PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
TIGA PULUH LIMA


__ADS_3

“Lalu, apa rencanamu untuk akhir pekanmu ini jika kamu tidak mau belajar memasak, Jos” tanya Qiandra pada sekertarisnya itu saat mereka sudah berada di perjalanan pulang.


“Astaga, Nona, Anda tahu aku sangat tidak suka memasak, aku ingin melakukan hal lain yang lebih menantang” sahut Jossie.  Jossie memang cantik dan selalu terlihat anggun seperti Qiandra, namun sebenarnya dia termasuk wanita tomboy yang menyukai berbagai olah raga ekstrim.


“Jadi, apa yang kamu inginkan” tanya Qiandra lagi.


“Apa Nona akan mengijinkan aku” tanya Jossie dengan ragu-ragu, dia memang tetap memanggil Qiandra dengan sebutan Nona, walaupun Qiandra selalu melarangnya.


“Tergantung apa permintaanmu, kalau terlalu berbahaya, sudah pasti aku tidak akan mengijinkannya” sahut Qiandra.


“Ish, mana ada hobbyku yang tidak berbahaya menurut Nona dan ibu” ucap Jossie dengan wajah sedikit kesal.


“Ha ha ha, itu semua karena kamu sangat menyayangi dan mengkhawatirkanmu, gadis manis, tapi, coba katakan dulu kali ini apa yang ingin kamu lakukan” tanya Qiandra sambil tetap fokus mengemudikan mobilnya dengan santai.


Qiandra memang selalu membawa mobilnya sendiri, dia tidak pernah membiarkan Jossie yang membawa mobilnya.  Qiandra cukup trauma saat Jossie pernah sekali membawa mobilnya dan saat itu Jossie kesal dengan seorang pengendara motor yang hampir saja menyenggol mobilnya.  Akibatnya, Jossie mengejar pengendara motor itu dengan cepat membuat Qiandra harus berteriak bahkan  mengancam Jossie agar menghentikan mobilnya.


Sejak saat itulah, Qiandra tidak pernah membiarkan Jossie membawa mobilnya.  Sementara Jossie sendiri pun, tidak pernah beniat membawa mobil yang sudah disediakan oleh Qiandra untuknya, jika mereka berangkat ke kantor.  Jossie baru menggunakan mobilnya jika dia keluar sendiri diluar urusan kantor.


Jossie memang tidak enak hati jika dia menggunakan mobilnya ke kantor, karena mobil Jossie jauh lebih mahal dari mobil yang dipakai QIandra ke kantor.  Bukan karena Jossie yang mau, tapi justru Qiandra yang membeli untuknya.


Di garasi mobil rumah Qiandra, memang ada beberapa mobil mewah yang sengaja dibeli oleh Qiandra.  Namun, dia sangat jarang menggunakannya, dia lebih suka memakai mobil pertamanya, yang menurut Jossie sudah kadaluarsa itu.  Tapi, Qiandra selalu mengatakan mobil itulah yang sudah banyak berjasa untuknya.


“Besok ada uji coba arena motorcross kita di bukit, bolehkah aku ikut melakukan uji coba” tanya Jossie dengan ragu-ragu, “Yah, sekalian aku menguji ketangguhan beberapa motor trail yang sudah kita beli” lanjutnya lagi membuat alasan.


“Ha ha ha, memangnya kamu tidak mempercayai tim penguji kita, Jos” tanya Qiandra yang merasa lucu dengan alasan Jossie.


“Tuh kan, pasti nggak diijinin lagi” rengut Jossie dengan wajah masam.


“Siapa bilang nggak diijinin, aku cuma merasa lucu dengan alasanmu” kekeh Qiandra lagi.


“Jadi, apa Nona mengijinkan aku” tanya Jossie dengan mata bebinar penuh harap.

__ADS_1


“Boleh saja, tapi berjanjilah kamu akan berhati-hati” sahut Qiandra.


“Benarkah, yeay, terima kasih Nona, tapi bagaimana dengan ibu, dia pasti akan melarangku” ucap Jossie kembali kehilangan semangatnya yang sempat begitu besar tadi.


“Nanti aku yang akan bicara dengan ibu” ucap Qiandra.


“Benarkah Nona, ah terima kasih banyak” ucap Jossie seraya memeluk Qiandra yang sedang menyetir.


“Hei, aku sedang nyetir ini” seru Qiandra yang terkejut dengan perlakuan Jossie.


“He he he, maaf Nona, aku terlalu senang dan bersemangat” ucap Jossie sambil menggaruk kepalanya.  Qiandra hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan melihat  tingkah sekertaris yang juga menjadi sahabat dan seperti adik baginya.


Mereka tiba di sebuah rumah yang cukup besar namun terlihat tidak terlalu mewah.  Gerbang besar didepan rumah itu segera terbuka saat penjaga mengenali mobil yang datang.  “Selamat sore, Nona Andra, Nona Jossie” sapa


penjaga gerbang rumah Qiandra.


“Selamat sore, Mang Oby, terima kasih” sahut Qiandra dengan senyum ramahnya, lalu masuk kedalam halaman rumahnya yang asri.  “Jos, tolong parkirkan ya” seru Qiandra seraya keluar dari mobilnya.


Saat masuk ke dalam rumahnya, Qiandra bisa mencium aroma semerbak kue dari arah dapur.  Dia segera  melangkah menuju ke dapur, Qiandra melihat cup cake yang sangat menggoda tersaji di atas meja makan.  Qiandra mengulurkan tangannya untuk mengambil satu cup cake, namun belum sempat tangannya menyentuh kue itu, sebuah suara mengejutkannya.


“Apa kamu yakin tanganmu cukup bersih, Nona” Bik Sum yang berdiri di dekat oven menegur sang direktris cantik itu.


