
Daddy Walt mendesah perlahan, “Kita tidak pernah tahu bagaimana takdir yang harus kita
jalani, Son, aku juga tidak menyangka rahasia yang harusnya aku bawa sampai akhir hidupku ternyata harus aku buka. Aku tidak menyalahkan kamu sama sekali, semuanya sudah ditentukan seperti ini. Siapa yang tahu kalau kita harus membuka kembali kasus ini karena seorang malaikat seperti Qiandra. Aku tidak ragu, Son, aku siap membuka
semuanya, tapi aku tidak yakin pada sikap keluarga Qiandra. Entah mereka akan menerima atau tidak, tapi aku yakin apapun kenyataan yang sebenarnya tatap akan menjadi guncangan untuk hubungan kalian” ucapnya dengan bijak.
Dean menatap sang ayah dengan pandangan kosong, dia juga menyadari kalau apa yang dikatakan oleh ayahnya benar adanya. Apapun kebenaran yang akan terungkap semua pasti akan menyakitkan salah satu pihak, baik pihaknya maupun pihak Qiandra. Jika terbukti Hamilton memang berkhianat maka Qiandra akan merasa bersalah dan tidak berani mengangkat wajahnya. Namun, jika Hamilton tidak berkhianat dan semua kesalahan ada pada pihak kerajaan, maka Dean pasti akan merasa sangat berdosa.
“Jadi, bagaimana keputusanmu, Son, jangan katakan kamu tidak memikirkan resiko ini. Jika masih mungkin, lebih baik semuanya tetap ditutup saja, aku siap melakukannya, bahkan kepadamu tidak akan aku buka, agar
hal ini tidak menjadi beban untuk kalian di kemudian hari” daddy Walt memecah
lamunan Dean.
Dean tercenung sejenak, “Dad, aku sudah berusaha membujuk mereka, Dika dan Qiandra, aku bahkan bersedia memulihkan nama baik keluarga Hamilton, tapi mereka tetap menolak. Keluarga mereka juga begitu,
karena mereka sangat yakin kalau Kenrich Hamilton tidak mungkin melakukan
perbuatan sekeji itu. Mereka sangat percaya kalau orang tua Qiqi adalah orang terhormat yang pasti menjunjung tinggi kesetiaan” ucap Dean dengan suara sedikit frustasi.
“Aku mengerti, memang siapapun yang mengenal Kenrich Hamiltron tidak akan percaya, semua orang pada masa itu sangat tahu bagaimana pengabdian seorang Kenrich Hamilton pada kerajaan. Kakekmu bahkan sudah menganggap Kenrich sebagai salah satu penasehat kerajaan walaupun usianya masih belum layak. Jadi, siapa yang bisa
percaya kalau seorang Kenrich Hamilton yang sangat loyal melakukan pengkhianatan. Hah, sayangnya kekacauan yang terjadi saat itu membuat semua kebijakan tidak lagi menjadi bijak tapi justru menyisakan luka yang mendalam” desah daddy Walt penuh penyesalan.
“Apa Kenrich Hamilton memang melakukan pengkhianatan, Dad?” tanya Dean tanpa bisa menahan rasa penasarannya lagi.
Daddy Walt tersenyum mendengar pertanyaan Dean, “Buatlah dulu keputusanmu, Son, aku tidak akan memberikan jawaban apapun sebelum mendengar keputusanmu. Aku tidak mau kamu membuat keputusan karena terpengaruh pada fakta yang ada, pertimbangkan semuanya dengan kepala dingin dan buatlah keputusan terbaik dan paling adil bagi semuanya” ucap Daddy Walt.
Dean terdiam mendengar jawaban ayahnya, beberapa kali dia menarik nafas berat, “Aku akan membuka semua fakta ini, Dad, apapun resikonya, dan aku akan memberikan
__ADS_1
kompensasi serta pemulihan bagi pihak pihak yang sebenarnya tidak bersalah” sahut Dean.
“Lalu bagaimana dengan pihak yang memang bersalah” tanya Daddy Walt.
“Bukankah mereka sudah menerima hukumannya, Dad” sahut Dean.
“Benar, tapi apakah hukuman itu sudah setimpal dengan kesalahan mereka dan bagaimana bila ada pihak bersalah yang belum mendapatkan hukuman” lagi Daddy Walt bertanya pada Dean.
“Aku akan meminta Tim Kuasa Hukum kita untuk kembali memeriksa semua berkas dan barang bukti yang ada” sahut Dean lagi.
