
Semakin lama helikopter semakin mendekat
dan terlihatlah sebuah landasan helipad yang diterangi oleh beberapa lampu sorot. Beberapa orang terlihat di landasan itu memberikan rambu-rambu agar helikopter bisa mendarat dengan aman. Tidak lama berselang, akhirnya helikopter yang membawa Daniel dan Qiandra bisa mendarat dengan selamat.
Beberapa orang pelayan segera menyongsong kedatangan sang tuannya itu, “Selamat datang, Tuan Daniel” sapa mereka seraya membungkuk dengan hormat.
“Apakah kamar utama sudah siap” tanya
Daniel tanpa menghiraukan sapaan para pelayannya.
“Sudah siap, Tuan” sahut kepala pelayan
masih dalam posisi membungkuk.
“Hemmm….” sahut Daniel sambil terus
berjalan menuju ke pintu lift yang ada di situ. Seorang pelayan segera membuka lift dan menekan nomor lantai yang menjadi tujuan Daniel. Saat Daniel sudah masuk dengan menggendong tubuh Qiandra, pelayan itu segera keluar dari lift itu.
“Selamat datang di villa kita, Qiandra, maaf jika aku terpaksa menjauhkan kamu dari semu hiruk pikuk dan kekacauan di kota, aku ingin menikmati semua ketenangan disini hanya bersamamu. Aku bersumpah akan meluluhkan hatimu hingga kamu mau menerima kehadiranku, maafkan aku, tapi cinta ini terlalu besar untukmu dan hanya untukmu, aku sanggup menempuh segala cara bahkan maut sekalipun hanya untuk bisa memiliki dirimu, hatimu” desah Daniel berbisik kepada Qiandra.
Tidak berselang lama lift itu berhenti tepat didepan sebuah pintu kamar yang besar sekali. Seorang pelayan segera membuka pintu besar itu, dan tampaklah ruangan mewah di hadapan Daniel. Laki laki itu segera melangkah menuju tempat tidur besar yang ada di tengah ruangan itu. Dengan perlahan dia meletakkan tubuh Qiandra di atas tempat tidur besar itu.
Setelah meletakkan tubuh Qiandra, Daniel
perlahan menggerakkan tangan dan bahunya yang sedikit terasa pegal karena terlalu lama merengkuh tubuh Qiandra. Kemuda dia melangkah menuju walk in closet dan membuka lemari pakaian yang ada disitu. Daniel mengambil sebuah baju tidur lengkap dengan pakaian dalam wanita.
Tanpa ragu Daniel melangkah mendekati
Qiandra dan meletakkan semua pakaian yang di bawanya di atas nakas yang ada di
samping tempat tidur. Kemudian dia pergi
ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya. Daniel sengaja menggunakan air dingin untuk meredam semua gejolak yang ada dalam tubuhnya.
“Tidak, tidak, aku tidak akan menyakiti
Qiandra dengan menyentuh tubuhnya tanpa sejin dari Qiandra. Aku sudah berjanji tidak akan menyakiti dia lagi, sudah cukup masa lalu kelam itu, aku tdak akan mengulanginya lagi” desis Daniel. Dia membiarkan air dingin
menyiram seluruh tubuhnya selama beberapa saat, sehingga setelah dirasa cukup baru dia mengambil jubah mandinya dan segera keluar dari kamar mandi mewah itu.
Saat keluar dari kamar mandi, Daniel melihat
Qiandra yang masih belum membuka matanya. Seulas senyum terukir di wajah tampan laki laki bermata biru itu. Senyum tulus yang sudah sangat lama tidak pernah lagi menghias wajah tampannya. “Ah, Qiandra, aku sungguh berharap pemandangan ini bisa terus aku nikmati hingga akhir hayatku. Betapa damai rasa hatiku saat melihatmu terbaring di sana, ah, semoga saja ini bisa aku rasakan selalu” gumam Daniel.
Daniel segera masuk ke dalam walk in closet, dia segera memasang piyama tidurnya dengan cepat. Kemudian laki-laki itu melangkah dengan cepat kembali ke tempat tidur besar dimana Qiandra masih terbaring. Daniel bahkan masih menggosokkan kepalanya dengan handuk untuk mengeringkan rambutnya.
