PLEASE, LOVE ME, JANDA

PLEASE, LOVE ME, JANDA
SERATUS DELAPAN PULUH LIMA


__ADS_3

“Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan


kalian berdua, Paman dan Tante akan selalu mendukung semua yang sudah kalian


putuskan.  Benar kata Dika, kita akan hadapi apapun resiko yang akan muncul nanti, tanpa saling menyalahkan, karena ini adalah keputusan kita bersama” ucap Chris setelah mendengar Dika dan Qiandra menyampaikan keputusan mereka.


“Terima kasih, kalian semua mau mendukung aku, maafkan jika ini menjadi keputusan yang berakhir tidak baik nantinya” ucap Qiandra masih dengan sedikit ragu di hatinya.


“Feli, jika kamu sudah membuat keputusan maka jangan pernah merasa ragu.  Yakinlah,


apapun yang terjadi nantinya adalah hal yang memang sudah digariskan untuk terjadi” Clayandra menegaskan pada Qiandra.


“Baik, Tante, terima kasih” sahut Qiandra.


“Baiklah, karena kita sudah sepakat, aku akan


menghubungi Dean dan membuka jalur komunikasi.  Bisakah kamu langsung mengatakan untuk dia menghentikan pelacakan, Feli” tanya Dika.


“Akan aku coba, Kak” sahut Felicia.


“Kamu akan menghubungi dia sejenak dan langsung minta dia menghentikan pelacakan, kita beri waktu 5 menit, baru kemudian kita


akan hubungi lagi.  Jika masih terdeteksi


pelacakan, aku akan langsung menutup sambungan itu” ucap Dika yang disetujui


Qiandra dengan anggukan kepalanya.


Dika menghubungi nomor pribadi Dean, dan pada deringan kedua sambungan langsung tersambung.  Dika menunjukkan di layar laptop tanda bahwa sambungan itu dilacak pada Qiandra.  “Hallo, .....” seru Dean di


ujung sambungan.


“Love, aku akan bicara denganmu tapi tolong


matikan pelacakan, aku beri waktu lima menit, jika kamu masih melacaknya maka


aku tidak akan bicara” ucap Qiandra seraya langsung memutuskan panggilan itu


tanpa sempat Dean menjawabnya.


Dika juga bergerak cepat menutup semua akses komunikasi, sehingga di layar terlihat kalau pelacakan juga berhenti.  Wajah tegang Qiandra terlihat jelas, karena memang dalam hati dia ragu kalau Dean akan mengikuti kemauannya.


Sementara itu di mansion Dean, terjadi


keributan akibat kata kata Qiandra tadi.  “Aku tidak mau tahu, hentikan semua pelacakan, aku harus bicara dengan Qiandra” seru Dean pada asisten Vian dan dokter Albert.


“Tapi Tuan, jika kita tidak melacaknya, kita


tidak akan tahu keberadaan Qiandra” sahut asisten Vian.


“Dengar, aku tidak tahu apa alasan Qiandra


meminta ini padaku, tapi aku percaya Qiqi punya alasan khusus.  Jadi, penuhi saja keinginannya, aku tidak


perduli asalkan aku bisa mengetahui keadaannya saat ini” tegas Dean tidak ingin


dibantah lagi.


Dokter Albert memberikan kode pada asisten


Vian untuk mengikuti keinginan Dean.  Karena sejujurnya, dokter Albert juga ingin mengetahui kabar


Qiandra.  Mereka benar benar tidak bisa


melacak keberadaan wanita itu hingga saat ini.


Asisten Vian mendesah berat, namun akhirnya


dia mengikuti kemauan Dean.  Setelah


memastikan phonselnya sudah tidak dipasang pelacak lagi, Dean segera meraih

__ADS_1


phonselnya dan masuk ke dalam kamar pribadinya.  Baru saja Dean duduk di sofa mewah yang ada di kamarnya, phonselnya


langsung berdering, yang ternyata panggilan dari nomor Qiandra.


“Hallo, ....” sapa Dean dengan suara sarat


kerinduan.


“Terima kasih mau mengikuti permintaanku,


Love, sekarang bisakah kamu mengambil tempat tersendiri, ada hal penting yang


ingin aku bahas denganmu” ucap Qiandra.


“Honey, aku sudah sendiri di kamar pribadiku


sekarang, aku juga sudah menonaktifkan CCTV, bagaimana khabarmu, Sayang, aku


benar benar mengkhawatirkan keadaanmu dan baby kita” desah Dean dengan suara


yang sangat lembut.


