
“Bagaimana keadaanmu, Nak” Bik Sum mendekati Qiandra dan duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan oleh Dean. Tangannya mengelus rambut wanita itu dengan penuh kasih, “Apa yang kamu rasakan sekarang” tanya Bik Sum lagi.
Qiandra hampir tak bisa berkata kata saat merasakan belaian lembut dari Bik Sum, wanita setia yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri. “Aku baik baik saja, Bu, hanya seluruh tubuhku terasa sangat lemas, rasanya aku seperti tak punya tulang sama sekali” rengek Qiandra yang tiba tiba menjadi manja pada wanita tua itu. Bahkan air mata menetes dari sudut mata wanita itu. “Bu, aku mau dipeluk” cicitnya lagi.
Tanpa menunggu lama, Bik Sum langsung berdiri dan merengkuh tubuh wanita itu dalam pelukan hangatnya. Air mata keduanya menetes dengan deras seolah mewakili segala rasa yang tertahan selama ini. Bahu Qiandra bahkan terguncang karena menahan isakannya, hal yang membuat dokter Albert dan Dean segera bergerak refleks mendekati kedua wanita beda usia itu.
Dean mengulurkan tangannya dan menepuk lembut bahu Qiandra, sementara Dokter Albert menepuk bahu Bik Sum dan memberikan kode agar wanita itu bisa mengendalikan emosinya. Bik Sum segera memahami kode dari dokter Albert, sehingga dia dengan perlahan melepas pelukannya dari Qiandra. Wanita tua itu dengan cepat menghapus air matanya dengan tissue yang sudah disiapkan oleh Jossie.
“Haish, Ibu, katanya mau menghibur Kak Qiqi, kok malah bertangis tangisan sich” rungut wanita cantik itu seraya menyodorkan tissue pada Dean juga yang membantu Qiandra menghapus air matanya.
“Ah, maafkan Ibu, Nak, ibu hanya terlalu bahagia bisa bertemu denganmu lagi, Ibu sangat merindukanmu. Terlebih ibu juga sangat bahagia mendengar bahwa Ibu tidak lama lagi akan menjadi seorang Nenek” kekeh Bik Sum yang berusaha mencairkan kesenduan di hati mereka.
“Kak, lihatlah wanita ini, dia begitu antusias ingin memiliki cucu, tapi dia juga tidak mengijinkan aku untuk segera memberinya cucu, bukankah Ibu kita ini terlalu pilih kasih” Jossie menampilkan wajah cemberut yang membuat Qiandra tersenyum ke arahnya.
“Hei, kamu bahkan belum memelukku dan sekarang kamu sudah merasa iri padaku karena ibu senang akan kehamilanku?, dasar adik tidak berbakti” seru Qiandra pada wanita muda itu.
“Haish, bagaimana aku bisa memelukmu kalau aku selalu jadi yang nomor kesekian untuk bertemu denganmu. Padahal dulu, akulah yang paling dekat dan selalu ada di sampingmu” sahut Jossie sambil melirik Dean dengan sedikit kesal.
Dean menatap Jossie dengan tatapan tajam saat mengerti arah pembicaraan wanita muda itu. Namun, rasa kesal Dean terhapus saat mendengar Qiandra tertawa sambil menatap Jossie. Tangan istrinya itu bahkan terulur ke arah Jossie seolah meminta agar wanita muda itu mendekat kepadanya.
Jossie mendekati Qiandra dan segera memeluk wanita cantik itu dengan erat, “Aku merindukanmu Nona Andra” ucap Jossie saat keduanya berpelukan. Qiandra terkejut mendengar Jossie menyebutkan nama itu lagi, ah, tiba tiba dia merindukan kota kecil yang begitu asri itu.
“Terima kasih, Jos, kamu asisten dan adik kecil terbaikku, terima kasih sudah menjaga ibu kita dengan baik” desis Qiandra lagi.
