
Qiandra melangkah memasuki mansion mewah itu dengan mata berbinar. Mansion mewah berlantai tiga dengan taman yang luas, sungguh memanjakan mata yang melihatnya. “Astaga, ini ini terlalu luar biasa, Love” desah Qiandra saat merasakan sebuah lengan kekar merengkuh pinggangnya.
“Maafkan aku, Honey, jika mansion ini belum bisa memuaskan keinginanmu” ucap Dean dengan wajah sendu. Dia teringat dengan villa mewah yang dibangun Daniel untuk Qiandra, dengan semua sudut mewah yang semuanya dibuat sesuai dengan selera dan harapan Qiandra.
Dean menyadari kalau sangat sedikit hal yang dia ketahui tentang Qiandra, namun dalam hati Dean bertekad akan membuat mansion baru yang sesuai dengan keinginan Qiandra. Tentunya dia akan mencari tahu terlebih dahulu bagaimana selera sang istri.
“Astaga, Love, ini sungguh luar biasa, bagaimana bisa kamu mengatakan ini tidak bisa memuaskan keinginanku, ini benar benar sempurna” seru Qiandra dengan mata berbinar penuh kebahagiaan.
Dean menatap wajah sang istri, dia berusaha mencari kesungguhan di mata berbinar Qiandra. Dean masih merasa ragu kalau Qiandra benar benar bahagia, dia yakin kalau Qiandra hanya tidak ingin mengecewakan dirinya.
“Honey, tidak perlu menghiburku, aku sungguh sungguh merasa bersalah karena aku tidak tahu bagaimana seleramu. Maafkan aku, ternyata masih sangat banyak hal yang belum aku ketahui tentang dirimu. Kumohon maafkanlah diriku, Honey, tapi jika kamu tidak puas kita akan membuat yang baru lagi, kamu bisa mengatakan bagaimana desaign yang kamu inginkan” ucap Dean dengan bersungguh sungguh.
Qiandra menatap wajah sang suami, lalu kedua tangannya terulur dan membelai wajah sang suami dengan lembut. “Apa yang kamu katakan, Love, ini sungguh sungguh luar biasa dan jauh di luar ekspetasiku. Kamu benar benar membuat hal yang tidak mungkin bagiku menjadi mungkin. Aku sungguh tidak bisa berpikir lebih dari ini lagi, karena ini saja sudah sangat berlebihan untukku” ucap Qiandra dengan penuh kesungguhan.
Namun, Dean masih belum puas, dia tetap merasa kalau sang istri masih berusaha menghibur dirinya. “Tapi, Honey, mereka mengatakan bahwa villa kemarin dibuat semuanya sesuai dengan selera dan harapanmu. Dan aku tahu kalau mansion ini tentu saja jauh berbeda dengan villa itu, yang artinya jauh berbeda dengan selera dan harapanmu” ucapnya lagi.
Qiandra tersenyum, “Love, memang benar villa itu dibuat sesuai dengan gambar yang sempat aku kagumi, tapi itu hanya sebatas gambar yang bisa aku lihat diantara gambar lainnya. Sementara, mansion ini, tempat yang kamu buat untuk kita, sungguh jauh diluar bayanganku. Ini teramat sangat mewah dan sangat indah, terima kasih sudah membuat hal luar biasa seperti ini untukku” ucapnya seraya berjinjit dan mengecup bibir sang suami.
Menadapatkan kecupan singkat seperti itu, tentu saja tidak bisa dilewatkan begitu saja oleh Dean. Dia segera meraih pinggang dan tengkuk sang istri, “Itu tidak cukup, Honey” desahnya seraya mulai ******* bibir ranum wanita cantik itu.
Mereka berdua terbuai dalam pertukaran saliva yang begitu dalam, sarat dengan kerinduan dan cinta kasih yang sangat besar. Dean tanpa segan menarik dan merengkuh pinggang sang istri sehingga dada keduanya menempel erat. Mereka bahkan tidak memperdulikan asisten Vian, para pelayan dan para bodyguard yang sedang berdiri menyambut kedatangan mereka.
