
Di sebuah pulau terpencil, seorang wanita terbangun dengan perut yang terasa bergemuruh. Wanita itu membuka matanya dengan perlahan, sebenarnya dia ingin menuruti kata hatinya untuk segera berlari menuju kamar mandi. Namun, saat kesadarannya pulih, dia menyadari ada sosok lain yang terbaring masih dengan lelapnya disampingnya.
Qiandra mendesah perlahan berusaha mengatasi rasa mual yang tiba tiba menyerang dirinya. Lalu dengan gerakkan yang sangat perlahan, dia beranjak turun dari atas tempat tidur mewah itu. Dengan langkah berjinjit, Qiandra menapaki lantai yang dilapisi karpet tebal itu agar tidak membangunkan Daniel yang masih tenggelam dalam dunia mimpinya.
Saat sudah terbebas dari tempat tidur itu, Qiandra segera bergegas menuju kamar mandi dan mengunci rapat pintu kamar mandi itu. Qiandra sengaja menyalakan semua kran yang ada di dalam kamar mandi agar suara muntahnya tersamar. Saat mengeluarkan isi perutnya pun Qiandra harus berusaha mati matian agar tidak mengeluarkan suara.
Hoek ...... hoek ......
Berulang kali wanita cantik itu memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya, hingga tidak ada lagi yang bisa dikeluarkannya. Tenggorokannya terasa pedih dan tubuhnya terasa sangat lemah hingga dia tidak mampu menyangga tubuhnya untuk tetap berdiri. Air mata wanita itu menetes perlahan di pipinya, tangannya membelai perutnya dengan lembut.
“Hah, maafkan Mommy, Nak, bukan Mommy bersedih karena kehadiranmu, tapi Mommy bersedih karena Mommy harus menyambut kehadiranmu dalam kondisi seperti ini. Bahkan Daddymu pun belum bisa mengetahui keberadaanmu saat ini. Mommy hanya minta kamu bertahan bersama dengan mommy, karena mommy yakin tidak lama lagi, Daddymu pasti akan menemukan kita” bisik Qiandra dalam hati seraya menyeka air mata yang mengalir di pipinya.
Sementara itu, Daniel yang memang sudah terbangun saat Qiandra turun dari tempat tidur, terlihat mulai gelisah. Laki laki tampan itu bahkan turun dari tempat tidur dan berjalan mondar mandir di depan pintu kamar mandi. “Mengapa suara air begitu berisik seolah semua kran di dalam dibuka oleh Qiandra, lalu itu seperti suara orang muntah, apa Qiandra muntah lagi” desis Daniel.
Daniel berjalan mondar mandir dengan gelisah, beberapa kali dia mengetuk pintu kamar mandi namun tidak ada respon dari dalam kamar mandi itu. “Astaga, apa yang terjadi pada Qiandra, mengapa dia begitu lama di dalam sana, apa aku harus mendobrak kamar mandi lagi” desis Daniel yang semakin panik karena tidak mendengar respon Qiandra. Akhirnya, Daniel memutuskan untuk menggedor kamar madi itu seraya memanggil Qiandra.
Brak ..... brak ...... brak ....
“Qiandra, apa kamu baik baik saja, tolong jawab aku Qi, atau aku akan mendobrak pintu ini” seru Daniel dengan berteriak.
Seruan Daniel masih belum mendapatkan respon apa apa, sehingga Daniel harus berulang kali menggedor pintu itu seraya berteriak semakin keras. Namun, setelah beberapa saat masih belum ada respon dari dalam kamar mandi, akhirnya Daniel memutuskan mendobrak lagi pintu itu.
Brak ......
Dengan sekali gebrakan, pintu kamar mandi itu langsung terbuka lebar. Dan betapa terkejutnya Daniel saat melihat Qiandra yang dalam keadaan tidak sadarkan diri terbaring di lantai kamar mandi. Sementara semua kran dalam posisi menyala, sehingga lantai kamar mandi tergenang dengan air sehingga seluruh pakaian Qiandra juga ikut basah.