“Apa Anda tidak bertanya tentang perusahaan Anda, Nona” tanya Jossie yang lagi lagi dalam mode formal sehingga secara reflek Qiandra langsung mencubit hidung bangir wanita muda itu.
“Aku tidak perduli masalah perusahaanmu itu, kalau kamu tidak mengelolanya dengan baik, maka aku tidak akan memberikanmu makan lagi. Dan berhentilah memanggilku dengan sebutan itu lagi, atau aku tidak akan memberi restu padamu dan si dokter itu” kekeh Qiandra.
Jossie memberengut mendengar kata kata Qiandra, “Memang tidak ada ancaman yang lebih enak didengar selain masalah restu” desisnya dengan bibir yang sedikit dimonyongkan.
“Lihatlah, Bu, aku tidak mengerti bagaimana dokter muda dan tampan itu bisa jatuh cinta pada anak yang masih kolokan seperti ini” seru Qiandra yang masih tersenyum melihat tingkah Jossie. Qiandra tidak sadar kata katanya membuat laki laki yang duduk di sisi tempat tidurnya menatap ke arah wanita itu dengan kesal.
“Honey, apa benar dia tampan, apa dia lebih tampan dariku” desis Dean yang merasa sedikit cemburu mendengar sang istri memuji laki laki lain di hadapannya. Qiandra segera berpaling menatap ke arah suaminya itu, dan dia terkejut melihat mata kesal dari sang suami.
“Oh, Astaga, Love, aku hanya menggoda Jossie, bagiku kamu tentulah yang terbaik dan tertampan” desis Qiandra dengan lembut seraya mengelus dagu pria itu. Kata kata Qiandra segera membuat wajah presidir tampan itu sumringah dan tersenyum bahagia.
Sikap kedua orang itu membuat semua yang ada dalam ruangan itu hanya bisa menggelengkan kepala. Siapa pun yang mengenal Dean tidak akan menyangka kalau presidir yang selalu terkenal dengan sikap dingin dan arogan itu, bisa merajuk seperti anak kecil pada seorang Qiandra. Bahkan Dean merajuk bukan karena hal yang besar, hanya karena sang istri menyebut laki laki lain tampan, ck ck ck.
__ADS_1
“Lalu dimana doktermu itu, Adik Kecil, jangan bilang kamu meninggalkannya di luar kamar sendirian” seru Qiandra lagi pada Jossie.
“Yang pertama dia memang ada di luar kamar ini, Kak, tapi dia tidak sendirian, ada si asisten kece menemaninya” sahut Jossie dengan wajah cengengesan.
“Astaga, Jossie, bagaimana bisa kamu tidak membawanya masuk, walau bagaimana pun dia akan menjadi bagian dari keluarga kita” seru Qiandra dengan lembut pada Jossie.
“Tapi Dokter Albert bilang tidak boleh terlalu banyak orang yang masuk ke dalam sini” cicit Jossie sambil melirik dokter Albert. Qiandra segera menatap ke arah dokter Albert yang hanya bisa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Kak Al, ….” tanya Qiandra dengan kening sedikit berkerut.
“Jangan tanya aku, Qi, tanyakan laki laki posesif itu, kamu tidak tahu kalau aku juga harus kelimpungan mencari petugas medis yang harus semuanya wanita untuk merawatmu” seru dokter Albert seraya menatap Dean yang ada di sisi Qiandra. Dokter Albert tentu tidak terima disalahkan begitu saja, karena dia sendiri merasa kelimpungan memenuhi keinginan gila sahabatnya itu.
Mendengar jawaban dokter Albert, Qiandra segera megarahkan pandangannya kepada Dean, “Love, ….” desis Qiandra bertanya pada sang suami.
“Tidak ada yang perlu aku jelaskan, Honey, kamu sendiri tahu aku tidak suka ada laki laki lain yang menyentuhmu” sahut Dean dengan lugas tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Tapi, bagaimana dengan Dokter Jimmy” tanya Qiandra dengan gemas, apa mungkin Dean juga tidak ingin Qiandra bertegur sapa dengan dokter yang tidak lama lagi akan menjadi adik iparnya itu.