Ya, hari ini akhirnya Qiandra diperbolehkan pulang dari rumah sakit setelah hampir empat belas hari dia harus menjalani bed rest. Tentunya semua itu juga tidak luput dari campur tangan ketiga orang laki laki tampan yang ada di sekeliling Qiandra.
Dean, sang suami, yang selalu merengek pada dokter Albert agar membiarkan sang istri pulang. Presidir tampan itu beralasan jika harus terus menerus berada di rumah sakit, maka lama kelamaan dirinya akan ikut ambruk. Dan jika dirinya ambruk, maka dia akan menimpakan kesalahan pada sang dokter.
Asisten Vian, juga terus menerus membujuk dokter Albert agar mengijinkan Qiandra untuk pulang. Asisten tampan ini juga merasa letih harus terus menerus menghandle pekerjaan sang bos yang benar benar tidak mau pergi dari sisi sang istri. Asisten Vian benar benar harus mengurusi semua urusan perusahaan termasuk semua keperluan sang bos besar dan istrinya.
Lalu bagaimana dengan dokter Albert?. Dokter tampan berkacamata ini pada akhirnya terpaksa mengijinkan sang pasien istimewa dan luar biasa itu untuk pulang. Padahal, dokter Albert bersama dengan dokter kandungan dan dokter yang menangani psikis Qiandra sudah memutuskan agar wanita hamil itu harus menjalani bed rest setidaknya tiga puluh hari.
__ADS_1
Akan tetapi apa mau dikata, jika para dokter yang lain tidak berani melawan perintah sang pemilik rumah sakit itu. Berbeda dengan dokter Albert yang tidak akan gentar melawan perintah sekalipun itu dari pemilik rumah sakit, jika memang itu untuk kepentingan pasiennya. Namun, dokter Albert juga sudah tidak tahan mendengar rengekan duo tampan yang hampir setiap saat menghampiri dan meneror dirinya.
Permintaan yang sangat berat untuk dikabulkan mengingat kesehatan Qiandra masih belum pulih sepenuhnya. Namun, apa daya, sang dokter pun sudah lelah harus berdebat dan tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaannya. Dean dan asisten Vian seolah berlomba untuk mengejar dirinya dan menyampaikan keluhan keluhan mereka, yang pada akhirnya hanya untuk meminta Qiandra diijinkan keluar rumah sakit.
Pada akhirnya, disinilah mereka berada saat ini, didepan mansion mewah yang sempat menjadi tempat pelaksanaan pesta penyambutan Qiandra. Dimulai dari pintu gerbang tinggi dan mewah yng menyambut mereka lengkap dengan penjagaan ekstra ketat. Lalu taman luas dilengkapi dengan beberapa mini gazebo yang benar benar menggoda untuk tempat memanjakan mata.
Dan sekarang, mereka telah berdiri di depan mansion berlantai tiga, dengan arsitektur eropa dan sapuan warna emas di beberpa pilar menambah kesan mewah dari mansion itu. Qiandra belum melihat bagian dalam mansion itu, hanya dengan melihat beranda yang luas dan pintu masuk yang besar itu saja, dia sudah bisa membayangkan kemewahan di dalam mansion itu.
Ditambah lagi panjangnya deretan pelayan dan bodyguard yang berbaris menyambut kedatangan mereka. Membuat Qiandra benar benar kehilangan kata kata karena rasa kagumnya. Dan diujung sana, seorang wanita paruh baya dengan dandanan yang begitu elegan terlihat berdiri juga menunggu kedatangan mereka.
Qiandra yang sebenarnya sudah sangat tidak sabar untuk berlari dan memeluk wanita paruh baya itu, terpaksa harus mengurungkan niatnya dulu. Dia harus bertahan dan menghibur serta meyakinkan sang suami yang terlihat begitu khawatir.