“Qiandra .....” seru Daniel dengan panik, dia segera meraih tubuh lemah wanita itu dan dengan cepat merobek semua pakaian basah yang menempel di tubuh Qiandra. Daniel bahkan tidak menghiraukan kalau akibat perbuatannya, tubuh Qiandra menjadi polos tidak tertutup sehelai benang pun. Tapi, daniel dengan sigap meraih jubah mandi yang masih baru dan segera memasangnya di tubuh wanita itu.
Setelah itu, Daniel segera membawa Qiandra keluar dari kamar mandi dan dengan perlahan dia meletakkan tubuh wanita itu di atas tempat tidur. Daniel menyelimuti Qiandra dengan selimut tebal dan menaikkan suhu ruangan sehingga menjadi lebih hangat. Bahkan Daniel meraih kedua tangan Qiandra dan mendekapnya dengan erat untuk menyalurkan hawa panas ke tubuh wanita itu.
Sebenarnya, Daniel sangat ingin mendekap tubuh Qiandra, agar wanita itu bisa merasakan kehangatan dengan cepat. Namun, dia juga sadar kalau itu akan membuat Qiandra semakin berpikiran buruk padanya. Daniel sungguh tidak ingin membuat Qiandra berpikir dia mengambil kesempatan dalam kesempitan, walaupun sebenarnya dia sangat ingin.
Daniel mengambil phonselnya dan menghubungi bodyguardnya, “Bawakan satu pelayan wanita yang paling senior kesini, juga segelas teh hangat” serunya namun dengan setengah suara. Walaupun dia tahu Qiandra sedang tidak sadarkan diri, tapi dia juga tidak ingin membuat wanita itu terkejut dengan suaranya.
Tidak berselang lama, pintu kamar mewah itu diketuk dari luar, dan setelah Daniel membuka pintu menggunakan remote control, maka terlihatlah seorang wanita paruh baya dengan pakaian pelayan berdiri di depan intu. Daniel segera memberikan kode pada wanita paruh baya itu untuk mendekati Qiandra.
“Periksa kondisinya, sesuai dengan pengalamanmu, katakan apa yang sebenarnya terjadi padanya” perintah Daniel dengan suara tegas namun perlahan.
__ADS_1
Dengan sedikit ketakutan wanita itu perlahan mendekati Qiandra, tangannya terulur ingin meraih tangan Qiandra, “Maaf Tuan, apa boleh saya memegang tangan Nona ini” tanya sang pelayan dengan suara bergetar.
Daniel segera menyerahkan satu tangan Qiandra yang sedang digenggamnya kepada pelayan itu. Pelayan itu meraih tangan Qiandra dan perlahan meraba denyut nadi wanita itu, seketika keningnya berkerut dalam. “Ada apa, katakan, jangan sembunyikan apapun dariku” desis Daniel saat melihat raut wajah wanita itu.
“Ma maafkan saya, Tuan, apa boleh saya sedikit bertanya, agar saya tidak salah prediksi” tanya pelayan itu dengan sedikit ragu.
“Tanyakan saja, aku akan menjawab jika itu memang pantas untuk kamu ketahui jawabannya” jawab Daniel.
“Apakah apakah Nona Muda ini sering muntah atau mual, Tuan” tanya pelayan tadi.
“Sepertinya begitu, dia sering tiba tiba berlari ke kamar mandi dan menghidupkan semua kran sehingga aku tidak jelas mendengar, tapi sayup aku masih bisa memastikan kalau dia sedang muntah” sahut Daniel.
“Oh, begitu, lalu apakah akhir akhir ini Nona Muda juga agak sulit makan” tanya pelayan itu lagi.
“Dua hari terakhir dia memang agak sulit makan, kadang bahkan baru menghadap makanan dia sudah bergegas menuju kamar mandi dan mengatakan perutnya sedang tidak nyaman. Sudah cukup bertanyanya, sekarang katakan saja apa dugaanmu terhadap keadaannya saat ini” sahut Daniel dengan tidak sabar.
“Ma maafkan saya, Tuan, sepertinya Nona Muda ini sedang ha hamil” ucap sang pelayan dengan suara bergetar.
“Apa !!!!” seru Daniel namun dia segera menutup mulutnya, namun suaranya juga masih belum berpengaruh apapun pada kesadaran Qiandra. “Apa kamu yakin dengan hal itu” desis Daniel lagi dengan suara rendah.
