PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
TIGA PULUH SEMBILAN


__ADS_3

Hai semua readers kesayangan...


Terima kasih ya sudah mau mampir di novel kedua author...


Jangan lupa mampir juga di novel pertama author "HATI YANG TERPILIH"...


Mohon dukungan buat author ya dengan selalu meninggalkan jejak lewat


Vote


Koment


Like


Terima kasih banyak 🙏🙏🙏


...-----------------#######-----------------...


Qiandra masuk ke dalam kamarnya, dan dia terpekik saat akan menutup pintu kamarnya, Dean sudah lebih dulu masuk ke dalam kamarnya.  Dan belum sempat Qiandra sadar dari keterkejutannya, Dean sudah meraih tubuhnya dan langsung ******* bibir seksi  wanita itu.


Qiandra yang awalnya terkejut dan sempat berontak, pada akhirnya semakin melemah, saat merasakan ciuman lembut laki-laki yang begitu mempesona itu.  Bahkan tanpa sadar,  tangan Qiandra melingkar dileher Dean, membuat laki-laki itu lebih leluasa menjelajah didalam mulut Qiandra.


“Qi, aku mencintaimu, aku sangat mencintaimu” desah Dean diantara desakan birahi yang mulai menguasai pikirannya.


Qiandra menatap lekat mata lelaki itu, “Akupun mencintaimu, Dean, terima kasih sudah datang menemui aku disini” bisiknya dengan mendesah  manja.  Dean kembali merengkuh tubuh seksi Qiandra dan perlahan menuntunnya menuju ke tempat tidur besar yang ada di tengah kamar itu.


Ciuman lembut antara keduanya semakin lama semakin memanas dan semakin menuntut.  Dean membaringkan tubuh Qiandra dengan sangat lembut diatas tempat tidur wanita itu.  Dean menempatkan tubuhnya diatas Qiandra,


nafasnya sudah memburu menahan gejolak dalam dirinya.


Perlahan Dean mulai mencium wanita yang terlihat sangat pasrah itu, Dean menyentuh dan mengecup seluruh bagian wajah Qiandra.  Perlahan ciumannya mulai turun ke leher  jenjang dan putih mulus wanita itu, membuat Qiandra menggelinjang dan mendesah penuh kenikmatan.  Dean bahkan meninggalkan beberapa kissmark di leher Qiandra dan membuat wanita itu benar-benar lupa diri.


Saat Dean semakin menurunkan ciumannya, perlahan dia membuka kancing kemeja Qiandra, matanya menatap mata coklat wanita itu.  “Bolehkah aku, Qi” tanya Dean dengan suara bergetar menahan gejolak dalam dirinya.


Qiandra bukanlah gadis polos, dia seorang janda yang sudah pernah merasakan kenikmatan surga dunia.  Namun, semua itu sudah berlalu lima tahun yang lalu, dan saat ini sentuhan Dean benar-benar membuat Qiandra terbang melayang.  Tanpa sadar, Qiandra menganggukkan kepalanya seolah memberi ijin pada Dean untuk memenuhi hasratnya.

__ADS_1


Dean yang mendapatkan lampu hijau, segera melakukan aksinya dengan penuh kelembutan dan cinta.  Qiandra benar-benar tidak mampu menolak semua keindahan yang diberikan oleh Dean.  Hingga tanpa sadar keduanya sudah tidak memakai sehelai pakaian pun, dan kedua tubuh polos itu semakin terbakar oleh gairah dan kerinduan yang terpendam selama dua tahun ini.


Saat Dean akan memulai penyatuan keduanya, tiba-tiba tangan Qiandra mendorong tubuh kekar laki-laki itu.  Dean yang benar-benar tidak siap, hampir saja jatuh dari atas tempat tidur besar itu.  “Qi…..” seru Dean frustasi saat melihat Qiandra meraih selimutnya untuk menutup tubuh polosnya.


Qiandra tidak menghiraukan Dean, dia langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintu kamar mandi.  Qiandra bersandar dengan tubuh gemetar di pintu kamar mandi, “Astaga, apa yang terjadi padaku, mengapa semudah itu aku terlena, aku bahkan belum tahu apa-apa tentang Dean” desisnya dalam hati.


