
“What’s, apa kamu sudah memerikasanya, tidak mungkin tidak terhubung dengan yang lain, coba periksa sekali lagi” seru Dean. Dean tidak percaya kalau Risty akan melakukan semuanya sendirian, Dean sangat yakin kalau wanita itu pasti bekerja sama dengan orang lain.
“Love…..” Qiandra menatap suaminya yang terlihat sedang gusar.
“Kamu ternyata benar, Honey, iblis itu meletakkan kamera mini di semua sudut ruangan, tapi anehnya semua itu hanya bisa diakses olehnya sendiri dan benar-benar tidak terhubung dengan yang lain” ucap Dean seraya meraih tangan istrinya agar duduk disampingnya.
“Apa hanya itu yang ada disana” tanya Qiandra tanpa merespon perkataan suaminya.
“Hallo, Vian, apa ada hal lain lagi yang kalian temukan” tanya Dean kembali pada phonselnya. Dean langsung mengubah mode phonselnya ke loudspeaker agar Qiandra juga bisa mendengar secara langsung laporan dari asisten Vian.
“Tidak, Tuan, kami juga menemukan beberapa kapsul kecil, dan menurut tim IT kita, ini semacam bom asap yang dilengkapi pemicu otomatis” sahut asisten Vian.
“Apa, bom asap?, memangnya apalagi yang iblis betina itu rencanakan” seru Dean.
“Kak Vian, tolong janan ganggu semua itu, jika seperti ini, aku menduga mereka akan melakukan penculikan atau lebih parah lagi bisa saja pembunuhan” sahut Qiandra dengan tiba-tiba membuat Dean terkejut bukan main.
“Qi, apa maksudmu, jangan bilang kalau iblis itu merencanakan pembunuhan terhadap dirimu, kalau begitu kita batalkan saja pestanya” seru Dean dengan sedikit panik.
“Love, tenanglah, tolong focus” seru Qiandra berusaha menangkan suaminya.
“Tenang?, ya ampun, Qi, bagaimana aku bisa tenang jika sudah seperti ini, aku tidak akan bisa tenang jika nyawamu terancam, Qi, aku akan meremukkan dan membunuh iblis itu dengan tanganku sendiri” seru Dean.
“Dean Walt Zacharias, jika kamu terus bersikap seperti ini, maka kita akan kalah sebelum kita berhadapan dengannya. Cobalah untuk menarik nafas panjang dan tenanglah, kamu bisa berpikir jernih jika kamu tenang, please” seru Qiandra dengan tegas. Namun diakhir kalimatnya, dia mengucapkan dengan penuh permohonan, bahkan kedua tangannya ditangkup di depan dadanya.
“Qi, ……” desis Dean yang cukup terkejut saat mendengar bibir sang istri menyebutkan namanya dengan lengkap. Laki-laki itu menatap manik mata sang istri yang terlihat penuh permohonan. Akhirnya presidir tampan itu menarik nafas Panjang dan segera meraih tubuh istrinya.
“Tenanglah, Love, tolong bantu aku menyusun rencana, setidaknya sekarang kita sudah punya bayangan tentang rencana wanita itu” ucap Qiandra dengan lembut. Dean hanya mengangguk lemah, walaupun sangat sulit baginya menerima keinginan Qiandra. Namun, dia tetap berusaha menghargai kata-kata wanita itu.
“Maaf, Tuan, Nyonya Muda, lalu bagaimana sekarang” tanya asisten Vian yang ternyata masih menunggu keputusan tuannya itu.
Dean hanya bisa mengangguk pasrah pada sang istrinya, dan memberikan kode agar Qiandra yang berbicara dengan asisten Vian.
“Kak Vian, jika melihat dari persiapannya, pilihannya memang antara dua menculik atau membunuh. Tapi kurasa tidak mungkin orang secerdas Risty akan melakukan pembunuhan di tengah orang banyak. Berarti pilihan yang lain yang pasti akan dilakukannya yaitu menculik. Kak Vian, bukankah tadi kamu mengatakan kalau dia menghubungi Daniel dan sedang merencanakan sesuatu” tanya Qiandra lagi.
Asisten Vian terdiam, karena tadi dia memang sudah menjelaskan pada Dean kalau dia melihat Risty meghubungi Daniel. Tapi dia ragu apakah memang Dean sudah menceritakan semuanya pada Qiandra.