Setelah melihat Qiandra masih pada posisi
tadi, Daniel kembali melangkah ke dalam kamar mandi. Daniel mengambil sebuah wadah mengisinya dengan air hangat, kemudian dia mengambil handuk kecil dari tempat penyimpanan handuk. Daniel membawa semua itu menuju ke tempat tidur dan mendekati Qiandra
Daniel mengambil handuk kecil yang di
bawanya lalu mencelupkannya dengan air hangat. Kemudian dengan perlahan dia menyeka tubuh Qiandra dengan tanpa membuka selimut yang menutupi tubuh wanita itu. Daniel tidak bisa memungkiri kalau keinginan untuk melihat tubuh po*os
wanita itu sangat besar. Bahkan tangan Daniel sedkit bergetar saat dia menyeka
tubuh Qiandra.
Namun, dengan sekuat tenaga Daniel menekan semua rasa yang ada di tubuh dan otaknya. Daniel berusaha meyakinkan dirinya bahwa dia harus bisa tetaap bersabar dan menahan semuanya agar dapat menyentuh hati Qiandra.
Setelah selesai menyeka seluruh tubuh
Qiandra, termasuk seluruh wajah wanita itu, Daniel langsung mengeringkannya dengan handuk kering yang lain. Setelah itu dengan perlahan dia memasang pakaian dalam di tubuh Qiandra. Pekerjaan yang jauh lebih sulit, karena tangan Daniel harus bekerja di bawah selimut dan berusaha semampunya agar tidak menyentuh bagian sensitif Qiandra.
Beberapa kali Daniel menghentikan
pekerjaannya sambil menghembuskan nafas berat untuk menghalau gelora gairah yang seakan meledak-ledak dalam dirinya. Dan saat dia merasa sedikt tenang, barulah Daniel melanjutkan pekerjaannya. Hingga pada akhirnya Daniel bisa bernafas lega setelah dia berhasil memasang seluruh pakaian Qiandra.
Daniel kemudian mengantar wadah air hangat
__ADS_1
tadi ke kamar mandi beserta dengan handuk kecil di dalamnya. Dia juga melempar selimut yang tadi membungkus tubuh Qiandra tadi ke keranjang pakaian kotor. Kemudian laki laki tampan itu perlahan menyelimuti tubuh Qiandra dengan selimut tebal dan hangat yang ada di situ.
Lalu Daniel melangkah ke sisi lain tempat
tidur besar itu, lalu dia membaringkan tubuhnya di sisi Qiandra. Daniel menempatkan tangannnya di bawah kepala
Qiandra, lalu dia membersihkan helaan rambut Qiandra yang menutupi sebagian
wajah wanita itu. “Selamat malam, Qiandra, semoga tidurmu nyenyak, I love you” desisnya seraya mengecup kening Qiandra dengan lembut.
Daniel memeluk tubuh wanita itu, lalu
perlahan memejamkan matanya. Rasa letih
dan rasa damai membuat Daniel dengan cepat jatuh terlelap, hal yang selama ini hampir tidak pernah dialaminya. Daniel
memang selalu mengalami kesulitan untuk bisa terlelap, bahkan tidak jarang dia harus mengkonsumsi obat-obatan untuk memudahkannya agar bisa tidur.
Daniel benar benar tidur nyenyak hingga dia
tidak menyadari saat tubuh wanita yang dipeluknya itu mulai bergerak perlahan. Qiandra yang perlahan mulai mendapatkan kesadarannya, berusaha sekuat tenaga untuk membuka matanya. Sesaat keningnya berkerut saat merasakan beban yang cukup berat di atas perutnya.
Saat merasakan hembusan hangat dari atas
kepalanya, Qiandra perlahan mengangkat kepalanya dan menatap wajah tampan yang
ada di atas kepalanya itu. Dan betapa
terkejutnya Qiandra bak tersambar petir di siang bolong saat dia melihat wajah yang saat ini sedang terlelap itu. Bahkan tanpa sadar Qiandra memekik dan menggulingkan tubuhnya berusaha melepaskan diri dari dekapan hangat Daniel.
Daniel benar benar terkejut mendengar
pekikan Qiandra, dengan refleks dia malah mempererat pelukannya di tubuh Qiandra sehingga wanita itu tidak bisa bergerak lagi. “Tenang, Qiandra, kamu akan jatuh jika terus
bergerak seperti ini” seru Daniel berusaha menenangkan Qiandra.