Qiandra sudah mengetahui kalau Dean sudah mendengar bahwa villa tempat dia tinggal bersama dengan Daniel, adalah villa yang dibuat sesuai keinginan Qiandra. Oleh sebab itu, Qiandra sudah bisa menduga kalau Dean pasti akan merasa kecewa jika dirinya tidak merasa puas dengan mansion mewah yang sudah disiapkan oleh sang suami.
Walaupun sebenarnya, jika boleh jujur, Qiandra benar benar menyukai villa yang dibuat oleh Daniel. Karena villa itu dibuat benar benar sama persis dengan impin Qiandra. Selain itu, lokasi dimana villa itu didirikan benar benar memberikan view yang sangat disukai oleh Qiandra. Yah, villa mewah yang katanya memang dibuat untuk Qiandra itu, benar benar memenuhi semua impian Qiandra tentang sebuah hunian.
Namun, Qiandra juga tidak mungkin mengecewakan Dean. Toh, dia juga tidak bisa menyalahkan jika suaminya itu tidak mengetahui seleranya. Qiandra yakin, Dean hanya ingin membuat sebuah kejutan untuknya. Qiandra juga tahu kalau mansion mewah ini bahkan sudah dipersiapkan oleh Dean jauh sebelum laki laki itu menemukan dirinya.
Oleh sebab itu, Qiandra sudah bertekad untuk meyakinkan sang suami bahwa dia jauh lebih menyukai dan mengagumi apa yang dibuat dan diberikan oleh Dean untuknya. Bahkan untuk meyakinkan laki laki itu, Qiandra nekad memberikan kecupan di bibir seksi sang presidir tampan.
Sayangnya, Qiandra lupa kalau laki laki ini tidak akan membiarkan dirinya lolos begitu saja. Dan lagi lagi, untuk meyakinkan sang suami, Qiandra rela menahan malu karena harus melayani ciuman panas laki laki itu. Qiandra sangat malu karena hal itu dilakukan di tengah tengah orang banyak, para pelayan, bodyguard, asisten Vian juga Bu Sum.
Beruntungnya, semua orang itu memang telah menundukkan kepala bahkan sejak mereka keluar dari dalam mobil, kecuali asisten Vian dan Bu Sum. Para pelayan dan bodyguard seperti sudah diperintahkan untuk tidak mengangkat wajahnya saat sang tuan dan nyonya ini datang. Jadi, kemungkinan besar mereka tidak melihat betapa hebatnya pertukaran saliva kedua tuan mereka itu.
Qiandra perlahan memukul dada sang suami, saat merasa dirinya mulai kekurangan oksigen. Dean yang merasakan pukulan sang istri segera menyadarinya. Dengan perlahan dia melepaskan pertautan bibir mereka, lalu dengan lembut jarinya menyeka sisa saliva di bibir sang istri.
“Maafkan aku, Honey, aku terlalu bahagia dan teramat sangat merindukan dirimu’ bisik Dean di telinga Qiandra membuat wanita itu mencebik.
‘Ish, rindu apaan sich, Love, bukannya setiap hari bahkan setiap saat kamu selalu ada bersama denganku. Dan ciuman itu, aku rasa tidak akan lama lagi kamu akan menjadi tersangaka KDRT karena membuat bibir istrimu bengkak tidak berbentuk” decih wanita hamil dengan perut yang masih terlihat rata itu.
__ADS_1
“Ha ha ha, salahkan dirimu yang memiliki bibir terlalu manis, Honey, membuat aku selalu merasa candu dan ingin terus menerus ********** hingga …... awwwww” seru Dean sebelum mengakhiri kalimatnya.
“Astaga, Love, bisa nggak sich jangan bicara asal” gerutu Qiandra dengan wajah merah padam, tangannya tanpa sadar mencubit perut sixpack sang suami. Qiandra sadar para pelayan dan bodyguard berusaha mati matian menahan senyumnya mendengar kata kata mesum sang suami. Jika para pelayan dan bodyguard itu tidak melihat mereka berciuman, bukan berarti mereka tidak bisa mendengarkan pembicaraan Dean.