“Saya punya sedikit pengalaman sebagai bidan kampung, Tuan, dan dari denyut nadinya sudah terasa kalau Nona Muda ini sedang berbadan dua, ditambah lagi keterangan Tuan tentang keadaannya akhir akhir ini, saya bisa memastikan kalau Nona Muda ini benar benar sedang hamil, Tuan” sahut pelayan itu dengan yakin.
“Baik, Tuan, tapi sebelumnya saya mohon maaf jika saya lancang, Tuan, kondisi Nona Muda sepertinya kurang begitu baik, kekurangan nutrisi sangat tidak baik untuk ibu yang sedang hamil muda, ditambah lagi mual dan muntah akan membuat kondisinya semakin lemah, dan itu juga akan berbahaya bagi janin yang ada dalam kandungannya” ucap sang pelayan yang tiba tiba memberanikan diri berbicara dengan Daniel.
Sebagai sesama wanita, pelayan paruh baya ini bisa merasakan apa yang sedang dialami oleh Qiandra saat ini. Dan saat melihat kondisi Qiandra yang tampak begitu lemah dengan wajah pucat serta kedinginan, hati wanita itu merasa begitu iba.
Daniel terdiam mendengar kata kata pelayan itu, “Keluarlah” desis Daniel setelah beberapa saat dia terpekur sendiri.
Pelayan itu segera membungkukkan badannya dan perlahan melangkah meninggalkan kamar mewah itu. Daniel kembali menatap Qiandra yang masih setia memejamkan matanya, tubuhnya masih terasa dingin sehingga Daniel masih terus menggenggam jemari wanita itu.
“Apa yang harus aku lakukan, apa aku harus kembali mengulang hal yang sama, haruskah aku kembali membuang janin yang ada dalam kandunganmu ini. Apakan kamu mengetahui hal ini, tapi kamu sepertinya berusaha menyembunyikan hal ini, apakah itu berarti sebenarnya kamu sudah mengetahui kehamilanmu” bisik hati Daniel.
Daniel menatap Qiandra dengan wajah sendu, perlahan sebulir air mata mengalir dari sudut mata laki laki itu. Ada pedih yang tiba tiba mendesak dalam dadanya sehingga dia tak mampu mengendalikan perasaannya lagi. Daniel sungguh merasa takdir senantiasa mengkhianati dirinya, karena setiap kali dia memiliki kesempatan untuk Bersama dengan Qiandra, wanita itu selalu sudah punya ikatan yang kuat dengan laki laki lain.
Kehadiran seorang bayi dalam rahim Qiandra saat ini seperti sebuah dejavu bagi seorang Daniel. Hal yang benar benar seperti mengulang kembali kejadian beberapa tahun yang lalu. Tetapi saat ini, entah mengapa Daniel merasa hal ini terasa sangat menyakitkan hatinya.
“Eughhhh ……” Daniel dikejutkan dengan lenguhan samar dan lemah dari bibir cantik wanita yang sedang ditatapnya dengan sendu itu. Daniel segera memanggil nama wanita itu dengan suara yang lembut dan penuh kekhawatiran.
__ADS_1
“Qi, Qiandra, ……” panggil Daniel dengan suara perlahan. Daniel bernafas lega saat melihat wanita itu perlahan membuka mata indahnya. Qiandra beberapa kali mengerjabkan matanya berusaha mengembalikan kesadarannya, hingga beberapa saat dia merasakan kehangatan melingkupi tangannya.
Qiandra segera menarik tangannya saat menyadari Daniel sedang menggenggam erat jemarinya. “A apa yang terjadi padaku” desis Qiandra dengan sedikit gugup.
“Kamu aku temukan tergeletak di kamar mandi dalam keadaaan tidak sadarkan diri, Qi, kamu sebenarnya kenapa, Qi, apa ada yang sakit di tubuhmu, atau ada hal lain, hmmmm” ucap Daniel dengan suara lembut, walaupun dia sedikit kecewa saat wanita itu menarik tangannya.
“A aku tidak apa apa, mungkin hanya kurang darah saja, dan banyak pikiran juga. Hal ini biasa terjadi kalau aku mau datang bulan” sahut Qiandra dengan sedikit tergagap.
