti ini.  Jika ada keributan yang merusak suasana hatinya yang sedang kalut, maka dia tidak akan segan segan mengusir pembuat keributan itu dengan kata kata kasar.  Dan asisten Vian sangat tidak ingin membuat atasan sekaligus sahabatnya itu harus menambah berat pikirannya dengan kemarahan yang sia sia.


Asisten Vian hanya memberikan perintah kepada anak buahnya yang berjaga di luar ruangan untuk menahan jika Jossie datang ke tempat itu.  Dia meminta mereka untuk menjelaskan pada Jossie agar jangan banyak bicara dan membuat keributan.  Dan jika Jossie masih terlihat panik, asisten Vian meminta anak buahnya untuk menahan wanita itu hingga dia bisa tenang barulah dia diijinkan untuk mendekati ruang gawat darurat itu.


Setelah itu, asisten Vian kembali ikut berdiam diri, dia hanya duduk dan bersandar agak jauh dari posisi Dean yang masih duduk terpaku.  Berbeda dengan Dean yang matanya terus mentap ke arah pintu ruang gawat darurat, asisten Vian justru lebih sering memandang Dean dari kejauhan.  Asisten Vian harus tetap memastikan bahwa sahabatnya itu baik baik saja, meskipun suasana hatinya sedang kacau.

__ADS_1


Beberapa jam waktu yang berlalu tanpa kedua orang itu sadari.  Tidak berapa lama Jossie bersama dengan dokter Jimmy juga Bik Sum datang ke ruangan itu.  Dan sepertinya mereka memang sudah di pesankan oleh para penjaga di luar agar tidak bertanya dan membuat keributan.  Sehingga ketiganya hanya datang dan langsung duduk di kursi tunggu dekat asisten Vian.   Namun, mereka semua segera berdiri saat melihat dokter Albert keluar dengan wajah yang lesu.


__ADS_2