“He he he, maaf Bu, aromanya terlalu menggoda sich” kekeh Qiandra yang segera mengurungkan niatnya mengambil kue itu.


“Kalau begitu, mengapa kamu tidak segera membersihkan dirimu, agar kamu bisa menikmatinya” tanya Bik Sum lagi seraya melangkah mendekati meja makan dengan membawa beberapa cup cake yang baru saja dimasaknya.


“Siap, Bos” ucap Qiandra seraya meletakkan telapak tangan dikeningnya, dan berlalu dari ruang makan menuju ke kamarnya.  Bik Sum hanya menggelengkan kepalanya melihat  tingkah Nyonya Muda yang sekarang sudah menjadi anaknya itu.


“Haaa, ibu benar-benar yang terbaik dech, sudah menyiapkan makanan favorit aku” seru sebuah suara lagi saat masuk kedalam ruang makan itu.  Tangan Jossie segera terulur ingin mengambil cup cake itu, namun tangannya justru dipukul oleh Bik Sum.


“Ibu…” seru Jossie yang terkejut karena ibunya memukul tangannya walaupun tidak keras.

__ADS_1


“Bersihkan dirimu, jangan biasakan menyebar kuman dari luar sana ke atas meja makan”  ucap Bik Sum dengan santai.


“Ish, masa cuma ngambil kue aja dibilang nyebar kuman” gerutu Jossie, namun dia tetap melangkah juga meninggalkan ruang makan dan masuk ke dalam kamarnya.  Saat dia melewati Bik Sum dia mengecup pipi wanita tua itu sekilas, “Boleh ya, satu aja” rengeknya  dengan manja.


Namun, permohonannya justru dibalas Bik Sum dengan mata yang membulat dan membesar.  Jossie segera berlari kecil meninggalkan wanita tua itu, karena dia tahu, Bik Sum tidak  segan-segan mencubit  tubuhnya jika dia


memaksakan keinginannya pada Bik Sum.


Setelah membersihkan diri, Qiandra dan Jossie segera bergabung di meja makan.  Disana sudah ada Bik Sum dan sepasang suami istri paruh baya yang bertugas sebagai pelayan dan tukang kebun Qiandra.  Namun, Qiandra  selalu memperlakukan mereka seperti keluarganya, mereka selalu makan bersama di meja yang sama, dengan menu yang sama.


Sementara, Mang Oby, penjaga gerbang Qiandra akan selalu diberi jatah makan oleh Bik Sum, di gardu jaganya, juga dengan menu yang sama.  Inilah yang menyebabkan semua  orang yang bekerja di rumah Qiandra merasa sangat betah.  Mereka mendapatkan perlakuan yang sangat baik juga penghasilan yang cukup besar.


Sementara bagi Qiandra, kehadiran para pelayannya itu menjadi hiburan tersendiri baginya.  Meja makan selalu menjadi tempat mereka berbagi cerita, bercanda dan tertawa  bersama.  Sama sekali tidak ada batasan yang membedakan antara majikan dan pelayan.  Jika sekilas orang melihat, maka orang akan mengira mereka adalah satu keluarga yang bahagia.


“Bu, besok aku tidak bisa belajar memasak, dan aku sudah minta ijin pada Nona Andra” ucap Jossie memulai percakapan setelah mereka  menyelesaikan makan malam.


“Memangnya kamu mau kemana” tanya Bik Sum dengan penuh kecurigaan.


Jossie melirik Qiandra, seolah meminta bantuan wanita cantik itu, “Jossie akan mengawasi uji coba arena motor cross yang akan kita resmikan itu, Bu” Qiandra menjawab pertanyaan Bik Sum.


“Tuh kan sudah Ibu duga, pasti nggak jauh-jauh dari tantangan” seru Bik Sum, “Ya, sudah, tapi kamu harus janji akan berhati-hati, jangan malah membuat masalah dengan membahayakan dirimu” ucap wanita tua itu.


“Ah, pasti Bu, Jossie akan sangat dan ekstra berhati-hati, lagipula disanakan ada banyak yang professional, jadi, Jossie pasti akan aman dech” seru gadis cantik itu seraya memeluk Bik Sum.


“Huuuhh, gitu dech kalau maunya sudah dipenuhi” seru pria paruh baya yang terkekeh melihat tingkah lucu Jossie.


“He he he, Paman Lev tahu aja” kekeh Jossie.  Mereka semua tertawa melihat tingakah gadis itu, Jossie memang yang termuda diantara mereka semua.  Sehingga tak jarang, gadis ini selalu bersikap manja pada siapapun yang ada di rumah itu.  Mereka semua tahu, kalau Qiandra sangat menyayangi Jossie.


Pagi hari, setelah sarapan bersama, Jossie sudah mengeluarkan salah satu mobil sport mewah milik Qiandra.  Dia mebawa mobil itu menuju ke arena motor cross, Jossie tampil dengan pakai lengkap khas seorang pembalap.  Dan saat dia tiba, seorang pria muda  menghampirinya dengan membawa sebuah motor trail yang akan digunakan oleh Jossie.


Awalnya Jossie melalui jalur-jalur yang normal, namun rasa penasarannya membuat Jossie mengarahkan motornya pada sebuah jalur ektrim yang memang belum dicoba.  Pengawas yang memperhatikan Jossie berseru memperingatkan gadis itu melalui alat komonikasi yang ada ditelinga Jossie.  

__ADS_1


Namun, seruan peringatan itu diabaikan oleh Jossie yang sudah merasakan gejolak tantangan.  Tak berapa lama, arena itu dihebohkan dengan  teriakan sang pengawas yang melihat Jossie terjatuh ke dalam sebuah jurang.


__ADS_2