“Benarkah hanya seperti itu” tanya Daniel dengan sedikit penekanan, namun kemudian dia tersenyum lembut pada wanita itu, “Kalau kamu memang merasa tidak sehat dan ada yang tidak beres dalam tubuhmu, katakan saja padaku, biar aku bisa mencari dokter atau mencari obat yang sesuai untukmu” lanjutnya dengan penuh perhatian.
“Eh, ti tidak apa apa, terima kasih, aku hanya perlu beristirahat saja, nanti juga aku akan baik baik saja” sahut Qiandra dengan sedikit gugup. “Astaga, jangan sampai dia membawa dokter lain lagi kesini, jangan jangan nanti dokternya bisa mengetahui kehamilanku dan memberitahukannya pada Daniel, matilah aku” lanjut Qiandra dalam hatinya.
“Hmmm, baiklah, kalau menurutmu cukup seperti itu, sekarang sebaiknya kita sarapan dulu, nanti kamu bisa minum obat tambah darah agar staminamu cepat pulih. Aku juga bisa meminta pelayan disini untuk menyiapkan jamu sehingga bisa memperlacar datang bulan dan mengurangi sakitmu” ucap Daniel dengan pelan namun membuat Qiandra tercekat.
“Ti tidak perlu membuat jamu” seru Qiandra dengan cepat membuat Daniel mengernyitkan kening menatap ke arah wanita itu.
“Kenapa, Qi, bukannya wanita selalu minum jamu setiap kali datang bulan, katanya bisa mengurangi sakit dan memperlancar datang bulan” tanya Daniel masih dengan tatapan lembut namun intens pada wajah Qiandra.
“Aku, eh, iya betul jamu bisa memberikan efek seperti itu, tapi aku tidak biasa minum jamu dan aku tidak menyukai baunya” ucap Qiandra asal hanya untuk mengurangi kecurigaan Daniel.
“Sejak kapan, Qi” tanya Daniel yang kembali semakin bingung dengan jawabab Qiandra.
“Eh, sejak kapan?, maksudmu sejak kapan apanya” tanya Qiandra yang juga bingung dengan pertanyaan Daniel.
Daniel tersenyum lembut pada wanita itu, “Sejak kapan kamu tidak biasa minum jamu dan tidak menyukai baunya. Setahuku, kamu selalu menyediakan stok jamu dalam lemari pendingin, tidak hanya untuk kamu konsumsi saat kamu datang bulan, tapi bukannya kamu selalu rutin mengkonsumsi jamu seminggu tiga kali” tanya Daniel pada wanita itu.
Qiandra kembali terkejut mendengar ucapan Daniel, Qiandra benar benar tidak tahu kalau Daniel juga memperhatikan kebiasaan Qiandra yang selalu rutin minum jamu. Qiandra sempat terdiam karena terkejut mendengar betapa perhatiannya laki laki itu pada dirinya.
“Qiandra …..” tanya Daniel menyentak wanita itu dari lamunannya.
“Aku eh iya, sejak dua tahun yang lalu, aku memang sudah mengubah kebiasaan itu, karena aku agak kesulitan mencari bahan baku yang sama saat aku pergi dulu. Jadi, aku sudah tidak terbiasa lagi, dan sekarang aku sangat tidak menyukai aroma jamu” sahut Qiandra asal.
“Oh, begitu ya, baiklah, kalau memang kamu tidak mau, kita sarapan saja ya, atau apa ada sesuatu yang ingin kamu makan, biar aku minta pelayan menyiapkannya” ucap Daniel. Daniel memilih mengalah pada keinginan Qiandra, walaupun sebenarnya dia sangat ingin menekan wanita itu agar mau jujur dengan keadaannya.
“Cukup roti dan telur setengah matang” seru Qiandra spontan kembali membuat kening Daniel berkerut.
“Roti tidak akan cukup untuk memulihkan energimu, aku sudah meminta pelayan menyiapkan makanan favoritmu, nasi goreng sea food” sahut Daniel.
__ADS_1
“Tidak, tidak, aku tidak mau sea food” seru Qiandra dengan panik.. Membayangkan saja makanan sea food sudah membuat perutnya bergolak.
“Kamu tidak suka sea food, kamu serius, Qiandra” tanya Daniel dengan suara penuh kebingungan.