
“Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan
kalian berdua, Paman dan Tante akan selalu mendukung semua yang sudah kalian
putuskan. Benar kata Dika, kita akan hadapi apapun resiko yang akan muncul nanti, tanpa saling menyalahkan, karena ini adalah keputusan kita bersama” ucap Chris setelah mendengar Dika dan Qiandra menyampaikan keputusan mereka.
“Terima kasih, kalian semua mau mendukung aku, maafkan jika ini menjadi keputusan yang berakhir tidak baik nantinya” ucap Qiandra masih dengan sedikit ragu di hatinya.
“Feli, jika kamu sudah membuat keputusan maka jangan pernah merasa ragu. Yakinlah,
apapun yang terjadi nantinya adalah hal yang memang sudah digariskan untuk terjadi” Clayandra menegaskan pada Qiandra.
“Baik, Tante, terima kasih” sahut Qiandra.
“Baiklah, karena kita sudah sepakat, aku akan
menghubungi Dean dan membuka jalur komunikasi. Bisakah kamu langsung mengatakan untuk dia menghentikan pelacakan, Feli” tanya Dika.
“Akan aku coba, Kak” sahut Felicia.
“Kamu akan menghubungi dia sejenak dan langsung minta dia menghentikan pelacakan, kita beri waktu 5 menit, baru kemudian kita
akan hubungi lagi. Jika masih terdeteksi
pelacakan, aku akan langsung menutup sambungan itu” ucap Dika yang disetujui
Qiandra dengan anggukan kepalanya.
Dika menghubungi nomor pribadi Dean, dan pada deringan kedua sambungan langsung tersambung. Dika menunjukkan di layar laptop tanda bahwa sambungan itu dilacak pada Qiandra. “Hallo, .....” seru Dean di
ujung sambungan.
“Love, aku akan bicara denganmu tapi tolong
matikan pelacakan, aku beri waktu lima menit, jika kamu masih melacaknya maka
aku tidak akan bicara” ucap Qiandra seraya langsung memutuskan panggilan itu
tanpa sempat Dean menjawabnya.
Dika juga bergerak cepat menutup semua akses komunikasi, sehingga di layar terlihat kalau pelacakan juga berhenti. Wajah tegang Qiandra terlihat jelas, karena memang dalam hati dia ragu kalau Dean akan mengikuti kemauannya.
Sementara itu di mansion Dean, terjadi
keributan akibat kata kata Qiandra tadi. “Aku tidak mau tahu, hentikan semua pelacakan, aku harus bicara dengan Qiandra” seru Dean pada asisten Vian dan dokter Albert.
“Tapi Tuan, jika kita tidak melacaknya, kita
tidak akan tahu keberadaan Qiandra” sahut asisten Vian.
“Dengar, aku tidak tahu apa alasan Qiandra
meminta ini padaku, tapi aku percaya Qiqi punya alasan khusus. Jadi, penuhi saja keinginannya, aku tidak
perduli asalkan aku bisa mengetahui keadaannya saat ini” tegas Dean tidak ingin
dibantah lagi.
Dokter Albert memberikan kode pada asisten
Vian untuk mengikuti keinginan Dean. Karena sejujurnya, dokter Albert juga ingin mengetahui kabar
Qiandra. Mereka benar benar tidak bisa
melacak keberadaan wanita itu hingga saat ini.
Asisten Vian mendesah berat, namun akhirnya
dia mengikuti kemauan Dean. Setelah
memastikan phonselnya sudah tidak dipasang pelacak lagi, Dean segera meraih
__ADS_1
phonselnya dan masuk ke dalam kamar pribadinya. Baru saja Dean duduk di sofa mewah yang ada di kamarnya, phonselnya
langsung berdering, yang ternyata panggilan dari nomor Qiandra.
“Hallo, ....” sapa Dean dengan suara sarat
kerinduan.
“Terima kasih mau mengikuti permintaanku,
Love, sekarang bisakah kamu mengambil tempat tersendiri, ada hal penting yang
ingin aku bahas denganmu” ucap Qiandra.
“Honey, aku sudah sendiri di kamar pribadiku
sekarang, aku juga sudah menonaktifkan CCTV, bagaimana khabarmu, Sayang, aku
benar benar mengkhawatirkan keadaanmu dan baby kita” desah Dean dengan suara
yang sangat lembut.