Namun, tak urung, Qiandra merasa bersyukur, karena pada detik-detik terakhir, dia berhasil menyadarkan dirinya.  Qiandra mendesah kasar, lalu segera menyiram kepalanya dengan air shower yang dingin untuk meredakan gejolak dalam dirinya.  Setelah merasa cukup tenang, akhirnya Qiandra keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandi.


Saat Qiandra keluar kamar mandi, dia melihat Dean sudah duduk di sofa yang ada di kamarnya. Laki-laki itu sudah mengenakan pakaiannya kembali, namun kemejanya dibiarkan terbuka di bagian atasnya.  “Apa kamu ingin membersihkan diri dulu” tanya Qiandra pelan.


“Bolehkah aku memakai kamar mandimu” tanya Dean dengan senyum sendunya.


“Tentu saja, Tuan Dean” sahut Qiandra yang langsung mengambil satu jubah mandi yang masih baru dan menyerahkannya pada Dean, “Pakailah ini dulu, Tuan, maaf aku nggak punya stok pakaian laki-laki” ucap Qiandra dengan suara sedikit dibuat-buat.


“Astaga, kamu membalasku ya” ucap Dean, dia berdiri dan melangkah mendekati Qiandra, “Maafkan aku, Qi, aku tidak mampu mengontrol  gairahku, kamu sudah menjadi candu bagiku” ucapnya pelan seraya merengkuh tubuh Qiandra.


“Tidak mengapa, Dean, akupun minta maaf, kamu memang penggoda terberat untukku” ucap Qiandra lembut, lalu menarik kemeja Dean dan mengecup bibir laki-laki itu sesaat.


Saat Dean akan memperdalam ciumannya, Qiandra malah mendorong pelan tubuh laki-laki itu, “Pergilah membersihkan tubuhmu, Tuan, aku akan meminta pegawaiku mengantar pakaian untukmu” ucap Qiandra seraya


“Qi…..” Dean menggeram perlahan, namun dia tersenyum melihat tingkah wanita yang sangat dipujanya itu.  “Aku tidak sabar untuk segera menikahimu, Qi, dan saat itu, aku tidak akan melepaskanmu” desisnya.


“Aku menunggu lamaranmu, Tuan” ucap Qiandra dengan suara menggoda lalu dia mendorong pelan tubuh kekar Dean masuk ke dalam kamar mandi.  Setelah pintu kamar mandi tertutup, Qiandra mengambil phonselnya dan segera meminta pegawai di butiknya  mengantar pakaian pria ke rumahnya.


Qiandra memakai salah satu gaun santai dan mulai mengeringkan rambutnya saat Dean keluar dari kamar mandi.  Qiandra hanya melongo melihat tubuh kekar laki-laki dihadapannya itu, dengan beberapa tetes air yang menetes di dada bidangnya, membuat Dean terlihat semakin seksi dan macho.


“Apakah aku tontonan yang bisa menghiburmu, Nona” ucap Dean dengan menaikkan satu alisnya, membuat Qiandra tersentak dari lamunan liarnya, wajah wanita itu langsung merah padam.


“A-aku akan mengambil bajumu di depan” ucap Qiandra dengan terbata, namun saat dia berdiri, Dean malah meraih pinggang ramping wanita itu.


“Aku mencintaimu, Qiandra Zwetta Aldrich, jangan pernah lagi pergi dariku” ucap Dean lembut namun penuh ketegasan.


Qiandra menatap jauh kedalam netra laki-laki itu, dan saat dia menemukan ketulusan dan kesungguhan di mata laki-laki itu, Qiandra  tersenyum lembut, “Akupun mencintaimu, Tuan Dean Walt Zacharias, ikatlah aku dengan cintamu, dan jangan biarkan aku terlepas lagi darimu” desahnya.


Dean memeluk wanita itu dengan penuh kasih, dan membawa kepala Qiandra masuk dalam dekapannya.  Berulang kali Dean mengecup lembut pucuk kepala Qiandra dengan penuh  kasih, “Aku tidak akan pernah membiarkanmu lepas lagi, Qi, tidak akan pernah” ucapnya dengan tegas.