“Aku tidak mau kamar terlalu penuh, sehingga oksigennya menjadi menipis dan itu bisa membuatmu menjadi sumpek” sahut Dean lagi lagi dengan sikap cuek dan santai. Jawaban yang membuat semua orang di dalam ruangan itu kembali menggelengkan kepala. Bagaimana bisa seorang presidir hebat dan terkenal cerdas bisa memberi jawaban absurd seperti itu.
Akhirnya, suasana dalam ruang perawatan itu menjadi lebih ceria penuh dengan canda dan tawa. Semua orang berusaha menghindar dari pembahasan yang dapat membuat Qiandra kembali bersedih atau membuatnya berpikir berat.
“Nak, ibu pulang dulu ya, besok besok ibu akan kesini lagi menjengukmu” ucap Bik Sum sambil membelai lembut kepala Qiandra. Qiandra yang memang belum diperbolehkan duduk itu tersenyum kepada wanita tua itu.
“Baiklah, Bu, terima kasih sudah mengkhawatirkan diriku, tapi ibu tinggal dimana selama berada di kota ini” tanya Qiandra yang memang tidak tahu kalau Bik Sum, Jossie dan dokter Jimmy telah ada di kota itu sejak pesta Qiandra beberapa waktu yang lalu.
“Nak Dean menempatkan kami di dalam pentahouse kalian, Nak, sebenarnya ibu yang meminta tinggal disitu” sahut Bik Sum lembut.
“Oh, syukurlah kalau begitu, Bu, maaf kalau tempatnya kurang nyaman buat Ibu” ucap Qiandra lagi.
“Haish, tidak nyaman dimananya, itu penthahouse bahkan jauh lebih mewah dan lebih nyaman dari rumah kita” kekeh Jossie yang memang sempat terkagum kagum dengan segala kemewahan tempat tinggal Qiandra dan Dean itu. “Ya, sudah, kalau begitu kami permisi dulu, Kak, tetap semangat dan cepat sembuh ya” lanjut Jossie dengan senyum ceria menghiasi wajahnya.
“Jaga Ibu baik baik ya, dan jangan coba membuat cucu mendahului aku mentang mentang kamu tinggal bersama” ucap Qiandra saat Jossie memeluknya.
“Tinggal bersama darimana, sementara masuk ke penthahouse saja dia harus ijin dulu pada pemiliknya” desis Jossie.
“What, …..” seru Qiandra yang lagi lagi terkejut dengan ocehan Jossie.
__ADS_1
“Dia tinggal bersama Vian, masa dia tinggal bersama dengan Ibu dan Jossie” sahut Dean yang segera memberikan jawabab sebelum Qiandra bertanya padanya. Jawaban sang suami hanya bisa membuat Qiandra memutar bola matanya dengan malas.
Setelah berbasa basi sebentar, akhirnya Bik Sum dan Jossie meninggalkan ruangan itu bersama dengan dokter Albert. Sesampainya di luar ruangan mereka melihat dokter Jimmy dan juga asisten Vian sedang berbincang dengan seseorang.
“Hallo, Tuan Dika, angin apa yang membawamu sampai kesini” seru Dokter Albert saat melihat orang yang berbicara dengan Vian dan dokter Jimmy.
Jossie dan Bik Sum yang baru keluar di belakang dokter Albert juga segera mengarahkan pandangannya pada orang yang di sapa oleh dokter Albert itu. Namun, Bik Sum tiba tiba berdiri mematung dengan kening berkerut dalam saat melihat seorang laki laki tampan berdiri tegak tidak jauh dari dirinya.