Qiandra tersenyum mendengar suara yang memang
sangat dirindukannya itu, apalagi saat melihat Dika mengangkat jempol yang
artinya Dean benar benar memenuhi keinginan Qiandra. Qiandra bisa bernafas sedikit lega setidaknya
di tahap awal, Dean benar benar sudah menunjukkan kepercayaannya pada Qiandra.
“Aku pun sangat merindukanmu, Love, terima
kasih mau memenuhi permintaanku. Maaf
jika aku terpaksa harus melakukan hal ini, semua untuk kebaikan kita bersama”
ucap Qiandra.
istri itu, Clayandra segera memberi kode pada Chris dan Dika untuk meninggalkan
Qiandra sendiri. Namun, sebelum keluar,
Dika memberikan kode pada Qiandra dengan menunjukkan laptopnya lalu memberi
kode putus.
Qiandra paham, bahwa keluarganya memberi
keleluasaan padanya untuk berbicara dengan Dean. Saat melihat kode dari Dika, Qiandra juga mengerti
kalau tiba tiba sambungan terputus itu berarti pihak Dean melakukan pergerakan.
“Sudahlah, jangan dipikirkan, kamu kan tahu
Honey, bahwa apapun yang kamu minta pasti akan aku lakukan, apalagi hal sekecil
ini. Sekarang, katakan padaku, apa kamu
baik baik saja, bagaimana dengan baby kita, apa dia masih aman aman saja” tanya
Dean dengan bertubi tubi.
Qiandra tersenyum bahagia mendengar kata kata
Dean, “Tenanglah, Love, aku dan bayi kita baik baik saja. Disini juga ada dokter yang selalu siap sedia
memantau keadaanku. Jadi kamu tidak
perlu khawatir” ucap Qiandra.
“Honey, bagaimana bisa kamu memintaku untuk
__ADS_1
tidak khawatir, saat aku tidak bisa melihat dan bahkan tidak mengetahui
khabarmu selama beberapa hari ini. Aku
merasa benar benar mati tanpa mengetahui keberadaanmu” desah Dean.
“Maafkan aku, Love, ini semua demi menguak
semua kisah masa laluku yang selama ini benar benar tidak aku ketahui” sahut
Qiandra.
“Hmmm, jadi benar Dika itu saudara kandungmu”
tanya Dean yang memang merasa sangat penasaran.
“Seratus persen tidak ada keraguan, Love, Dika
memang kakak kandungku satu satunya, sementara Bu Sum, adalah Tanteku, adik
dari mommyku” sahut Qiandra.
“What, ...., ta tapi bagaimana bisa?” seru
Dean yang cukup terkejut mendengar jawaban Qiandra. “Kalau begitu, mengapa mereka tidak menemui
kita di mansion saja, apa mereka takut aku meragukan mereka” lanjutnya lagi.
“Tidak sama sekali, Love, ceritanya sangat
panjang, Love, karena itu aku tidak bisa menjelaskannya saat ini. Keluargaku ingin mengundangmu ke sini, tapi
kami khawatir ada bahaya yang mengancam kami jika kedatanganmu ini diketahui
orang lain. Oleh sebab itu, jika kamu
setuju, Kak Dika akan menjemputmu secara diam diam, dan tidak ada yang boleh
mengetahui kepergianmu termasuk Kak Albert dan Kak Vian, apa kamu bisa, Love”
tanya Qiandra.
“Tentu saja, aku bisa, kapan, sekarang kah”
tanya Dean tanpa berpikir panjang.
“Love, mengapa kamu langsung setuju, apa kamu
tidak takut aku menjebakmu” tanya Qiandra yang sedikit terkejut karena sang
suami langsung menyetujui keinginannya.
“Aku sangat percaya padamu, Honey, tidak ada
sedikit keraguan pun dalam hatiku. Jika
kamu meminta seperti ini, kamu pasti punya alasan yang sangat kuat. Kalau masalah kamu ingin menjebak aku, aku
tidak perduli, kalau pun aku harus hancur atau bahkan mati di tanganmu aku
sangat sangat rela” sahut Dean dengan bersungguh sungguh.
Qiandra tertegun mendengar jawaban Dean, tiba
tiba rasa bersalah menerpa hatinya. Dean
begitu mempercayai dirinya tanpa ada keraguan sedikit pun. Sementara Qiandra, perlu waktu cukup lama
untuk meyakinkan dirinya dan mempercayai Dean. Bahkan hingga saat ini saja, Qiandra belum sepenuhnya mempercayai sang
suami.
__ADS_1