“Apa yang kamu lakukan, Daniel, lepaskan
“Tenang, Qiandra, kita bisa bicarakan
semuanya dengan baik-baik” ucap Daniel masih berusaha menenangkan Qiandra.
Namun, Qiandra tidak perduli, dia terus
bergerak memukul dan menendang dengan segenap tenaganya. Hingga pada satu ketika tendangan Qiandra tepat mengenai bagian vital Daniel, membuat laki laki itu berteriak kesakitan dan segera melepaskan tubuh Qiandra. Kedua tangannya segera menutup alat vitalnya dengan wajah memerah dan mengernyit menahan sakit yang luar biasa.
Qiandra yang merasakan pelukan Daniel
terlepas segera meloncat dari tempat tidur mewah itu. Walaupun dengan tubuh terhuyung dia melihat ke sekelilingnya, dan saat Qiandra menemukan sebuah pintu besar, dia segera berlari ke arah pintu itu. Beberapa kali tubuhnya terjatuh namun dia segera bangkit dan terus melangkah dengan sekuat
tenaga menuju pintu besar itu.
Saat sudah mencapai pintu itu, Qiandra
segera meraih ganggang pintu itu dan berusaha membukanya dengan sekuat tenaga. Namun, sekuat apapun Qiandra berusaha, pintu itu tidak bergerak sama sekali. Tubuh Qiandra perlahan melemah seiring dengan isak tangisnya yang semakin runtuh dengan deras saat dia menyadari pintu itu dalam keadaan terkunci.
Daniel yang masih merasakan sakit di bagian
bawah tubuhnya itu, perlahan melangkah mendekati Qiandra. Namun, beberapa langkah sebelum mencapai Qiandra dia sengaja berhenti dan bahkan berlutut di hadapan Qiandra.
“Tenanglah, Qiandra, aku mohon tenanglah,
percuma kamu berlari dariku, kamu tidak akan bisa pergi kemanapun. Aku sudah membawamu sangat jauh dan tidak ada
yang bisa menemukan kita disini, jadi jangan buang tenagamu untuk berusaha melarikan diri karena hal itu akan sia sia saja” ucap Daniel dengan suara pelan.
Daniel sudah berjanji tidak akan bersikap
kasar pada Qiandra, bagaimanapun reaksi wanita itu terhadapnya. Daniel sudah berjanji bahwa dia tidak akan lagi menyakiti atau memaksa Qiandra. Dia sungguh ingin wanita itu menerima dirinya dengan segala keberadaannya.
__ADS_1
“Mengapa, Daniel, mengapa kamu lakukan ini
padaku, mengapa kamu tidak pernah berhenti menyakitiku, apa salahku padamu sehingga kamu terus menerus menyakiti aku” keluh Qiandra diantara isak tangisnya.
“Karena aku mencintaimu, Qiandra, teramat
sangat mencintaimu, aku tidak mampu hidup tanpamu. Tahukah kamu bagaimana aku menjalani tahun tahun dengan penyesalan yang teramat dalam, aku bahkan tidak pernah berhenti untuk terus mencarimu. Tahukah kamu bagaimana langit seakan runtuh di atas kepalaku saat aku mengetahui kamu menikah dengan laki laki itu. Aku hancur, Qiandra, hancur dan kehilangan arah bahkan akal sehatku” desah Daniel dengan putus asa.
“Tapi aku tidak bisa mengubah perasaanku,
Daniel, aku tidak pernah bisa mencintaimu, tidak dulu, tidak pula sekarang, kamu tahu itu, kamu tidak bisa memaksaku untuk menerima cintamu” seru Qiandra dalam keputus asaannya. Qiandra tidak tahu lagi bagaimana dia menjelaskan pada Daniel bahwa tidak ada cinta sama sekali di hatinya untuk laki laki itu.
“Kali ini aku akan memperjuangkan cintamu,
Qiandra, aku akan merebut hatimu. Tolong
beri aku kesempatan, jangan terus menutup dirimu untuk cintaku, aku mohon bukalah sedikit kesempatan untukku” desis Daniel dengan wajah memohon pada wanita di hadapannya itu.