“Katakan saja, Vian, Qiandra harus mengetahui semuanya dengan detil” sahut Dean setelah cukup lama berdiam diri.
“Baiklah, Tuan” sahut asisten Vian, “Benar sekali Nyonya Muda, memang tadi wanita itu sudah menghubungi laki-laki itu, sayangnya kami tidak mengetahui rencananya” lanjut asisten Vian lagi.
“Fix, jika begitu mereka memang sedang merencanakan penculikan” sahut Qiandra.
“Penculikan siapa, Nyonya Muda” tanya asisten Vian dengan suara bingung.
__ADS_1
“Penculikan diriku” sahut Qiandra dengan tegas.
“Qi…” seru Dean dan asisten Vian bersamaan, bahkan asisten Vian tanpa sadar juga langsung menyebut nama Qiandra. “Vian….” desis Dean setelah menyadari kalau asisten Vian menyebut nama sang istri secara langsung.
“Ma…. maafkan saya Tuan, saya sungguh terkejut dengan prediksi Nyonya Muda. Rasanya sangat tidak mungkin mereka berani berpikir untuk menculik Nyonya Muda, kita sudah menyiapkan penjagaan berlapis lapis” sahut asisten Vian dengan gugup.
“Kak Vian, aku percaya pada penjagaan yang telah Kak Vian siapkan. Sekarang aku minta tolong Kak Vian cek lagi semua bagian dari tempat pesta itu yang terhubung keluar. Jalan-jalan kecil atau Lorong kecil yang jarang dilewati, atau jalur evakuasi, semua yang terhubung dengan ruang pesta harus benar-benar berada dibawah pengawasan. Jika perlu pasang kamera mini lainnya di semua Lorong itu, karena CCTV bisa dihack secara tiba-tiba” ucap Qiandra dengan tenang.
“Nyonya Muda….” asisten Vian merasa ragu melaksanakan perintah Qiandra. Bagi asisten Vian, sama seperti Dean, daripada menantang bahaya, akan lebih mudah kalau mereka membatalkan saja pesta ini.
“Kak Vian, tolong, jangan mendebatku, kita tidak punya banyak waktu, lakukan saja seperti yang aku perintahkan. Pesta ini tidak akan dibatalkan, apapun yang terjadi, kita akan tetap melangsungkannya. Tolong bantu aku, jangan sampai menyerah karena rencana licik Risty. Jika kalian tidak mendukung aku, maka semuanya akan sia-sia saja” ucap Qiandra pada asisten Vian, namun matanya menatap Dean dengan penuh permohonan.
Dean menarik nafas sebentar, “Lakukanlah, Vian, lakukan seperti yang diminta Qiandra” ucap Dean pada akhirnya.
“Dan satu hal lagi, tolong pasang pelacak di semua gaunku” ucap Qiandra lagi.
“Qi…..” kembali Dean dan asisten Vian berseru dengan bersamaan.
“Please, jangan membantah lagi, tolong lakukan saja, kita sungguh tidak punya banyak waktu untuk berdebat” ucap Qiandra dengan cepat.
“Tuan….” tanya asisten Vian seolah minta pertimbangan dari Dean.
“Hah, baiklah, lakukan saja, segera kirim salah satu ahli IT untuk memasang pelacak di gaun Qiandra. Walaupun sebenarnya itu tidak perlu, karena aku yakin mereka tidak akan berhasil melakukan rencananya” ucap Dean walau dengan sedikit keraguan.
Dean hanya bisa mengikuti keinginan sang istri, dia tidak berniat untuk menolak sedikitpun. Saat ini hati dan otaknya benar-benar sedang dipenuhi dengan kekhawatiran akan keselamatan istrinya itu.
Setelah Dean masuk ke dalam kamar mandi, Qiandra segera meraih phonsel suaminya itu, “Kak Vian, apa kamu masih ada di sana” tanya Qiandra saat melihat bahwa panggilan telepon itu masih tersembung.
“Ya Nyonya Muda, ada apa” sahut asisten Vian.
“Kak Vian, aku mohon tolong Dean, bantu dia untuk tetap tenang. Dia bisa jika dia tenang, dia akan tahu apa yang harus di lakukannya” ucap Qiandra dengan tenang pada asisten Vian.
