PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
T U J U H


__ADS_3

“Pa, Qian mohon jangan usir Qiandra” Qiandra masih berseru dengan menghiba.


“Tuan, Nyonya, tolong jangan usir Nyonya Muda” tiba-tiba Bik Sum ikut bersimpuh disamping Qiandra.


“Bik Sum….” seru Qiandra terkejut melihat wanita tua itu ikut bersimpuh disamping dirinya.


“Bik Sum, jangan coba-coba membela ja*ang ini, atau kamu mau kuusir juga bersama dengan ja*ang ini” seru mama Reni.


“Nyonya Besar, aku akan berada dimanapun Nyonya Muda berada” sahut Bik Sum tanpa ragu.


“Bik, jangan lakukan itu” seru Qiandra yang semakin terkejut mendengar jawaban Bik Sum.


“Baik, jika itu maumu, penjaga, seret kedua manusia tak berguna ini keluar dari rumah ini” seru mama Reni.  Empat orang bodyguard masuk ke dalam ruang tamu, lalu mereka memegang tangan Qiandra.


“Lepaskan tangan kalian dari Qiandra” seru Dean dengan suara tajam, membuat para bodyguard itu seketika melepaskan tangan mereka dari Qiandra.  Dean segera meraih tangan Qiandra dan membawanya untuk berdiri, Qiandra ingin menolak, dia masih berusaha bersimpuh memohon pada kedua orang tua Charles.


Namun, Dean memaksanya, “Ayo, Qi, jangan rendahkan dirimu seperti ini” ucap Dean lembut pada Qiandra.


“Nyonya Muda, ayo, memang lebih baik kita pergi dari sini” desah Bik Sum.


Qiandra akhirnya mengalah, dengan tubuh lunglai dia melangkah keluar dari rumah mewah itu, sesaat dia berbalik dan menatap semua sisi rumah itu dengan hati hancur, “Kak Charles, maafkan Qi, Qi tak bisa lagi bertahan”


desisnya pelan disertai isak tangisnya.


Dean dan Bik Sum memapah Qiandra melangkah keluar dari rumah itu, saat mereka sudah ada di halaman, para bodyguard melempar beberapa barang dan koper Qiandra.  “Bik, ambil berkas-berkas Qiandra, dan biarkan barang lainnya, jangan mengambil apapun dari rumah ini” seru Dean pada Bik Sum.


“Ba-baik, Tuan, kalau berkas penting Nyonya Muda sudah saya kumpulkan di tas ini, Tuan” sahut Bik Sum seraya meraih sebuah tas berkas.  Saat Bik Sum melepaskan tangannya dari Qiandra, tubuh wanita itu tiba-tiba lunglai tak berdaya, Qiandra jatuh tak sadarkan diri.


“Qi…” seru Dean, dia segera meraih tubuh Qiandra dan menggendongnya ala bridal style, Bik Sum yang melihat hal itu segera meraih tas berkas Qiandra lalu berlari menyusul langkah cepat Dean.

__ADS_1


“Masuk, Bik..” seru Dean pada Bik Sum.  Bik Sum bergegas masuk dalam mobil mewah itu, lalu Dean meletakkan Qiandra di kursi penumpang dengan kepalanya di pangkuan Bik Sum.


“Nyonya, Nyonya…..” seru Bik Sum seraya menepuk pipi Qiandra dengan lembut, airmata Bik Sum jatuh berderai melihat keadaan Nyonya Mudanya itu.


Dean segera mengemudikan mobil mewahnya itu, saat tiba di gerbang, mang Ijal yang melihat semua kejadian tadi mengetuk pintu mobil  Dean.  “Ada apa” tanya Dean dengan suara  dingin.


“Tuan , maaf, ijinkan aku ikut bersama dengan Nyonya Muda, aku tidak akan membiarkan Nyonya Muda dan Bik Sum melewati ini sendiri” serunya meminta ijin pada Dean.


“Ijal, jangan lakukan itu, ingat anak dan istrimu  membutuhkan dirimu” seru Bik Sum.


“Lebih baik aku mencari nafkah di tempat lain daripada mengabdi pada manusia-manusia bejat itu” sahut Mang Ijal.


“Baiklah, ayo masuk” sahut Dean pada Mang Ijal.


Saat mereka telah keluar dari gerbang rumah itu, Dean bertanya pada Bik Sum dan Mang Ijal, “Apa Qiandra punya keluarga, atau tempat yang bisa dituju untuk dia tinggal sementara waktu” tanya Dean.


“Astaga, Bik Sum, bagaimana bisa kamu membawa Nyonya Muda dalam keadaan seperti ini, sudahlah, sekarang kita bawa saja Nyonya muda ke rumahku dulu, nanti kalau beliau sudah sadar, biar beliau sendiri yang  memutuskan akan kemana” sahut Mang Ijal.


“Memang kamu pikir Nyonya Muda mau kemana, Jal, dia tak punya apa-apa” sahut Bik Sum.


“Tapi, Nyonya Muda kan pasti punya tabungan, setidaknya dia bisa mencari sebuah tempat yang layak untuk dirinya sendiri, Bik” sahut Mang Ijal.