Sementara orang yang ditatapnya itu juga tidak kalah terkejutnya saat melihat Bik Sum. Laki laki tampan itu melangkah perlahan mendekati Bik Sum yang masih ternganga menatap wajahnya. “Tante Clay, ….” desis Laki laki itu saat berdiri di hadapan Bik Sum.
“Di …. Dika, ka kamu Andika kah” tanya Bik Sum dengan bibir bergetar dan air mata yang seolah akan tumpah dari pelupuk matanya.
“iya, Tante, ini aku, ini aku Andika” seru Dika dengan penuh semangat.
“Kamu Dika kecilku yang selalu ngompol di kasurmu dan selalu mengamuk jika permen loli mu menghilang dari lemari es itu kan” seru Bik Sum masih berusaha meyakinkan dirinya.
“Benar, benar, Tante, akulah itu” seru Dika dengan semangat, tanpa sadar apa yang disebutkan oleh Bik Sum sebenarnya hal yang memalukan bagi seorang presidir seperti dirinya. Dika segera memeluk wanita tua itu dengan penuh kasih, air matanya bahkan mengalir di pipi laki laki muda itu.
“Jadi, jadi kamu selamat, Nak” desis Bik Sum dalam pelukan Dika.
“Ssstttt, tenanglah, Tante, kita akan bicarakan masalah itu lain kali, tolong sembunyikan semuanya dulu” bisik Dika seraya mengurai pelukannya pada wanita tua itu.
“Hei hei, maaf Tuan Dika, maaf jika saya menyela, tapi saya sedikit bingung saat Anda mengenal wanita ini dan memanggilnya dengan nama yang berbeda” tanya dokter Albert menyela kedua orang itu.
“Ah, maafkan saya Dok, saya hanya merasa senang bertemu kembali dengan Tuan ini, dulu Bik Sum pernah menjadi pengasuh Tuan Dika waktu mereka masih kecil” sahut Bik Sum seraya melirik ke arah Dika.
“Tapi, Tuan Dika tadi memanggil Anda dengan nama yang berbeda, bahkan dia menyebut Anda dengan sebutan Tante” tanya dokter Albert lagi.
“Ah iya, Tuan Dika memang suka menggoda saya dengan memanggil saya dengan nama itu, hanya dia yang selalu memanggil saya begitu dan bukan dengan sebutan Bik Sum” sahut Bik Sum lagi, membuat dokter Albert segera menatap ke arah Dika.
“Yah, seperti itulah, aku memang sudah lama tidak bertemu dengan beliau ini” sahut Dika membenarkan penjelasan Bik Sum.
“Oh, begitu rupanya” sahut dokter Albert akhirnya, walaupun sejujurnya dia masih tidak terima dengan penjelasan Bik Sum itu. Namun, dokter Albert juga tidak merasa berhak untuk menanyakan lebih detail.
Berbeda dengan asisten Vian yang terlihat mengernyitkan kening dengan dalam mendengar penjelasan Bik Sum. Asisten Vian sangat mengetahui tentang kehidupan Qiandra termasuk orang orang yang selalu berada di sekeliling wanita itu. Dan sepengetahuan asiten Vian, Bik Sum adalah salah satu sukarelawan di panti asuhan tempat Qiandra tinggal dulu.
Bik Sum juga satu satunya orang yang selalu bersama dengan Qiandra sejak Qiandra masih berada di panti asuhan. Bik Sum seolah selalu menempel pada Qiandra sebagai pelayan wanita itu, hingga akhirnya Qiandra mengangkat wanita itu menjadi ibunya.
__ADS_1
Jadi, jika sekarang Bik Sum mengatakan kalau dia adalah pengasuh Dika saat masih kecil, hal itu menjadi sangat aneh. Apalagi saat Bik Sum bisa menyebutkan dengan jelas kebisaan masa kecil Dika yang artinya dia memang sangat mengenal Dika. Sementara seharusnya pada masa itu Bik Sum masih sebagai pengurus panti asuhan tempat Qiandra tinggal. Apakah ini suatu kebetulan atau …..