“Apa kamu yakin mereka akan adil” Daddy Walt terus menanyakan keputusan Dean.
“Jika merasa ragu, maka aku akan melibatkan Tim Kuasa Hukum Pemerintah dan jika ada keluarga korban yang ingin terlibat aku juga akan mempersilahkannya. Biarlah hukum yang menjawab dan menentukan siapa yang benar dan siapa yang salah” sahut Dean.
“Lalu apa kamu siap jika keluarga kita disalahkan atas semua peristiwa itu” tanya Daddy Walt.
“Hmmmm, baiklah, jika memang itu sudah keputusan finalmu, tapi sebelum itu persiapkan upacara peresmian dan pengangkatan dirimu menggantikan diriku dan posisi ratu kepada Qiandra. Maafkan Daddy, Son, bukan karena daddy tidak mau bertanggung jawab, tapi Daddy sungguh tidak ingin lagi dikejar kejar dan dituntut masalah ini, dan daddy juga tidak tahu sampai kapan
daddy bisa bertahan. Daddy akan membuka
semuanya padamu, daddy harap kamu mempelajari semuanya terlebih dulu agar kamu bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi” ucap daddy Walt.
Daddy Walt melepaskan cincin yang ada di jari manisnya, cincin pernikahan dirinya dan
ibunda Dean, lalu menyerahkan pada Dean. Dean mengernyitkan keningnya, “Masuklah ke kamar utama, tempatilah kamar itu mulai sekarang bersama dengan Qiandra. Karena hanya kalian berdua yang layak menempati kamar itu. Lihatlah di belakang lukisan lambang kerajaan, kamu bisa menggunakan cincin ini untuk membuka ruangan disana” ucap sang daddy.
“Baiklah, Dad, terima kasih atas kepercayaan Daddy, sekarang beristirahatlah Dad, aku rasa
Daddy sudah terlalu banyak bicara. Yakinlah, Daddy akan bahagia dan panjang umur serta akan bermain dengan cucu dan cicitmu” ucap Dean seraya memperbaiki selimut sang daddy.
__ADS_1
Daddy Walt hanya tersenyum mendengar ucapan anak tunggalnya itu, “Kamu tahu semua kebahagiaanku telah dibawa oleh mommymu, Son” ucap laki laki itu sebelum menutup matanya.
Tangan Dean yang sedang merapikan selimut sang daddy terhenti sejenak saat mendengar kata kata laki laki paruh baya itu. Dean
memperhatikan wajah tampan sang daddy yang terlihat kurus dan letih, tanpa sadar air mata menggenang di pelupuk matanya. “Jangan tinggalkan aku, Dad” desisnya dengan bibir bergetar, lalu dia mengecup dahi ayahnya dengan penuh kasih.
Dean melangkah mundur lalu membungkukkan badannya menghadap kepada sang Daddy sebagai bentuk
penghormatannya. Setelah itu barulah
laki laki tampan itu berbalik dan melangkah meninggalkan ruangan tempat ayahnya
beristirahat. Di depan kamar dia melihat
kepala pelayan Jhon masih berdiri dengan tegak, laki laki itu segera membungkukkan badannya saat Dean melewati dirinya.
“Tempatkan beberapa perawat terbaik di dalam kamar, jangan pernah memalingkan wajahnya dari Daddy, dia harus memperhatikan sekecil apapun pergerakan daddy” ucap Dean saat berdiri di hadapan kepala pelayan Jhon.
“Segera saya laksanakan, Pangeran” sahut kepala pelayan Jhon. Dean hanya diam dan melanjutkan langkahnya menuju kamarnya, dimana Qiandra sedang beristirahat. Dean membuka kunci kamar karena memang kamar Qiandra dikuncinya untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan. Walaupun di istana ada Dika, namun laki laki itu juga tidak mungkin bisa masuk dengan sembarangan dan terus menjaga Qiandra.
Saat melihat Qiandra sudah tidak ada di tempat tidur, Dean segera menoleh ke arah
balkon. Benar saja, wanita yang sangat
dikasihinya itu terlihat sedang berdiri di balkon. Dean segera menghampiri wanita itu, dia melingkarkan tangannya di pinggang sang istri dan membelai lembut perut Qiandra
yang mulai membuncit. “Apa yang kamu
pikirkan, Honey, hmmmm” tanya Dean seraya meletakkan kepalanya di ceruk leher sang istri.
__ADS_1