“Sampai kapanpun kesempatan itu tidak akan
ada, Daniel, karena memang aku bukan wanita yang bisa dengan begitu mudah
membuka hatiku saat hatiku telah memilih” sahut Qiandra masih dengan sisa isakannya.
“Tapi kamu bisa mencitai laki laki itu,
Qiandra, justru pada saat kamu selalu mengatakan kamu belum bisa melupakan
suamimu yang dulu. Bukankah itu berarti
hatimu masih bisa disentuh, hanya saja kamu tidak pernah memberi aku kesempatan” sahut Daniel. Dia berusaha berbicara dengan nada rendah dan lembut, walaupun sebenarnya dia sangat ingin berteriak dan meluapkan amarahnya pada Qiandra.
“Itulah rahasia hati, Daniel, aku tidak tahu kapan dan bilamana hatiku bisa terbuka dan menerima cinta yang lain selain cinta Charles, dan saat ini hanya ada cinta untuk Dean di hatiku yang tidak bisa aku gantikan lagi” sahut Qiandra dengan sungguh sungguh.
“Hah, Dean ….. Dean ….. Dean …. mengapa
selalu Dean, mengapa dia selau berhasil merebut semua yang seharusnya menjadi
milikku, apa kelebihannya dariku sehingga dia bisa mendapatkan semua yang sudah ada di genggamanku” desah Daniel dengan suara kesal dan juga putus asa.
Qiandra mengangkat wajahnya dan menatap
laki laki dengan tubuh kekar dan tegap itu dengan wajah tidak menentu. Sejujurnya, Qiandra baru kali ini mendengar seorang Daniel begitu putus asa, Daniel yang selalu arogan dan sombong, bagaimana bisa saat ini terlihat begitu rapuh.
“Daniel……” desis Qiandra seakan tidak mampu berkata-kata lagi.
“Yah, Qiandra, seumur hidupku, hanya ada
dua wanita yang mampu mengisi hatiku, dan keduanya selalu berhasil di rebut olehnya dari genggaman tanganku. Dan apakah aku harus selalu menerima setiap kekalahan itu dengan lapang dada, Qiandra, haruskah aku kembali mengorbankan hatiku dan membiarkannya membeku lagi, haruskah” desah Daniel dengan suara rendah yang bahkan hampir tidak terdengar.
Qiandra kembali tidak mampu berkata kata,
dia sangat tahu bagaimana kisah cinta Daniel dan Resti. Apapun alasan Resti mengkhianati dirinya, Daniel tetaplah menjadi pihak yang kalah dan terluka. Semua yang dikatakan oleh Daniel, mengandung kebenaran yang tidak bisa dipungkiri oleh siapapun. Daniel, seorang laki laki yang jika dibandingkan dengan Dean maka dari segi ketampanan maupun kemapanan, keduanya tidak jauh berbeda.
Daniel yang selalu beruntung mendapatkan
wanita yang diinginkannya, tetapi selalu berakhir tragis. Karena setiap wanita yang sudah bersama dengan dirinya selalu berhasil menjadi milik Dean, mulai dari Resti dan sekarang Qiandra. Qiandra sangat menyadari hal itu, dan dia pun tidak bisa memberikan penjelasan apapun pada laki laki itu.
“Daniel, aku …… aku …..” Qiandra benar benar kehilangan kata kata, sejujurnya dia merasa iba pada keadaan Daniel saat itu. Namun, dia juga tidak mungkin memenuhi keinginan Daniel untuk memberikan kesempatan bagi laki laki itu.
“Tidak, Qiandra, tidak perlu kamu berkata
apapun, apalagi sebuah penolakan, aku hanya minta tolong kasihani aku, setidaknya ijinkan aku membuktikan seberapa besar aku mencintai dirimu, dan tolong ijinkan hatimu untuk melihat aku seperti laki laki lain, dan bukan sebagai bagian dari masa lalumu” ucap Daniel dengan suara memelas penuh dengan permohonan.
“Tapi, Daniel …. aku ….” Qiandra belum sempat menjawab perkataan Daniel.
“Tolong, Qiandra, setidaknya beri aku waktu
sampai mereka bisa menemukan kita disini” ucap Daniel lagi sambil menatap wajah
__ADS_1
Qiandra dengan kelembutan dan permohonan yang begitu tulus yang terpancar dari
mata birunya.