“Hey, ada apa dengan wajahmu, Honey, jangan bilang kamu merasa malu, karena dengan wajah memerah seperti itu membuat kamu terlihat semakin cantik sehingga aku jadi ingin …..” kembali Dean tidak berhasil melancarkan godaan pada wanita itu.
“Loveeee …..” seru Qiandra dengan kesal, lalu wanita hamil itu segera berbalik dan melangkah meninggalkan sang suami dengan kesal. Namun tiba tiba “Kyaaaaa, Love apa apaan kamu” teriak Qiandra yang tiba tiba merasa tubuhnya melayang di udara.
“Hei, jangan berteriak, Honey, apa kamu lupa kalau kamu dilarang dokter untuk terlalu banyak bergerak, apalagi kalau harus naik tangga seperti ini” ucap Dean dengan lembut sambil menggendong sang istri ala bridal style. Dean membawa tubuh wanita cantik itu menapaki tangga yang menjadi jalan menuju ke pintu masuk mansion mewah itu.
“Tapi aku masih bisa melangkah dengan perlahan” seru Qiandra.
“Perlahan, hmmmm, apa tadi itu bisa dikatakan perlahan, Honey” ucap Dean sambil menatap wajah sang istri. Qiandra tadi memang sedang kesal, sehingga dia berbalik dengan langkah sedikit menghentak.
“Itu salah kamu, Love, yang sudah membuat aku merasa kesal” balas Qiandra, walau tak urung hatinya bahagia berada dalam pelukan sang suami, nah lho? Mana yang benar ya?.
“Bagian mana yang membuat kamu kesal, Honey, apa kamu kesal karena aku menghentikan ciumanku tadi, hmmm” tanya Dean sambil mengedipkan sebelah matanya.
“Love ….” seru Qiandra, namun dia menghentikan protesnya saat mendengar suara lembut menyapa dirinya.
“Selamat datang di rumahmu, Nak” ucap wanita paruh baya yang sedari tadi tersenyum bahagia melihat interaksi kedua anak muda itu. dean segera menurunkan tubuh Qiandra dengan berhati hati saat mereka berdiri di hadapan Bu Sum.
“Ibu, ….”rengek Qiandra seraya memeluk wanita paruh baya itu dengan penuh kerinduan. Yah, selama di rumah sakit, memang Bu Sum terbilang jarang menemui Qiandra. Bukan karena Bu Sum tidak mau, namun karena sang suami protektif itu yang benar benar hampir tidak pernah sedetik pun meninggalkan istrinya.
Selama di rumah sakit memang Dean selalu berada di samping Qiandra. Dia hanya sekali sekali pergi kalau ada urusan perusahaan yang benar benar tidak bisa diwakili. Selain itu, Dean hanya akan pergi untuk menjenguk sang daddy yang masih belum sadarkan diri. Oleh sebab itu, Bu Sum benar benar hampir tidak punya waktu untuk bisa menemani Qiandra.
“Ibu juga merindukan kamu, Nak, bagaimana perasaanmu sekarang” tanya Bu sum pada Qiandra.
“Aku merasa sangat bahagia, Bu, rasanya semua bebanku telah lepas, dan aku bisa memulai menjalani hari hari bahagiaku” ucap Qiandra dengan wajah penuh binar kebahagiaan. Tanpa dia sadari, wanita paruh baya yang saat ini dipeluknya hanya bisa mendesah dalam hati.
__ADS_1
Bu Sum benar benar berusaha menyembunyikan kegundahan hatinya, karena semakin bahagia Qiandra, dia merasa akan semakin sulit baginya untuk membuka tabir kelam masa lalu wanita itu. Bu Sum memang diminta oleh Dika untuk memantau perkembangan Qiandra, karena menurut Dika hanya Bu Sum lah yang paling memahami Qiandra. Jika Qiandra cukup sehat maka Dika meminta Bu Sum untuk menyampaikan kenyataan itu pada Qiandra.