Qiandra tersenyum mendengar suara yang memang


sangat dirindukannya itu, apalagi saat melihat Dika mengangkat jempol yang


artinya Dean benar benar memenuhi keinginan Qiandra.  Qiandra bisa bernafas sedikit lega setidaknya


di tahap awal, Dean benar benar sudah menunjukkan kepercayaannya pada Qiandra.


“Aku pun sangat merindukanmu, Love, terima


kasih mau memenuhi permintaanku.  Maaf


jika aku terpaksa harus melakukan hal ini, semua untuk kebaikan kita bersama”


ucap Qiandra.


istri itu, Clayandra segera memberi kode pada Chris dan Dika untuk meninggalkan


Qiandra sendiri.  Namun, sebelum keluar,


Dika memberikan kode pada Qiandra dengan menunjukkan laptopnya lalu memberi


kode putus.


Qiandra paham, bahwa keluarganya memberi


keleluasaan padanya untuk berbicara dengan Dean.  Saat melihat kode dari Dika, Qiandra juga mengerti


kalau tiba tiba sambungan terputus itu berarti pihak Dean melakukan pergerakan.


“Sudahlah, jangan dipikirkan, kamu kan tahu


Honey, bahwa apapun yang kamu minta pasti akan aku lakukan, apalagi hal sekecil


ini.  Sekarang, katakan padaku, apa kamu


baik baik saja, bagaimana dengan baby kita, apa dia masih aman aman saja” tanya


Dean dengan bertubi tubi.


Qiandra tersenyum bahagia mendengar kata kata


Dean, “Tenanglah, Love, aku dan bayi kita baik baik saja.  Disini juga ada dokter yang selalu siap sedia


memantau keadaanku.  Jadi kamu tidak


perlu khawatir” ucap Qiandra.


“Honey, bagaimana bisa kamu memintaku untuk

__ADS_1


tidak khawatir, saat aku tidak bisa melihat dan bahkan tidak mengetahui


khabarmu selama beberapa hari ini.  Aku


merasa benar benar mati tanpa mengetahui keberadaanmu” desah Dean.


“Maafkan aku, Love, ini semua demi menguak


semua kisah masa laluku yang selama ini benar benar tidak aku ketahui” sahut


Qiandra.


“Hmmm, jadi benar Dika itu saudara kandungmu”


tanya Dean yang memang merasa sangat penasaran.


“Seratus persen tidak ada keraguan, Love, Dika


memang kakak kandungku satu satunya, sementara Bu Sum, adalah Tanteku, adik


dari mommyku” sahut Qiandra.


“What, ...., ta tapi bagaimana bisa?” seru


Dean yang cukup terkejut mendengar jawaban Qiandra.  “Kalau begitu, mengapa mereka tidak menemui


kita di mansion saja, apa mereka takut aku meragukan mereka” lanjutnya lagi.


“Tidak sama sekali, Love, ceritanya sangat


panjang, Love, karena itu aku tidak bisa menjelaskannya saat ini.  Keluargaku ingin mengundangmu ke sini, tapi


kami khawatir ada bahaya yang mengancam kami jika kedatanganmu ini diketahui


orang lain.  Oleh sebab itu, jika kamu


setuju, Kak Dika akan menjemputmu secara diam diam, dan tidak ada yang boleh


mengetahui kepergianmu termasuk Kak Albert dan Kak Vian, apa kamu bisa, Love”


tanya Qiandra.


“Tentu saja, aku bisa, kapan, sekarang kah”


tanya Dean tanpa berpikir panjang.


“Love, mengapa kamu langsung setuju, apa kamu


tidak takut aku menjebakmu” tanya Qiandra yang sedikit terkejut karena sang


suami langsung menyetujui keinginannya.


“Aku sangat percaya padamu, Honey, tidak ada


sedikit keraguan pun dalam hatiku.  Jika


kamu meminta seperti ini, kamu pasti punya alasan yang sangat kuat.  Kalau masalah kamu ingin menjebak aku, aku


tidak perduli, kalau pun aku harus hancur atau bahkan mati di tanganmu aku


sangat sangat rela” sahut Dean dengan bersungguh sungguh.


Qiandra tertegun mendengar jawaban Dean, tiba


tiba rasa bersalah menerpa hatinya.  Dean


begitu mempercayai dirinya tanpa ada keraguan sedikit pun.  Sementara Qiandra, perlu waktu cukup lama


untuk meyakinkan dirinya dan mempercayai Dean.  Bahkan hingga saat ini saja, Qiandra belum sepenuhnya mempercayai sang


suami.

__ADS_1


__ADS_2