“Mana ada Nyonya Muda punya tabungan, semua kartu Nyonya Muda sudah lama disita oleh Nyonya Besar, bahkan rekening gaji Nyonya Muda juga dipegang oleh mereka” sahut Bik Sum dengan suara pilu.


“Apa, masa seperti itu sich, Bik, lalu uang yang diberi untuk aku selama ini itu dari mana” seru mang Ijal yang tidak percaya kalau selama ini Qiandra sama sekali tidak punya apa-apa.


“Yah, begitulah kenyataannya, Jal, mereka selalu menyuruh Nyonya Muda bekerja membanting tulang untuk menggantikan kerugian mereka karena kehilangan Tuan Muda.  Nyonya Muda hanya punya uang ala kadarnya yang dia dapat dari kerja lembur saja, itupun kalau diketahui oleh Nona Fani, pasti akan disita semuanya” sahut Bik Sum dengan  suara sendu.


“Astaga, sekejam itu mereka pada Nyonya Muda, kenapa juga Nyonya Muda masih mau bertahan hingga bertahun-tahun tinggal bersama dengan mereka.  Secara Nyonya Muda kan cantik dan cerdas, dia tidak akan menemukan kesulitan untuk memulai hidup baru” ucap Mang Ijal sambil menggelengkan kepalanya tak percaya dengan pahitnya kehidupan yang dijalani Qiandra.

__ADS_1


“Kamu benar, Jal, aku sendiri sudah berulang kali membawa Nyonya Muda untuk pergi, namun dia selalu menolak, hatinya terlalu baik  sehingga dia beranggapan bahwa  Tuan dan Nyonya Besar itu pengganti orang tuanya, dan dia berkewajiban menggantikan posisi  Tuan Muda Charles untuk memenuhi semua kebutuhan keluarga itu, karena dulu Tuan Muda lah yang memenuhi semua kebutuhan keluarga itu.  Bahkan Nyonya Muda rela menyerahkan semua hasil usahanya dan semua uang peninggalan Tuan Charles kepada Nyonya Besar dan nona Fani” sahut Bik Sum lagi, sambil membelai rambut Qiandra dengan penuh kasih.


“Haish, Aku hanya tak menyangka saja, Tuan Muda yang begitu baik hati memiliki keluarga seperti itu, Nyonya Muda memang berhati malaikat  tetap mau tinggal bersama keluarga seperti itu, aku sungguh heran mengapa Tuhan selalu menimpakan cobaan yang berat  untuknya” desah Mang Ijal, dia menggelengkan kepalanya benar-benar kagum dengan sosok Qiandra.  “Eh, Tuan, maaf, kami seolah mengabaikan Tuan” Mang Ijal tiba-tiba baru tersadar kalau Dean hanya berdiam diri selama mereka membicarakan Qiandra.


“Hmmm, jadi sekarang kita kemana” tanya Dean tak memperdulikan Mang Ijal.


“Kita ke rumahku saja, Tuan, sementara menunggu Nyonya Muda sadar” sahut Mang Ijal.  Dean hanya berdiam diri, dia menekan beberapa tombol di mobil mewahnya, lalu terdengar sebuah suara.


“Ya, Tuan” ucap suara itu, mengejutkan Mang Ijal dan Bik Sum.


“Vian, siapkan mansion tepi pantai, aku membawa Qiandra kesana, kamu segera susul aku kesana” ucap Dean.


“Baik, Tuan” sahut suara itu.


“Tuan….” tanya Mang Ijal yang terkejut dengan mendengar pembicaraan Dean tadi.


“Aku akan membawa kalian ke mansionku yang ada di tepi pantai, aku percaya kalian bisa menjaga Qiandra disana, aku akan menanggung  semua biaya hidup bahkan gaji kalian” ucap Dean.


“Jangan repot-repot Tuan, aku ini sudah tua, buatku asal bisa makan dan tetap bersama Nyonya Muda saja sudah cukup” sahut Bik Sum yang merasa tidak enak hati.


“Benar, Tuan, kalau Tuan mau memberikan tumpangan untuk Nyonya Muda, kami sudah sangat bersyukur, aku sendiri masih bisa mencari pekerjaan lain untuk menghidupi keluargaku, Tuan tidak perlu repot-repot  memikirkan dan mengurus kami” sahut Mang Ijal membenarkan kata-kata Bik Sum.


“Tidak, kalian tetaplah bersama dengan Qiandra, hanya kalian yang mengenal dia dan tentunya yang dia percayai” sahut Dean.


“Baiklah, jika itu yang Tuan inginkan, kami akan mengikuti semua yang menurut Tuan baik untuk Nyonya Muda, asalkan kami tetap diijinkan bersama dengan Nyonya Muda” sahut Bik Sum yang langsung disetujui oleh Mang


Ijal.


Dean segera mengarahkan mobil mewah itu, kearah luar kota menuju pinggir pantai yang merupakan salah satu objek wisata favorit di kota itu.  Mereka berhenti di depan gerbang  sebuah mansion mewah, Dean membuka kaca mobilnya, lalu meletakkan wajahnya pada  sebuah alat pemindai wajah.  Lalu, pintu  gerbang itu terbuka secara otomatis.  Mang Ijal dan Bik Sum melongo melihat kemegahan bangunan yang sedang mereka tuju.

__ADS_1


__ADS_2