__ADS_1


Mereka berdua terhanyut dalam pelukan penuh cinta itu, tanpa nafsu tapi diselimuti dengan kasih dan kerinduan yang seolah tidak ada  habisnya.  Hingga ketukan di pintu kamar  Qiandra menyadarkan keduanya, membuat Qiandra segera mengurai pelukannya.


Qiandra membuka pintu kamarnya, dan melihat Bibi Ona membawa beberapa paper bag ditangannya.  “Ini kata pegawai Non Andra, ini pesanan Non Andra” ucap Bibi Ona.


“Oh iya, benar, Bi, makasih ya” ucap Qiandra dengan lembut, Bibi Ona hanya tersenyum lalu mengedipkan matanya pada Qiandra, “Ish, Bibi apaan sich” ucap Qiandra dengan wajah merona.


“Bibi harap tak lama lagi, bibi akan disibukkan dengan sebuah pesta pernikahan” ucap wanita paruh baya itu.


“Doakan aja ya Bi, semoga semuanya bejalan dengan lancar” ucap Qiandra lembut dan dijawab Bibi Ona dengan anggukan kepalanya, lalu wanita paruh baya berlalu dari kamar majikannya itu.


Qiandra membawa paper bag itu dan menyerahkannya pada Dean, “Semoga saja cocok, maaf jika tidak sesuai dengan seleramu” ucapnya lembut, namun Dean menolak paper bag itu, membuat Qiandra mengernyitkan keningnya.


“Apa kamu tidak ingin membantuku memakainya agar kamu tahu pakaian ini cocok atau tidak denganku” tanya Dean.


“Astaga, Dean, masa aku harus memasang bajumu” seru Qiandra dengan wajah yang kembali merona.


“Ya, sudah kalau kamu tidak mau, aku akan tetap seperti ini saja keluar dari kamar ini” ucap Dean dengan santai lalu melangkah menuju pintu kamar Qiandra.


“Ish, dasar tukang pemaksa” seru Qiandra lalu menghadang langkah Dean, “Kemarilah, Tuan, aku akan membantumu memasang pakaianmu” ucapnya dengan nada sedikit mengejek Dean.


“Kalau kamu terpaksa, aku juga tidak akan memaksamu, Nona” ucap Dean dengan wajah acuh.


Qiandra meraih wajah itu dan mengecup bibir itu dengan lembut, “Aku tidak terpaksa, Tuan, tapi aku dipaksa” kekehnya lagi.


Dean mengacak rambut wanita itu dengan penuh kasih, sementara Qiandra mulai memasangkan pakaian di tubuh kekar laki-laki yang sesaat lalu telah resmi menjadi kekasihnya.  Pakaian yang dipilih oleh Qiandra benar-benar melekat dengan pas ditubuh kekar Dean, membuat laki-laki itu terlihat semakin gagah.


“Pakaian ini benar-benar bagus, Qi, darimana kamu membelinya, kurasa aku akan meminta beberapa pasang lagi” ucap Dean yang benar-benar merasa nyaman dengan pakaian yang dipakainya.


“Itu dari butikku, hasil designku sendiri, dan untuk orang sekaya Anda, Tuan, kurasa aku akan memasang harga yang lebih mahal” sahut Qiandra.


“Wow, kamu juga bisa mendesign pakaian, Qi, kamu benar-benar luar biasa, dan masalah harga, apakah ada yang lebih mahal dari diriku, karena aku akan membayar pakaianmu dengan diriku dan semua yang kupunya, bagaimana”  tanya Dean, tangannya kembali merengkuh pinggang ramping wanita itu.


“Ha ha ha kurasa itu lebih dari cukup, Tuan” sahut Qiandra,  “Ya sudah, kurasa sekarang kita harus kembali ke rumah sakit, aku sangat  mengkhawatirkan keadaan Jossie” ucap Qiandra seraya melepaskan dirinya dari


pelukan Dean dan menarik tangan laki-laki itu untuk segera keluar dari kamarnya.

__ADS_1


__ADS_2