“Qi, kenapa kamu tetap memaksa agar acara ini tetap berlangsung, menagapa kamu sengaja menantang semua bahaya ini, apa yang kamu rencanakan sebenarnya. Kamu tahu bagaimana Dean mencitai dirimu, kamu akan menghancurkan dunianya jika harus kehilangan dirimu. Jadi tolong, kumohon pikirkan sejenak, sekali ini saja” ucap asisten Vian tanpa rasa sungkan lagi pada Qiandra.
“Kak, kalau bukan sekarang kapan lagi kita bisa menyelesaikan masalah Risty. Aku sungguh tidak ingin terus menerus dihantui oleh rasa khawatir sepanjang hidupku bersama dengan Dean. Belum lagi masalah Daniel, menurutmu, bagaimana aku harus bersikap. Haruskah aku membiarkan ancaman ini terus mengiringi perjalanan biduk rumah tanggaku dan Dean” ucap Qiandra.
“Tapi, Qi….” asisten Vian ingin membantah perkataan Qiandra, namun segera diputus oleh wanita itu.
“Kak Vian, sekarang kita sudah bisa membaca bayangan dari rencana mereka, tapi kelak, kita tidak tahu. Dan aku sangat yakin, jika mereka gagal kali ini, mereka pasti akan menyusun rencana lainnya dan saat itu kita benar-benar tidak tahu dan tidak siap menghadapi mereka. Jadi, tolonglah aku Kak, tolong mengerti keputusanku ini, ini saatnya kita menghadapi mereka, bukannya terus berlari dan menghindar” ucap Qiandra dengan panjang lebar.
“Tapi, Qi, keselamatanmu benar-benar terancam, apa kamu sadar akan hal itu” ucap asisten Vian masih berusaha membujuk Qiandra.
“Aku sangat menyadarinya, Kak Vian, tapi percayalah padaku, Daniel tidak akan menyakiti aku. Jadi tolong bantu Dean agar bisa membuat keputusan terbaik nantinya, bukan dengan emosi tapi dengan cara cerdas agar semua ini tidak menjadi hal yang sia-sia” ucap Qiandra lagi.
__ADS_1
“Qi…..” ucap asisten Vian dengan berat hati, asisten Vian menyadari kalau dia tidak akan bisa merubah keputusan Qiandra lagi.
“Please, Kak Vian, kumohon kerjasama nya, juga Kak Albert, tolong ya, sudah dulu ya Kak, aku mau bersiap-siap” ucap Qiandra langsung memutuskan hubungan teleponnya bertepatan dengan pintu kamar mandi terbuka.
“Honey, kamu belum bersiap-siap juga” tanya Dean yang baru keluar dari kamar mandi.
“Sebentar lagi, Love, aku masih menunggu tim tata rias datang. Ah, kurasa itu mereka, bisakah kamu membukakan pintu untuk mereka love, aku mau menyiapkan gaun dan acesories yang akan kupakai” ucap Qiandra, saat dia mendengar bel pintu penthahouse mewah itu berbunyi.
“Baiklah, Nyonya, apapun yang Anda minta”ucap Dean sambil sedikit membungkukkan badannya seperti seorang pelayan.
“Ish, ada-ada saja kamu, Love” kekeh Qiandra melihat tingkah sang suami, wanita itu hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan saat melihat sang suami mengirim ciuman jauh sebelum keluar dari kamar utama itu.
Qiandra bergegas menyiapkan semua yang diperlukannya, gaun yang akan dikenakan termasuk semua perlengkapannya. Beberapa perhiasan mewah yang sudah disediakan oleh asisten Vian juga sudah disiapkan oleh Qiandra.
Setelah merasa semua yang diperlukannya sudah siap, Qiandra segera membawa barang-barangnya keluar dari kamar utama menuju kamar lainnya yang ada di lantai dua penthahouse itu. Bertepatan dengan itu, Dean masuk Bersama dengan beberapa orang yang akan bertugas menghias Qiandra.
Orang-orang itu dengan sigap segera mengambil barang-barang yang ada di tangan Qiandra, “Nyonya Muda, mengapa harus membawanya sendiri, Anda bisa menunggu kami untuk mengangkatnya” ucap salah satu yang menjadi pemimpin tim itu.
“Tidak mengapa, Bibi, lagi pula ini tidak berat kok” ucap Qiandra dengan lembut membuat semua tim itu terkejut bukan main. Mereka memang baru kali ini bertemu dengan istri dari Tuan Muda mereka itu.
“Jangan terkejut, memang seperti itulah Nyonya Muda kalian, dia …..” sejenak Dean terhenti, “dia seperti ibunda Ratu, jadi jika kalian ingat ibunda Ratu maka perlakukanlah dia seperti ibunda Ratu, maka kalian akan cocok” ucap Dean.
“Love….” desis Qiandra, dia menyadari kalau sang suami sedang mengingat mendiang ibu yang sangat dikasihinya itu.
“Tidak apa apa, Honey, pergilah, mereka yang terbaik dan sangat disukai oleh ibunda ratu. Aku juga akan menyiapkan diriku, sampai bertemu lagi nanti, Honey, love you” ucap Dean seraya mengecup kening sang istri dengan lembut.
Qiandra hanya tersenyum dan mengangguk kikuk karena perlakuan Dean dihadapan tim tata rias yang masih berdiri di dekat mereka. Dia akhirnya melangkah membawa tim yang akan melakukan make over dirinya menuju ke ruangan yang terpisah dengan ruangan yang dituju oleh Dean dan tim tata riasnya.
Qiandra segera duduk di salah satu kursi yang menghadap kaca dengan perlengkapan tata rias yang memenuhi meja hias di hadapannya. Tim tata rias segera bekerja dengan cekatan mulai menghias sang Nyonya Muda mereka.
“Nyonya, maafkan kelancangan saya, mohon Nyonya menyampaikan jika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan Nyonya, atau ada hal yang Nyonya inginkan dalam riasan Anda. Agar kami bisa melakukannya sesuai keinginan Anda, Nyonya” ucap ketua tim MUA itu sambil menundukkan kepalanya di hadapan Qiandra.
“Astaga, Bibi, jangan bersikap seperti itu, tapi baiklah akan kukatakan keinginanku pada kalian” ucap Qiandra dengan senyum lembutnya. Tanpa dia sadari sikapnya itu justru membuat semua tim MUA itu menjadi tegang, mereka khawatir Qiandra akan marah dan meminta hal-hal yang sulit untuk mereka lakukan.
“Katakan saja, Nyonya, akan kami lakukan dan kami penuhi semampu kami” sahut ketua tim itu lagi.
“Baik, aku mau kalian berhenti bersikap formal padaku, perlakukan aku sama seperti sahabat kalian dan yang kedua dandani aku secantik yang kalian bisa, aku yakin itu akan menjadi hasil terbaik untukku” ucap Qiandra dengan tegas membuat semua anggota tim MUA itu tertegun.
“Tapi, Nyonya, Anda…..” ketua tim mengajukan protes kepada Qiandra, karena sangat tidak mungkin mereka bersikap seperti itu.
“Eitsss, aku tidak ingin dibantah, kalau diluar ruangan kalian wajib bersikap formal padaku, tapi saat kalian hanya Bersama aku, kalian harus bisa jadi sahabatku. Kalau kalian tidak mau biar aku dandan sendiri saja” ucap Qiandra seraya perlahan berdiri dan ingin mengambil alat makeup dari salah satu anggota MUA itu.
“Tidak, tidak, Nyonya, baiklah, baiklah, jika itu keinginan Anda, mohon maafkan jika nanti sikap kami terlalu lancang” ucap ketua tim MUA itu lagi. “Pantas Tuan Dean tergila-gila padanya, Nyonya Muda benar-benar baik hati seperti mendiang ibu Ratu, sangat jauh berbeda dengan wanita ular itu, yang hanya bisa membuat sport jantung karena keinginannya yang kadang tidak masuk akal” lanjutnya dalam hati.
__ADS_1
Akhirnya, tim MUA itu dapat bekerja dengan lebih rileks tanpa tekanan yang membuat mereka takut untuk bergerak. Bahkan sesekali terdengar gelak tawa mereka saat Qiandra memberikan komentar yang lucu pada mereka. Walaupun begitu, mereka masih tetap menjaga sopan santun dan rasa hormat mereka pada sang Nyonya Muda itu.